Liputan6.com, Jakarta - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi unik yang disebut Padusan. Tradisi ini merupakan ritual membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai persiapan menyambut bulan penuh berkah. Dilaksanakan biasanya sehari atau dua hari sebelum Ramadan tiba, Padusan menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk menyucikan diri dari segala hadas dan kotoran, agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan penuh keikhlasan.
Istilah "padusan" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni kata "adus" yang berarti mandi. Lebih dari sekadar mandi biasa, Padusan dimaknai sebagai mandi suci yang memiliki filosofi mendalam. Tradisi ini telah berakar kuat dalam budaya masyarakat Jawa sejak lama, jauh sebelum masuknya agama Islam, dan kemudian mengalami akulturasi dengan nilai-nilai Islam melalui dakwah para Wali Songo.
Pada awalnya, ritual ini dilakukan di sumber-sumber mata air alami yang dianggap suci, namun kini pelaksanaannya telah berkembang ke berbagai lokasi. Tujuannya tetap sama, yaitu mempersiapkan diri lahir dan batin, membersihkan diri dari dosa-dosa masa lalu, serta memupuk kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik selama Ramadan. Tradisi Padusan Sebelum Puasa ini menjadi jembatan antara warisan budaya leluhur dengan nilai-nilai keislaman, menciptakan sebuah praktik yang kaya makna dan relevansi hingga kini. Melansir dari berbagai sumber, Selasa (17/2/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Mengenal Padusan: Asal-Usul dan Makna Historis
Padusan adalah tradisi mandi atau membersihkan diri yang dilakukan oleh masyarakat Jawa menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Istilah ini berakar dari bahasa Jawa, "adus", yang secara harfiah berarti mandi, namun dalam konteks ini merujuk pada mandi suci untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah ritual yang sarat makna spiritual dan persiapan batiniah.
Akar sejarah Padusan dapat ditelusuri jauh ke belakang, bahkan sebelum masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Dipercaya, tradisi ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit, dan pada era Kerajaan Mataram Kuno, dikenal dengan sebutan "amertabhujangga" dalam bahasa Sanskerta, yang berarti "mandi di air suci". Pada masa itu, para ksatria, brahmana, pujangga, dan tokoh penting lainnya melaksanakan ritual penyucian diri ini sebagai bagian dari praktik spiritual mereka, menunjukkan betapa pentingnya kebersihan dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa kuno.
Pelaksanaan Padusan kala itu sangat dipengaruhi oleh beragam budaya yang berkembang di Jawa, termasuk ajaran Hindu, Buddha, serta kepercayaan animisme yang kuat. Air dari sumber mata air alami dianggap suci dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk membersihkan tidak hanya raga, tetapi juga batin. Seiring dengan penyebaran Islam di Jawa, para Wali Songo dengan bijak tidak menghapus tradisi ini. Sebaliknya, mereka mengisinya dengan nilai-nilai Islam, menjadikannya sarana untuk mengajarkan pentingnya kebersihan lahir dan batin, serta memanfaatkannya sebagai pendekatan budaya dalam dakwah Islam.
Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Padusan
Tujuan utama dari tradisi Padusan adalah untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan puasa Ramadan. Dengan melakukan penyucian ini, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dalam keadaan yang lebih bersih, khusyuk, dan penuh keikhlasan. Ini adalah langkah awal untuk mempersiapkan diri menyambut bulan yang penuh ampunan dan keberkahan, memastikan bahwa setiap ibadah yang dilakukan dapat diterima dengan baik oleh Allah SWT.
Lebih dari sekadar mandi biasa, Padusan memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Tradisi ini merupakan bentuk penyucian diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat sebelum memasuki bulan Ramadan yang suci. Padusan juga dimaknai sebagai media renungan dan introspeksi diri, sebuah kesempatan untuk merenungkan kesalahan-kesalahan di masa lalu dan bertekad untuk memperbaikinya. Melalui ritual ini, diharapkan muncul kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik saat memasuki bulan Ramadan, baik secara spiritual dengan meningkatkan zikir dan membaca Al-Qur'an, maupun secara fisik dengan membersihkan diri dan lingkungan.
Tradisi Padusan juga mencerminkan filosofi Jawa tentang harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Air yang mengalir dalam proses Padusan sering diibaratkan sebagai simbol kehidupan yang terus berjalan, sekaligus menjadi pengingat akan kematian dan pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Ini merepresentasikan hubungan simbolis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, serta memperkuat ikatan dengan leluhur dan masyarakat sekitar, menegaskan bahwa kebersihan adalah bagian integral dari kehidupan spiritual dan sosial.
Tata Cara dan Lokasi Pelaksanaan Padusan
Padusan biasanya dilaksanakan sehari sebelum Ramadan tiba, tepatnya pada tanggal 29 atau 30 bulan Ruwah dalam kalender Jawa. Umumnya, ritual ini dilakukan pada waktu siang hingga sore hari, meskipun beberapa sumber menyebutkan dapat dilakukan pada dua hari terakhir sebelum Ramadan. Penentuan waktu ini menunjukkan kesiapan masyarakat untuk menyambut bulan suci dengan penuh persiapan, baik secara fisik maupun mental.
Secara tradisional, ritual Padusan umumnya dilakukan di lokasi yang memiliki sumber air alami yang jernih, seperti mata air, aliran sungai, atau air terjun. Tempat-tempat ini diyakini memiliki kesucian dan energi spiritual. Namun, seiring waktu, pelaksanaannya telah berkembang, dan sebagian masyarakat juga melakukan Padusan di kolam renang, pemandian umum, atau tempat lain yang menyediakan fasilitas air bersih. Beberapa lokasi populer untuk Padusan di Jawa antara lain Umbul Manten, Obyek Mata Air Cokro (OMAC), dan Umbul Ponggok di Klaten; Umbul Petilasan Joko Tingkir di Semarang; Air Panas Guci di Tegal; Sendang Klangkapan di Sleman; serta Umbul Pajangan, Pantai Baru, dan Pantai Parangtritis di Yogyakarta.
Meskipun Padusan tidak memiliki aturan yang baku, tata caranya umumnya menyerupai mandi besar atau mandi wajib dalam Islam. Sebelum memulai, masyarakat biasanya menyiapkan perlengkapan mandi. Prosedur inti meliputi membasuh kedua tangan tiga kali, membersihkan tubuh dari najis atau kotoran, berwudu dengan membaca doa wudu, mengguyur kepala tiga kali, dan mengguyur badan tiga kali dimulai dari sisi kanan lalu kiri. Selain mandi, beberapa masyarakat juga menyertakan pembacaan doa khusus sebagai pelengkap ritual, memohon kesucian lahir dan batin serta keberkahan selama Ramadan. Meskipun sering dilakukan secara massal, Padusan juga dianjurkan dilakukan di tempat yang sepi untuk memunculkan kesadaran diri dan introspeksi yang lebih mendalam.
Padusan dalam Perspektif Agama
Dalam ajaran Islam, tidak ada dalil khusus dari Al-Qur'an atau hadis Nabi Muhammad SAW yang mewajibkan atau menganjurkan mandi spesifik sebelum datangnya bulan Ramadan. Namun, Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan dan kesucian (thaharah), dan mandi besar (ghusl) diwajibkan dalam kondisi tertentu, seperti junub, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Ma'idah ayat 6.
Para ulama umumnya memandang mandi sebelum Ramadan sebagai amalan yang mubah (diperbolehkan), bukan sunnah khusus yang ditetapkan syariat. Wali Songo, dalam menyebarkan Islam di Jawa, menggunakan pendekatan kultural dan tidak serta-merta menghapus tradisi lokal seperti Padusan, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam, menjadikannya sarana untuk mengajarkan kebersihan lahir dan batin.
Meskipun demikian, tradisi Padusan tidak luput dari kontroversi dan kekhawatiran. Salah satu kekhawatiran utama adalah praktik mandi bersama yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di tempat umum, atau yang dikenal sebagai ikhtilath. Dalam tinjauan syara', praktik semacam ini dilarang dalam Islam.
Selain itu, ada sebagian masyarakat yang keliru meyakini Padusan sebagai sebuah kewajiban agama yang harus dilakukan sebelum Ramadan. Jika Padusan diyakini sebagai ritual wajib atau sunnah khusus dengan keutamaan tertentu tanpa dasar dalil syar'i, maka hal itu dapat masuk kategori bid'ah (inovasi dalam ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syariat).
Pertanyaan & Jawaban Seputar Padusan Sebelum Puasa
1. Apa itu Padusan?
Jawaban: Padusan adalah tradisi mandi atau membersihkan diri yang dilakukan oleh masyarakat Jawa menjelang datangnya bulan suci Ramadan, berakar dari kata "adus" yang berarti mandi.
2. Kapan tradisi Padusan dilaksanakan?
Jawaban: Padusan biasanya dilaksanakan sehari sebelum Ramadan tiba, tepatnya pada tanggal 29 atau 30 bulan Ruwah dalam kalender Jawa, umumnya pada waktu siang hingga sore hari.
3. Apa tujuan utama dari tradisi Padusan?
Jawaban: Tujuan utama Padusan adalah untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual, sebagai persiapan agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan keadaan yang lebih bersih, khusyuk, dan penuh keikhlasan.
4. Bagaimana pandangan Islam terhadap tradisi Padusan?
Jawaban: Dalam Islam, tidak ada dalil khusus yang mewajibkan Padusan, namun kebersihan sangat ditekankan. Para ulama memandang Padusan sebagai amalan yang mubah (diperbolehkan) atau sunnah tazayyun (berhias/membersihkan diri), bukan sunnah khusus yang ditetapkan syariat.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518446/original/031235500_1772508787-febby_rastanty.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3983014/original/073829000_1648909222-20220402-SHALAT-TARAWIH-PERTAMA-MASJID-ISTIQLAL-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516466/original/077001300_1772301611-Leeds_United_and_Manchester_City.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518501/original/018743900_1772510287-Screenshot_2026-03-03_105707.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4670207/original/029073300_1701403206-rasyid-maulana-yVwiHXoTrnU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/687375/original/130208021500-smartphone-iphone-xxx-jc-monster.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501801/original/034251400_1770956928-unnamed__13_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518359/original/061148300_1772506142-unnamed__39_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5168524/original/033224600_1742449887-Depositphotos_365597030_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3110450/original/059507500_1587634731-Praying_Hands_With_Faith_In_Religion_And_Belief_In_God__Power_Of_Hope_And_Devotion___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2820929/original/054084500_1559368646-Tol-Palimanan-Padat-Merayap6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501163/original/064338700_1770888533-Media_Gathering_-_Cerita_Ramadan_Masa_Kini_bersama_Shopee_Big_Ramadan_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514269/original/070613600_1772085444-Tato.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518328/original/018442800_1772505478-Salat_Tarawih_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517636/original/037027400_1772434717-meisya.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)

