Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah Islam, terutama dalam tradisi tasawuf, istilah “Wali Allah” sering kali disandingkan dengan kisah-kisah luar biasa atau karomah, kejadian di luar hukum alam yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh. Namun, esensi sejati dari kewalian, yakni kerendahan hati, justru sering terabaikan di balik pesona mukjizat tersebut.
Drs. H. Suteja, M.Ag, dalam Buku Kepribadian Sang Wali Allah dengan cermat mengulas hakikat kewalian bukan sebagai ajang pamer kehebatan, melainkan sebagai manifestasi dari kepribadian yang tawadhu’ (rendah hati), zuhud, dan dekat dengan Allah. Dalam perpektif tasawuf, bahwa karomah terbesar seorang wali justru terletak pada akhlaknya yang mulia dan kerendahan hatinya di hadapan Allah dan sesama.
Artikel ini akan mengupas bagaimana kisah-kisah karomah dalam perspektif tasawuf justru menjadi medium pengajaran tentang kerendahan hati, nilai yang menjadi inti dari perjalanan spiritual seorang salik (penempuh jalan ruhani/tasawuf).
Ada sejumlah wali Allah yang kisah kerendahan hatinya menjadi inspirasi. Di antaranya adalah Imam Ghazali, Ibnu Arabi hingga Rabi'ah al-Adawiyah dan Abu Dzar al-Ghifari. Mari simak kisah karomah wali allah yang mengajarkan kerendahan hati, dan makna di baliknya.
1. Al-Ghazali: Karomah dalam Keberanian Meninggalkan Dunia
Mukjizat spiritual justru sering datang dalam bentuk kesederhanaan dan keteladanan akhlak. Hal itu salah satunya diperlihatkan Imam Ghazali, salah satu imam besar dalam bidang keilmuan Islam.
Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) dikenal sebagai Hujjatul Islam, sang pemikir brilian yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Nizhamiyah Baghdad, jabatan akademik tertinggi di masanya. Namun, di puncak karier dan kehormatannya, ia justru dilanda krisis spiritual yang dalam.
Pada usia sekitar 37 tahun, Ghazali mengalami "kebingungan intelektual" yang parah. Ia merasa ilmu yang dikuasainya; filsafat, kalam, fikih, tak cukup membawanya pada keyakinan hakiki. Dalam al-Munqidz min al-Dhalal, ia menggambarkan betapa dirinya seperti "tersesat dalam lautan keraguan".
Karomah yang ditunjukkan Ghazali bukanlah kemampuan berjalan di atas air atau membaca pikiran orang, tetapi keberanian radikal untuk "mati sebelum mati". Ia meninggalkan segala kemewahan, jabatan, dan reputasi demi mencari hakikat hidup. Selama hampir 11 tahun, ia mengembara, berkhalwat, dan mendalami tasawuf.
Dalam pengembaraannya itu, ia justru menghasilkan mahakarya Ihya’ Ulum al-Din, karya monumental yang menyelaraskan syariat dan hakikat, akal dan hati. Karomah sejatinya terletak pada transformasi diri dari seorang profesor terkenal menjadi peziarah spiritual yang rendah hati, dari pemikir rasional menjadi pecinta Ilahi yang tawadhu’.
“Tasawuf al-Ghazali adalah tasawuf yang memadukan secara tepat antara fikih sebagai perwakilan aspek eksoteris dengan etika dan estetika sebagai perwujudan dari dimensi esoteris.” (hlm. 16, 42)
Pelajaran Tawadhu’:
- Kesuksesan duniawi bukan akhir segalanya.
- Kerendahan hati seringkali dimulai dengan pengakuan akan keterbatasan ilmu.
- Karya terbesar lahir dari hati yang bersih, bukan dari ego yang tinggi.
2. Ibn ‘Arabi: Sang Sufi Besar yang Menyebut Dirinya “Hamba”
Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165–1240 M) sering dianggap sebagai sosok kontroversial karena ajaran Wahdatul Wujud-nya. Namun, di balik kedalaman filosofisnya, ia adalah contoh teladan kerendahan hati.
Dalam syair-syairnya, Ibn ‘Arabi tak pernah mengklaim diri sebagai “yang menyatu dengan Tuhan”. Justru, ia selalu menekankan statusnya sebagai ‘abd (hamba). Dalam al-Futuhat al-Makkiyah, ia menulis:
“Kewalian adalah tingkatan hamba, bukan tingkatan Tuhan. Seorang wali tetaplah hamba yang menyembah, bukan yang disembah.”
Ibn ‘Arabi dikenal sangat menghormati guru-guru spiritualnya, bahkan terhadap ulama yang mengkritiknya. Suatu kali, ketika dikritik keras oleh ulama fikih, ia hanya tersenyum dan berkata: “Semoga Allah memberinya cahaya untuk melihat apa yang tidak ia lihat.”
Karomah Ibn ‘Arabi terletak pada kemampuannya menjaga hati tetap rendah, meski pemikirannya dianggap “terlalu tinggi” bagi banyak orang. Ia tidak pernah menjadikan ilmu sebagai alat untuk pamer atau merendahkan orang lain.
“Bagi Ahmad Sirhindi, tujuan tasawuf bukanlah untuk mendapat pengetahuan intuitif, melainkan untuk menjadi hamba Allah… tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dibanding tingkat ‘abdiyyah (kehambaan).” (hlm. 48-49)
Pelajaran Tawadhu’:
- Ilmu yang tinggi harus diimbangi dengan hati yang rendah.
- Menghormati kritik adalah bentuk ketawadhu’an intelektual.
- Status sebagai “hamba” adalah kemuliaan sejati dalam tasawuf.
3. Para Sufi Awal: Hasan al-Bashri, Rabi’ah al-Adawiyah dan Abu Dzar al-Ghifari
Sebelum tasawuf menjadi disiplin ilmu yang kompleks, para zahid (ahli zuhud) abad pertama dan kedua Hijriyah telah menunjukkan “karomah” melalui kehidupan sehari-hari mereka.
3. Hasan al-Bashri (642–728 M)
Guru spiritual dari Basrah ini dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang menyentuh hati. Suatu kali, seorang pemuda datang membanggakan amal ibadahnya. Hasan al-Bashri hanya berkata: “Wahai anakku, jika kau bisa masuk dari pintu tanpa menyombongkan diri, itu lebih baik daripada seribu shalat sunnah dengan rasa ujub.”
Karomahnya? Kemampuan melihat cacat hati sendiri sebelum mengoreksi orang lain.
4. Rabi’ah al-Adawiyah (717–801 M)
Perempuan sufi dari Basrah ini mengubah paradigma tasawuf dari “takut kepada neraka” menjadi “cinta kepada Allah”. Meski hidup miskin, ia menolak segala bantuan yang bisa mengurangi ketergantungannya hanya kepada Allah.
Suatu malam, seorang pemuda menyaksikan Rabi’ah berdoa sambil memegang obor di satu tangan dan gayung air di tangan lain. Ketika ditanya, ia menjawab: “Aku ingin membakar surga dan memadamkan neraka, agar tak ada lagi yang menyembah Allah karena menginginkan surga atau takut neraka, tetapi hanya karena cinta kepada-Nya.”
Karomah Rabi’ah adalah kemurnian cinta tanpa pamrih — sesuatu yang langka bahkan di kalangan ahli ibadah.
5. Abu Dzar al-Ghifari (w. 652 M)
Sahabat Nabi ini dikenal sebagai “protes hidup” terhadap kemewahan Bani Umayyah. Meski bisa hidup mewah, ia memilih tinggal di pinggiran Madinah, mengenakan pakaian sederhana, dan mengkritik ketimpangan sosial.
Suatu hari, Khalifah Utsman bin Affan memberinya uang banyak. Abu Dzar membagi-bagikan semuanya sampai habis, lalu kembali hidup seperti biasa. Ketika ditanya mengapa, ia berkata: “Apakah aku akan menjadikan dunia ini sebagai rumah tetap? Aku hanya perlu sebatas cukup.”
Karomah Abu Dzar adalah kekuatan untuk mengatakan “tidak” pada dunia, tanpa merasa lebih suci dari yang lain.
“Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung pada aliran-aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri…” (hlm. 30)
Makna Karomah dalam Perspektif Tasawuf
1. Karomah Bukan Tujuan, tapoi Hasil
Dalam tradisi sufi, karomah tidak pernah dijadikan tujuan. Ia adalah buah atau dampak alami dari kedekatan seorang hamba dengan Allah setelah melalui proses panjang riyadhoh (latihan spiritual) dan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu). Suteja menegaskan bahwa kewalian adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang secara istiqomah membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada-Nya (hlm. 3).
Al-Qur’an sendiri mendefinisikan wali sebagai orang beriman yang menjadi kekasih Allah (QS. Yunus: 62-64). Dengan demikian, tanda utama seorang wali bukanlah kemampuan melakukan hal-hal luar biasa, tetapi ketakwaan, ketawadhu’an, dan konsistensinya dalam menjalankan syariat.
“Kewalian merupakan karunia Allah atas hamba-hambanya yang melakukan riyadhoh dan mujahadah secara istiqomah dan mudawamah, dalam kerangka mencapai tangga-tangga tertentu (maqam dan ahwal).” (hlm. 3)
2. Kerendahan Hati sebagai Maqam Tertinggi
Dalam literatur tasawuf, kerendahan hati (tawadhu’) adalah salah satu maqam (tingkatan spiritual) yang harus dilalui seorang salik. Ia bahkan menjadi fondasi bagi maqam-maqam selanjutnya seperti zuhud, tawakkal, ridha, dan ma’rifat. Suteja mengutip pandangan para sufi awal yang menekankan bahwa tasawuf dibangun di atas nilai-nilai normatif (syari’ah) dan akhlak yang luhur (hlm. 10-11).
Abu Yazid al-Busthami, misalnya, meski dikenal dengan syathahat (ucapan ekstatik) kontroversialnya, hidup dalam kesederhanaan dan tidak pernah mengklaim keunggulan diri. Kisah hidupnya justru menggambarkan perjuangan panjang untuk “menghilangkan” ego (fana’) sebelum mencapai penyaksian spiritual. Demikian pula al-Junaid al-Baghdadi, yang menekankan bahwa tasawuf adalah “keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk pada budi pekerti yang terpuji” (hlm. 50-51).
3. Karomah sebagai Ujian, Bukan Kebanggaan
Dalam pandangan tasawuf, karomah bisa menjadi ujian tersendiri. Jika disikapi dengan sombong, ia justru dapat menjerumuskan. Suteja mengutip kritik al-Qusyairi dan al-Harawi terhadap fenomena syathahat (ucapan ekstatik) yang bisa disalahartikan sebagai kesombongan spiritual (hlm. 15, 41). Karomah sejati adalah kemampuan menjaga hati tetap rendah, meski dikaruniai keistimewaan.
“Mayoritas ulama tasawuf sepakat bahwa kualitas hasil akhir apapun akan bergerak sebanding dengan kualitas permulaannya… Dan kualitas permulaan suatu hal sesungguhnya terkait erat dengan ketulusan motivasi dan kekonsistenan dalam menerapkan nilai-nilai profetik.” (hlm. 15, 41)
Hikmah Kisah Karomah Kerendahan Hati untuk Umat Islam
Berikut adalah hikmah utama yang dapat dipetik dari kisah karomah kerendahan hati para wali Allah, yang relevan bagi kehidupan umat Islam masa kini:
1. Mengembalikan Makna Karomah yang Sesungguhnya
Karomah bukan tujuan spiritual, tetapi buah dari ketakwaan dan kedekatan dengan Allah. Mengalihkan fokus dari mengejar hal-hal spektakuler (seperti mukjizat fisik) kepada pembinaan akhlak dan spiritualitas sehari-hari.
2. Kerendahan Hati sebagai Indikator Kedekatan dengan Allah
Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin rendah hati dan tidak merasa memiliki apa-apa. Menjadi koreksi terhadap fenomena "kesalehan performatif" dan pencitraan religius di media sosial.
3. Ilmu dan Kedudukan Bukan Ukuran Kemuliaan
Seperti al-Ghazali, ilmu dan jabatan tinggi justru harus membuat seseorang semakin tawadhu', bukan sombong. Mengingatkan para ilmuwan, ustadz, dan pemimpin agar tidak terjebak dalam elitisme intelektual atau spiritual.
4. Zuhud sebagai Bentuk Kemandirian Spiritual
Kesederhanaan hidup melatih ketergantungan hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk atau materi. Solusi terhadap konsumerisme dan gaya hidup hedonis yang menggerus nilai-nilai spiritual.
5. Kritik terhadap Formalisme Agama
Seperti Rabi'ah al-Adawiyah, esensi ibadah adalah cinta, bukan sekadar ritual atau penghindaran siksa. Mengembalikan spiritualitas pada hakikatnya, melampaui sekadar formalitas hukum dan ritual.
People also Ask:
Apakah karomah wali itu nyata?
Karamah Para Wali Bukan Mitos, Melainkan Fakta yang Didukung Al-Qur'an dan Sunnah. MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchammad Ichsan, menegaskan bahwa karamah para wali adalah fakta nyata, bukan sekadar mitos atau dongeng.
Karomah diberikan Allah kepada siapa?
Karamah diberikan kepada orang-orang yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah, yang dikenal sebagai wali Allah. Kedekatan ini didapatkan melalui ketakwaan, yaitu ketaatan yang sungguh-sungguh kepada Allah dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Apa tujuan Allah memberikan karomah kepada wali?
Menurut Habib Luthfi, tujuan dari karomah-karomah ulama-ulama dan para wali ialah untuk menunjukkan mukjizat para Nabi terdahulu. Karomah-karomah itu membawa, menolong, dan menguatkan keyakinan orang-orang awam.
Karomah wali itu apa?
Karomah sendiri adalah suatu khariqul adat (hal luar biasa) yang muncul dari seorang wali yakni hamba yang nampak shaleh, menetapi ketaatan, menjauhi maksiat dan memiliki akidah yang lurus. Menurut para ulama, wali adalah seorang hamba yang mengenal Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya sampai pada batas yang memungkinkan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2249518/original/029795300_1528876812-clouds-mosque-muslim-87500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5482844/original/056409400_1769260756-Persija_Jakarta_vs_Madura_United-15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517126/original/074355400_1772409241-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517016/original/058518300_1772377575-Nathalie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506338/original/077229600_1771429831-anak_ayah_ke_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411946/original/031228600_1763026620-Berpidato.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429232/original/047319400_1618459145-pexels-mentatdgt-1071979.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4371735/original/047176900_1679802472-abderrahmane-meftah-YwA3x6uRuGw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373358/original/092242900_1679920556-mosque-g714a26948_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448556/original/050012100_1620195400-20210505-Ramadhan-Bekasi-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2248311/original/090358200_1528800308-20180612-Berkah-Ramadan-4.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)