5 Adab Bersilaturahmi Menurut Islam di Era Modern, Dalil dan Penerapannya

1 month ago 32

Liputan6.com, Jakarta - Silaturahmi dalam perspektif Islam memiliki dimensi spiritual, sosial, dan moral sekaligus. Untuk itu, umat Islam penting mengetahui adab bersilaturahmi menurut islam di era modern.

Merujuk Jurnal Transformasi Nilai Silaturahmi dalam Era Digital (Telaah Kontekstual Perspektif Islam), Dwi Harjana, dkk, kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab, yakni al-silah (menyambung) dan al-rahim (hubungan kekerabatan), yang secara esensial bermakna menyambung dan memelihara hubungan baik antar sesama, terutama dengan keluarga dan kerabat.

Dalam konteks era modern, teknologi digital telah mengubah pola interaksi manusia. Praktik silaturahmi juga mengalami transformasi bentuk. Silaturahmi di era modern telah bergeser dari interaksi fisik menjadi komunikasi virtual. Namun, esensi dan nilai-nilai dasarnya tetap harus dijaga sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.

Artikel ini akan menguraikan adab-adab bersilaturahmi menurut Islam di era modern sebagai panduan agar tetap sesuai syariat.

Adab bersilaturahmi di era modern tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam yang universal, dengan mengadaptasi bentuknya sesuai perkembangan zaman. Berikut ini penjelasannya.

1. Niat Ikhlas

Niat ikhlas merupakan dasar penerimaan amal dalam Islam, termasuk silaturahmi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din menjelaskan bahwa niat yang tulus karena Allah akan mengubah aktivitas sosial menjadi ibadah yang bernilai pahala, sementara niat yang tercampur kepentingan duniawi akan mengurangi keberkahan.

Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Di era digital, menjaga kemurnian niat menjadi tantangan tersendiri.

Saat mengirim pesan, melakukan panggilan video, atau berinteraksi di media sosial, seorang Muslim harus senantiasa mengingat bahwa tujuan utamanya adalah menjaga hubungan karena Allah, bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial, menunjukkan keberhasilan, atau menjaga citra di hadapan manusia.

Niat yang ikhlas inilah yang akan memberikan dimensi spiritual pada setiap bentuk komunikasi modern.

2. Berpegang pada Etika Komunikasi Digital

Etika komunikasi digital mencakup tiga prinsip utama: kesantunan berbahasa, penghormatan terhadap waktu, dan kehati-hatian dalam menyebar informasi.

Al-Qur'an dalam Surah Al-Isra’:53 memerintahkan umat Muslim untuk mengucapkan perkataan yang terbaik, yang dalam konteks digital berarti menghindari kata-kata kasar, sindiran, ghibah (menggunjing), dan fitnah yang mudah menyebar di ruang virtual.

Menghormati waktu lawan bicara, seperti tidak mengirim pesan di luar jam yang wajar, merupakan bentuk penghargaan terhadap kenikmatan waktu yang disebut dalam Surah Al-‘Asr.

Sementara itu, prinsip tabayyun (klarifikasi dan verifikasi) dari Surah Al-Hujurat:6 wajib diterapkan sebelum menyebarkan informasi apa pun untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat merusak hubungan.

Etika ini memastikan bahwa transformasi bentuk silaturahmi ke dunia digital tidak mengikis nilai-nilai dasar penghormatan dan kepercayaan.

3. Mengutamakan Interaksi Langsung

Meskipun teknologi memungkinkan komunikasi tanpa batas, Islam tetap memberikan keutamaan pada interaksi langsung. Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis riwayat Baihaqi menganjurkan pertemuan fisik dengan sabdanya, “Berjumpalah kalian, niscaya kalian saling mencintai.”

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa pertemuan langsung mengandung keberkahan khusus, seperti sentuhan, tatap mata, dan berbagi ruang yang memperkuat ikatan emosional dan membangun kepercayaan.

Dalam konteks modern, interaksi langsung harus diprioritaskan ketika memungkinkan, seperti kunjungan keluarga di akhir pekan, silaturahmi hari raya, atau pertemuan rutin komunitas.

Komunikasi digital berperan sebagai pelengkap atau alternatif ketika hambatan jarak, waktu, atau kondisi khusus (seperti pandemi) menghalangi pertemuan fisik, namun tidak sepenuhnya menggantikan nilai dan kedalaman yang dihadirkan oleh interaksi langsung.

4. Memperluas Jangkauan Silaturahmi

Silaturahmi dalam Islam memiliki cakupan yang luas dan inklusif. Surah An-Nisa’ ayat 36 tidak hanya memerintahkan berbuat baik kepada orang tua dan kerabat, tetapi juga kepada tetangga dekat dan jauh, sahabat, serta orang-orang dalam perjalanan.

Dalam Tafsir Ath Thabari Jami' Al Bayan Fi Ta'wil Al Qur'an, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menegaskan bahwa perintah silaturahmi adalah universal, mencakup semua bentuk hubungan sosial yang konstruktif.

Di era modern, makna ini semakin relevan dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan silaturahmi. Seseorang dapat menjaga hubungan dengan keluarga besar yang tersebar melalui grup WhatsApp, terhubung dengan komunitas alumni atau keagamaan melalui media sosial, serta berpartisipasi dalam forum online lintas geografi.

Namun, perluasan digital ini harus diimbangi dengan kesadaran untuk tidak mengabaikan lingkungan sosial terdekat, seperti tetangga dan komunitas lokal, sehingga tercipta keseimbangan antara jaringan luas dan kedalaman hubungan.

5. Memanfaatkan Teknologi untuk Tujuan Sosial

Teknologi digital, ketika digunakan dengan bijak, dapat menjadi sarana ampuh untuk memperkuat dimensi sosial dan spiritual silaturahmi. Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Muslim menyebutkan keutamaan mendoakan saudara yang tidak hadir, yang dalam konteks modern dapat diwujudkan dengan mengirimkan pesan doa atau ayat Al-Qur’an.

Fatwa kontemporer dari ulama seperti Syeikh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fatwa Mu’ashirah juga mengakui keabsahan dan nilai ibadah dari majelis ilmu virtual.

Platform seperti Zoom atau YouTube Live memungkinkan penyelenggaraan pengajian, diskusi keislaman, atau peringatan hari besar Islam yang menjangkau banyak orang.

Selain itu, teknologi memfasilitasi bentuk kepedulian konkret melalui platform donasi digital yang transparan untuk membantu kerabat yang membutuhkan.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi menjadi wasilah (sarana) untuk aktualisasi nilai-nilai kasih sayang, solidaritas, dan penyebaran ilmu dalam bingkai silaturahmi modern.

Dalil Kewajiban Silaturahmi

Landasan normatif mengenai pentingnya menjaga silaturahmi tercantum secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Hadis. Di antaranya adalah:

1. Perintah Menjaga Hubungan Kekeluargaan

Dalam Q.S. Al-Nisa' (4): 1, Allah memerintahkan manusia untuk bertakwa dan memelihara hubungan kekeluargaan. Ayat ini menekankan bahwa silaturahmi adalah bentuk ketaatan kepada Allah.

2. Kunci Masuk Surga

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan laksanakanlah shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat".

3. Ancaman bagi Pemutus Silaturahmi

Q.S. Muhammad (47): 22-23 menegaskan bahwa orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan akan dilaknat oleh Allah, ditulikan pendengarannya, dan dibutakan penglihatannya.

Hal ini diperkuat oleh Hadis Riwayat Muslim yang menyatakan bahwa pemutus hubungan silaturahmi tidak akan masuk surga.

Pandangan Ulama dan Penafsiran Kontekstual Era Modern

Adab silaturahmi berdasar pada ayat Al-Qur'an dan hadis yang turun atau diriwayatkan 14 abad lebih lalu. Namun, dalam penafsiran konteksual, ayat Al-Qur'an dan hadis ini tetap relevan diterapkan di zaman modern. 

1. Imam al-Tabarī (Kitab Jāmi' al-Bayān)

Menafsirkan Q.S. Al-Nisa': 1 dengan menekankan pentingnya menyambung kembali hubungan yang telah terputus sebagai wujud ketaatan.

2. Imam al-Baghawī (Kitab Fath al-Rahman)

Menjelaskan bahwa Q.S. Muhammad: 22-23 mencela tindakan-tindakan keji yang merusak hubungan kekerabatan, seperti durhaka kepada keluarga yang lazim terjadi pada tradisi jahiliah.

3. Kaidah Ushul Fikih

Penerapan silaturahmi di era digital didasarkan pada kaidah "li al-wasā'il hukm al-maqāşid". Artinya, sarana (media digital) memiliki hukum yang mengikuti tujuannya. Jika media sosial digunakan untuk mempererat hubungan, maka penggunaannya bernilai ibadah.

Keutamaan Silaturahmi bagi Muslim Modern

Silaturahmi di era digital tetap relevan dan wajib dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menjaga ukhuwah dan keharmonisan masyarakat. Transformasi dari interaksi fisik ke virtual tidak mengurangi nilai dan keberkahannya, selama tetap berlandaskan pada prinsip etika Islam yang hakiki.

Menjaga silaturahmi tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat, tetapi juga manfaat nyata di dunia:

1. Keberkahan Rezeki dan Umur

Berdasarkan Hadis Riwayat Abu Dawud, silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memperpanjang umur seseorang.

2. Kesehatan Mental dan Sosial

Hubungan harmonis menciptakan ketenangan batin dan dukungan sosial yang kuat di tengah masyarakat yang cenderung individualistik.

3. Stabilitas Komunitas

Secara sosiologis, silaturahmi berfungsi menjaga harmoni dan stabilitas komunitas, mencegah disintegrasi sosial, serta memperkuat solidaritas kolektif.

People also Ask:

Apa saja adab atau etika dalam bersilaturahmi?

Ketahui Enam Etika Silaturahmi dalam IslamDahulukan Kerabat Dekat. ...Memberikan Oleh-Oleh. ...Memberi Nasehat dan Solusi. ...Bersedekah kepada yang Miskin. ...Tidak Membalas Keburukan. ...Menjaga Etika dalam Interaksi.

Apa saja yang harus diperhatikan ketika hendak bersilaturahmi?

Etika SilaturahmiDahulukan Mengunjungi Kerabat Dekat. ...Memberikan Sesuatu Sekadar Oleh-oleh. ...Memberi Nasihat bagi Kerabat yang Membutuhkan. ...4. Bersedekah kepada yang Membutuhkan. ...Tidak Membalas Keburukan dan Tidak Mengharap Silaturahmi Balasan. ...6. Menundukan Pandangan, Menjauhi Khalwat, dan Menjaga Lisan.

Mengapa Islam menganjurkan umatnya bersilaturahmi?

Ali bin Abi Thalib menekankan bahwa silaturahmi membawa keberkahan dalam hidup, baik dari segi umur, rezeki, maupun hubungan antar keluarga. Ibnu Katsir menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga bentuk ibadah yang mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Bagaimana sikap kita saat bersilaturahmi?

Lakukan 4 Hal Ini untuk Menjaga Silaturahmi, Nomor 1 Bisa Dilakukan Tanpa Harus BertemuPustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. ...Pandai Mendoakan di Saat Berpisah. ...Jangan Menggunjing Keburukan Orang Lain.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |