Amalan Sederhana agar Hisab di Akhirat Lebih Ringan, Kisah Menyentuh UAH

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dalam interaksi sehari-hari, sering kali kita menemukan berbagai karakter dan sikap yang bisa memengaruhi cara pandang terhadap sesama.

Ulama muda Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa melihat orang lain, terutama orangtua, harus dengan pandangan kasih sayang. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi selalu ada peluang bagi setiap orang untuk menjadi lebih baik.

"Melihat orang tua mah dengan pandangan kasih sayang. Jadi kita melihat orang tua selalu ada peluang taatnya," ujar UAH dalam sebuah kajian.

Kisah ini dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @Hasanahislamofficial4, yang menyoroti pentingnya memahami orang lain dengan hati yang lapang.

UAH juga menegaskan pentingnya meminta maaf kepada orang-orang yang mungkin pernah tersakiti oleh perkataan atau perbuatan kita. Menurutnya, permintaan maaf bukan hanya sekadar bentuk kesopanan, tetapi juga cara untuk meringankan hisab di akhirat.

"Saya kadang juga suka minta maaf pada orang-orang yang mungkin pernah menyakiti kalau cara saya merespons mungkin kurang baik. Kenapa? Karena sepanjang berkehidupan, dia masih punya hak untuk menjadi saleh dan jangan hambat itu," tutur UAH.

Simak Video Pilihan Ini:

Kades Terpilih Desa Batur Banjarnegara yang Hilang Ditemukan

Promosi 1

Jangan Memilih Mencela, Tapi Ini

Sepanjang seseorang masih hidup, selalu ada kesempatan untuk berbuat baik. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika kita memberikan jalan bagi orang lain untuk memperbaiki diri, daripada terus menyalahkan mereka.

UAH mengingatkan bahwa sikap memaafkan bukan hanya menguntungkan orang yang dimaafkan, tetapi juga bisa meringankan hisab di akhirat bagi yang memaafkan.

"Sepanjang dia hidup, kita hidup, beri jalan untuk berbuat baik. Walaupun itu pilihan bagi yang bersangkutan, minimal hisab kita diringankan," jelas UAH.

Dalam kehidupan, sering kali manusia lebih mudah mencela daripada memahami. Padahal, mencela seseorang tidak akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

UAH menjelaskan bahwa ada kemungkinan besar di akhirat seseorang akan ditanya tentang celaan yang diberikan kepada orang lain. Oleh karena itu, sikap terbaik adalah membiarkan seseorang memperbaiki dirinya sendiri.

"Saya tidak ingin ditanya di akhirat nanti, 'Kenapa kamu cela dia?' Ya kan? Padahal dia saya biarkan mencela kamu supaya kamu memaafkan dia, dan dengan maaf itu ada doa untuk dia," tambah UAH.

Pesan ini memberikan sudut pandang baru dalam menghadapi orang-orang yang mungkin pernah menyakiti. Daripada membalas dengan kebencian, lebih baik membalas dengan doa dan kebaikan.

Pilih Ini agar Hidup Harmonis

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menunjukkan bahwa hati lebih besar daripada sekadar dendam.

Seseorang yang mudah memaafkan akan mendapatkan ketenangan dalam hidup. Kebencian hanya akan menjadi beban, sedangkan maaf bisa memberikan ketenangan hati.

Dalam Islam, memaafkan memiliki kedudukan tinggi. Bahkan dalam banyak kisah, Nabi Muhammad selalu mencontohkan sikap pemaaf kepada orang-orang yang pernah menyakitinya.

Kesempatan hidup yang diberikan Tuhan seharusnya digunakan untuk menebar kebaikan, bukan menambah permusuhan. Dengan begitu, hidup akan lebih bermakna dan penuh keberkahan.

Pesan ini juga mengingatkan bahwa dalam interaksi sosial, tidak semua orang akan bersikap baik kepada kita. Namun, pilihan untuk merespons tetap ada di tangan masing-masing.

Jika memilih memaafkan dan mendoakan kebaikan, maka hubungan sosial akan lebih harmonis dan hidup terasa lebih ringan.

Semoga pesan ini bisa menjadi pengingat untuk selalu memandang orang lain dengan kebaikan, memberi kesempatan bagi mereka untuk berubah, dan menjadikan hidup lebih tenang dengan saling memaafkan.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |