Nama-nama Nabi yang Dijadikan Nama Surat di Al-Qur'an, Makna dan Hikmah di Baliknya

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam memiliki 114 surat dengan nama-nama yang unik dan penuh makna. Di antara keunikan penamaan surat-surat tersebut, terdapat beberapa nama nabi yang dijadikan nama surat di Al-Qur'an yang menunjukkan pentingnya kisah para nabi dalam ajaran Islam. Penamaan ini bukan sekadar simbolis, melainkan mengandung hikmah dan pelajaran mendalam bagi umat Muslim.

Kajian tentang nama nabi yang dijadikan nama surat di Al-Qur'an telah menjadi pembahasan menarik di kalangan ulama tafsir sejak berabad-abad lalu. Para ulama seperti Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan Fi Ulumil Qur'an menyebutkan bahwa beberapa surat dinamai sesuai dengan nabi yang kisahnya diceritakan di dalamnya. Penamaan ini mencerminkan pentingnya kisah para nabi sebagai teladan bagi manusia dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Allah SWT.

Mengetahui nama nabi yang dijadikan nama surat di Al-Qur'an memberikan pemahaman lebih mendalam tentang struktur dan sistematika Al-Qur'an. Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber tafsir, terdapat enam nama nabi yang dijadikan nama surat di Al-Qur'an, yaitu Surat Yunus, Surat Hud, Surat Yusuf, Surat Ibrahim, Surat Muhammad, dan Surat Nuh. Masing-masing surat ini memiliki keistimewaan dan pelajaran tersendiri.

Berikut ini telah Liputan6.com rangkum secara komprehensif informasi lengkapnya pada Sabtu (22/3).

Al-Qur’an itulah bacaan sempurna yang ditafsirkan dengan bermacam penafsiran, dalam berbagai bidang kelimuan, dan penafsirannya yang hingga kini terus menerus mengalami perkembangan dan sesuai dengan tuntunan dari perkembangan ilmu dan masyarakat.

Promosi 1

Surat Hud: Keteguhan dalam Menghadapi Tantangan

Surat Hud adalah surat ke-11 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 123 ayat. Tergolong surat Makkiyah, surat ini diwahyukan setelah Surat Yunus. Dinamakan Surat Hud karena berisi riwayat Nabi Hud AS dalam ayat 50-60, yang menceritakan perjuangan beliau dalam menyampaikan dakwah tauhid kepada kaum 'Ad.

Allah SWT berfirman dalam Surat Hud ayat 50-52:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ. يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ. وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

"Wa ilā ʿādin akhāhum hūdā. Qāla yā qawmi'budullāha mā lakum min ilāhin ghairuh, in antum illā muftarūn. Yā qawmi lā as'alukum ʿalaihi ajrā, in ajriya illā ʿalal-ladhī fatarānī, afalā taʿqilūn. Wa yā qawmistagfirū rabbakum thumma tūbū ilaihi yursilis-samā'a ʿalaikum midrāraw wa yazidkum quwwatan ilā quwwatikum wa lā tatawallaw mujrimīn."

"Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Kamu hanyalah mengada-ada. Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti? Dan (dia berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.'"

Kisah Nabi Hud AS dalam surat ini menunjukkan keteguhan seorang nabi dalam menyampaikan ajaran tauhid meskipun menghadapi penolakan dan ejekan dari kaumnya. Kaum 'Ad dikenal sebagai kaum yang kuat secara fisik dan memiliki peradaban yang maju, namun mereka sombong dan mengingkari seruan Nabi Hud AS. Akibatnya, mereka diazab oleh Allah SWT dengan angin topan yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari berturut-turut.

Surat Hud juga memuat kisah beberapa nabi lain seperti Nabi Nuh AS, Nabi Shalih AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Luth AS, Nabi Syu'aib AS, dan Nabi Musa AS. Keseluruhan surat ini menekankan tema "istiqamah" (keteguhan) dalam menghadapi tantangan dakwah. Tidak heran jika Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Surat Hud telah membuatnya beruban karena beratnya beban dakwah yang digambarkan di dalamnya.

Surat Muhammad: Keteguhan Iman dan Jihad

Surat Muhammad adalah surat ke-47 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 38 ayat. Termasuk dalam golongan surat Madaniyah, artinya diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dinamakan Surat Muhammad karena diambil dari kata "Muhammad" yang disebutkan pada ayat kedua surat ini.

Allah SWT berfirman dalam Surat Muhammad ayat 2:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

"Walladhīna āmanū wa ʿamiluṣ-ṣāliḥāti wa āmanū bimā nuzzila ʿalā muḥammadin wa huwal-ḥaqqu mir rabbihim, kaffara ʿanhum sayyi'ātihim wa aṣlaḥa bālahum."

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka."

Surat Muhammad juga dikenal dengan nama Surat al-Qital (Perang) karena sebagian besar isinya membahas tentang hukum-hukum perang dan qital (pertempuran) dalam Islam. Surat ini mengandung petunjuk tentang sikap terhadap orang-orang kafir dalam peperangan, tentang tawanan perang, dan tentang perjanjian dengan musuh.

Selain itu, Surat Muhammad juga menekankan perbedaan antara orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang-orang yang ingkar dan mengikuti hawa nafsu. Surat ini berisi peringatan bagi orang-orang munafik yang berpura-pura beriman namun menyembunyikan kekufuran dalam hati mereka.

Keistimewaan Surat Muhammad adalah penekanannya pada pentingnya keteguhan dalam mempertahankan keimanan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan dakwah. Surat ini juga mengisyaratkan bahwa kemenangan akan diraih oleh orang-orang yang beriman jika mereka tetap istiqamah dalam menegakkan ajaran agama.

Surat Yusuf: Kisah Cinta, Sabar, dan Pengampunan

Surat Yusuf merupakan surat ke-12 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 111 ayat. Termasuk surat Makkiyah karena diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dinamakan Surat Yusuf karena hampir seluruh isinya mengenai kisah Nabi Yusuf AS secara komprehensif dari awal hingga akhir.

Keunikan Surat Yusuf terletak pada gaya penceritaannya yang utuh dan berkesinambungan, tidak seperti kisah-kisah nabi lain yang biasanya tersebar di beberapa surat. Allah SWT menyebut kisah Nabi Yusuf AS sebagai "ahsanul qashas" atau kisah terbaik, sebagaimana disebutkan dalam ayat pertama surat ini:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

"Naḥnu naquṣṣu ʿalaika aḥsanal-qaṣaṣi bimā awḥainā ilaika hādhal-qur'āna wa in kunta min qablihi laminal-ghāfilīn."

"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum Kami wahyukan (kisah) ini, engkau termasuk orang yang tidak mengetahui."

Kisah Nabi Yusuf AS dimulai dari mimpinya melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya, dilanjutkan dengan pengalaman pahitnya dikhianati oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, digoda oleh istri pembesar Mesir, dipenjara karena fitnah, hingga akhirnya menjadi pembesar di kerajaan Mesir dan bertemu kembali dengan keluarganya.

Surat Yusuf mengandung banyak pelajaran berharga tentang sabar dalam menghadapi ujian, menahan diri dari godaan hawa nafsu, memaafkan kesalahan orang lain, dan kepercayaan bahwa Allah SWT selalu memiliki rencana terbaik di balik setiap ujian. Kisah ini juga menggambarkan bagaimana Allah SWT mengangkat derajat seseorang yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran meskipun menghadapi berbagai cobaan berat.

Surat Ibrahim: Doa dan Ketauhidan

Surat Ibrahim adalah surat ke-14 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 52 ayat. Termasuk golongan surat Makkiyah. Dinamakan Surat Ibrahim karena mengandung kisah doa Nabi Ibrahim AS pada ayat 35-41. Doa-doa tersebut antara lain berisi permohonan agar keturunannya menjadi orang-orang yang mendirikan shalat, dijauhkan dari penyembahan berhala, dan agar wilayah Makkah serta sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 35-37:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

"Wa idh qāla ibrāhīmu rabbij'al hādhal-balada āminaw wajnubnī wa baniyya an naʿbudal-aṣnām. Rabbi innahunna aḍlalna kathīram minan-nās, faman tabiʿanī fa'innahū minnī, wa man ʿaṣānī fa'innaka ghafūrur-raḥīm. Rabbanā innī askantu min dhurriyyatī biwādin ghairi dhī zarʿin ʿinda baitikal-muḥarram, rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj'al af'idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuqhum mipath-thamarāti laʿallahum yashkurūn."

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka dia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.'"

Surat Ibrahim tidak hanya berisi doa-doa Nabi Ibrahim AS, tetapi juga mengandung tema-tema penting tentang tauhid, risalah kenabian, ancaman bagi orang-orang yang ingkar, dan janji Allah bagi orang-orang beriman. Surat ini juga mengingatkan tentang nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya dan menekankan pentingnya syukur atas nikmat-nikmat tersebut.

Doa-doa Nabi Ibrahim AS dalam surat ini menjadi teladan bagi umat Islam dalam berdoa, terutama dalam memohon kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, dan generasi mendatang. Ketulusan dan ketawadhuannya dalam berdoa mencerminkan hubungan yang sangat dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Surat Nuh: Ketabahan dalam Berdakwah

Surat Nuh adalah surat ke-71 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 28 ayat. Termasuk golongan surat Makkiyah. Dinamakan Surat Nuh karena seluruh isinya mengisahkan dakwah Nabi Nuh AS kepada kaumnya yang ingkar.

Nabi Nuh AS dikenal sebagai salah satu nabi Ulul Azmi (nabi yang memiliki keteguhan hati) yang berdakwah dalam waktu yang sangat lama, yaitu 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-'Ankabut ayat 14. Meskipun demikian, hanya sedikit dari kaumnya yang beriman.

Allah SWT berfirman dalam Surat Nuh ayat 1-3:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ. أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

"Innā arsalnā nūḥan ilā qawmihī an andhir qawmaka min qabli ay ya'tiyahum ʿadhābun alīm. Qāla yā qawmi innī lakum nadhīrum mubīn. Ani'budullāha wattaqūhu wa aṭīʿūn."

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), 'Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.' Dia (Nuh) berkata, 'Wahai kaumku! Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas bagi kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku.'"

Surat Nuh menggambarkan berbagai metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh AS, mulai dari seruan secara terang-terangan, dialog, hingga pendekatan persuasif dengan mengingatkan nikmat-nikmat Allah SWT. Nabi Nuh AS juga menunjukkan bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta sebagai penguat dakwahnya. Namun, kaumnya tetap bersikeras dalam kekufuran dan bahkan mengancam akan merajam Nabi Nuh AS jika tidak menghentikan dakwahnya.

Pada akhirnya, setelah segala upaya dakwah yang dilakukannya tidak berhasil, Nabi Nuh AS berdoa kepada Allah SWT agar membinasakan orang-orang kafir di muka bumi. Allah SWT mengabulkan doanya dengan mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan seluruh kaum yang ingkar, kecuali orang-orang yang beriman dan naik ke dalam bahtera Nabi Nuh AS.

Kisah Nabi Nuh AS dalam surat ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam berdakwah, serta kepasrahan kepada Allah SWT atas hasil dari upaya dakwah tersebut. Kisah ini juga mengingatkan tentang konsekuensi dari keingkaran yang terus-menerus terhadap ajaran Allah SWT.

Surat Yunus: Kisah Keteladanan dan Pengampunan

Surat Yunus merupakan surat ke-10 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 109 ayat. Termasuk dalam golongan surat Makkiyah, surat ini diturunkan setelah Surat Al-Isra dan sebelum Surat Hud. Dinamakan Surat Yunus karena mengisahkan Nabi Yunus AS bersama pengikutnya yang memiliki keteguhan iman, sebagaimana disebutkan dalam ayat 98-100.

Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus ayat 98:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

"Falawlā kānat qaryatun āmanat fanafarahā īmānuhā illā qawma yūnusa lammā āmanū kasafnā ʿanhum ʿadhābal-khizyi fil-ḥayātid-dun'yā wa mattaʿnāhum ilā ḥīn."

"Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu."

Kisah Nabi Yunus AS dalam surat ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kesabaran dan taubat. Nabi Yunus AS, yang juga dikenal dengan julukan Dzun Nun, pernah meninggalkan kaumnya karena frustasi dengan keingkaran mereka. Namun, Allah SWT kemudian menyelamatkannya dari perut ikan besar dan memberi kesempatan bagi kaumnya untuk bertaubat.

Surat Yunus tidak hanya berisi kisah Nabi Yunus saja, tetapi juga mengandung banyak ajaran fundamental tentang tauhid, keimanan, dan bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta. Surat ini juga menekankan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah SWT, bukan rekayasa manusia, dan mengajak manusia untuk merenungkan dan memikirkan ayat-ayat Allah di alam semesta.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |