Liputan6.com, Berau - Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, baru saja menyaksikan sebuah aksi nyata yang membawa harapan baru bagi ratusan warganya. PT Berau Coal bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Cabang Sinar Mas menggagas Bakti Sosial (Baksos) operasi gratis untuk katarak, hernia, bibir sumbing, dan benjolan.
Bukan sekadar program biasa, kegiatan ini adalah wujud nyata kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Kodim 0902/Berau, RSUD Abdul Rivai, Rumah Sehat Baznas Berau, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Kaltim-Kaltara. Dari pelosok desa hingga ke kota, ratusan warga merasakan sentuhan kebaikan yang tak ternilai.
Bagi Sahran, seorang lansia dari Merancang Ulu, hidup pernah terasa seperti menatap dunia melalui kabut tebal. Katarak merenggut ketajaman penglihatannya, terutama di mata kanan yang hanya mampu menangkap bayangan samar.
“Mata kiri saya masih bisa melihat sedikit, tapi mata kanan sangat buram. Saya tak bisa mengenali orang dari kejauhan,” kenangnya.
Meski usianya tak lagi muda, Sahran tetap giat bekerja seperti beternak, berkebun, dan memancing di laut. Namun, katarak menjadi tembok yang menghalangi aktivitasnya.
“Susah sekali membuka ikan atau memasang pancing. Saya hanya mengandalkan satu mata,” ujarnya.
Biaya operasi yang mahal dan kondisi katarak yang belum cukup parah membuat Sahran menunda pengobatan. Hingga suatu hari, anaknya, Rahman, mendengar tentang Baksos ini. Dengan harapan besar, mereka mendaftar.
Prosesnya sederhana: screening bersama ratusan pasien lain, lalu operasi yang berjalan cepat dan tanpa rasa sakit.
“Aku takut sakit, ternyata tidak. Sekarang penglihatan saya makin jernih,” ucap Sahran sambil tersenyum.
Bagi Rahman, program ini adalah jawaban doa.
“Kalau mandiri, biayanya besar. Kami bersyukur ada bantuan ini,” katanya.
Kini, Sahran menatap masa depan dengan mata yang lebih terang, bukti bahwa kesehatan adalah harta yang tak ternilai.
Senyum Baru untuk Athalla
Senyum mungil Athalla Rizky Ramadhan, bayi berusia 10 bulan, kini merekah penuh kebahagiaan. Lahir dengan bibir sumbing, bayi asal Tanjung Redeb itu membawa campuran rasa sedih dan syukur bagi orang tuanya, Bawaihi dan Irmawati.
“Ibunya sempat sedih, tapi kami bersyukur ia lahir sehat. Ia anak kami, apa pun kekurangannya,” ujar Bawaihi.
Harapan muncul ketika dokter puskesmas membantu mendaftarkan Athalla untuk operasi gratis di Jakarta, bagian dari rangkaian Baksos ini. Seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan pengobatan ditanggung penuh oleh PT Berau Coal dan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi, Athalla disambut dengan pelayanan hangat. Operasinya sukses, dan setelah beberapa hari pemulihan, ia pulang dengan wajah baru.
“Alhamdulillah, ia bisa tersenyum lebar. Kami sangat bersyukur,” kata Bawaihi, haru bercampur lega.
Kisah Athalla adalah simbol bahwa kasih sayang dan bantuan tepat waktu bisa mengubah hidup.
Program ini bukan sekadar angka, ratusan pasien disaring dan puluhan operasi dilakukan, butuh kerja keras dan hati yang besar.
Aksi Kolaborasi
Perwakilan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Thoe Yulius, dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan akses layanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kami ingin memastikan layanan medis lebih mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil,” ujar Ruth.
Ia menjelaskan, kegiatan yang berlangsung sejak 14 Januari 2025 ini berhasil menjaring 302 pasien melalui proses pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, 204 pasien mendapatkan tindakan operasi, dengan rincian 213 pasien katarak, 15 pasien hernia, 69 pasien benjolan, dan 5 pasien bibir sumbing.
Untuk operasi hernia dan benjolan dilakukan di RSUD Abdul Rivai, dan operasi katarak di Rumah Sehat Baznas Berau. Sementara, operasi bibir sumbing dilakukan di Jakarta dengan pemberangkatan 5 pasien pada 21 Januari 2025.
“Ada pasien yang harus menempuh perjalanan hingga lima jam atau menggunakan speedboat untuk mencapai lokasi. Ini membuktikan antusiasme masyarakat sangat tinggi,” tambah Ruth.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para relawan medis, termasuk dokter spesialis mata, bedah, dan tenaga medis lainnya, yang mendukung penuh kegiatan ini.
“Dukungan dari semua pihak membuat acara ini berjalan lancar. Kami sangat menghargai kolaborasi yang terjalin,” katanya.
Sekretaris Kabupaten Berau, M Said, menyebut inisiatif ini sebagai angin segar. Ia berharap sinergi ini terus berlanjut, sejalan dengan tujuan pembangunan yaitu kesejahteraan rakyat.
“Operasi gratis sangat membantu masyarakat yang terbebani biaya tinggi. Ini bukti PT Berau Coal tak hanya menjalankan bisnis, tapi juga peduli,” katanya.
General Manager Operation Support and Relations PT Berau Coal, Cahyo Andrianto menyebut kegiatan ini adalah bentuk konkret dari komitmen perusahaan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di Berau.
“Ini adalah kali kedua kami menggelar Bakti Sosial bersama Yayasan Buddha Tzu Chi. Sebelumnya, pada pertengahan 2023, kami juga melakukan operasi katarak gratis untuk 123 pasien dan 14 pasien pterigium,” jelas Cahyo.
Program kali ini mencakup lebih banyak jenis operasi dan melibatkan lebih banyak pihak.
“Kebahagiaan kami bertambah karena program ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor bisa memberikan dampak besar bagi masyarakat,” katanya.
PT Berau Coal juga aktif dalam program kesehatan lainnya, seperti pencegahan stunting, pengobatan gratis, dan penyediaan sanitasi layak di kampung-kampung dampingan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan dan melibatkan lebih banyak pihak untuk memperluas manfaatnya,” tambah Cahyo.
Dandim 0902/Berau, Letkol Inf Romy Sakti Alamsyah, juga mengapresiasi persiapan yang matang dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kata dia, pendataan dimulai sejak November, dengan melibatkan 97 Babinsa yang menjaring pasien hingga ke pelosok kampung.
"Kondisi medan yang beragam tidak mengurangi semangat kami untuk membantu masyarakat,” jelas Romy.
Suara Syukur dari Penerima Manfaat
Tomi Mahendra, warga Tanjung Redeb, tak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya usai operasi katarak. “Pelayanan luar biasa, dari awal hingga selesai. Ini sangat membantu,” katanya.
Begitu pula Sahran, Athalla, dan ratusan lainnya yang kini melangkah dengan penuh harapan baru. Bagi mereka, Baksos ini bukan sekadar bantuan medis, melainkan sentuhan kemanusiaan yang menghidupkan kembali mimpi.
Di balik layar, ada dokter, relawan, dan tenaga medis yang bekerja tanpa lelah. Ada pula perusahaan, pemerintah, dan masyarakat yang saling bergandengan tangan. Program ini lebih dari sekadar operasi; ia adalah cermin bahwa kebaikan bisa bersifat abadi ketika dilakukan bersama.
Seperti kata Bawaihi, “Semoga anak-anak lain yang membutuhkan juga terbantu.”
Dan seperti harapan Sahran, “Semoga ini terus ada, untuk lebih banyak orang.”
Di Berau, cahaya harapan tak hanya menyelinap melalui mata yang kembali jernih atau senyum yang kini sempurna. Ia bersemayam dalam semangat kolaborasi yang tak lekang oleh waktu, menjadi bukti bahwa ketika hati dan tangan bersatu, keajaiban bisa tercipta, kapan pun, di mana pun.