Liputan6.com, Jakarta - Contoh teks ceramah islami inspiratif tentang menuntut ilmu menjadi media pengingat bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi tiap muslim. Tanpa pengetahuan yang benar, seorang muslim akan kesulitan menjalankan syariat secara sempurna dan berisiko terjebak dalam kebodohan yang merugikan dunia maupun akhirat.
Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Ibnu Majah menyatakan, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim". Dalil ini menunjukkan bahwa belajar bukanlah sekadar pilihan atau hobi, melainkan kwajiban yang melekat pada setiap individu untuk meningkatkan derajat di hadapan Allah SWT serta membekali diri dalam menghadapi tantangan zaman.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang mampu menyingkap hakikat kebenaran, dan orang yang mengajarkannya diibaratkan seperti matahari yang menyinari dirinya sendiri sekaligus memberikan cahaya bagi orang lain.
Sebagai media komunikasi massa, ceramah memiliki peran strategis sebagai katalisator yang mampu menyentuh aspek emosional dan menggerakkan tekad umat untuk giat thalabul ilmi.
7 Contoh Teks Ceramah Islami Inspiratif tentang Menuntut Ilmu
Berikut adalah 7 teks ceramah islami inspiratif dengan tema menuntut ilmu, merangkum berbagai sumber. Setiap teks disusun berdasar tema berbeda, mencakup pembukaan, isi (dalil & pandangan ulama), hingga penutup.
1. Menuntut Ilmu: Jalan Pintas Menuju Surga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, sehingga kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah, ilmu adalah cahaya kehidupan. Tanpa ilmu, manusia akan tersesat dalam kegelapan kebodohan yang berujung pada kerugian di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah SAW memberikan motivasi luar biasa bagi kita semua melalui sabdanya:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Hadits di atas menegaskan bahwa setiap langkah kaki kita menuju majelis ilmu, setiap lembar buku yang kita baca, adalah investasi besar untuk mempermudah hisab kita di akhirat kelak.
Penjelasan komprehensif dari hadits ini adalah bahwa Allah akan memberikan taufiq bagi penuntut ilmu untuk mengamalkan ilmunya, sehingga amalan tersebut membawanya ke surga.
Imam Asy-Syafi'i pernah berkata, "Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaknya ia berilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaknya ia berilmu."
Pandangan ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci tunggal bagi kesuksesan di dua alam. Tidak ada kemuliaan yang bisa diraih tanpa landasan pengetahuan yang kuat.
Ilmu juga menjadi pembeda derajat manusia di hadapan Sang Khalik. Orang yang berilmu akan lebih bijak dalam bersikap dan lebih khusyuk dalam beribadah kepada Allah.
Mari kita luruskan niat kembali. Menuntut ilmu bukan sekadar untuk mencari gelar atau pekerjaan, melainkan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain.
Ingatlah bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi saat belajar akan dicatat sebagai pahala jihad di jalan Allah selama kita ikhlas menjalaninya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan, kesabaran, dan kefahaman dalam menyerap ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat dan agama.
Allahummanfa'na bima 'allamtana, wa 'allimna ma yanfa'una, wa zidna 'ilman. Walhamdulillahi 'ala kulli hal. Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kami hal bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kami.
Demikian ceramah singkat ini, semoga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus belajar tanpa henti. Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2. Kewajiban Menuntut Ilmu: Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya yang tak terbatas kepada kita semua.
Mari kita sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sang guru terbaik umat manusia yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam.
Tema kita hari ini adalah urgensi memahami kewajiban belajar. Islam tidak hanya menganjurkan, tetapi mewajibkan setiap pemeluknya untuk terus membekali diri dengan pengetahuan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang sangat masyhur:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).
Kewajiban ini dalam hukum Islam terbagi dua. Pertama adalah Fardhu 'Ain, yakni ilmu agama dasar seperti tauhid dan tata cara ibadah yang wajib diketahui setiap individu.
Kedua adalah Fardhu Kifayah, seperti ilmu kedokteran, teknologi, dan ekonomi yang harus ada sekelompok orang yang menguasainya demi kemaslahatan umat manusia secara umum.
Imam Ahmad bin Hanbal menekankan bahwa kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum.
Beliau berargumen bahwa makan dan minum hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan dalam setiap embusan napas dan setiap tindakan kita.
Tanpa ilmu fardhu 'ain, ibadah kita berisiko tertolak karena tidak sesuai syariat. Tanpa ilmu fardhu kifayah, umat Islam akan tertinggal dan bergantung pada bangsa lain.
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berhenti belajar. Dunia yang terus berubah menuntut kita untuk selalu memperbarui wawasan dan keahlian kita.
Mari kita jadikan setiap momen dalam hidup sebagai ruang kelas. Belajarlah dari buku, dari pengalaman, dan dari para ulama yang lurus agar selamat dunia akhirat.
Semoga semangat menuntut ilmu ini tetap menyala di hati kita hingga ajal menjemput, dan semoga Allah memberkahi setiap proses belajar yang kita lalui.
Allahumma inni as'aluka 'ilman nafi'an, wa rizqan thayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan. Ya Allah, aku memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.
Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Allah membimbing kita di jalan yang lurus.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
3. Adab di Atas Ilmu: Kunci Keberkahan Belajar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hidayah untuk tetap istiqomah di jalan-Nya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sosok yang memiliki akhlak paling mulia dan ilmu yang paling luas.
Saudaraku sekalian, saat ini banyak orang yang pandai secara intelektual namun kering secara spiritual. Hal ini terjadi karena mereka melupakan satu hal penting: Adab.
Islam mengajarkan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Tanpa adab, ilmu yang tinggi justru bisa membuat seseorang menjadi sombong dan jauh dari kebenaran.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi ayat 66 tentang Nabi Musa yang meminta izin belajar kepada Nabi Khidir:
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
"Musa berkata kepada Khidir: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'"
Ayat ini menunjukkan betapa Nabi Musa, seorang Rasul yang mulia, tetap menunjukkan kesantunan dan kerendahan hati saat ingin menimba ilmu dari orang lain.
Imam Malik bin Anas pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy, "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu."
Para ulama salaf menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun hanya untuk mempelajari adab, barulah setelah itu mereka fokus mendalami cabang-cabang ilmu syariat dan umum.
Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor dan pribadi yang tidak memiliki etika terhadap guru maupun sesama.
Menghormati guru, menjaga lisan dari perdebatan yang sia-sia, dan tetap rendah hati adalah bagian dari adab yang akan mendatangkan keberkahan dalam belajar.
Jangan sampai gelar akademis yang kita raih membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, karena hakikat ilmu adalah untuk membuat kita semakin merasa kecil di hadapan Allah.
Mari kita perbaiki akhlak kita seiring dengan bertambahnya wawasan kita, agar ilmu yang kita miliki menjadi manfaat, bukan menjadi bumerang bagi kita sendiri.
Allahumma jammilna bil 'afiyati was salamati, wa haqqiqna bit taqwa wal istiqomah. Ya Allah, indahkanlah kami dengan kesehatan dan keselamatan, dan wujudkanlah ketakwaan serta istiqomah pada kami.
Semoga kita semua menjadi penuntut ilmu yang beradab dan berakhlak mulia. Mohon maaf atas khilaf.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
4. Keutamaan Ulama: Pewaris Para Nabi
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya milik Allah SWT. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya dari segala keburukan amal kita.
Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah meninggalkan dua warisan berharga bagi kita, yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Hadirin yang berbahagia, tahukah kita siapa orang yang paling mulia setelah para Nabi? Mereka adalah para ulama, orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu.
Menjadi orang yang berilmu memberikan kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Perbandingannya sangat kontras jika dibandingkan dengan orang yang hanya beribadah tanpa ilmu.
Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi:
وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
"Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purmana atas seluruh bintang-bintang."
Penjelasan dari hadits ini adalah bahwa ahli ibadah manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan orang berilmu manfaatnya menyinari dan menuntun orang banyak.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para Nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Tentu warisan Nabi jauh lebih mulia.
Ulama disebut sebagai pewaris para Nabi karena merekalah yang menjaga syariat ini tetap murni dan menyampaikan risalah dakwah kepada generasi selanjutnya.
Maka, mencintai ilmu berarti menghormati para ulama. Mendatangi majelis ilmu berarti kita sedang berusaha mengambil bagian dari warisan kenabian tersebut.
Jangan pernah meremehkan orang yang berilmu, karena Allah sendiri yang mengangkat derajat mereka beberapa tingkat di atas orang-orang yang beriman lainnya.
Dunia ini akan terasa gelap jika para ulama telah tiada. Oleh karena itu, selagi mereka masih ada di antara kita, timbalah ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mencintai ilmu dan senantiasa berusaha untuk menjadi bagian dari orang-orang yang memberikan pencerahan bagi umat.
Allahummaghfir lil mu'minina wal mu'minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya'i minhum wal amwat. Ya Allah, ampunilah mukmin laki-laki dan perempuan, serta muslim laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
Semoga ceramah ini membangkitkan semangat kita untuk memuliakan ilmu dan para ahlinya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
5. Ilmu Sebagai Amal Jariyah: Investasi Tanpa Batas
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan berkah dan rahmat-Nya tanpa pernah terputus.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan terbaik dalam mencari dan menyebarkan kebaikan kepada seluruh alam.
Kita semua pasti menginginkan pahala yang terus mengalir meski kita sudah berada di liang lahat. Salah satu cara terbaik meraihnya adalah melalui jalur ilmu.
Ilmu bukan hanya untuk disimpan sendiri. Nilai tertinggi dari sebuah pengetahuan adalah ketika ia diajarkan kembali dan diamalkan oleh orang lain secara terus-menerus.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang sangat populer:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Berdasarkan hadits ini, ilmu yang bermanfaat menjadi "aset produktif" di akhirat. Setiap kali orang lain mengamalkan ilmu yang kita ajarkan, pahalanya mengalir kepada kita.
Para ulama menjelaskan bahwa "ilmu yang bermanfaat" mencakup menulis buku, mengajar di kelas, atau bahkan sekadar membagikan nasihat baik yang mengubah hidup seseorang.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menekankan pentingnya niat dalam menyebarkan ilmu. Ilmu harus disebarkan demi mengharap ridha Allah, bukan demi pujian manusia.
Bayangkan jika kita mengajarkan satu ayat Al-Qur'an kepada anak kecil, lalu anak itu membacanya seumur hidup dan mengajarkannya lagi ke orang lain. Betapa besarnya pahala kita.
Oleh karena itu, jangan pelit dengan ilmu. Bagikanlah apa yang kita tahu, sekecil apa pun itu, karena kita tidak pernah tahu ilmu mana yang akan menyelamatkan kita nanti.
Era digital saat ini memudahkan kita untuk menyebarkan ilmu. Gunakan media sosial untuk berbagi hal-hal yang bermanfaat, bukan untuk menyebar fitnah atau kesia-siaan.
Mari kita berkomitmen untuk menjadi saluran kebaikan. Jadilah orang yang jika meninggal dunia, ilmu dan kebaikannya tetap hidup di tengah-tengah masyarakat.
Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.
Semoga kita mampu meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat bagi dunia. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
6. Belajar Sepanjang Hayat: Dari Buaian Hingga Liang Lahat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat umur dan kesehatan hingga hari ini.
Mari kita bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang senantiasa mendorong umatnya untuk terus berkembang dan maju melalui pengetahuan.
Ada sebuah ungkapan bijak yang sering kita dengar: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad." Ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup seorang Muslim.
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang tidak pernah berakhir (lifelong learning). Selama jantung masih berdetak, kewajiban belajar tidak pernah gugur.
Allah SWT berfirman dalam Surah Thaha ayat 114:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah (olehmu Muhammad): 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'."
Ayat ini merupakan perintah langsung kepada Nabi—dan tentu saja kepada kita—untuk tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang sudah dimiliki saat ini.
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa bertambahnya ilmu akan meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang. Semakin kita tahu, semakin kita sadar akan kebesaran Allah.
Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Jangan karena sudah merasa tua atau memiliki jabatan tinggi, lalu kita merasa malu untuk duduk kembali mendengarkan ilmu.
Sejarah mencatat banyak ulama besar yang baru mulai mendalami ilmu secara serius pada usia yang sudah tidak muda lagi, namun mereka berhasil menjadi rujukan umat.
Dunia terus berkembang, tantangan zaman terus berubah. Jika kita berhenti belajar, maka kita akan tertinggal dan tidak mampu menjawab persoalan umat di masa depan.
Jadikanlah membaca sebagai hobi dan diskusi sebagai sarana memperkaya perspektif. Setiap hari harus ada hal baru yang kita pelajari untuk memperbaiki diri.
Semangat belajar sepanjang hayat ini akan menjaga pikiran kita tetap tajam dan hati kita tetap hidup dengan cahaya kebenaran dan kebijaksanaan.
Allahummaj'al thalaba 'ilmina khalishan liwajhikal karim. Ya Allah, jadikanlah usaha kami dalam menuntut ilmu murni hanya karena mengharap wajah-Mu yang mulia.
Akhir kata, teruslah belajar karena ilmu adalah bekal terbaik dalam perjalanan menuju Allah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
7. Keseimbangan Ilmu Dunia dan Akhirat: Mengejar Bahagia yang Utuh
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Sang Pemilik segala ilmu yang ada di langit dan di bumi.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan sempurna dalam menyeimbangkan urusan duniawi dan ukhrawi.
Seringkali kita terjebak dalam dikotomi atau pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Seolah-olah belajar sains tidak berpahala, dan belajar agama tidak butuh logika.
Padahal, Islam adalah agama yang syumul atau menyeluruh. Allah memerintahkan kita untuk sukses di dunia tanpa melupakan persiapan untuk kehidupan setelah mati.
Pesan ini tercermin dalam Al-Qur'an Surah Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi."
Ayat ini mengajarkan kita untuk menjadikan ilmu dunia (seperti ekonomi, teknik, kedokteran) sebagai sarana untuk mencapai kemuliaan di akhirat kelak.
Pandangan ulama seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina membuktikan bahwa integritas antara ilmu filsafat, kedokteran, dan dasar agama yang kuat dapat melahirkan peradaban yang besar.
Seorang dokter yang beriman akan merawat pasiennya sebagai bentuk ibadah. Seorang arsitek yang berilmu akan membangun gedung yang bermanfaat bagi orang banyak demi pahala.
Jika kita hanya mengejar ilmu dunia, kita akan buta arah. Namun jika kita hanya belajar agama tanpa memahami realitas dunia, kita akan menjadi beban bagi orang lain.
Keseimbangan adalah kunci. Ilmu agama menjaga hati kita agar tetap di jalan yang benar, sedangkan ilmu dunia memberikan kita tangan untuk membantu sesama.
Mari kita didik generasi muda agar mahir dalam teknologi namun tetap teguh dalam akidah. Itulah profil Muslim ideal yang diharapkan oleh Rasulullah SAW.
Dengan ilmu yang seimbang, kita akan mampu menjadi rahmatan lil 'alamin, pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta melalui karya dan pemikiran kita.
Allahumma ashlih lana dinanal ladzi huwa 'ishmatu amrina, wa ashlih lana dunyanal lati fiha ma'asyuna. Ya Allah, perbaikilah agama kami dan perbaikilah dunia kami tempat kami hidup.
Semoga kita diberikan taufiq untuk terus menyeimbangkan ilmu dalam kehidupan kita sehari-hari.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
2 Apa arti dari hadits berikut طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ?
7 Hadist Menuntut Ilmu Wajib Bagi Setiap Muslim - Deepublish ...Hadits "طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ" artinya "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim," menekankan bahwa mencari ilmu, terutama ilmu agama (ilmu syar'i), adalah kewajiban fundamental bagi setiap individu Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dan Allah akan memudahkan jalan menuju surga bagi siapa saja yang melakukannya, seperti yang diriwayatkan dalam HR. Ibnu Majah.
Bagaimana pandangan Islam tentang menuntut ilmu?
Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam - Fakultas Teknik Sipil ...Dalil tersebut menjadi bukti bahwa umat Islam wajib menuntut ilmu, karena Allah telah berjanji di dalam Al-Qur'an bahwa orang yang pergi untuk menuntut ilmu maka akan diangkat derajatnya, dan Nabi Muhammad juga menjelaskan bahwa belajar atau berjalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan untuknya jalan masuk ...
Apa kata Imam Syafi'i tentang menuntut ilmu?
Beliau juga menekankan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar untuk meraih nilai ujian, tetapi lebih dari itu, belajar adalah ibadah. Setiap aktivitas yang kita lakukan dengan niat yang baik dapat menjadi ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hadits manakah yang berbicara tentang pentingnya menuntut ilmu?
Artinya: “Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Thabrani). Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ hadis di atas diriwayatkan oleh siapa?
Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana hadis riwayat dari Anas bin Malik sebagai berikut, عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2249518/original/029795300_1528876812-clouds-mosque-muslim-87500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5482844/original/056409400_1769260756-Persija_Jakarta_vs_Madura_United-15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517126/original/074355400_1772409241-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517016/original/058518300_1772377575-Nathalie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506338/original/077229600_1771429831-anak_ayah_ke_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411946/original/031228600_1763026620-Berpidato.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429232/original/047319400_1618459145-pexels-mentatdgt-1071979.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4371735/original/047176900_1679802472-abderrahmane-meftah-YwA3x6uRuGw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373358/original/092242900_1679920556-mosque-g714a26948_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448556/original/050012100_1620195400-20210505-Ramadhan-Bekasi-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2248311/original/090358200_1528800308-20180612-Berkah-Ramadan-4.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)