12 Ayat Al-Qur’an tentang Pentingnya Berakhlak Mulia, Simak Penjelasan Ulama

16 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang pentingnya berakhlak mulia menjadi dasar kewajiban muslim untuk berperilaku baik, dan menjadikan Nabi SAW sebagai uswatun hasanah. Al-Qur'an menempatkan akhlak sebagai inti dari risalah kenabian, dan alasan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna akhlak, sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Baihaqi.

Ditegaskan dalam Surah Al-Qalam ayat 4 bahwa Rasulullah benar-benar berbudi pekerti agung. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa akhlak bukanlah sekadar perilaku yang tampak, melainkan sebuah kondisi jiwa yang kokoh (hai'ah) yang melahirkan perbuatan secara spontan tanpa perlu pemikiran panjang. Pentingnya akhlak mulia ini menjadi parameter utama kualitas iman seseorang.

Teladan Akhlak mulia merujuk pada sosok Nabi Muhammad SAW sebagai model sempurna, yang ditegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menyatakan bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswatun hasanah (suri teladan yang baik). Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azim menekankan bahwa ayat ini adalah perintah kbagi setiap Muslim untuk meneladani perilaku Nabi dalam segala situasi, baik saat lapang maupun sempit. 

Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an tentang pentingnya berakhlak mulia, lengkap makna dan penjelasan ulama tafsir.

1. Surah Al Baqarah Ayat 152-153

.فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 

Latin: Fażkurụnī ażkurkum wasykurụ lī wa lā takfuruun. Yā ayyuhallażīna āmanusta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn.

Artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 152-153).

Ayat ini menekankan dua pilar utama akhlak seorang mukmin dalam menghadapi dinamika hidup: Syukur saat lapang dan Sabar saat sempit. Allah menjanjikan kebersamaan-Nya bagi mereka yang mampu menahan diri (sabar) dan tetap terhubung melalui shalat. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa sabar adalah separuh dari iman. Beliau menekankan bahwa sabar bukan sekadar pasif, melainkan kekuatan jiwa untuk tetap teguh di jalan Allah meski dalam tekanan syahwat atau musibah.

2. Surah Al-A’raf Ayat 199

خُذِ الۡعَفۡوَ وَ اۡمُرۡ بِالۡعُرۡفِ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡجٰہِلِیۡنَ 

Latin: Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi waa’ridh ‘anil jaahiliin(a)

Artinya: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh," (QS. Al-A’raf: 199).

Ayat ini berisi tiga fondasi interaksi sosial: memberikan maaf tanpa diminta, mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik, dan menghindari perdebatan sia-sia dengan orang yang tidak berilmu (yang hanya mengandalkan emosi). Ibnu Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azim menyebutkan bahwa ayat ini mencakup seluruh akhlak mulia dalam berhubungan dengan makhluk. Memberi maaf adalah tingkatan tertinggi dalam mengendalikan amarah.

3. Surah Al-'Ankabût Ayat 45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ 

Latin: Utlu mā ụḥiya ilaika minal-kitābi wa aqimiṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta tan-hā 'anil-faḥsyā`i wal-mungkar, walażikrullāhi akbar, wallāhu ya'lamu mā taṣna'uun

Artinya: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," (QS. Al-'Ankabût: 45).

Shalat yang dilakukan dengan benar secara otomatis akan membentuk filter moral dalam diri seseorang. Jika shalat seseorang belum mampu mencegahnya dari perbuatan keji, maka ada kualitas ibadah yang perlu diperbaiki. Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur'an menjelaskan bahwa shalat adalah sebuah sistem tarbiyah (pendidikan) yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sehingga melahirkan rasa malu untuk berbuat maksiat.

4. Surah Al-Anbiya’ Ayat 83

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ 

Latin: Wa-ai-yuuba idz naada rabbahu annii massaniyadh-dhurru wa-anta arhamurraahimiin(a)

Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'," (QS. Al-Anbiya: 83).

Ayat ini mengajarkan akhlak dalam berdoa (tauhidul ilahiyah). Nabi Ayub tidak mengeluh dengan nada protes, melainkan memuji sifat kasih sayang Allah sebagai bentuk kepasrahan total. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa inilah puncak kesabaran. Nabi Ayub tidak merasa Allah zalim, melainkan memposisikan dirinya sebagai hamba yang sangat butuh rahmat dari Sang Penyayang.

5. Surah Yusuf Ayat 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ 

Latin: Yā baniyyaż-habụ fa taḥassasụ miy yụsufa wa akhīhi wa lā tai`asụ mir rauḥillāh, innahụ lā yai`asu mir rauḥillāhi illal-qaumul-kāfiruun

Artinya: "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir," (QS. Yusuf: 87)

Berputus asa dianggap sebagai karakter yang sangat buruk karena menunjukkan ketidakpercayaan pada kekuasaan Allah. Akhlak mulia mencakup sikap selalu optimis (husnudzon) kepada takdir-Nya. Syeikh Wahbah al-Zuhayli dalam Tafsir Al-Munir menekankan bahwa harapan (raja') adalah energi penggerak amal saleh, sedangkan putus asa adalah racun yang mematikan hati.

6. Surah Al-Hujurat ayat 11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ 

Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11)

Al-Qur'an melarang keras bullying, mengejek, dan memberikan julukan buruk karena hal tersebut merusak ukhuwah (persaudaraan) dan merendahkan martabat manusia. Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa meremehkan orang lain adalah bentuk kesombongan yang sangat dibenci Allah, karena standar kemuliaan hanyalah ketakwaan.

7. Surah Al-Isra ayat 23-24

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ 

Latin: Wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā. Wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

Artinya: "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al Isra: 23-24)

Allah menyandingkan perintah bertauhid dengan perintah berbakti kepada orang tua. Bahkan sekadar suara "ah" (ucapan keberatan terkecil) dilarang, menunjukkan betapa tingginya adab yang harus dijaga terhadap mereka. Imam Al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menegaskan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban mutlak selama tidak bertentangan dengan syariat, dan merupakan pintu surga yang paling tengah.

8. Surah Luqman ayat 14-15

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ 

Latin: Wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr. wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā wa ṣāḥib-humā fid-dun-yā ma’rụfaw wattabi’ sabīla man anāba ilayy, ṡumma ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn.

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Lukman: 14-15).

Ayat ini memberikan batasan: ketaatan kepada manusia (termasuk orang tua) berakhir jika mereka mengajak pada kemusyrikan. Namun, meski berbeda keyakinan, kewajiban berakhlak baik kepada mereka tetap berlaku. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara hak Allah (tauhid) dan hak makhluk (bakti), tanpa mengorbankan salah satunya.

9. Surah Al-Maidah ayat 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ 

Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadā`a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maidah: 8)

Akhlak dalam kepemimpinan dan hukum adalah keadilan. Islam melarang seseorang bertindak zalim hanya karena dendam atau rasa benci pribadi. Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar menyatakan bahwa keadilan adalah ruh dari peradaban Islam yang harus ditegakkan kepada kawan maupun lawan.

10. Surah Al-Ahzab ayat 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ 

Latin: laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21)

Ayat ini adalah legitimasi bahwa seluruh gerak-gerik, ucapan, dan diamnya Nabi Muhammad SAW adalah standar tertinggi akhlak mulia. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa "Uswah Hasanah" bukan sekadar ditiru pakaiannya, melainkan ditiru esensi akhlaknya dalam menghadapi masalah dan berinteraksi dengan orang lain.

11.Surah Al-Baqarah ayat 83

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ 

Latin: Wa iż akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla lā ta’budụna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānaw wa żil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qụlụ lin-nāsi ḥusnaw wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, ṡumma tawallaitum illā qalīlam mingkum wa antum mu’riḍụn

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling." (QS. Al-Baqarah: 83).

Perintah ini bersifat universal (lin-nas), bukan hanya kepada sesama Muslim. Berbicara santun adalah identitas seorang mukmin. Imam Asy-Syafi'i (dalam berbagai riwayat yang dirangkum dalam kitab-kitab adab) sering menekankan bahwa menjaga lisan adalah pangkal dari segala keselamatan dan martabat seorang lelaki.

12. Surah Al-Mulk ayat 29

قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ 

Latin: Qul huwar-raḥmānu āmannā bihī wa ‘alaihi tawakkalnā, fa sata’lamụna man huwa fī ḍalālim mubīn

Artinya: "Katakanlah: 'Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata'." (QS. Al-Mulk: 29).

Tawakal adalah akhlak batin. Setelah berusaha, seorang hamba menyerahkan hasil kepada Allah dengan penuh ketenangan. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' al-Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa tawakal yang sejati adalah ketergantungan hati secara total kepada Allah sembari tetap menjalankan sebab (ikhtiar) secara lahiriah.

People Also Ask:

Ayat alquran yang menjelaskan tentang akhlak mulia?

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung." (QS Al-Qalam [68]: 4). Kata "di atas" menurut ulama ahli tafsir Muhammad Quraish Shihab (2000) mempunyai makna yang sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya, pada tahap atau dalam keadaan akhlak mulia.

Apakah isi ayat 93.4 dalam Al-Quran?

(93:4) Sesungguhnya apa yang akan datang lebih baik bagimu daripada apa yang telah berlalu . (93:5) Sesungguhnya Tuhanmu akan segera memberikan kepadamu rezeki yang melimpah sehingga kamu akan merasa senang.

Apa makna yang terkandung dalam hadis berikut: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ?

Makna hadis "إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ" adalah bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (karakter dan perilaku yang terpuji), menjadikan perbaikan akhlak sebagai tujuan utama risalahnya, seperti jujur, adil, sabar, penyayang, dan tidak menyakiti orang lain, yang menjadi cerminan sempurna dari ajaran Islam.

Apa pentingnya berakhlak mulia?

Kemudian selanjutnya orang dengan akhlak mulia akan mendapat kedudukan dan martabat yang tinggi di akhirat nanti. Akhlak mulia juga menjadi parameter kebaikan di dalam hidup bermasyarakat, yang akan membawa kebaikan-kebaikan dalam bersosialisasi. Ini penting karena kita hidup juga perlu berinteraksi antar sesama.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |