Apa Itu Sidratul Muntaha? Batas Tertinggi dan Pemberhentian Akhir dari Perjalanan Isra Miraj

1 month ago 66

Liputan6.com, Jakarta - Dalam perjalanan agung Isra Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan ke langit hingga mencapai tempat yang tak pernah dijangkau makhluk mana pun sebelumnya: Sidratul Muntaha. Nama yang begitu indah namun misterius ini menggugah rasa ingin tahu setiap muslim — apa sebenarnya makna di baliknya, dan mengapa tempat ini disebut puncak dari segala sesuatu?

Sidratul Muntaha bukan sekadar sebuah lokasi dalam kisah spiritual. Ia adalah simbol batas tertinggi ciptaan dalam mendekati Sang Pencipta, titik di mana akal berhenti dan hanya keimanan yang berbicara. Di sanalah Nabi Muhammad ﷺ menyaksikan kebesaran Allah secara langsung, melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya, serta menerima perintah salat lima waktu. Kisah ini tidak hanya menyentuh sisi sejarah, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang iman, ketaatan, dan hakikat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Pengertian Sidratul Muntaha

Secara etimologis, istilah Sidratul Muntaha berasal dari dua kata Arab: Sidrah (سِدْرَةٌ) dan Muntaha (الْمُنْتَهَى). Sidrah berarti pohon bidara — sejenis pohon berduri kecil yang daunnya sering digunakan untuk penyucian dalam tradisi Islam. Sementara Muntaha berarti batas akhir, puncak, atau titik tertinggi. Maka, secara harfiah Sidratul Muntaha dapat diterjemahkan sebagai “Pohon Bidara di Puncak Akhir”. Artinya, ini adalah tempat tertinggi yang menjadi batas pengetahuan dan perjalanan seluruh makhluk menuju Allah SWT.

Namun, makna Sidratul Muntaha tidak bisa dipahami secara fisik semata. Menurut penjelasan dalam Tafsir At-Thabari, para ulama berbeda pendapat mengenai alasan tempat itu dinamakan demikian. Ibnu Abbas berpendapat bahwa di situlah pengetahuan para nabi berhenti. Ad-Dhahhak menafsirkan bahwa amal dan amalan para makhluk tertahan di sana. Ka’ab bin Malik menambahkan bahwa di tempat itu para malaikat dan para nabi berhenti sebelum menghadap Allah. Semua pendapat ini menunjukkan satu hal: Sidratul Muntaha adalah titik akhir dari segala sesuatu yang datang dari bumi dan turun dari langit — batas mutlak antara ciptaan dan Sang Pencipta.

Dalam pandangan teologis, Sidratul Muntaha adalah bagian dari alam ghaib yang hanya bisa diimani, bukan dilihat. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 14:

(Yaitu ketika) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 14–15)

Ayat ini menunjukkan bahwa Sidratul Muntaha berada sangat dekat dengan surga, namun hakikatnya tidak diketahui selain oleh Allah SWT. Ia bukan sekadar pohon fisik, melainkan simbol dari kemuliaan dan ketinggian spiritual. Dengan demikian, pemahaman Sidratul Muntaha mengajarkan bahwa di atas segala ilmu dan akal manusia, masih ada batas yang hanya bisa ditembus dengan iman.

Sidratul Muntaha juga sering dikaitkan dengan konsep tauhid dan ma’rifah — pengenalan hamba terhadap Tuhannya. Dalam konteks spiritual, “Sidrah” adalah lambang kesuburan iman: pohon yang rindang, berbuah manis, dan harum, sebagaimana iman yang terdiri atas niat, amal, dan ucapan. Makna ini dijelaskan oleh Al-Mawardi yang menyebut bahwa pohon sidr memiliki tiga keistimewaan: teduhnya ibarat amal, buahnya ibarat niat, dan aromanya ibarat ucapan. Dengan kata lain, Sidratul Muntaha menggambarkan keutuhan iman manusia yang sempurna — iman yang mencapai “puncak”.

Sidratul Muntaha dalam Al-Qur’an dan Hadis

Sidratul Muntaha disebut secara eksplisit dalam Surat An-Najm ayat 13–18, ketika Allah menggambarkan momen Nabi Muhammad ﷺ melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya di langit tertinggi. Dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad dijelaskan bahwa ketika Rasulullah mencapai Sidratul Muntaha, beliau melihat cahaya yang sangat agung, daun-daunnya sebesar telinga gajah, buahnya sebesar kendi, dan dari akarnya mengalir empat sungai: dua sungai di surga dan dua sungai di dunia — yaitu Sungai Nil dan Eufrat.

Hadis ini juga menyebut bahwa Jibril berhenti di hadapan Sidratul Muntaha, dan berkata,

“Aku tidak dapat melewati tempat ini. Tidak ada seorang pun yang diperintah melewati tempat ini kecuali engkau.”Menunjukkan bahwa bahkan malaikat tertinggi pun memiliki batas. Hanya Rasulullah ﷺ yang diizinkan melampaui batas itu, sebagai bentuk kemuliaan tertinggi dari Allah SWT kepada beliau.

Menurut tafsir ulama, Sidratul Muntaha berada di langit ketujuh, di sisi kanan ‘Arsy. Di dekatnya terdapat Jannatul Ma’wa — surga tempat tinggal yang dijanjikan bagi orang-orang beriman. Setiap daunnya ditempati oleh malaikat yang senantiasa bertasbih. Maka, Sidratul Muntaha menjadi pusat cahaya, rahmat, dan zikir yang menggambarkan ketinggian spiritual seluruh ciptaan.

Mengapa Disebut “Muntaha”?

Para ulama salaf memberikan sembilan penjelasan tentang makna kata “Muntaha”, sebagaimana disebut dalam Tafsir At-Thabari. Pertama, karena ia adalah tempat berhentinya segala yang naik dari bumi — seperti amal, doa, dan ruh — serta tempat turunnya segala ketetapan dari langit. Kedua, karena di situlah pengetahuan para nabi dan malaikat berhenti, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ketiga, karena di titik itu hanya Rasulullah ﷺ yang mampu melangkah lebih jauh, sedang makhluk lain tidak.

Makna lain datang dari Qatadah dan Ar-Rabi’ bin Anas, yang menyebut bahwa di Sidratul Muntaha berhentilah roh orang-orang beriman dan para syuhada, sebelum mereka mendapatkan rezeki dari Allah. Sementara Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa Muntaha menunjukkan ketinggian mutlak yang dimuliakan langsung oleh Zat Allah. Dengan demikian, penamaan “Muntaha” bukanlah sekadar nama tempat, melainkan penegasan posisi eksistensial — batas di mana segala makhluk berhenti, dan hanya Allah yang melampauinya.

Dari semua tafsir tersebut, tampak bahwa Sidratul Muntaha mengandung makna teologis yang mendalam: ia adalah perbatasan antara makhluk dan Sang Khalik, simbol ketundukan makhluk di hadapan kebesaran-Nya. Bagi umat Islam, ini mengajarkan bahwa ilmu dan amal manusia memiliki batas; di atas segalanya ada wilayah yang hanya dimiliki Allah SWT.

Sidratul Muntaha dan Peristiwa Isra Mi’raj

Sidratul Muntaha memiliki kedudukan istimewa karena di tempat inilah Rasulullah ﷺ mencapai puncak perjalanan spiritualnya. Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi diantar oleh malaikat Jibril melewati lapis-lapis langit. Namun ketika sampai di Sidratul Muntaha, Jibril berkata, “Aku tidak bisa melewati tempat ini.” Maka Nabi Muhammad ﷺ pun melanjutkan sendirian, menjadi satu-satunya makhluk yang pernah melampaui batas itu atas izin Allah.

Di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ menerima perintah salat lima puluh waktu, yang kemudian — atas saran Nabi Musa — dikurangi menjadi lima waktu sehari. Meskipun jumlahnya sedikit, keutamaannya setara dengan lima puluh. Di sanalah pula beliau mengucapkan salam yang kemudian menjadi bagian dari bacaan tahiyat dalam salat:

“At-tahiyyatul mubarakatush shalawatu lillah.”

Lalu dijawab oleh Allah:“Assalamu ‘alaika ayyuhan-nabiyy warahmatullahi wabarakatuh.”

Dan Nabi membalas:“Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin.”

Maka, setiap kali seorang muslim salat, sebenarnya ia sedang mengulang dialog agung antara Allah dan Rasul-Nya di Sidratul Muntaha.

Peristiwa ini bukan hanya menggambarkan kedekatan Nabi dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi simbol hubungan spiritual antara umat Islam dan Allah melalui ibadah salat. Sidratul Muntaha mengajarkan bahwa puncak tertinggi iman tidak dicapai dengan ilmu atau kekuatan, melainkan dengan penghambaan total.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sidratul Muntaha

1. Di mana letak Sidratul Muntaha? Sidratul Muntaha berada di langit ketujuh, di sisi kanan ‘Arsy, dekat dengan surga Jannatul Ma’wa.

2. Siapa yang pernah mencapai Sidratul Muntaha? Hanya Nabi Muhammad ﷺ yang diizinkan melewati Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mi’raj.

3. Apakah pohon bidara di dunia sama dengan Sidratul Muntaha? Tidak. Pohon bidara di dunia hanya menyerupai nama dan bentuknya, tetapi tidak memiliki keutamaan khusus yang sama.

4. Mengapa disebut “Muntaha”? Karena merupakan titik akhir dari segala sesuatu yang naik dari bumi dan turun dari langit — batas makhluk dalam mendekati Allah SWT.

5. Apa hikmah dari Sidratul Muntaha bagi umat Islam? Mengajarkan bahwa ada batas bagi akal dan ilmu manusia, dan hanya dengan iman serta ketaatan seseorang dapat mendekati Allah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |