Kumpulan Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Bahaya Ghibah dan Fitnah

1 month ago 48

Liputan6.com, Jakarta - Ghibah dan fitnah merupakan dua penyakit lisan yang secara sistematis dapat merusak tali persaudaraan dan menghancurkan kehormatan seseorang dalam sekejap. Di antara media yang efektif untuk memperingatkan umat Islam mengenai bahaya ghibah dan fitnah adalah khutbah Jumat.

Dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT menyamakan pelaku ghibah dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati. Sementara, fitnah memiliki daya rusak yang lebih besar karena sifatnya yang menyebar luas tanpa dasar kebenaran, sebagaimana diingatkan dalam Al-Baqarah ayat 191 bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Pentingnya menjaga diri dari kedua perilaku tercela itu diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pada bab Afatul Lisan (Bahaya Lisan). Selain itu, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menegaskan bahwa menjaga lidah dari fitnah adalah salah satu syarat utama dalam mencapai derajat takwa. 

Berikut ini adalah kumpulan contoh teks khutbah jumat tentang bahaya ghibah dan fitnah, merangkum berbagai sumber.

1. Teks Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Fitnah Digital dalam Pandangan Islam

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَكَشَفَ اللّٰهُ بِهِ الْغُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ.اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِيْنَ، وَسَبَبُ النَّجَاةِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. يَقُوْلُ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ﴾ وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ ﴾

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ: اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah ﷻ atas limpahan nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat iman dan Islam. Dialah yang menuntun kita dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Di tengah derasnya arus informasi yang tak terbendung, hanya dengan taufik Allah kita mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muḥammad ﷺ, teladan dalam ucapan dan perbuatan, yang mengajarkan adab berbicara dan bahaya kata tanpa ilmu.

Wahai kaum Muslimin, di antara fitnah besar zaman ini adalah musibah informasi — berita bohong dan fitnah yang menyebar tanpa tabayyun. Banyak kehormatan rusak hanya karena satu kabar palsu. Maka, mukmin sejati adalah yang berhati-hati sebelum berbicara, meneliti sebelum menyebarkan, dan takut kepada Allah dalam setiap kata yang ia tulis dan bagikan.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Umat Islam hari ini sedang menghadapi ujian besar berupa musibah informasi—fitnah yang datang bukan dengan pedang, tetapi melalui layar dan jari-jemari kita sendiri. Di era digital, berita menyebar lebih cepat dari cahaya, menembus batas ruang dan waktu tanpa sempat diperiksa kebenarannya. Apa yang viral seringkali dianggap benar, padahal bisa jadi hanyalah kebohongan yang dibungkus rapi dengan emosi dan kepentingan. Islam sejak empat belas abad yang lalu telah memperingatkan umatnya dari bahaya al-ifk (berita bohong), fitnah, dan ghibah, karena semua itu dapat menghancurkan ukhuwah, menebar kebencian, dan menimbulkan dosa besar di sisi Allah. Maka berhati-hatilah, wahai hamba Allah, agar jari-jemari kita tidak menjadi saksi keburukan di hari kiamat karena turut menyebarkan dusta di dunia maya.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Kita hidup di zaman yang disebut para ulama sebagai “fitnah akhir zaman”, di mana kebenaran dan kebatilan bercampur, dan manusia lebih percaya pada apa yang viral daripada apa yang benar. Ledakan media sosial telah mengubah wajah dunia: setiap orang kini bisa menjadi “penyebar berita”, tanpa perlu izin, tanpa penyaringan, bahkan tanpa ilmu. Satu unggahan bisa menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan ini tersimpan bahaya besar—karena di saat manusia lalai untuk tabayyun, jempolnya bisa berubah menjadi senjata yang membunuh karakter saudaranya sendiri.

Betapa sering kita menyaksikan berita palsu yang menimbulkan permusuhan, isu yang memecah belah umat, atau fitnah terhadap para ulama dan dai yang sebenarnya tak bersalah. Semua bermula dari satu kiriman, satu komentar, atau satu unggahan yang disebarkan tanpa pikir panjang. Dulu ujian seorang mukmin ada pada lisannya, tetapi hari ini ujian kita berpindah ke ujung jempol. Maka berhati-hatilah, wahai kaum Muslimin, sebab apa yang kita tulis dan sebarkan akan dicatat oleh malaikat, dan setiap hurufnya bisa menjadi saksi di hadapan Allah pada hari pembalasan.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Islam adalah agama yang sangat menjaga kehormatan manusia dan menegakkan kebenaran dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam urusan informasi. Allah ﷻ telah memberi peringatan yang tegas agar umat beriman tidak mudah menyebarkan berita tanpa tabayyun. Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا…

“Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. al-Ḥujurāt: 6)

Ayat ini menjadi fondasi etika bermedia dalam Islam, menuntun kita untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”. Sebab, di balik satu klik yang ceroboh, bisa jadi ada kehormatan seorang Muslim yang tercoreng, nama baik yang hancur, atau persaudaraan yang retak karena berita yang tidak benar.

Allah ﷻ juga mengingatkan bahwa fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

﴿ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ﴾

“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. al-Baqarah: 191).

Jika pembunuhan menghilangkan nyawa seseorang, maka fitnah dapat membunuh kehormatan, menghancurkan kepercayaan, dan menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan. Inilah fitnah digital di zaman kita — tidak menumpahkan darah, tetapi melukai hati dan merobek persaudaraan sesama Muslim.

Rasulullah ﷺ pun memperingatkan bahaya ghibah (menceritakan kejelekan orang lain di belakangnya) dan namimah (mengadu domba dengan menyebarkan perkataan orang lain untuk menciptakan permusuhan), dua penyakit lisan yang kini berwujud baru di dunia maya. Beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. al-Bukhārī, no. 6056).

Jika dulu namimah dilakukan dari telinga ke telinga, maka kini ia berpindah melalui “forward” dan “share” di grup WhatsApp dan media sosial. Maka berhati-hatilah, wahai kaum Muslimin, jangan sampai jempol kita menjadi penyebab dosa besar yang menghalangi kita dari surga Allah, hanya karena kita lalai menjaga etika dalam berbicara dan menyebarkan berita.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Para ulama menggambarkan hoaks dan fitnah bagaikan api kecil yang membakar hutan kepercayaan. Ia bermula dari satu percikan—satu kabar tanpa tabayyun, satu unggahan yang tidak dipikirkan—namun dapat melalap habis nama baik, keutuhan umat, dan rasa saling percaya di tengah masyarakat. Api itu mungkin kecil di awal, tapi bila dibiarkan, ia menjalar luas dan sulit dipadamkan. Begitu pula hoaks; sekali ia menyala di dunia digital, ia membakar akal sehat dan menebar kebencian ke segala arah.

Dalam dunia modern, jejak digital menjadi saksi yang tak bisa dihapus. Sekali kita memposting kebohongan, maka jejaknya akan terus ada, tersebar, dan sulit ditarik kembali, bahkan setelah kita menyesalinya. Imam al-Ghazali rahimahullah pernah memberikan nasehat, “Lisan itu seperti pedang; bila tak dijaga, ia melukai pemiliknya.” Maka di zaman ini, jempol adalah lisan kedua. Ia bisa menjadi alat dakwah dan pahala, tapi juga bisa menjadi sumber dosa yang tak henti mengalir. Karena itu, sebelum menulis dan menyebarkan sesuatu, tanyakanlah pada diri: apakah tulisan ini mendatangkan ridha Allah atau murka-Nya?

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Salah satu dampak paling berbahaya dari hoaks dan fitnah digital adalah rusaknya ukhuwah Islamiyyah. Berita palsu menimbulkan salah paham, menanamkan curiga, dan menumbuhkan kebencian di antara sesama Muslim. Dari satu postingan yang menyesatkan, bisa lahir perpecahan di masyarakat, hilangnya kepercayaan antarsaudara, bahkan permusuhan yang panjang. Padahal Islam datang untuk menyatukan hati, bukan memecah belahnya. Ketika hoaks menjadi kebiasaan, maka yang musnah bukan hanya kebenaran, tapi juga kasih sayang dan saling percaya yang menjadi pondasi umat.

Lebih dari itu, fitnah digital membawa kerugian spiritual yang amat dalam. Ia menghapus keberkahan ilmu, waktu, dan amal, karena seseorang sibuk menebar kabar tanpa manfaat, hingga lalai dari zikir dan ibadah. Waktunya habis untuk menggulir layar, bukan membaca Al-Qur’an; lisannya sibuk berkomentar, bukan berdoa. Maka berhati-hatilah, wahai hamba Allah, sebab dosa dari jari-jemari yang menebar fitnah tidak hanya menghancurkan hubungan antarmanusia, tapi juga menggelapkan hati dan menjauhkan kita dari rahmat Allah ﷻ.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Di tengah derasnya arus informasi, seorang Muslim sejati harus memiliki tiga sikap utama agar selamat dari fitnah zaman: tabayyun, tatsabbut, dan tawakkuf. Tabayyun berarti berhati-hati dan tidak mudah percaya sebelum jelas kebenarannya; tatsabbut berarti memverifikasi sumber serta meneliti niat orang yang menyebarkan berita; dan tawakkuf berarti menahan diri—jika ragu, maka diam adalah pilihan terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5).

Maka ukuran kejujuran di zaman ini bukan hanya pada apa yang kita ucapkan, tetapi juga pada apa yang kita sebarkan.

Gunakanlah media sosial dan teknologi informasi dengan niat yang benar: untuk dakwah, ilmu, dan kebaikan. Jadikan jempol kita sebagai alat menyebar cahaya, bukan bara api fitnah. Sebarkan ilmu yang bermanfaat, kabar yang menenangkan, dan pesan yang mempererat ukhuwah. Sebab, setiap postingan dan komentar akan menjadi amal yang kelak Allah perhitungkan. Jika kita tidak bisa menjadi penyeru kebaikan di dunia maya, maka setidaknya jadilah penjaga diri yang tidak ikut menebar keburukan.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Dari seluruh pembahasan tadi, marilah kita renungkan bersama bahwa informasi adalah amanah, bukan permainan. Setiap berita yang kita terima dan sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ. Karena itu, tabayyun adalah benteng keimanan di tengah derasnya arus kabar, dan menjaga jempol adalah tanda ketakwaan di era digital ini. Maka jadilah hamba Allah yang cerdas dan bertakwa: penyebar kebenaran, bukan penyebar keonaran; pembawa kedamaian, bukan pemantik fitnah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga lisannya, menahan jarinya, dan menggunakan setiap medianya untuk menegakkan kebenaran dan menebar kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Sesungguhnya hoaks dan fitnah digital adalah musibah besar di zaman modern, yang hanya dapat dihadapi dengan takwa, tabayyun, dan tanggung jawab sosial. Takwa menjaga hati agar takut berbuat dosa, tabayyun menjaga akal agar tidak tertipu kabar dusta, dan tanggung jawab sosial menjaga masyarakat dari perpecahan. Jadikanlah media sosial sebagai ladang pahala, bukan sumber dosa; tempat menyebar ilmu, bukan fitnah; wadah menebar kedamaian, bukan permusuhan.

Marilah kita menjadi umat yang menjadi teladan dalam etika bermedia, menghidupkan budaya literasi dan verifikasi, serta menjaga kehormatan saudara seiman. Semoga Allah ﷻ meneguhkan kita dalam kebenaran, menjauhkan kita dari fitnah dunia maya, dan mengumpulkan kita kelak dalam naungan rahmat-Nya di hari kiamat.

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَعْمُرُونَ الْأَرْضَ بِطَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُفْسِدُونَ فِيهَا بِمَعَاصِيكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ بِيئَتَنَا، وَارْزُقْنَا شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَاسْتِعْمَالَهَا فِيمَا يُرْضِيكَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَنَقِّ أَلْسِنَتَنَا وَأَقْلَامَنَا وَجَوَالَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْفِتْنَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَاجْعَلْنَا مِفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Dinukil dari Laman Pondok Pesantren Darusy Syahadah, tanpa nama penulis

2. Teks Khutbah Jum'at: Menjauhi Perbuatan Ghibah

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dua puluh tahun yang silam, tepatnya tahun 2003, dunia pemberitaan dihebohkan dengan kabar yang mengherankan sekaligus menjijikkan. Sebuah mayat hilang dan saat ditemukan kembali dalam keadaan tak utuh lagi.

Kisahnya bermula dengan hilangnya mayat seorang wanita tua dari kuburnya. Setelah diselidiki, ternyata mayat tersebut telah berpindah kuburan ke halaman rumah seseorang. Namun anehnya, beberapa bagian anggota tubuhnya telah hilang. Singkat cerita, Sumanto (maaf bila memiliki nama yang sama) mengaku telah mencuri dan menyantap beberapa bagian mayat tadi. Sedang sisanya ia kuburkan di halaman depan rumahnya.

Dalam penyelidikan terungkap, ternyata Sumanto bukan hanya menyantap mayat tersebut, setidaknya dua mayat lain juga pernah ia cicipi dagingnya. Dan menurutnya, daging manusia itu enak.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Pernyataan Sumanto di atas, sekalipun terdengar gila dan aneh, namun ada benarnya. Buktinya, daging manusia termasuk menu yang banyak disantap manusia, termasuk kita. Bahkan dalam satu hari, kita mampu menelan banyak daging manusia. Sebab Allah menyerupakan mereka yang melakukan ghibah seperti menyantap bangkai orang lain. 

“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Kendati ayat di atas sangat jelas, bila kita mau jujur, hampir setiap hari kita melakukan ghibah. Padahal Allah SwT telah mengingatkan, apa tidak jijik? Ya, mungkin karena “lezat dan gurihnya” kita tak merasa jijik lagi. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ghibah adalah menyebutkan, membuka, dan membongkar aib seseorang dengan maksud jelek. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari shahabat Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau bersabda:

“Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membecinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan atasnya.”

Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya: “Sungguh telah disebutkan (dalam beberapa hadits) tentang ghibah dalam konteks celaan yang menghinakan. Karena itu Allah SWT menyerupakan orang yang berbuat ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya. Tentu saja, ancamannya lebih dahsyat dari permisalan itu.

Membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan kita. Seolah-olah obrolan kita tidak asyik bila tidak membincang kekurangan orang lain. Ketika asyik membeberkan kekurangan orang lain seakan lupa dengan kekurangan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.” Syaikh Al-Qahthani dalam kitab Nuniyyah hal. 39 berkata:

“Janganlah kamu tersibukkan dengan aib orang lain, justru kamu lalai. Dengan aib yang ada pada dirimu, sesungguhnya itu dua keaiban” 

Suatu hari Aisyah radhiyallahu’anha pernah berkata kepada Rasulullah SAW tentang Shafiyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. Lalu beliau menegurnya:  “Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan merubah air laut itu.” (HR. Abu Dawud)

Sekedar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu? Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

“Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (HR. Abu Dawud).

Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadits ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al-Hujurat ayat: 12 di atas. Dari sahabat Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.” (HR. Abu Dawud).

Dari ancaman yang terkandung dalam ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ghibah ini termasuk perbuatan dosa besar, yang seharusnya setiap muslim untuk selalu berusaha menghindar dan menjauh dari perbuatan tersebut.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikian pula bagi siapa yang mendengar dan ridha dengan perbuatan ghibah maka hal tersebut juga dilarang. Semestinya dia tidak ridha melihat saudaranya dibeberkan aibnya. Dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang mencegah terbukanya aib saudaranya niscaya Allah akan mencegah wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. At-Tirmidzi)

Dia hendaknya menasihatinya, bukan justru ikut larut dalam perbuatan tersebut. Jika sekiranya ia tidak mampu mencegahnya dengan cara yang baik, maka hendaknya ia pergi dan menghindar darinya. Namun bila ia ikut larut dalam perbuatan ghibah berarti ia pun ridha terhadap kemaksiatan.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita yang kini hidup di era digital, sudah sewajarnya bersikap hati-hati. Tanpa memilah dan memilih, seseorang bisa terjerumus ke dalam ghibah modern. Berapa banyak tayangan video, tulisan, dan siaran yang mengandung ghibah? Lalu apakah tidak dianggap lebih “buas” bila yang kita dengar, lihat, dan baca semuanya mengandung ghibah? Sangat boleh jadi kita mengalahkan rekor Sumanto.

Bahkan lebih dari itu, tangan kita ikut-ikutan berghibah. Bukankah kita, sering kurang puas dengan lisan, lalu menulis dan mengirim pesan di media sosial yang bermuatan ghibah? Allah SwT mengingatkan bahwa kelak beberapa anggota tubuh kita akan menjadi saksi; lidah, tangan, kaki, dan kulit. “Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushshilat: 22).

Demikian khutbah singkat ini, semoga Allah SWT menjauhkan diri kita dari perbuatan ghibah dan selalu membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para nabi dan orang-orang salih terdahulu. Allahumma amin…Top of Form

بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لَيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ 

 اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

*Penulis adalah Ahmad Fatoni, Dosen Pendidikan Bahasa Arab FAI-UMM, dikutip dari Laman Suara Muhamadiyah

3. Teks Naskah Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ خَلَقَ الْإِنْسَانَ، عَلَّمَهُ الْبَيَان، وَحَذَّرهُ مِنْ آفَاتِ الْلِّسَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلـٰه إِلَّا الله، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تَفْتَحُ لِقَائِلهَا أَبْوابَ الْجِنَان، وَتُغْلِقُ عَنْهُ أَبْوابَ النِّيِرَان، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُؤيَّدُ بِالْمُعْجِزَاتِ وَالبُرهَان، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَهْلَ الْبِرِّ وَالْإِيمَانْ، وَسَلَّمَ تَسْلِمًا كَثِيرأَمَّا بَعْدُ: أَيُّها النَّاس؛ اتَّقوا الله تعالىٰ  تحفَّظوا مِن ألسنتكم، واحْذروا مِن عواقبِ كلامِكم. قالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا*  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾. (الأحزاب: 70-71). فاتَّقوا الله؛ عباد الله وتحفظُّوا مِن ألسنتكم، وزِنُوا كلامكم، فإنَّ الكلام يُحْصىٰ عليكم، ويكتبُ فِي صحائفكم .﴿ مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾ ( ق: 18)

Kaum muslimin Rahimakumullah

Marilah kita selalu meningkatkan kadar ketaqwaan  kita kepada Allah SWT. Dengan berusaha sekuat tenaga untuk mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT. dan mencurahkan sekuat tenaga meninggalkan segala apa yang dilarang Allah SWT.

Kaum muslimin Rahimakumullah

Salah satu bentuk perintah Allah yang harus kita laksanakan sebagai konsekwensi dari ketaqwaan kita kepada Allah yaitu menjaga lisan dari segala hal yang menyebabkan kita terjerumus kepada kekufuran dan kemusyrikan hingga mengakibatkan kita masuk neraka. Dalam surat Qaf: 18 Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّالَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18)

Penggunaan lafadz “ladaih” menunjukkan betapa dekatnya kedua malaikat yang mencatat amal manusia yaitu Raqib dan Atit sehingga setiap perkataan yang keluar dari lisan manusia tidak akan bisa lepas dari catatan keduanya (al-Nasafi: Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil: III, 365)

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang amat besar dan salah satu ciptaan Allah yang menakjubkan, bentuknya kecil namun mempunyai peran yang sangat besar dalam ketaatan dan kemaksiatan seseorang, bahkan kekufuran dan keimanan seseorang tidak akan bisa diketahui dengan jelas kecuali dengan persaksian lisannya, dari lisannya seseorang akan diketahui seberapa besar kwalitas keimanannya, dan dari lisannya pula seseorang akan diketahui identitas kekufurannya.

Selain merupakan nikmat Allah, lisan juga merupakan salah satu ayat-ayat Allah yang kepadanya Allah menunjukkan 2 jalan yaitu jalan kebaikan dan kejelekan, kebenaran dan jalan kesesatan. Dalam surat al-Balad: 9-10 Allah berfirman: 

وَلِسَاناً وَشَفَتَيْنِ وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ"Lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Al-Balad: 9-10)

Lisan adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh ikut lurus. Namun jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh. Nabi SAW bersabda:

إِذَاأَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اِتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَانَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اِعْوَجَجْنَا.

“Apabila anak cucu Adam masuk di waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikuti-mu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. al-Tirmidzi dan Ahmad)

Seorang manusia bisa masuk surga disebabkan lisannya. Apabila benar lisannya, maka dia akan mendapatkan pahala, dan sebaliknya bila salah maka dia mendapatkan dosa. Lisan manusia bisa mewujudkan dzikir, tasbih, dan tahlil, atau membaca al-Qur`an, atau ucapan amar ma’ruf nahi munkar, berbuat baik kepada manusia, dan mengajak mereka kepada kebaikan. Lisan adalah salah satu nikmat Allah jika dipergunakan oleh hamba untuk kebaikan, petunjuk dan keshahihan.

Kaum muslimin Rahimakumullah

Lisan senang mengembara ke tempat yang tak bertujuan, lahannya sangat luas tidak terbatas dan bertepi. Ia memiliki peran yang sangat besar di lahan kebajikan dan lahan  keburukan. Maka barangsiapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka setan akan menggiringnya ke dalam segala sesuatu yang dia ucapkan.Lalu menyeretnya ke jurang kehancuran, dan selanjutnya jatuh ke dalam kebinasaan.

Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari tergelincirnya lisan kecuali orang-orang yang mau mengendalikannya dengan tali kekang syariat, sehingga lisannya tidak mengucapkan kecuali sesuatu yang memberi manfaat di dunia dan di akhirat. Imam Abi Dawud meriwayatkan bahwa suatu ketika Aisyah mengatakan tentang shafiyah kepada Rasulullah:

حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، تَعْنِيْ قَصِيْرَةً، فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْمُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ.

“Cukuplah bagi baginda bahwa Shafiyah itu orangnya begini, begini. ”Maksudnya tubuhnya pendek. Maka Nabi bersabda kepadanya, “Engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang bila dicampur dengan air laut niscaya dia akan merubahnya.” (HR. Abu Dawud)

Terkait dengan keharusan menjaga lisan ini Imam an-Nawawi menyatakan: “Ketahuilah bahwa setiap mukallaf harus menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali perkataan yang di dalamnya terdapat kemaslahatan yang jelas. Dan ketika perkataan itu mubah, sedangkan dalam meninggalkannya terdapat maslahat maka disunahkan untuk menahan diri darinya. Karena terkadang perkataan yang mubah akan menyeret manusia menuju keharaman atau kemakruhan, bahkan ini menjadi hal yang umum di dalam adat kebiasaan, sedangkan keselamatan maka tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.” Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُتْ.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hen-daklah dia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits yang disepakati keshahihannya ini merupakan nash yang sharih, bahwasanya tidak seharusnya seseorang berbicara melainkan apabila perkataan tersebut baik, yaitu yang tampak jelas maslahatnya, dan ketika ragu tentang kejelasan maslahatnya, maka janganlah berbicara.

Al-Imam asy-Syafii berkata, “Apabila seseorang ingin berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, apabila telah jelas maslahatnya, maka dia berbicara, dan apabila ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas maslahatnya”.Imam asy-Syafii juga pernah berpesan kepada muridnya ar-Rabi, “Wahai ar-Rabi, janganlah kamu berbicara tentang perkara yang tidak penting bagimu, karena apabila kamu berbicara satu kata, maka ia akan memilikimu, sedangkan kamu tidak dapat memilikinya.

Kaum muslimin Rahimakumullah

Ketahuilah bahwa ghibah termasuk perbuatan yang paling buruk dan paling tersebar di antara manusia, sehingga mereka tidak selamat darinya melainkan hanya segelintir orang saja. Batasan ghibah yaitu engkau memperbincangkan saudaramu dengan sesuatu yang jika hal itu didengar atau sampai ke telinganya, maka dia merasa tidak senang, baik itu mengenai badan, nasab, perilaku, perbuatan, ucapan atau dalam urusan agamanya, bahkan sampai pakaian yang dia kenakan, rumah tinggal, dan kendaraannya. Di dalam Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa`i: dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا: اللهَ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِيْ مَاأَقُوْلُ ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

"Apakah kalian mengetahui, apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Kamu menyebutkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak dise-nanginya. Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana pendapatmu bila pada saudaraku memang benar ada yang aku ucapkan? ”Beliau ber-sabda, “Jika pada dirinya benar ada yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, dan jika pada dirinya tidak terdapat sesuatu yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan tuduhan dusta terhadapnya.” (HR. Muslim)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَبِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ وُجُوهَهُمْ  وَصُدُورَهُمْ  فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاءِ يَاجِبْرِيلُ ؟ قَالَ: هَؤُلاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

"Ketika saya diangkat (pada peristiwa isra’ mi’raj), maka saya melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga.Mereka mencakar wajah dan dada mere-ka.Saya bertanya, ‘Siapakah mereka wahai Jibril?’Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang memakan daging manusia (maksudnya melakukan ghibah), dan merusak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits ini digambarkan dengan jelas bahwa Allah akan menghukum orang yang melakukan ghibah. Mereka digambarkan sebagai orang yang memakan daging manusia. Di akhirat nanti, mereka mencakar wajah dan dada mereka.

Kaum muslimin Rahimakumullah

Sebuah kritikan yang tajam, namun dibungkus dengan tutur kata yang halus lebih bisa diterima oleh orang yang dikritik. Dan sebaliknya, penyampaian dakwah kebenaran secara vulgar dan kasar kepada umat manusia terkadang akan berakibat sebaliknya. Metode tersebut tidak hanya kurang efektif, bahkan bisa memunculkan sikap antipati dari objek dakwah. Allah memberikan dalam kelembutan, sesuatu yang tidak diberikanNya dalam kekerasan.

Inti dakwah Islam adalah saling nasihat menasihati, nasihat bagi Allah, Rasulullah, para pemimpin, dan kaum muslimin. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tolonglah saudaramu yang zhalim dan dizhalimi.” Dan cara menolong saudara yang zhalim adalah menasihatinya agar tidak melakukan kezhaliman dan kemungkaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَايَكُوْنُ فِي شَيْءٍ  إِلَّا زَانَهُ  وَلَايُنْزَعُ  مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.

"Sesungguhnya kelembutan, tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia terlepas dari sesuatu melainkan ia akan menodainya. (HR. Muslim)

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ 

Khutbah II

   اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌعِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Naskah khutbah Jumat ini ditulis oleh KH Dr Kholid Mas’ud, dinukil dari laman Ponpes Tambakberas via NU Jatim

4. Teks Khutbah Jumat: Hindari Membuka Aib Setelah Berbuat Maksiat, Sumber Dosa Jariyah

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيِّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ   أَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ، وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ، وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (النور: 21) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ، وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (يس: 12)   

Jamaah Sholat Jumat yang Mulia 

Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada jamaah sekalian pada umumnya, dan kepada diri khatib sendiri khususnya, agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena, peningkatan iman dan takwa sejatinya dapat diperoleh dengan dua cara tersebut, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. 

Dalam hal ini Imam Abu Hatim berkata: 

أَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِArtinya: Iman itu sifatnya dinamis, dapat bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan kepada Allah atau menjalankan perintahnya, dan berkurang karena melakukan kemaksiatan. (Abu Hatim Muhammad bin Hibban, Shâhîhubnu Hibbân, [Beirut, Muassasatur Risâlah, 1414 H/1993 M], juz XI, halaman: 196). 

Hadirin Rahimakumullâh

Kita semua pasti sepakat bahwa terus terang, berkata benar, dan jujur merupakan sikap terpuji dan layak diteladani. Namun, adakalanya sikap-sikap itu justru dilarang karena membawa bahaya. Contohnya, dalam hal jujur dalam kemaksiatan.

Rasulullah SAW bersabda:  

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَى إِلاَّ المُجَاهِرِينَ

Artinya: Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujâhirîn atau orang-orang yang berterus terang dalam berbuat dosa. 

وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا 

Artinya: Sungguh termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya padahal Allah telah menutupinya. Lalu ia berkata: Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat dosa begini dan begitu. 

وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ. (متفق عليه)

Artinya: Sebenarnya di malam hari Tuhannya telah menutupi perbuatan dosanya itu, tetapi di pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah. (Muttafaqun ‘Alaih).

Sekilas hadis di atas terasa aneh. Mengapa ketika berbuat dosa dan tidak jujur justru diampuni Allah, sedangkan orang yang jujur tidak mendapat ampunan? Ketidakjujuran dalam kemaksiatan bukan berarti berbohong. Karena ketidakjujuran dalam hadis di atas adalah ketidakjujuran dalam arti tidak menceritakan kesalahan dan dosa.

Setidaknya ada satu alasan penting tentang hal itu. Orang yang berbuat dosa, kemudian jujur dan menceritakan kepada orang lain akan membuka kemungkinan dilakukannya dosa serupa dalam lingkup yang lebih luas. Ketika suatu kemungkaran diumbar begitu saja dan dianggap biasa, maka akan melahirkan gerakan masif untuk melakukan kemungkaran itu.

Seperti korupsi, riba, menggunjing, dan kemaksiatan lainnya yang mungkin terasa biasa di sekitar kita. Misalnya, seorang guru yang jujur berkata: Saya dulu pernah melakukan berbagai maksiat, mabuk-mabukan, mencuri, dan berzina, kemudian saya bertaubat dan memperbaiki diri hingga akhirnya menjadi guru seperti sekarang. 

Bayangkan jika perkataannya didengar oleh murid, tentu bisa menimbulkan kemungkinan munculnya pemikiran bahwa mabuk-mabukan dan kemaksiatan lainnya adalah hal biasa di benak muridnya. Karena gurunya pernah melakukannya. Pun ketika anaknya jatuh melakukan dosa, mereka memiliki alasan: Tidak apa-apa berbuat dosa seperti itu, dulu guruku juga melakukannya. Dia sendiri pernah bilang begitu.  Padahal, mungkin tindakan guru menceritakan dosanya karena landasan kejujuran. Tetapi, apa artinya kejujuran jika pada akhirnya justru mencetak pelaku-pelaku baru dalam kemaksiatan?Lanjutan Khutbah PertamaSementara dalam hadis lain ditegaskan, ketika seorang berbuat dosa kemudian orang lain mengikutinya karena terinspirasi oleh pelaku pertama, maka pahala dosa orang yang mengikuti mengalir juga kepada pelaku pertama, atau bisa disebut juga dosa jariyah.

Rasulullah SAW bersabda: 

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ 

Artinya: Orang yang melakukan perbuatan baik dalam Islam maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. 

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهمْ شَيءٌ. (رواه مسلم) 

Artinya: Orang yang melakukan suatu perbuatan buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang melakukan sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim). 

Artinya, ketika seseorang melakukan kemungkaran dan memutuskan bertaubat, lalu tidak menceritakan perbuatan dosanya, maka secara tidak langsung dia telah membuka sunnatan hasanatan dan menutup kemungkinan terbukanya sunnatan sayyiatan. 

Karenanya, jika di antara kita sudah terlanjur melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, lebih baik segera menyesali diri, memohon ampunan dan bertaubat, daripada menceritakan kepada orang lain yang tidak ada kaitannya dengan perilaku kita. 

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ، وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (هود: 3)

Artinya: Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Tuhan kalian lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan; Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik; dan jika kalian berpaling maka sungguh Aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat). (QS. Hud ayat 3). 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرُّحِيْمُ 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُأَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَعٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Penulis Ustadz M. Amiruddin Dardiri, Pengajar di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Dikutip dari laman NU Jatim

5. Khutbah Jumat: Ghibah, Penyakit Masyarakat yang Wajib Dijauhi

Khutbah I

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ (الحجرات: ١٢)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.

Kaum Muslimin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,

Ghibah (menggunjing keburukan dan kekurangan orang lain) adalah salah satu maksiat yang diharamkan oleh Allah dan penyakit berbahaya yang dapat meruntuhkan kerukunan, persatuan dan ketenteraman masyarakat. Akhir-akhir ini, ghibah semakin marak dilakukan. Jika dulu ghibah hanya dilakukan oleh sekumpulan orang di tempat-tempat tertentu yang terbatas, saat ini seiring menjamurnya media sosial ghibah semakin gencar dilakukan.

Ghibah online melalui media sosial sama dosanya dengan ghibah offline. Oleh karenanya, dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, kami mengingatkan kepada kita semua akan bahaya dosa ghibah. Masih banyak saudara-saudara kita yang seringkali melakukan ghibah tanpa mereka sadari.

Apakah yang dimaksud dengan ghibah? Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tahukah kalian apakah ghibah itu? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Maknanya: “Ghibah adalah ketika engkau menyebut saudara (muslim)mu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Ditanyakan kepada Baginda Nabi: Wahai Rasulullah, Jika pada saudaraku itu memang terdapat apa yang aku katakan?

Nabi menjawab:

إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَد اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: “Jika padanya terdapat apa yang engkau katakan maka engkau telah melakukan ghibah kepadanya, dan jika tidak terdapat padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah melakukan buhtan kepadanya” (HR Muslim)

Buhtan adalah menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya. Buhtan lebih besar dosanya daripada ghibah karena buhtan mengandung unsur kebohongan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Menggunjing keburukan orang lain, dalam ayat yang kami baca di awal khutbah, diserupakan dengan memakan daging saudara sesama Muslim yang telah meninggal. Bagi siapa pun, hal itu tentulah sangat menjijikkan. Begitu pula dengan ghibah, semestinya kita juga sangat jijik untuk melakukannya.

Hadirin yang berbahagia,

Jadi ghibah adalah membicarakan saudara sesama Muslim yang masih hidup atau sudah meninggal, kecil maupun dewasa, mengenai keburukan yang ada padanya, yang tidak ia sukai seandainya ia mendengarnya. Baik keburukan yang dibicarakan itu terkait dengan fisik, nasab (asal usul keturunan), pakaian, rumah, atau perilakunya.

Hal itu seperti ucapan: “Si Fulan pendek, kurang adab, pakaiannya kotor, kalah dan takut sama istrinya” dan kalimat-kalimat lain yang serupa, yang diketahui bahwa orang yang dibicarakan tidak suka akan hal itu seandainya ia mendengarnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Apakah ghibah termasuk dosa besar atau dosa kecil? Hukumnya dirinci sebagai berikut. Jika ghibah dilakukan terhadap orang yang shaleh dan bertakwa, maka tergolong dosa besar. Sedangkan ghibah terhadap selain orang yang bertakwa, maka tidak dikatakan secara mutlak sebagai dosa besar.

Akan tetapi jika seorang Muslim yang fasiq digunjing keburukannya hingga batas yang berlebihan, maka hal itu termasuk dosa besar. Seperti berlebihan dalam menyebutkan keburukan-keburukannya hanya untuk kesenangan mengobrol saja. Dengan makna inilah dipahami hadits riwayat Abu Dawud dari Sa’id bin Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا اسْتِطَالَةَ الرَّجُلِ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ (رَوَاهُ أَبُو دَاود)

Maknanya: “Sungguh termasuk dosa yang serupa dengan riba yang paling parah adalah ketika seseorang berlebihan dalam menodai kehormatan seorang Muslim tanpa hak” (HR Abu Dawud).

Istithalah (berlebihan dalam menodai kehormatan seorang Muslim) ini termasuk salah satu dosa yang terbesar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai “Salah satu riba yang paling parah”. Dalam hadits Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan: “Ketika aku dibawa Mi’raj, aku melewati sekelompok orang yang berkuku tembaga sedang mencakar-cakar muka dan dada mereka. Lalu aku bertanya: Siapakah mereka itu, Wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang menggunjing keburukan dan menista kehormatan orang lain” (HR Abu Dawud).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagaimana diharamkan mengatakan ghibah, haram juga mendengarkannya. Allah ta’ala saat menyebutkan sifat sebagian orang yang dipuji-Nya berfirman:

وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ (القصص: ٥٥)

Maknanya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh” (QS al Qashash: 55)

Allah juga berfirman:

وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا (الفرقان: ٧٢)

Maknanya: “... dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS al Furqan: 72)

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ (رواه الترمذيّ)

Maknanya: “Barangsiapa yang membela kehormatan dan harga diri saudaranya, maka Allah akan menyelamatkan wajahnya dari api neraka kelak pada hari kiamat” (HR at-Tirmidzi)

Oleh karena itu, tidak boleh mendengarkan ghibah dengan sengaja dan seksama, bukan semata terdengar. Jadi seseorang yang mendengar orang lain melakukan ghibah yang diharamkan serta mendengar penodaan terhadap kehormatan dan harga diri orang lain, maka ia wajib melarangnya dengan kekuatan dan kekuasaannya jika mampu.

Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, yakni dengan membenci di hati perkara mungkar tersebut serta meninggalkan tempat dilakukannya ghibah. Dengan begitu ia selamat dari dosa. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ القَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيْهِ وَيَنْسَى الجِذْلَ أو الجِذْعَ فِي عَيْنِ نَفْسِهِ (رَوَاهُ البُخَارِيُّ في الأدب المفرد)

“Salah seorang di antara kalian melihat kotoran yang jatuh di mata saudaranya dan lalai terhadap seonggok kayu yang tinggi dan besar di matanya sendiri” (Diriwayatkan al Bukhari dalam al Adab al Mufrad).

Apa yang disampaikan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu serupa dengan peribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Artinya aib dan kesalahan diri sendiri walaupun besar seringkali tidak kita sadari, sedangkan aib dan kesalahan orang lain tampak jelas dalam pandangan kita walaupun kecil dan sedikit.

Karenanya, hendaklah kita menyibukkan diri dengan aib dan kesalahan sendiri. Kita berupaya terus untuk memperbaiki diri. Janganlah kita usil dengan aib dan keburukan orang lain. Janganlah kita bicarakan keburukan orang lain, karena seringkali keburukan orang lain yang kita bicarakan ada pada diri kita juga. Membicarakan keburukan orang lain hanya akan menimbulkan pertengkaran dan permusuhan di tengah-tengah masyarakat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hendaklah selalu diingat setiap saat oleh pelaku ghibah bahwa ia berhak mendapatkan siksa dari Allah jika tidak bertaubat dari dosanya. Jika omongan ghibah sampai ke orang yang dibicarakan keburukannya, maka wajib bagi pelaku ghibah untuk meminta maaf kepadanya agar sah taubatnya. Sedangkan jika omongan ghibah belum sampai ke orang yang dibicarakan keburukannya, maka cukup bagi pelaku ghibah untuk bertaubat tanpa memberitahukan omongan ghibahnya kepada yang bersangkutan.

Pada hari kiamat kelak, seseorang yang menzalimi dan menggunjing orang lain dan ia belum bertaubat sampai meninggal, pahalanya akan diambil dan diberikan kepada orang yang ia zalimi. Jika seluruh pahalanya telah habis, sedangkan tanggungan kezalimannya belum terselesaikan, maka dosa-dosa orang yang ia zalimi akan dilemparkan kepadanya lalu ia dilemparkan ke dalam api neraka (HR Muslim). Na’udzu billah min dzalik.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penulis Ustadz Nur Rohmad, Anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, dinukil dari laman NU Jatim

People Also Ask:

Apa itu fitnah dan ghibah?

Ghibah adalah membicarakan keburukan saudaramu di belakangnya, walaupun hal itu benar. Sedangkan fitnah adalah menyebarkan berita bohong atau menuduh tanpa bukti. Kedua hal ini sama-sama dilarang keras dalam Islam karena merusak kehormatan dan ukhuwah.

Ghibah itu Apa?

Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain.

Diibaratkan seperti apakah ghibah itu?

Menurutnya, ghibah termasuk dosa besar yang dalam Al-Qur'an diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah meninggal (QS. Al-Hujurat: 12).

Mengapa Islam melarang umatnya melakukan ghibah?

"Ghibah bukan hanya merugikan orang yang dibicarakan, tetapi juga membawa dampak buruk bagi pelakunya. Allah SWT sangat mengecam perbuatan ini karena dapat memecah belah ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) di antara sesama muslim," ujar H. Hambali di hadapan jamaah Majelis Taklim Nurul Fitri.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |