Liputan6.com, Jakarta - Aktor kawakan Indonesia Ray Sahetapy meninggal dunia. Kabar ini menyeruak di antara ingar bingar kebahagiaan masyarakat merayakan Lebaran Idul Fitri 2025.
Ray disholatkan di Masjid Istiqlal dan lantas dimakamkan di Tanah Kusir.
Ternyata, ada kedekatan khusus Ray Sahetapy dengan masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Dulu, sebelum menikah dengan Dewi Yull, Ray Sahetapy masuk Islam (mualaf) dengan bersyahadat di Masjid Istiqlal.
Kisah Ray Sahetapy yang mualaf dan disholatkan di Masjid Istiqlal saat meninggal dunia ini menjadi artikel terpopuler di kanal Islami Liputan6.com, Sabtu (5/4/2025).
Artikel kedua yang juga menyita perhatian adalah tren joget-joget bagi THR, benarkah tradisi Yahudi?
Sementara, artikel ketiga yakni saran Dedi Mulyadi agar kiai tak perlu sampaikan agar masyarakat berzakat kepada fakir miskin.
Selengkapnya, mari simak Top 3 Islami.
Simak Video Pilihan Ini:
3 Jamaah Sholat Idul Fitri di Alun-Alun Pemalang Meninggal Tertimpa Pohon Tumbang
1. Cerita Kedekatan Ray Sahetapy dengan Masjid Istiqlal, Syahadat dan Kepulangannya
Aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada Selasa (1/4/2025). Ray Sahetapy mengembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat setelah sebelumnya sempat divonis mengidap diabetes dan stroke.
Jenazah Ray Sahetapy baru disholatkan di Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Jumat (4/4/2025) setelah sholat Jumat. Kemudian, aktor legendaris itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan di hari yang sama.
Putra bungsu Ray Sahetapy, Raya Sahetapy mengungkapkan alasan ayahnya baru disholatkan tiga hari setelah wafat, yaitu menunggu Surya Sahetapy yang merupakan kakak dari almarhum pulang dari Amerika.
Raya juga mengungkapkan alasan ayahnya disholatkan di Masjid Istiqlal. Itu karena masjid terbesar se-Asia Tenggara itu menjadi saksi perjalanan sang ayah menjadi seorang muslim.
Ray berikrar dan masuk Islam dengan membaca dua kalimah syahadat di masjid megah ini.
"Sebenarnya baru dapat info dari ibu (Dewi Yull), bahwa ayah itu mualaf pada 1982 sebelum nikah sama ibu. Dan kebetulan banget dimualafkan di (Masjid) Istiqlal,” ungkap Raya Sahetapy di rumah duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (3/4/2025).
2. Tren Joget-Joget Bagi THR Lebaran 2025 Disebut Mirip Tarian Yahudi, Benarkah?
Bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) kepada sanak keluarga merupakan hal yang biasa setiap momen lebaran Idul Fitri. Terlepas dari bagaimana cara membagikannya, memberikan THR kepada anak, keponakan, dan lainnya sudah menjadi tradisi yang tak bisa ditinggalkan.
Hal menarik, ketika media sosial masif digunakan, cara membagikan THR yang viral karena tak biasa selalu diikuti oleh pengguna media sosial lainnya. Tahun ini, trennya adalah membagikan THR sembari joget-joget.
Seketika banyak yang mengikuti tren joget bagi-bagi THR. Bahkan, videonya selalu muncul di halaman awal media sosial alias FYP (for you page). Usut punya usut, tren joget bagi-bagi THR ini mirip seperti tarian yang dilakukan orang-orang Yahudi.
Video yang memperlihatkan orang yang disebut berpakaian mirip Yahudi melakukan tarian senada seketika viral di media sosial. Banyak warganet yang mengaitkan joget-joget tersebut berasal dari kaum Yahudi. Lantas, benarkah?
Pendakwah Ustadz Abu Bakar Al Akhdhory mengingatkan agar muslim tidak langsung ikut-ikutan tentang tren yang hangat di media sosial (medsos). Ia menyoroti joget-joget bagi THR yang menurutnya tidak selaras dengan ajaran Islam.
“Joget-joget untuk THR ternyata tarian yang biasa dilakukan Yahoodi! (Kalaupun bukan khas mereka, namun musik dan joget-jogetnya tetap mungkar),” tulisnya dikutip dari Instagram @abubakar_alakhdhory, Jumat (4/4/2025).
3. Menurut Dedi Mulyadi Kiai Tak Perlu Sampaikan agar Masyarakat Berzakat kepada Fakir-Miskin, Kenapa?
Dedi Mulyadi pernah menduduki jabatan strategis jauh sebelum dirinya terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat. Dedi Mulyadi pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia periode (2019-2023) dan sebelum juga pernah menjadi Bupati Purwakarta dua periode (2008-2018)
Ketika menjadi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi pernah mengatakan bahwa para kiai tidak perlu repot menyampaikan pesan kepada masyarakat agar berzakat kepada fakir-miskin. Apa alasannya?
“Para kiai itu tidak perlu keliling menyampaikan pesan agar masyarakat zakat ke fakir-miskin. Lebih baik ia sampaikan pesan itu kepada anggota DPRD atau ke Bupati, Wali kota, Gubernur dan Presiden,” katanya pada 2016 silam seperti dinukil dari NU Online, Jumat (4/4/2025).
Dedi juga menilai peran mubaligh belum optimal sebagai opinion leader di masyarakat. Menurutnya, para pendakwah kebanyakan kurang bergerak memasuki kawasan substansial dari nilai-nilai Islam dan terjebak pada kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak menukik pada penyelesaian problem di masyarakat.
“Para kiai akan lebih baik kalau menekan negara agar membenahi anggaran untuk fakir-miskin. Toh fakir-miskin juga secara konstitusi menjadi kewajiban negara,” tuturnya.