Liputan6.com, Jakarta - Puasa ganti Ramadhan atau qadha puasa adalah kewajiban bagi umat Islam yang tidak dapat menjalankan puasa di bulan Ramadhan karena alasan tertentu. Kewajiban ini diatur dalam syariat Islam dan harus dilaksanakan sebelum Ramadhan berikutnya tiba.
Oleh karena itu, setiap umat muslim wajib mengetahu niat puasa ganti Ramadhan, termasuk syarat, waktu, dan aturan yang perlu diperhatikan. Dengan memahami niat puasa ganti Ramadhan, diharapkan umat Islam dapat memenuhi kewajiban puasa ganti dengan baik dan benar.
Qadha puasa Ramadhan menjadi penting untuk dilakukan bagi mereka yang memiliki utang puasa. Berikut bagaimana bacaan niat puasa ganti Ramadhan yang benar beserta dengan kapan waktu yang tepat untuk membacanya dilansir dari berbagai sumber Senin (22/12/2025).
Kewajiban dan Pengertian Qadha Puasa Ramadhan
Qadha puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan karena adanya udzur syar’i. Udzur ini bisa berupa sakit, bepergian, haid, nifas, atau kondisi lainnya yang menghalangi seseorang untuk berpuasa.
Hukum qadha puasa Ramadhan adalah wajib, sebagaimana diatur dalam Al-Qur'an. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185,
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur."
Beberapa alasan umum yang menyebabkan seseorang memiliki utang puasa antara lain sakit, bepergian jauh, haid, nifas, hamil, menyusui, atau bahkan lupa. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami kewajiban ini dan melaksanakannya dengan tepat.
Niat Puasa Ganti Ramadhan dan Waktu Membacanya
Niat adalah syarat sahnya puasa ganti Ramadhan. Berikut adalah bacaan niat puasa ganti Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shouma ghodin 'an qodho'i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta'ala.
Artinya, "Saya niat berpuasa besok dari qadha fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala."
Niat puasa qadha sebaiknya dibaca pada malam hari, yaitu sejak setelah terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar, karena puasa qadha termasuk puasa wajib yang mensyaratkan niat dilakukan sebelum waktu Subuh tiba. Ketentuan ini sama seperti puasa Ramadhan, di mana kejelasan niat sejak malam hari menjadi syarat sah ibadah puasa, sehingga apabila niat baru dilakukan setelah fajar, puasa qadha tersebut tidak dianggap sah dan wajib diulang pada hari lain.
Penting untuk diingat bahwa niat ini cukup dilakukan dalam hati, meskipun melafalkannya juga diperbolehkan sebagai pengingat. Dengan niat yang benar, puasa ganti Ramadhan akan sah dan diterima oleh Allah.
Aturan dan Ketentuan Qadha Puasa
Dalam melaksanakan qadha puasa, terdapat beberapa aturan yang perlu diperhatikan, diantaranya:
Qadha puasa hukumnya wajib bagi yang meninggalkan puasa karena uzur syar’i
Setiap Muslim yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan yang dibenarkan syariat, seperti sakit, haid, nifas, atau safar, memiliki kewajiban mutlak untuk mengganti puasa tersebut di hari lain. Kewajiban ini tidak gugur dan tetap harus ditunaikan sampai utang puasanya lunas.
Jumlah puasa yang diqadha harus sesuai dengan hari yang ditinggalkan
Puasa qadha tidak boleh dikurangi atau dilebihkan. Jika seseorang meninggalkan puasa selama lima hari di bulan Ramadhan, maka ia wajib menggantinya sebanyak lima hari pula, tanpa tambahan atau pengurangan.
Niat qadha puasa wajib dilakukan sebelum terbit fajar
Karena qadha puasa termasuk puasa wajib, maka niatnya harus sudah ada sejak malam hari, yaitu mulai setelah Maghrib hingga sebelum Subuh. Tanpa niat yang dilakukan sebelum fajar, puasa qadha tersebut tidak sah.
Qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan
Berbeda dengan sebagian puasa sunnah, puasa qadha boleh dilakukan secara terpisah-pisah sesuai kemampuan dan kondisi. Yang terpenting adalah seluruh jumlah hari puasa yang tertinggal dapat diganti dengan sempurna.
Disunnahkan menyegerakan qadha sebelum Ramadhan berikutnya
Meskipun qadha boleh ditunda, Islam sangat menganjurkan agar puasa pengganti segera ditunaikan setelah Ramadhan berakhir. Menunda tanpa alasan hingga bertemu Ramadhan berikutnya dapat berakibat dosa dan menurut pendapat sebagian ulama, disertai kewajiban membayar fidyah.
Jika puasa qadha dibatalkan, cukup diulang tanpa kafarat
Apabila seseorang membatalkan puasa qadha di siang hari tanpa uzur, ia hanya wajib mengulang puasa tersebut di hari lain. Tidak ada kewajiban kafarat, karena kafarat hanya berlaku untuk pelanggaran puasa di bulan Ramadhan.
Konsekuensi Menunda Qadha Puasa dan Ketentuan Fidyah
Menunda qadha puasa Ramadhan tanpa adanya udzur syar’i merupakan perbuatan yang memiliki konsekuensi serius dalam syariat Islam. Apabila seseorang masih memiliki utang puasa namun tidak segera menggantinya hingga datang Ramadhan berikutnya, maka ia berada dalam keadaan berdosa karena telah menunda kewajiban tanpa alasan yang dibenarkan. Meski demikian, kewajiban qadha tersebut tetap tidak gugur dan harus tetap ditunaikan pada waktu lain.
Selain kewajiban qadha, sebagian ulama mewajibkan pembayaran fidyah bagi orang yang menunda qadha puasa tanpa uzur hingga melewati Ramadhan berikutnya. Fidyah ini berupa memberi makan fakir miskin sebagai bentuk denda atas kelalaian menunaikan kewajiban. Takaran fidyah yang dikeluarkan adalah satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan, yang setara dengan kurang lebih 675 gram beras atau makanan pokok setempat.
Di sisi lain, fidyah juga menjadi kewajiban tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak mampu menjalankan puasa secara permanen, seperti lansia renta dan orang sakit kronis yang tidak memiliki harapan sembuh. Dalam kondisi ini, mereka tidak diwajibkan mengqadha puasa, namun cukup menggantinya dengan membayar fidyah sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan sebagai bentuk keringanan dari Allah Ta’ala.
Sementara itu, bagi wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa karena khawatir terhadap keselamatan bayi atau anaknya, kewajiban yang harus ditunaikan adalah qadha puasa dan membayar fidyah. Ketentuan ini menunjukkan bahwa setiap kondisi memiliki hukum yang berbeda, sehingga memahami aturan qadha dan fidyah secara tepat menjadi sangat penting agar kewajiban puasa Ramadhan dapat ditunaikan dengan benar dan sempurna.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Kapan niat puasa ganti Ramadhan harus dilakukan?
Niat puasa qadha Ramadhan harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar, sama seperti niat puasa wajib pada bulan Ramadhan.
2. Apakah niat puasa qadha Ramadhan harus dilafalkan?
Tidak harus dilafalkan. Niat cukup di dalam hati, namun melafalkannya diperbolehkan sebagai penguat dan pengingat niat.
3. Bolehkah puasa qadha Ramadhan dilakukan tidak berturut-turut?
Boleh. Puasa qadha Ramadhan tidak wajib dilakukan secara berurutan dan bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
4. Apa hukumnya menunda qadha puasa sampai Ramadhan berikutnya?
Jika menunda tanpa udzur syar’i hingga Ramadhan berikutnya, hukumnya berdosa dan wajib membayar fidyah selain tetap mengqadha puasanya.
5. Siapa saja yang wajib membayar fidyah puasa?
Fidyah wajib bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia renta, orang sakit kronis, serta wanita hamil atau menyusui yang khawatir pada bayinya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5248818/original/094430800_1749619731-505853558_122128429886803027_8080818045513362808_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516730/original/010187800_1772343559-WhatsApp_Image_2026-03-01_at_07.17.19.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516533/original/006107500_1772325430-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5408327/original/086578800_1762770478-Ceramah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516428/original/088542600_1772291520-nussa1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392495/original/027892700_1761464864-1000686326.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5516293/original/057322900_1772274881-ChatGPT_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1609256/original/063394900_1496138662-02_Ilustrasi_Jadwal_Imsak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515994/original/050041400_1772246661-unnamed__27_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516159/original/013522500_1772262056-Gemini_Generated_Image_sdo55ysdo55ysdo5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4775811/original/052863100_1710738724-Ilustrasi_anak__ibu__sahur__buka_puasa__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3983014/original/073829000_1648909222-20220402-SHALAT-TARAWIH-PERTAMA-MASJID-ISTIQLAL-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492008/original/084844100_1770114331-gng_1288879_hires.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515420/original/095320400_1772173991-SAVE_20260227_095307.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515926/original/051695300_1772231489-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4617868/original/072798700_1697788718-_fpdl.in__shower-head-with-hot-water_23-2149088614_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5515924/original/093945900_1772230926-IMG_2876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)