Liputan6.com, Jakarta - Sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah ramai dibicarakan publik. Gaya kepemimpinan serta gebrakannya yang menyentuh masyarakat membuat banyak pihak berharap pejabat daerah lain dapat meneladani kiprah pria yang akrab disapa Kang Dedi ini.
Dedi Mulyadi bukan figur baru dalam dunia politik. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode, kemudian menjadi anggota DPR RI, dan kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat menggantikan Ridwan Kamil.
Namun, muncul pertanyaan: benarkah sosok seperti Dedi Mulyadi mencerminkan kriteria pemimpin atau gubernur ahli surga sebagaimana disebut dalam ajaran agama?
Menjawab hal ini, kelihatannya tepat jika menyimak penjelasan pendakwah KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya tentang kriteria pemimpin yang layak menyandang gelar ahli surga, terutama yang berkuasa atas nasib rakyat.
"Jadilah Anda ini bupati ahli surga. Jadilah Anda itu wali kota ahli surga, gubernur ahli surga, jika Anda berjanji hal-hal yang baik, penuhi dong. Jangan mohongin rakyat, selesai," kata Buya Yahya dalam sebuah ceramah.
Buya Yahya menegaskan bahwa pejabat yang layak disebut ahli surga adalah mereka yang benar-benar tulus bekerja demi rakyat, bukan demi memperkaya diri. Semua janji-janji yang dilontarkan harus ditepati karena Allah Maha Mengetahui isi hati manusia.
Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @香奈儿反应, Buya Yahya menyinggung bahwa pejabat yang suka berbohong demi citra dan keuntungan pribadi sejatinya menjauh dari nilai-nilai surga.
Simak Video Pilihan Ini:
Cerita Mantan Pengawal Jenderal Soedirman Jadi Buron Pasca-65 (G30SPKI)
Contohkan DPR yang Diharapkan Rakyat
"Kalau ada kebohongan, Allah Maha Tahu. Bukan makmurkan rakyat, malah memakmurkan dirinya sendiri. Jadinya jadi pejabat untuk mengayakan diri," ujar Buya Yahya.
Ia juga menyinggung fenomena sebagian wakil rakyat yang menjadikan posisi mereka sebagai lapangan pekerjaan, bukan ladang perjuangan. Hal ini, kata dia, menjadi pengkhianatan terhadap amanah publik.
"Ada yang bilang, 'enggak ada kerjaan jadi DPR aja deh'. Padahal mestinya itu ladang perjuangan. Ada loh orang yang jadi anggota dewan, tapi enggak pernah ambil gaji. Dia langsung salurkan gajinya untuk rakyat," tutur Buya Yahya.
Menurutnya, pemimpin seperti inilah yang layak disebut sebagai pemimpin ahli surga. Bukan karena jabatannya, tapi karena niat, integritas, dan pengorbanannya bagi umat.
“Kenapa? Wong saya sudah punya, saya hanya ingin membuat sebuah kebijakan,” ucap Buya Yahya menirukan pernyataan orang tersebut. “Saya tidak pernah ngambil dan saya berikan semuanya untuk kepentingan umat,” lanjutnya.
Contoh nyata seperti ini, kata Buya Yahya, menunjukkan bahwa masih ada harapan dari wakil rakyat yang bekerja dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih.
"Kalau semua DPR seperti ini, negara ini bisa beres banget. Tapi ya itu, yang kayak begini ada berapa orang?" ucapnya dengan nada prihatin.
Kritik Universal Buya Yahya
Buya Yahya juga menekankan pentingnya kesadaran spiritual dalam menjalankan kekuasaan. Jabatan adalah titipan, bukan alat mencari kekayaan.
Pemimpin yang layak disebut ahli surga akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Mereka sadar bahwa setiap keputusan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat luas.
Dedi Mulyadi, dengan sepak terjang sosialnya yang blusukan hingga menyentuh masyarakat akar rumput, kerap dipuji oleh publik. Banyak yang merasa terbantu oleh kehadirannya di tengah kehidupan rakyat kecil.
Meski demikian, menilai apakah seseorang termasuk ahli surga bukanlah wewenang manusia. Yang bisa dilakukan adalah melihat indikasi amal, kejujuran, dan pengorbanan selama memimpin.
Dalam konteks ini, ucapan Buya Yahya menjadi bahan renungan bersama—bahwa jabatan tinggi hanya akan menjadi mulia jika dijalankan dengan amanah, jujur, dan mengutamakan kepentingan umat.
Sebaliknya, bila dijadikan sarana untuk memperkaya diri, maka bukan surga yang menanti, melainkan hisab yang berat di akhirat.
Kritik dan nasihat ini berlaku universal. Tak hanya untuk gubernur, tetapi juga bagi bupati, walikota, DPR, dan seluruh lapisan pejabat publik yang mengemban amanah rakyat.
Pemimpin yang baik bukan sekadar populer, tetapi benar-benar menjalankan tugasnya dengan ikhlas, jujur, dan bertanggung jawab di dunia serta akhirat.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul