Liputan6.com, Jakarta - Adab menerima tamu dan bertamu merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran dan budaya Islam. Nilai-nilai seperti penghormatan, keramahan, dan kedermawanan tidak hanya sekadar tradisi, tetapi memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Adab menerima tamu dan bertamu dalam ajaran Islam tetap relevan diterapkan dalam konteks kehidupan sosial modern. Muhammad Shohib dalam jurnal Mengupas Tuntas Etika Bertamu dan Memuliakan Tamu dalam Islam: Kajian Ayat-Ayat Al-Qur’an dari Perspektif Tafsir Al-Azhar menjelaskan, Al-Qur’an mengatur interaksi sosial ini dengan penuh hikmah.
Buya Hamka dalam kitab Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa tindakan memuliakan tamu adalah bagian dari pembangunan karakter atau pribadi yang luhur. Kisah Nabi Ibrahim dalam QS. Az-Zariyat ayat 24-27 yang menyambut tamu (malaikat) dengan hidangan terbaik menjadi teladan utama.
Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin mengutip hadis Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya". Dalam konteks modern, keramahan ini dapat diwujudkan dengan menjaga komunikasi yang hangat, menghindari gangguan gawai, dan memperhatikan kebutuhan tamu tanpa melanggar batasan syariat.
Adab Menerima Tamu dalam Islam
Islam memberikan panduan jelas tentang bagaimana seorang muslim seharusnya bertamu. Berikut adalah prinsip-prinsip utama yang dijelaskan dalam Tafsir Al-Azhar:
Selain tamu, tuan rumah juga memiliki kewajiban untuk memuliakan tamu. Islam mengajarkan keramahan yang tulus dan penuh penghormatan.
1. Menghormati Tamu dengan Salam yang Baik
Kisah Nabi Ibrahim dalam QS. Az-Zariyat (51): 24–27 dan QS. Hud (11): 69. Nabi Ibrahim menyambut tamu (malaikat yang menyamar sebagai manusia) dengan salam yang lebih baik (“Salam”) dan segera menyiapkan hidangan terbaik (daging sapi panggang) meski tamu tersebut asing baginya.
Menghormati tamu adalah ciri keimanan. Nabi Ibrahim tidak menanyakan identitas tamu terlebih dahulu, tetapi langsung melayani dengan penuh keramahan. Ini mencerminkan sikap ihsan (berbuat baik) tanpa pandang bulu.
2. Memberikan Pelayanan Terbaik
Hamka menekankan bahwa tuan rumah harus menyajikan apa yang terbaik yang ia miliki, sebagaimana Nabi Ibrahim menyajikan daging sapi gemuk. Pelayanan ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga sikap ramah, perhatian, dan doa untuk kebaikan tamu.
3. Tidak Membeda-bedakan Tamu
Setiap tamu, baik dikenal atau tidak, kaya atau miskin, harus diterima dengan sikap yang sama. Hamka mencatat bahwa Nabi Ibrahim memperlakukan tamu-tamu asing dengan kemuliaan yang sama seperti tamu terdekat.
4. Menjaga Keselamatan dan Kenyamanan Tamu
Dalam tafsirnya, Hamka juga menyoroti pentingnya membuat tamu merasa aman dan nyaman, baik secara fisik maupun psikologis. Tamu tidak boleh dibuat merasa terbebani atau tidak diinginkan.
Adab dalam Bertamu dalam Islam
1. Meminta Izin dan Memberi Salam
Dalam QS. An-Nur (24): 27–29 Allah berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya... Jika dikatakan kepadamu, ‘Kembalilah,’ maka kembalilah. Itu lebih suci bagimu.”
Hamka menekankan bahwa rumah adalah ruang privasi yang wajib dihormati. Memasuki rumah tanpa izin berarti melanggar hak penghuninya, terlepas dari status sosial pemilik rumah. Memberi salam (mengucap “Assalamu’alaikum”) adalah bagian tak terpisahkan dari permintaan izin, karena salam mengandung doa keselamatan dan keberkahan.
2. Menghormati Privasi Rumah Tangga
Hamka menjelaskan bahwa setiap rumah memiliki “kehidupan tersembunyi” yang tidak pantas diketahui orang luar, seperti kondisi ekonomi, perselisihan domestik, atau penampilan informal penghuninya. Oleh karena itu, tamu harus menjaga pandangan dan tidak mencari-cari hal yang tidak perlu.
3. Bersabar dan Tidak Memaksa
Jika tuan rumah tidak mengizinkan masuk atau meminta tamu untuk kembali, tamu harus menerima dengan lapang dada. Menurut Hamka, sikap ini menunjukkan ketaatan kepada Allah dan penghormatan terhadap keputusan tuan rumah. Bahkan jika tamu yakin ada orang di dalam, ia tetap tidak boleh masuk tanpa izin.
4. Contoh Praktis dari Rasulullah SAW
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Nabi SAW tidak pernah berdiri tepat di depan pintu, tetapi di samping kanan atau kiri, lalu mengucapkan salam hingga tiga kali. Jika tidak ada jawaban, beliau pulang. Ini menunjukkan kehalusan etika dan penghindaran dari sikap memaksa.
Nilai-Nilai Etika Bertamu dan Memuliakan Tamu
Buya Hamka dalam tafsirnya tidak hanya menjelaskan tatacara, tetapi juga nilai-nilai yang mendasarinya:
- Penghormatan terhadap Hak Privasi: Setiap individu memiliki hak atas ruang pribadinya.
- Keramahan sebagai Ciri Iman: Kemurahan hati dan sikap menerima tamu adalah wujud keimanan dan ketakwaan.
- Kesederhanaan yang Bermartabat: Baik tamu maupun tuan rumah diajarkan untuk bersikap santun tanpa berlebihan.
- Keadilan dan Kesetaraan: Semua tamu harus diperlakukan sama, tanpa diskriminasi.
Panduan Praksis Adab Bertamu dalam Islam
Adab bertamu dalam ajaran Islam bukan sekadar norma kesopanan, melainkan bagian dari akhlak mulia yang diatur secara detail untuk menjaga kehormatan, privasi, dan kenyamanan baik bagi tamu maupun tuan rumah. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai adab-adab tersebut:
1. Meminta Izin dan Mengucapkan Salam
Sesuai dengan QS. An-Nur ayat 27, setiap Muslim dilarang memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin dan mengucapkan salam. Hal ini dilakukan untuk memastikan tuan rumah sudah siap menerima kedatangan tamu.
2. Membatasi Permintaan Izin (Maksimal 3 Kali)
Rasulullah SAW mengajarkan agar permintaan izin dilakukan maksimal tiga kali. Jika setelah tiga kali salam atau ketukan pintu tidak ada jawaban, maka tamu diperintahkan untuk pulang dengan lapang dada tanpa rasa tersinggung.
3. Posisi Berdiri yang Benar
Saat menunggu pintu dibuka, hendaknya tamu tidak berdiri tepat di depan pintu yang terbuka. Sebaiknya berdiri di sisi kanan atau kiri pintu untuk menjaga pandangan agar tidak langsung melihat ke dalam rumah (menjaga privasi penghuni rumah).
4. Memilih Waktu yang Tepat
Hindari bertamu pada waktu-waktu istirahat, seperti terlalu pagi, larut malam, atau waktu tidur siang (waktu aurat). Sangat dianjurkan untuk memberi kabar atau membuat janji terlebih dahulu melalui alat komunikasi modern.
5. Tidak Mengintip ke Dalam Rumah
Islam sangat melarang tamu untuk mengintip melalui lubang pintu atau jendela. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran privasi yang berat karena rumah adalah tempat perlindungan bagi penghuninya.
6. Berpakaian Rapi dan Sopan
Mengenakan pakaian yang rapi merupakan bentuk penghormatan kepada tuan rumah. Hal ini juga membantu menciptakan suasana pertemuan yang lebih formal dan berwibawa.
7. Menjaga Sikap dan Pandangan di Dalam Rumah
Setelah dipersilakan masuk, tamu hendaknya duduk di tempat yang telah disediakan, menjaga pandangan agar tidak jelalatan melihat seluruh isi ruangan, serta tidak mencampuri urusan pribadi tuan rumah.
8. Segera Berpamitan Setelah Urusan Selesai
Tamu sebaiknya tidak berlama-lama hingga memberatkan atau mengganggu aktivitas tuan rumah lainnya. Setelah urusan selesai dan hidangan dinikmati (jika ada), segera berpamitan dengan sopan.
Panduan Praksis Adab Menerima dan Memuliakan Tamu dalam Islam
Berikut adalah adab-adab menerima tamu dalam ajaran Islam yang dijelaskan secara singkat:
1. Menyambut dengan Ramah dan Wajah Ceria
Tuan rumah hendaklah menyambut kedatangan tamu dengan perasaan senang hati, memberikan senyuman, dan menunjukkan keramahan. Hal ini merupakan bagian dari upaya memuliakan tamu.
2. Menyediakan Hidangan Terbaik (Ikramul Dhaif)
Memberikan jamuan atau hidangan terbaik yang dimiliki sesuai dengan kemampuan. Islam menganjurkan untuk tidak membebani diri secara berlebihan, namun tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi tamu.
3. Berpakaian Sopan dan Rapi
Menjaga penampilan dengan memakai pakaian yang bersih, rapi, dan menutup aurat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang berkunjung.
4. Menyediakan Tempat yang Nyaman
Mempersilakan tamu untuk duduk di tempat yang paling sesuai dan nyaman. Tuan rumah juga harus menjaga privasi bagian dalam rumah agar tamu tidak merasa canggung.
5. Menjaga Lisan dan Pendengaran
Mendengarkan pembicaraan tamu dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan menghindari topik-topik yang dapat menyinggung perasaan atau menimbulkan ketidaknyamanan.
6. Fokus dan Memberi Perhatian
Tidak menyibukkan diri dengan urusan pribadi (seperti terus-menerus melihat jam atau bermain telepon genggam) yang dapat membuat tamu merasa tidak dihargai atau merasa kehadirannya mengganggu.
7. Menghantar Tamu Hingga ke Pintu
Apabila tamu hendak pulang, adalah sebuah kesunnahan bagi tuan rumah untuk menghantarkan mereka hingga ke pintu rumah atau ke kendaraan sebagai bentuk penghormatan terakhir dalam pertemuan tersebut.
People also Ask:
Apa saja adab-adab dalam Islam?
Pengertian Adab dan Beradab dengan Adab-Adab Islam - Radio ...Beradab dengan adab-adab Islam diantaranya; memberi salam, bermuka manis, makan dengan tangan kanan, minum dengan tangan kanan, membaca basmalah ketika mulai makan dan mulai minum, memuji kepada Allah mengucapkan hamdalah ketika selesai makan dan minuman, memuji kepada Allah mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin,
Bagaimana cara menerima tamu dengan baik?
Apabila tamu masuk, hendaknya berdiri, tersenyum, dan bersalaman. Berikan sapaan ramah kepada tamu. sekretaris baiknya memeriksa tata ruang penerimaan tamu, khususnya yang berkaitan langsung dalam hal-hal berikut : Ruangan harus nyaman, bersih dan rapi.
Mengapa pada saat bertamu posisi berdiri tamu tidak boleh berada di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan?
Ketika mengucapkan salam, posisi tubuh kita di samping pintu; tidak lurus menghadap ke dalam. Hal ini kita maksudkan untuk menghindari pandangan langsung ke ruang tamu atau tuan rumah ketika pintu dibuka.
Bagaimana hendaknya pandangan orang ketika bertamu?
Saat bertamu, biasakan untuk duduk dengan sopan, jangan menebar pandangan ke mana-mana karena akan membuat tuan rumah menjadi tidak nyaman dan curiga.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2249518/original/029795300_1528876812-clouds-mosque-muslim-87500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5482844/original/056409400_1769260756-Persija_Jakarta_vs_Madura_United-15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517126/original/074355400_1772409241-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517016/original/058518300_1772377575-Nathalie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506338/original/077229600_1771429831-anak_ayah_ke_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411946/original/031228600_1763026620-Berpidato.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429232/original/047319400_1618459145-pexels-mentatdgt-1071979.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4371735/original/047176900_1679802472-abderrahmane-meftah-YwA3x6uRuGw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373358/original/092242900_1679920556-mosque-g714a26948_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448556/original/050012100_1620195400-20210505-Ramadhan-Bekasi-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2248311/original/090358200_1528800308-20180612-Berkah-Ramadan-4.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)