Dzikir Pelindung Diri dari Rasa Malas Beribadah, Bacaan Doa dan Panduan Praktisnya

4 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Dzikir pelindung diri dari rasa malas beribadah menjadi ikhtiar seorang muslim untuk menghadapi godaan rasa malas yang kerap menyebabkan berkurangnya kekhusyukan bahkan menyebabkan penundaan atau kelalaian dalam menjalankan kewajiban. Rasa malas ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual, di mana hati terasa berat dan jiwa kehilangan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jurnal “Menumbuhkan Semangat Spiritual dengan Shalat dan Dzikir” yang diterbitkan dalam JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara (Anton dkk., 2024) menyoroti pentingnya dzikir sebagai sarana untuk memperkuat ikatan spiritual dan menjaga kesadaran beribadah. Kajian ini menjadi landasan untuk memahami bagaimana dzikir tidak hanya berfungsi sebagai pengingat, tetapi juga sebagai pelindung aktif dari virus kemalasan dalam beribadah.

Dzikir bermakna mengingat, menyebut, atau mengenang. Dalam konteks ibadah, dzikir adalah aktivitas mengingat Allah SWT melalui lisan, hati, dan perbuatan. Jurnal tersebut mengutip bahwa dzikir merupakan lawan dari ghaflah (kelalaian), yang merupakan akar dari kemalasan beribadah.

Peringatan agar manusia tidak malas terdapat dalam Surat Ar-Ra'd: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11).

1. Doa Terhindar Rasa Malas Beribadah

Berikut lafadz doa agar tidak malas sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَالهَرَمِ، وَالمَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الَمسِيحِ الدَّجَّال

Latin: Allahumma inni a’uzubika minal kasali wal harami wal ma’tsami wal maghrami wamin fitantil qobri wamin fitnatin nar wa ‘azabin nar wamin syarri fitnatil ghina wa a’uzubika min fitnatil faqri wa a’uzubika min fitnatil masihid dajjal.

Artinya; “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal.”

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Sayidah Aisyah. Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca ketika membaca doa Iftitah setelah takbiratul ihram, dibaca setelah membaca duduk tasyahud akhir setelah membaca salawat dan salam kepada Nabi saw. dan keluarganya, dan juga dianjurkan dibaca setelah melaksanakan salat wajib lima waktu.

Dalam Kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi memasukkan doa ini dalam Bab Doa Perlindungan dari Keburukan. Doa ini mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan dunia dan akhirat. Sifat malas (al-kasal) sangat ditekankan karena dapat menyeret seseorang pada kelalaian dalam ibadah dan aktivitas kebaikan.

2. Doa Terlindung dari Kemalasan dan Lemah Beribadah

Mengutip buku 70 Doa Harian Anak karya Fathuri Ahza Mumtaza, berdoa adalah bentuk permohonan kepada Allah atas segala sesuatu yang dikerjakan. Oleh karena itu, mengamalkan doa berlindung dari rasa malas dan lemah menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ.

Latin: Allahuma inni a'uudzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal harami.

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, pengecut/rasa takut, dan pikun." (HR. Muslim)

Doa ini memohon perlindungan dari empat sifat negatif yang dapat menghambat produktivitas dan kualitas hidup, yaitu kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, dan kepikunan. Mengamalkan doa ini dapat membantu menjaga semangat dan fokus dalam beraktivitas.

3. Doa Berlindung dari Malas dan Takut

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.

Latin: Allahuma inni a'uudzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal harami. Wa a'uudzbika min 'adzabika min fitnatil mahyaa wal mamaati.

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Aku juga berlindung pada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian."

Doa ini merupakan pengembangan dari doa pertama, menambahkan permohonan perlindungan dari kejelekan di waktu tua, sifat kikir, siksa kubur, serta fitnah kehidupan dan kematian, mencakup perlindungan yang lebih komprehensif.

Mengutip Tesis berjudul Malas dalam Al-Qur'an Menurut Mufassirin dan Relevansinya dengan Ilmu Psikologi karya Syamsul Hadi, sifat malas sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Hal ini sudah ditegaskan dalam Alquran dan hadits nabi, sehingga umat Islam harus segera hijrah dari sifat bermalas-masalan ini. Jika tidak, sifat ini akan menghalangi umat Islam untuk mencapai semua keinginannya

Perintah ibadah, bekerja sekaligus larangan malas terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya: Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10).

4. Doa Terhindar dari Malas, Bingung dan Kikir

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

Latin: Allahumma inni a'uudzubika minal hammi wal hazani wa a'uudzubika minal 'ajzi walkasali, wa a'uudzubika minal jubni wa bukhli, wa a'uudzubika min gholabatid-daini wa qohrirrijaal.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari bingung dan sedih. Aku berlindung pada-Mu dari lemah dan malas. Aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung pada-Mu dari lilitan utang dan kezaliman manusia." (HR. Abu Dawud)

Doa ini mencakup permohonan perlindungan yang lebih luas, termasuk dari kesedihan, kebingungan, lilitan utang, dan penindasan orang lain, selain dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, dan kekikiran. Ini menunjukkan betapa komprehensifnya ajaran Islam dalam memohon perlindungan.

Bentuk-Bentuk Dzikir Penangkal Kemalasan

Jurnal Anton, dkk mengklasifikasikan dzikir menjadi tiga bentuk yang dapat diintegrasikan dalam kehidupan:

1. Dzikir Qalbiyah (dengan Hati)

Merenungkan kebesaran Allah, sifat-sifat-Nya, dan nikmat yang diberikan. Tafakur seperti ini membangkitkan rasa syukur dan tanggung jawab untuk lebih giat beribadah.

2. Dzikir Qauliyah (dengan Ucapan)

Membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), serta wirid-wirid pagi dan petang. Ucapan-ucapan ini berfungsi sebagai reminder spiritual yang mencegah hati larut dalam kemalasan.

3. Dzikir Fi’liyah (dengan Perbuatan)

Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan berbuat baik adalah bentuk dzikir perbuatan yang mengokohkan semangat ibadah.

Panduan Praktik Dzikir Sehari-hari

Berikut adalah beberapa langkah praktisnya.

  • Setelah Adzan: Perbanyak membaca doa dan istighfar. Ini menyiapkan mental untuk segera melaksanakan shalat.
  • Sebelum Shalat: Lakukan dzikir singkat seperti “Allahu Akbar” beberapa kali untuk membangkitkan semangat.
  • Setelah Shalat: Manfaatkan waktu untuk beristighfar, bertasbih, dan berdoa memohon keteguhan hati.
  • Dalam Aktivitas Sehari-hari: Integrasikan dzikir seperti “La ilaha illallah” saat bekerja atau bepergian, agar hati selalu terhubung dengan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Artinya: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak, seperti orang yang hidup dan yang mati.” (HR. Bukhari)

Penyebab Malas Beribadah

Para ulama sepakat bahwa malas adalah penyakit hati yang harus diobati dengan memperkuat iman, menjaga kesehatan, memilih lingkungan baik, serta memperbanyak doa dan dzikir. Semua faktor di atas saling berkaitan dan harus diwaspadai agar seorang Muslim menjadi pribadi yang produktif dan bersemangat dalam kebaikan. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin dan Al-adzkar, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin dan Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin.

1. Lemahnya Iman

Lemahnya iman menyebabkan hati menjadi berat untuk beramal dan mudah dikuasai kemalasan. Semakin lemah iman, semakin malas seseorang melakukan kebaikan dan ibadah.

2. Tidak Memahami Pentingnya WaktuP

Orang yang tidak memahami nilai waktu akan mudah menyia-nyiakannya dalam kemalasan. Waktu adalah modal utama manusia, dan setiap detik yang terbuang dalam kemalasan adalah kerugian besar.

3. Tidak Menjaga Kesehatan dan Pola Hidup

Tubuh yang tidak dijaga akan mudah lemah dan malas. Islam mengajarkan untuk menjaga kesehatan jasmani agar kuat beribadah dan beramal.

4. Lingkungan Pergaulan yang Buruk

Umat Islam diingatkan agar memilih teman yang rajin dan bersemangat, karena pergaulan dengan orang malas akan menulari sifat malas tersebut.

5. Kurang Berdoa dan Berdzikir

Umat Islam dianjurkan senantiasa berdoa agar dijauhkan dari sifat malas, sebagaimana doa yang selalu diajarkan Rasulullah SAW.

6. Terlalu Sibuk dengan Dunia

Terlalu sibuk dengan urusan dunia tanpa mengingat akhirat akan membuat hati keras dan malas beribadah.

Cara Mengatasi Rasa Malas dalam Islam

Merujuk Karya Ilmiah (Skripsi) berjudul Malas dan Lalai dalam Al-Qur'an dan Psikologi karya Bahrul Ulum, UIN Suska Yogyakarta, untuk mengatasi fenomena malas dan lalai tiap kita perlu kembali merujuk ke Kitabullah dan berdzikir mengingat Allah sesering mungkin.

"Secara tuntunan Psikologi dikatakan bahwa malas dan lalai masih bisa di cegah dan diubah dengan cara membiasakan diri bersikap disiplin, rajin dan bersemangat, menjaga kebiasaan positif, memberi rangsangan agar mendapat dorongan agresif menyelesaikan pekerjaan, dan istirahat yang cukup," demikian dikutip dari digilib.uin-suka.ac.id.

Berikut ini adalah tata cara untuk mengurangi, membatasi dan mengatasi dari munculnya rasa malas menurut perspektif Al-Qur'an dan Perspektif Psikologi:

Perspektif Al-Qur’an

1. Menyadari Pentingnya Waktu

Al-Qur’an menekankan pentingnya waktu agar tidak larut dalam kemalasan dan tidak menghabiskan waktu untuk hal sia-sia. Nasihat saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sangat dianjurkan (lihat QS. Al-‘Asr).

2. Selektif dalam Memilih Teman

Memilih teman yang baik sangat penting, karena teman yang buruk dapat menjerumuskan pada kemalasan dan kemaksiatan (lihat QS. At-Taubah: 119).

3. Memiliki Motivasi Spiritual

Motivasi untuk mencurahkan potensi dan kemampuan agar berprestasi, serta menambah nilai ibadah dan amal saleh.

4. Aktif Melakukan Kegiatan Positif

Banyak melakukan kegiatan bermanfaat, menekuni hobi, dan aktivitas lain yang tidak bertentangan dengan syariat.

5. Memohon Perlindungan kepada Allah

Berdoa agar dijauhkan dari sifat malas, seperti doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ. 

People also Ask:

Bagaimana cara mengatasi rasa malas dalam beribadah?

Dengan memperkuat niat, menyusun jadwal, memahami keutamaan ibadah, berdoa, bergaul dengan orang shalih, membaca Al-Qur'an dan hadis, serta menghindari hal-hal yang melalaikan, kita dapat mengatasi rasa malas dan menjadi lebih rajin dalam beribadah.

Apa Doa untuk menghilangkan rasa malas?

Allâhumma innî a'ûdzubika minal kasali wa a'ûdzubika minal jubni wa a'ûdzubika minal harami wa a'ûdzubika minal bukhli.

Apa Doa minta perlindungan Allah?

Rasulullah SAW sering mengajarkan doa berikut untuk meminta perlindungan dari kesulitan hidup dan musibah: "Allahumma inni a'udzu bika minal barashi, wal jununi, wal judzami, wa min sayyi'il asqam."

Doa apa agar tidak malas sholat?

Allahumma inni a'udhu bika minal kasali wal harami wa a'udhu bika min 'adzabil qabr, la ilaha illa anta. "Doa ini memiliki kekuatan untuk menghilangkan rasa malas dan kemalasan dalam beribadah.

Bagaimana cara berdoa melawan kemalasan?

Doa untuk Mengatasi Penundaan dan Kemalasan Baca: Amsal 10:5 Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang mengetahui keseimbangan sempurna antara kerja keras dan istirahat. Ampuni kami pada saat-saat kami jatuh ke dalam penundaan dan kemalasan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |