Liputan6.com, Jakarta - Bagi umat Islam, Al-Fatihah adalah surat yang sangat penting. Al-Fatihah menjadi satu-satunya surat yang wajib dibaca tiap rakaat dalam sholat, baik fardhu maupun sunnah. Karena itu penting bagi seorang muslim untuk mengetahui doa setelah membaca Al Fatihah.
Al Fatihah juga disebut sebagai Ummul Qur'an atau Ummul Kitab yang berarti Induk Al-Qur'an atau Induk Kitab. Dalam Buku Tafsir At-Thabari (Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an), Ibn Jarir at-Thabari menjelaskan, penyebutan Al-Fatihah dengan Ummul-Qur’an karena seluruh Al-Quran tersimpulkan dalam Al-Fatihah. Menurut orang Arab, yang sungguh menyimpulkan atau memuat sesuatu dapat disebut Ummul.
Selain itu, Surat Al Fatihah juga mengandung fadhilah dan manfaat luar biasa. Hal ini banyak diriwayatkan oleh Rasulullah SAW dan para tabiin.
Menilik kemanfaatannya yang luar biasa itu, penting bagi seorang muslim mengetahui doa setelah membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat dan di luar sholat.
Doa setelah Membaca Al-Fatihah saat Sholat
Berikut ini adalah bacaan doa setelah membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat.
1. Amin
Disunnahkan bagi imam dan makmum untuk membaca doa ini:
آمِيْن
Latin: aamiin
Artinya: kabulkanlah (terimalah) doa kami
Anjuran ini didasarkan pada salah satu hadits:
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: «آمِينَ»، وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Diceritakan dari sahabat Wail bin Hujr, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Ghairil maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dhâllîn’ lalu Nabi Mengucapkan “âmîn” dengan mengeraskan bacaannya” (HR Tirmidzi).
Mayoritas ulama (jumhur) sepakat bahwa membaca Āmīn setelah Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Ulama kontemporer Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Buku Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh menjelaskan bahwa semua mazhab mengakui sunnahnya membaca Āmīn, perbedaan hanya pada jahr atau sirr.
2. Rabbighfirlii
Sering ditemui banyak yang menambahkan lafal Rabbighfirlii (رَّبِّ اغْفِرْ لِيْ) sebelum aamiin, sebagaimana disunnahkan dan menjadi jumhur ulama. Rabbighfir lî sebenarnya merupakan sebuah doa yang memiliki arti “Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni (dosa)ku”. Berikut ini bacaannya:
رَّبِّ اغْفِرْ لِيْ آمِيْن
Latin: Rabbighfirli aamiin
Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku, kabulkanlah (terimalah) doa kami
Para ulama berpandangan bahwa membaca kata rabbighfir lî setelah selesai membaca surat Al-Fatihah saat shalat adalah hal yang tidak sampai menghilangkan kesunnahan membaca âmîn, sehingga kata âmîn sebaiknya dilafalkan setelah membaca kata tersebut.
Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj menjelaskan, pelafalan rabbghfirli tidak sampai menghilangkan kesunnahan membaca âmîn dengan mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa, seperti dijelaskan dalam kitab al-MAjmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I.
"Meskipun hanya kalimat yang sedikit” hendaknya dikecualikan penambahan kalimat rabbighfir lî berdasarkan hadits hasan bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah melafalkan ad-dhallîn adalah doa “rabbighfir lî âmîn” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 49).
3. Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn
Banyak pula yang melafalkan tambahan Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn. Berikut bacaannya:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ آمِين
Latin: Rabbighfirlii Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn aamiin
Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan seluruh kaum muslimin. Aamiin
Syekh Ali Syibramalisi dalam Nihayah al-Muhtaj menambahkan tambahan kata “Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn” agar doa semakin bertambah lengkap. Dalam kitab hasyiyahnya, beliau menjelaskan, yang artinya:
“Hendaknya jika menambahkan kalimat Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn juga tidak masalah” (Syekh ‘Ali Syibramalisi, Hasyiyah as-Syibramalisi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 489).
Catatan: Hal yang perlu diperhatikan, anjuran mengucapkan doa “rabbighfir lî” setelah membaca Al-Fatihah ini tidak sama seperti halnya anjuran membaca kata “âmîn” yang disunnahkan baik bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah ataupun orang yang mendengarkan, sebab doa “rabbighfir lî” hanya disunnahkan bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah saja, sehingga tidak berlaku bagi orang yang mendengarkan, seperti halnya bagi makmum yang mendengarkan Fatihah Imam, ataupun orang yang berada di sekitar orang yang membaca Al-Fatihah.
Melansir nu.or.id Jika ditinjau dari kekuatan hadits yang menjadi landasan anjuran membaca “Rabbighfir lî” para ulama hadits cenderung berselisih antara mengkategorikan hadits ini sebagai hadits hasan atau dhaif, mengingat salah satu perawi hadits yang menjelaskan mengenai hal ini cenderung didhaifkan (dianggap lemah) oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil.
Dua rawi yang dianggap bermasalah adalah Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi dan Abu Bakr an-Nahsyali. Mengenai rawi yang disebutkan pertama, Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami menjelaskan:
وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: رَأَيْتُ أَهْلَ الْعِرَاقِ مُجْمِعِينَ عَلَى ضَعْفِهِ
“Di dalam perawi hadits terdapat Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi, Imam ad-Daruquthni dan Imam lainnya menganggap perawi tersebut tsiqqah (Dapat dipercaya). Imam Ibnu ‘Adhi berkata: “Aku melihat para ulama iraq bersepakat mendlaifkannya” (Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawaid, juz 2, hal.
Doa setelah Membaca Al-Fatihah di Luar Sholat
Jika kita membaca surah Al-Fatihah di luar sholat, maka kita disunnahkan untuk berdoa. Di antara doanya adalah sebagai berikut.
1. Doa Setelah Membaca Surat Al-Fatihah di Luar Sholat
اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَبِسِرِّ الْفَاتِحَةِ وَبِبَرَكَةِ الْفَاتِحَةِ وَبِكَرَامَةَ الْفَاتِحَةِ أَنْ تَفْتَحَ لَنَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ , وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ الْخَيْرِ, وَأَنْ تَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ وآخِرُ دَعْوَاهُمْ عَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ
Artinya: Allohumma bi haqqil fatihahati wa bi sirril fatihati wa bi karomatil fatihati an taftaha lana kulla khoirin wa tatafadhdhola ‘alaina bi kullil khoiri wa an taj’alana min ahlil khoiri subhanakallohumma wa tahiyyatuhum fiha salam wa akhiru da’wahum anilhamdulillahi robbil ‘alamina.
Artinya: Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah, dengan rahasia Al-Fatihah, dengan kemuliaan Al-Fatihah, Engkau bukakanlah kepada kami pintu-pintu kebaikan, dan karuniakanlah kepada atas kami semua kebaikan, dan jadikanlah kami bagian dari ahli kebaikan. Maha Suci Engkau Ya Allah, dan penghormatan mereka di surga adalah salam, dan akhir doa mereka adalah alhamdulillahi robbil ‘alamin.
KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa doa-doa yang menggunakan tawassul dengan Al-Qur’an, para nabi, dan amal shalih adalah bagian dari tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.
2. Doa setelah membaca Al-Fatihah
Dikutip dari Buku Kamus Doa yang ditulis oleh Luqman Junaedi doa setelah membaca surah Al Fatihah adalah sebagaimana berikut.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يَفُوقُ كُلَّ حَمْدِ الْحَامِدِينَ. حَمْدًا يَكُوْنُ رِضًا وَمَرْضِيًّا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الَّذِي دَحَى الْأَرْضَ وَالْأَقَالِيمَ، وَاخْتَصَّ مُوْسَى الْكَلِيْمَ، وَأَحْيَ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ، وَسَمَّى نَفْسَهُ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، فَهُمَا إِسْمَانِ جَلِيْلَانِ فِيْهِمَا شِفَاءٌ لِكُلِّ سَقِيْمٍ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ الَّذِي لَيْسَ لَهُ مُنَازِعٌ فِي الْمُلْكِ وَلَا شَرِيكٌ وَلَا قَرِيْنٌ وَلَا وَزِيرٌ وَلا وَلَا مُشِيْرٌ وَلَا مُعِيْنٌ، بَلْ كَانَ قَبْلَ الْعَوَالِمِ أَجْمَعِيْنَ. أَنْتَ الْمُحِيْطُ بِجَمِيعِ السَّلَاطِيْنِ وَالشَّيَاطِيْنِ، وَعَوْنِيْ عَلَى الْأَبْعَدِينَ وَالْأَقْرَبِيْنَ، وَوَجْهِي عَلَى الْأَجْنَاسِ الْمُخْتَلَفَةِ.
وَإِيَّاكَ نَعْبُدُ بِالْإِقْرَارِ، وَنَعْتَرِفُ بِالتَّقْصِيْرِ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذُّنُوْبِ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ. وَنَشْهَدُ أَنْْ لٓا إِلَهَ إِلَا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ عَلَى كُلِّ حَاجَةٍ مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. يَاهَادِيَ الْمُضَلِّيْنَ، لَا هَادِيَ غَيْرَكَ.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. اَللَّهُمَّ يَا مَالِكَ رِقَابِ الْغَوَالِمِ كُلَّهَا، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ. رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْغَمِّ يَامُنْجِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ. فَرْجِ الْكُرَبِ عَنِّي يَا مُفَرِّجَ الْمَكْرُوبِيْنَ. يَا رَبِّ يَا غِيَاثَ الْكُرَبِ عَنِّي، يَا مُفَرِّجَ الْمَكْرُونِينَ، يَارَبِّ يَاغِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِيْنَ، إِكْفِنِي وَنَجِّنِي مِمَّا أَخَافُ، وَأَحْذَرُ، وَسَخَّرْ لِي مَنْ أَحْوَجْتَنِيْ إِلَيْهِ، يَا مُعَيْتُ أَعْتَنِيْ.
وَذَا النُّوْن إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ. فَاسْتَجَابَ لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ منَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ.
وَصَلَى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ الطَّاهِرِينَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Latin: Alhamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, ḥamdan yafūqu kulla ḥamdi al-ḥāmidīn. Ḥamdan yakūnu riḍan wa marḍiyyan ‘inda rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm alladzī daḥal-arḍa wal-aqālīm, wakhtaṣṣa Mūsā al-kalīm, wa aḥyal-‘iẓāma wa hiya ramīm, wa sammā nafsahur-raḥmānir-raḥīm, fahumā is-māni jalīlāni fīhimā syifā’un likulli saqīm. Māliki yaumid-dīn alladzī laisa lahu munāzi‘un fil-mulki wa lā syarīkun wa lā qarīn wa lā wazīrun wa lā walā musyīrun wa lā mu‘īn, bal kāna qablal-‘awālima ajma‘īn. Antal-muḥīṭu bijamī‘iṣ-ṣalāṭīn wasy-syayāṭīn, wa ‘awnī ‘alal-ab‘adīna wal-aqrabīn, wa wajhī ‘alal-aj-nāsi al-mukhtalifah.
Wa iyyāka na‘budu bil-iqrār, wa na‘tarifu bit-taqṣīr, wa nastaghfiruka minadz-dhunūbi wa natūbu ilaik. Wa nasyhadu an lā ilāha illā anta waḥdaka lā syarīka lak, wa anna Muḥammadan ‘abduka wa rasūluka ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Wa iyyāka nasta‘īnu ‘alā kulli ḥājatin min ḥawā’iji ad-dunyā wad-dīn. Yā hādiyal-muḍallīn, lā hādiya ghairak.
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghḍūbi ‘alaihim walad-dhāllīn. Allāhumma yā mālika riqābil-ghawālima kullihā, lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minazh-zhālimīn. Rabbi najjinī minal-ghammi yā munjiyal-mu’minīn. Far-rijil-kuraba ‘annī yā mufarrijal-makrubīn. Yā rabbī yā ghiyāṡal-kurabi ‘annī, yā mufarrijal-makrunīn, yā rabbī yā ghiyāṡal-mustaghīṡīn, ikfinī wa najjinī mimmā akhāfu wa aḥdharu, wasakh-khir lī man aḥwajtani ilaih, yā mu‘ītu a‘tanī.
Wa żan-nūni idz żahaba mughāḍiban faẓanna allaṅ naqdira ‘alaihi fanādā fiẓ-ẓulumāti alla ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minazh-zhālimīn. Fastajabnā lahu wa najjaināhu minal-ghammi wa każālika nunjī al-mu’minīn.
Wa ṣallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi aṭ-ṭāhirīn wa aṣḥābihi ajma‘īn. Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa alam semesta, pujian yang mengungguli setiap pujian orang-orang yang memuji, pujian yang diridai oleh Tuhan penguasa alam semesta. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang menghamparkan bumi beserta seluruh penjurunya. Mengkhususkan Musa sebagai nabi yang diajak bicara secara langsung. Menghidupkan tulang-belulang yang sudah hancur. Menyebut diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, sebuah nama agung yang mengandung obat bagi segala macam penyakit.
Penguasa hari Pembalasan yang tak ada penentang, sekutu, teman, menteri, penasihat, atau penolong. Bahkan, Dia telah ada sebelum alam semesta ada. Engkaulah yang menguasai semua penguasa dan setan. Engkaulah penolongku terhadap musuh yang jauh dan yang dekat. Dan Engkaulah wajahku dalam menghadapi berbagai jenis manusia.
Kepada-Mu aku menyembah dengan penuh pengakuan. Mengakui kekurangan, memohon ampun atas semua dosa, dan bertobat kepada-Mu. Kami bersaksi tiada tuhan selain Engkau Yang Maha Esa lagi tidak memiliki sekutu dan Muhammad Saw. adalah hamba sekaligus utusan-Mu. Kepada-Mu kami memohon pertolongan atas setiap kebutuhan dunia dan agama. Wahai Zat yang memberikan petunjuk bagi orang-orang yang sesat, tak ada pemberi petunjuk selain diri-Mu.
Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Ya Allah, penguasa seluruh alam, tiada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh, kami termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, hindarkan aku dari kesedihan, wahai Zat yang menyelamatkan kaum Mukminin. Hilangkan kesusahanku, wahai Zat yang menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah. Ya Allah, Tuhan yang menghilangkan kesedihanku, wahai Tuhan yang menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah. Ya Allah, Tuhan yang menolong orang-orang yang memohon pertolongan. Cukupilah aku, selamatkan aku dari sesuatu yang kutakutkan dan kukhawatirkan. Tundukkan kepadaku orang yang kubutuhkan. Wahai Tuhan Yang Maha Penolong, tolonglah aku.
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami takkan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "Bahwa tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim."
Semoga kesejahteraan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya yang suci, dan juga kepada segenap sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa alam semesta.
People also Ask:
1. Apa yang kita baca setelah selesai membaca Al-Fatihah?
Masih diambil dari sumber yang sama, doa setelah membaca surah Al Fatihah adalah sebagaimana berikut.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يَفُوقُ كُلَّ حَمْدِ الْحَامِدِينَ
2. Bacaan doa penutup setelah Al-Fatihah?
Setelah membaca surah Al-Fatihah dalam shalat, yang merupakan praktik sesuai sunnah adalah mengucapkan "Aamiin". Selain itu, ada juga bacaan doa-doa lain seperti "Alhamdulillah" yang menjadi pujian, atau doa meminta kebaikan kepada Allah SWT, seperti "Allahumma bi haqqil Fatihah...", yang diamalkan oleh sebagian kaum Muslimin untuk memohon terkabulnya doa-doa mereka.
3. Apa bacaan doa Al-Fatihah?
Doa Al Fatihah adalah surah pembuka dalam Al-Qur'an, yang terdiri dari 7 ayat dan wajib dibaca dalam setiap rakaat salat, kecuali bagi yang belum hafal. Surah ini dimulai dengan Basmalah ("Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang") dan berisi pujian kepada Allah, pengakuan atas kekuasaan-Nya, permohonan pertolongan dan petunjuk ke jalan yang lurus.
4. Allahumma bihaqqil fatihah doa apa?
Allahumma Bihaqqil Fatihah dipercaya oleh kebanyakan umat muslim sebagai doa tolak bala , atau doa supaya terhindar dari masalah dan musibah dunia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397208/original/025765600_1681628590-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3114271/original/028783800_1588060319-383585-PBYIZ7-451.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725346/original/051209800_1706092573-Imam_Syafi_i_Wikimedia_Commons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2793782/original/075290100_1556766221-ramadan-3461512_960_720_pixabay.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421629/original/013547700_1763953850-339bf3c9-aba1-4aba-bc8b-83c81688b22b.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737864/original/087768800_1707368307-fotor-ai-20240208115418.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3463003/original/093162800_1621761005-20210523-Puncak-Arus-Balik-Lebaran-IQBAL-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5045104/original/041213400_1733897746-1733893370607_tujuan-isra-miraj-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4660564/original/081485600_1700737006-isra_miraj.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158583/original/033672200_1741665428-kata-kata-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737862/original/091578100_1707368217-fotor-ai-2024020811540.jpg)




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316291/original/015050100_1755231247-5.jpg)








