Liputan6.com, Jakarta Doa naik gunung menjadi amalan penting bagi umat Muslim yang gemar berpetualang di alam bebas. Mengucapkan doa sebelum dan selama pendakian tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga merupakan bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Dalam Islam, berzikir dan berdoa ketika melakukan perjalanan termasuk amalan yang sangat dianjurkan. Melansir dari Kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, terdapat adab khusus dalam berzikir saat melewati jalan menanjak dan menurun selama pendakian. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) termasuk doa yang mustajab atau dikabulkan.
Hal ini berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah RA yang menyebutkan bahwa doa musafir adalah salah satu dari tiga doa yang tidak diragukan akan dikabulkan Allah SWT. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (1/10/2025).
Doa Naik Gunung: Takbir Saat Menanjak
Ketika mendaki gunung dan melewati jalur yang menanjak, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengucapkan takbir. Amalan ini diriwayatkan dalam hadits shahih dari Jabir bin Abdullah RA yang menyebutkan bahwa para sahabat mengucapkan takbir saat naik dan tasbih saat turun.
Melansir dari Shahih Al-Bukhari, Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah RA bahwa beliau berkata, "Kami, pada saat naik mengucapkan takbir dan pada saat turun mengucapkan tasbih." Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ad-Darimi, serta dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.
Bacaan Doa Naik Gunung (Takbir) dalam Arab: اَللَّهُ اَكْبَرْ
Latin: Allahu akbar
Artinya: "Allah Mahabesar"
Ucapan takbir ini mengandung makna pengagungan terhadap Allah SWT. Dengan mengucapkan "Allahu akbar" saat menanjak, pendaki mengingat bahwa Allah lebih besar dari segala kesulitan yang dihadapi. Ini juga menjadi pengingat bahwa kekuatan untuk menaklukkan pendakian datang dari pertolongan Allah SWT semata.
Doa Turun Gunung: Tasbih Saat Menurun
Setelah mencapai puncak dan memulai perjalanan turun gunung, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengucapkan tasbih. Zikir ini berbeda dengan takbir yang diucapkan saat menanjak, menunjukkan adab yang berbeda dalam setiap kondisi perjalanan.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA disebutkan bahwa Nabi SAW bersama para bala tentara pada saat menaiki bukit mereka bertakbir, dan ketika turun mereka bertasbih. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud.
Bacaan Doa Turun Gunung (Tasbih) dalam Arab: سُبْحَانَ ٱللَّٰهِ
Latin: Subhanallah
Artinya: "Maha Suci Allah"
Ucapan tasbih saat menurun merupakan bentuk pensucian nama Allah SWT. Dengan mengucapkan "Subhanallah," pendaki mengakui kesucian dan keagungan Allah yang telah memberikan kemudahan dalam perjalanan turun. Tasbih juga menjadi ungkapan syukur atas nikmat keselamatan yang diberikan selama pendakian.
Doa Safar untuk Pendaki Gunung
Selain zikir takbir dan tasbih, pendaki gunung juga disunnahkan membaca doa safar (perjalanan) sebelum memulai pendakian. Doa safar merupakan amalan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon perlindungan dan kemudahan dalam perjalanan.
Bacaan Doa Safar dalam Arab:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Latin:
Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila Rabbina lamunqalibun. Allahumma inna nas-aluka fi safarina hadza al-birra wattaqwa wa minal 'amali ma tardha. Allahumma hawwin 'alaina safarana hadza wathwi 'anna bu'dahu. Allahumma antash shahibu fis safari wal khalifatu fil ahli. Allahumma inni a'udzu bika min wa'tsa-is safari wa ka-abatil manzhori wa su-il munqalabi fil mali wal ahli.
Artinya:
"Maha Suci (Allah) yang telah menundukkan ini semua bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jarak yang jauh. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan yang mengurus keluarga (yang ditinggalkan). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga."
Zikir dan Doa Lainnya Selama Pendakian
Selain takbir dan tasbih, pendaki gunung dapat mengamalkan berbagai zikir dan doa lainnya selama perjalanan. Memperbanyak zikir akan menjaga hati tetap tenang dan pikiran tetap fokus pada Allah SWT di tengah tantangan pendakian.
Beberapa zikir yang dapat diamalkan:
- Istighfar: "Astaghfirullah" (Aku memohon ampun kepada Allah) - dibaca untuk memohon ampunan atas dosa-dosa.
- Tahmid: "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah) - diucapkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat kesehatan dan kemampuan mendaki.
- Tahlil: "La ilaha illallah" (Tiada tuhan selain Allah) - kalimat tauhid yang mengokohkan keimanan.
- Shalawat Nabi: "Allahumma shalli 'ala Muhammad" (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad) - untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.
- Hauqalah: "La haula wala quwwata illa billah" (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) - diucapkan saat menghadapi kesulitan atau medan yang berat.
Doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) memiliki keutamaan khusus dalam Islam. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa musafir termasuk doa yang mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT.
Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Tiga doa mustajabah yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya." (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)
Adab Naik Gunung dalam Islam
Islam mengajarkan adab dan etika dalam setiap aktivitas, termasuk ketika mendaki gunung. Adab naik gunung dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan doa dan zikir, tetapi juga mencakup perilaku dan sikap yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Melansir dari berbagai kitab hadits dan fiqih, berikut adab-adab yang perlu diperhatikan pendaki Muslim:
- Niat yang Benar: Mendaki gunung hendaknya diniatkan untuk beribadah, merenungkan kebesaran Allah SWT, atau menjaga kesehatan, bukan untuk kesombongan atau pamer.
- Membaca Doa Sebelum Berangkat: Sebelum memulai pendakian, bacalah doa safar dan meminta izin kepada orang tua atau keluarga.
- Menjaga Shalat: Tetap menunaikan shalat lima waktu dengan tepat waktu meskipun dalam perjalanan. Pendaki boleh memanfaatkan rukhsah shalat qasr dan jamak jika memenuhi syarat.
- Berzikir Sesuai Kondisi: Ucapkan takbir saat menanjak dan tasbih saat menurun sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.
- Menjaga Kebersihan Alam: Islam sangat menekankan kebersihan dan tidak merusak lingkungan. Pendaki harus membawa kembali sampahnya dan tidak merusak tumbuhan atau fauna.
- Tolong-Menolong: Membantu sesama pendaki yang kesulitan adalah cerminan akhlak Islam yang mulia.
- Bersyukur: Senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan menikmati keindahan ciptaan Allah SWT.
FAQ
1. Apa doa yang dibaca saat naik gunung? Doa yang dibaca saat naik gunung adalah takbir "Allahu Akbar" yang diucapkan ketika melewati jalur menanjak sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
2. Apa bacaan saat turun gunung? Bacaan saat turun gunung adalah tasbih "Subhanallah" yang diucapkan ketika melewati jalur menurun sebagaimana diajarkan dalam hadits shahih.
3. Apakah doa musafir berlaku untuk pendaki gunung? Ya, pendaki gunung termasuk musafir sehingga doa musafir berlaku dan memiliki keutamaan untuk dikabulkan Allah SWT.
4. Kapan waktu membaca doa safar untuk pendakian? Doa safar dibaca sebelum memulai perjalanan pendakian, sebaiknya setelah berkumpul dengan tim dan sebelum melangkah ke jalur pendakian.
5. Bolehkah mendaki gunung tanpa membaca doa? Boleh secara hukum, namun sangat dianjurkan membaca doa dan berzikir karena termasuk sunnah Rasulullah SAW dan memberikan perlindungan spiritual.
6. Apa hikmah mengucapkan takbir saat menanjak? Hikmahnya adalah mengingat kebesaran Allah yang melebihi segala kesulitan, serta memohon kekuatan dari-Nya untuk menghadapi tantangan pendakian.
7. Apakah zikir bisa dibaca dalam hati saat mendaki? Zikir boleh dibaca dalam hati, namun lebih utama diucapkan dengan lisan agar lebih fokus dan memberikan pengaruh positif pada pendaki lainnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863975/original/089422800_1718366389-Ilustrasi_sedekah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397208/original/025765600_1681628590-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3114271/original/028783800_1588060319-383585-PBYIZ7-451.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725346/original/051209800_1706092573-Imam_Syafi_i_Wikimedia_Commons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2793782/original/075290100_1556766221-ramadan-3461512_960_720_pixabay.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421629/original/013547700_1763953850-339bf3c9-aba1-4aba-bc8b-83c81688b22b.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737864/original/087768800_1707368307-fotor-ai-20240208115418.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3463003/original/093162800_1621761005-20210523-Puncak-Arus-Balik-Lebaran-IQBAL-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5045104/original/041213400_1733897746-1733893370607_tujuan-isra-miraj-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4660564/original/081485600_1700737006-isra_miraj.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158583/original/033672200_1741665428-kata-kata-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316291/original/015050100_1755231247-5.jpg)








