Ponpes Cipasung Luncurkan Kampung Pangan dan Santripreneur Jelang Usia Satu Abad

2 months ago 32

Liputan6.com, Jakarta - Pondok Pesantren Cipasung meluncurkan program Cipasung Kampung Pangan dan Santripreneur sebagai langkah transformasi menuju usia satu abad pesantren tersebut.

Peluncuran berlangsung di kompleks pesantren pada Kamis, 27 November 2025 malam, bertepatan dengan 100 hari wafatnya KH Koko Komarudin Ruhiat, salah satu pengasuh pesantren dan adik tokoh nasional KH Ilyas Ruhiat.

Acara tersebut dihadiri ribuan santri serta keluarga besar Cipasung, termasuk sejumlah tokoh, di antaranya Prof Dr KH Asep Saepuddin Chalim, Irjen (Pol) Sony Sonjaya  selaku Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, KH Ubaidillah, KH Acep Adang Ruhiat, KH Deni Sagara, para ajengan, dan tamu undangan lain.

KH Asep merupakan alumni Pesantren Cipasung yang pernah diasuh langsung oleh KH Ruhiat, serta pendiri Ponpes Amanatul Ummah Jawa Timur, Ketua Umum PERGUNU, dan Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN).

Dalam sambutannya, Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menghadirkan makanan sehat bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian.

“Sejak dilaunching 6 Januari 2025, program MBG kini memiliki 16.000 dapur SPPG di seluruh Indonesia, melayani 40 juta penerima manfaat dan menyerap lebih dari 700.000 tenaga kerja,” ujarnya.

Sony menyampaikan kebutuhan bahan pangan untuk MBG terus meningkat dan mendorong pesantren untuk memperkuat produksi mandiri.

“Jangan biarkan lahan kosong. Tanami. Bangun hidroponik. Siapkan produksi sendiri agar dapur-dapur tidak sepenuhnya bergantung pada pasar,” katanya.

Ia juga menyarankan agar pengembangan pangan dipadukan dengan program santripreneur agar santri siap menghadapi tantangan ekonomi modern.

Ustaz Abu Kahfi mendirikan Pondok Pesantren Tunarungu Darul A’Shom di Yogyakarta.

Dari Ayam Petelur hingga 25 Hektare Kebun Pisang

Pengasuh Majelis Zikir dan Sholawat Cipasung KH Deni Sagara menyatakan bahwa inisiatif ketahanan pangan disambut antusias masyarakat sekitar.

“Di Cihaur, ada space di atas kolam yang dijadikan kandang ayam. Satu rumah, dua rumah, mulai kelola ayam petelur dan tanaman hidroponik,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kiai Jatman Tasikmalaya telah menyediakan 25 hektare lahan di Sodong untuk ditanami pisang dalam rangka memenuhi kebutuhan MBG.

“Program MBG bukan hanya untuk santri, tetapi juga masyarakat. Ini jadi berkah untuk semuanya,” katanya.

Momentum Transformasi Menjelang Satu Abad

Dalam pidatonya, KH Asep Saepuddin Chalim menegaskan bahwa peluncuran program Kampung Pangan dan Santripreneur menjadi langkah strategis menuju perubahan besar di usia 100 tahun Cipasung.

“Dari pesantren harus lahir santri yang bukan hanya alim, tetapi juga pemimpin yang adil, dermawan, pengusaha, dan profesional di berbagai bidang. Ini tuntutan zaman,” ujarnya.

Program tersebut juga mendapatkan dukungan dari keluarga besar pesantren, termasuk KH Acep Adang Ruhiat dan KH Ubaidillah Ruhiat, yang secara simbolis menerima bantuan bahan pangan untuk mendukung operasional dapur pesantren.

KH Asep menegaskan bahwa Cipasung menargetkan diri menjadi lumbung pangan dan pusat pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren.

“Mari melakukan transformasi dengan gemuruh pesantren, mewujudkan Indonesia maju, adil, makmur, dan sejahtera,” katanya.

Peluncuran program ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Cipasung menuju satu abad—dan penanda transformasi dari pesantren tradisional menuju pesantren mandiri dan berdaya saing.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |