Liputan6.com, Jakarta - Ilmu pengetahuan, terutama fisika, sering kali dipandang sebagai ranah yang terpisah dari dimensi spiritual. Banyak yang menganggap bahwa hukum-hukum alam yang berlaku di dunia ini adalah hasil dari proses alami yang bisa dipahami dan dikendalikan oleh manusia.
Namun, ulama ahli tafsir KH Ahmad Bahuddin Nursalim atau Gus Baha memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini.
Menurut Gus Baha, meskipun fisika membahas materi dan hukum alam, ada satu unsur yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu kekuasaan Allah SWT. "Jika kita belajar ilmu fisika atau ilmu apa saja, maka kita akan bicara materi sesuai statusnya," kata Gus Baha.
Ia menjelaskan bahwa setiap objek, baik itu jam atau kertas, memiliki materi dan kekuatan fisik yang berbeda.
Namun, pandangan Gus Baha menunjukkan bahwa meskipun kita memahami sifat fisik suatu benda, itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah SWT. Ia memberikan contoh yang sangat sederhana namun mendalam.
"Ini jam materinya dari besi, ini kertas materinya ya kertas," katanya. Secara fisik, jelas terlihat bahwa jam terbuat dari bahan yang lebih kuat dibandingkan dengan kertas.
Menurutnya, secara logis, jam akan lebih kuat daripada kertas. Namun, jika kita melihatnya dari sudut pandang iman, Gus Baha mengungkapkan bahwa kekuatan sejati ada pada Allah SWT. "Terserah Allah, bisa saja saya memiliki niat untuk menghancurkan jam ini dan menyimpan kertas ini sehingga kertas bisa bertahan lebih lama," ujarnya.
Gus Baha kemudian melanjutkan dengan penjelasan yang lebih dalam mengenai konsep kekuasaan Allah SWT. "Manusia seringkali melihat sesuatu berdasarkan kekuatan materi, tetapi kita lupa bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya. Apa yang kita anggap kuat bisa saja dihancurkan oleh Allah, dan yang kita anggap lemah bisa saja dipelihara oleh-Nya," jelasnya.
Pentingnya iman dalam kehidupan ini, menurut Gus Baha, terletak pada pemahaman bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah. "Meskipun kita melihat fisika atau materi, kita harus ingat bahwa Allah lah yang mengendalikan segala sesuatu di dunia ini," ujar Gus Baha.
Simak Video Pilihan Ini:
3 Jamaah Sholat Idul Fitri di Alun-Alun Pemalang Meninggal Tertimpa Pohon Tumbang
Kekuataan Allah SWT Jauh Lebih Besar
Hal ini mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, meskipun memberikan kita pengetahuan yang sangat berharga, tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa kekuasaan Allah SWT jauh lebih besar dari segala yang ada. Gus Baha berpesan bahwa kita seharusnya tidak hanya mengandalkan logika atau pengetahuan ilmiah, tetapi juga harus memiliki iman yang kokoh kepada Allah.
"Seperti halnya benda yang kita anggap kuat atau lemah, Allah memiliki rencana untuk setiap ciptaan-Nya. Kekuatan atau kelemahan bukanlah hal yang utama, melainkan bagaimana Allah mengatur semuanya," katanya. Gus Baha menekankan bahwa dengan memiliki iman kepada Allah, kita akan lebih memahami betapa besar kuasa-Nya yang tak terbatas.
Ilmu pengetahuan memberikan kita pemahaman tentang dunia fisik, namun kita harus menyadari bahwa yang mengendalikan dunia ini adalah Allah. "Kita boleh menguasai fisika dan materi, tetapi kita tidak bisa mengendalikan takdir," jelas Gus Baha.
Dari sudut pandang Gus Baha, ilmu pengetahuan dan agama tidaklah saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi. "Dengan ilmu pengetahuan, kita bisa memahami ciptaan Allah, dan dengan iman, kita tahu bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin-Nya," katanya.
Ilmu fisika, menurut Gus Baha, dapat membantu kita memahami mekanisme alam semesta. Namun, ketika kita memperdalam pemahaman kita, kita juga harus menyadari bahwa yang menggerakkan alam semesta ini adalah Allah yang Maha Kuasa. "Tidak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya," tegas Gus Baha.
Ia juga menambahkan bahwa seringkali kita merasa bangga dengan pengetahuan yang kita miliki, tetapi kita harus selalu ingat bahwa pengetahuan kita sangat terbatas dibandingkan dengan kebesaran Allah. "Ilmu pengetahuan itu bermanfaat, tetapi harus diimbangi dengan kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui," ujarnya.
Kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini, kata Gus Baha, harus membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. "Meskipun kita memiliki pengetahuan, kita tetap harus bergantung kepada Allah untuk segala hal," kata Gus Baha dengan penuh keyakinan.
Landasannya Tetap Iman
Sebagai contoh, meskipun kita tahu bahwa benda yang lebih keras lebih tahan lama, Gus Baha mengingatkan kita bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang kita tahu adalah bahwa Allah lah yang mengatur segala sesuatu," ujarnya.
Penting untuk selalu mengingat bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya sementara dan hanya Allah yang kekal. "Benda-benda fisik bisa hancur, tetapi Allah tetap ada. Itulah yang harus kita ingat dalam setiap langkah kehidupan kita," pesan Gus Baha.
Ilmu pengetahuan seperti fisika dapat membantu kita memahami dunia fisik, tetapi iman adalah landasan yang memberi kita ketenangan dalam hidup. "Dengan iman, kita tahu bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah," katanya.
Dengan memadukan ilmu dan iman, Gus Baha mengajarkan kita untuk selalu melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas, yaitu bahwa Allah-lah yang mengatur segala sesuatunya. "Jangan hanya mengandalkan ilmu pengetahuan, tetapi jangan lupa untuk selalu mengandalkan Allah dalam setiap aspek kehidupan," pesan Gus Baha.
Ia berharap agar setiap orang yang mempelajari ilmu pengetahuan bisa tetap menjaga iman mereka. "Ilmu pengetahuan tanpa iman akan membuat kita merasa sombong, tetapi ilmu pengetahuan dengan iman akan membuat kita rendah hati," ujarnya.
Sebagai penutup, Gus Baha mengingatkan bahwa meskipun kita belajar ilmu fisika dan memahami hukum-hukum alam, kita harus selalu mengingat bahwa yang mengendalikan segalanya adalah Allah. "Ilmu pengetahuan bisa memberikan kita pengetahuan tentang dunia ini, tetapi hanya Allah yang memiliki kuasa atas segalanya," tutup Gus Baha.
Kesadaran akan hal ini akan membuat kita lebih menghargai kehidupan dan lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul