Liputan6.com, Jakarta - Bulan Sya’ban selalu datang membawa suasana haru dan semangat bagi umat Islam. Bulan ini disebut sebagai masa pemanasan sebelum menyambut Ramadan, di mana amalan ibadah mulai ditingkatkan, terutama ibadah puasa. Rasulullah Muhammad SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan ini, bahkan hampir berpuasa penuh, kecuali beberapa hari menjelang Ramadan yang disebut hari syak. Bagi sebagian umat Islam, puasa Sya’ban menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran dan memperbanyak pahala. Namun bagi sebagian lainnya, bulan ini juga menjadi waktu untuk mengganti (qadha) puasa Ramadan yang belum sempat ditunaikan.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang sering muncul di masyarakat: apakah boleh menggabungkan niat antara puasa Sya’ban dan qadha Ramadan? Banyak orang masih memiliki tanggungan puasa Ramadan sebelumnya, sementara di sisi lain ingin meraih keutamaan puasa sunnah Sya’ban. Dalam pandangan para ulama, hal ini bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga diperbolehkan secara syar’i. Berikut penjelasan lengkap mengenai hukum, dalil, serta niat yang benar untuk menggabungkan puasa Sya’ban dan qadha Ramadan.
Hukum Menggabungkan Niat Puasa Sya’ban dan Qadha Ramadan
Puasa di bulan Sya’ban merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., beliau berkata:
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
‘An ‘Āisyata ummil mu’minīn raḍiyallāhu ‘anhā annahā qālat: wa mā ra’aytu rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam astakmala ṣiyāma syahrin qaṭṭu illā Ramaḍān, wa mā ra’aytuhu fī syahrin aktsara minhu ṣiyāman fī Sya‘bān.
Artinya: “Dari Aisyah RA berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Dari hadits tersebut, para ulama memahami bahwa Rasulullah Muhammad SAW memang mengistimewakan bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa. Namun, bagaimana jika seseorang juga ingin menunaikan qadha puasa Ramadan di bulan ini?
Menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i, menggabungkan niat antara puasa sunnah dan puasa wajib diperbolehkan. Seseorang tetap mendapatkan pahala dari kedua niat tersebut, selama ia berniat dengan benar dan ikhlas karena Allah SWT.
Dalil dan Penjelasan Ulama Klasik
Dalam kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari, dijelaskan bahwa satu niat dapat mencakup dua jenis ibadah, yakni puasa wajib dan sunnah, jika keduanya memiliki tujuan yang tidak bertentangan.
Syekh Abu Bakar bin Syatha dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin menukil pendapat dari beberapa ulama seperti Syekh al-Kurdi, al-Khatib asy-Syarbini, dan Sulaiman al-Jamal, yang mengatakan bahwa puasa qadha di hari-hari yang dianjurkan berpuasa tetap mendapatkan keutamaan sunnah hari tersebut.
وَفِي الْكُرْدِيِّ مَا نَصُّهُ فِي الْأَسْنَى وَنَحْوِهِ الْخَطِيبُ الشَّرْبِينِيُّ وَالْجَمَالُ الرَّمْلِيُّ: الصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمُتَأَكِّدِ صَوْمُهَا مَنْصَرِفٌ إِلَيْهَا، بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَتْ إِلْخِ
Wa fī al-Kurdī mā naṣṣuhu fī al-Asnā wa naḥwihi al-Khaṭīb asy-Syarbīnī wa al-Jamāl ar-Ramlī: aṣ-ṣawmu fī al-ayyāmi al-muta’akkidi ṣawmuhā manṣarifun ilaihā, bal law nawa bihī ghairahā ḥaṣalat ilkh.
Artinya: “Dalam kitab Al-Asna, Syekh al-Kurdi dan juga Syekh al-Khatib asy-Syarbini serta Syekh al-Jamal al-Ramli berkata: berpuasa pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa otomatis tertuju pada hari-hari tersebut, bahkan jika seseorang berniat dengan niat puasa lain, maka tetap diperoleh keutamaan keduanya.”
Begitu pula dalam Al-I’ab, Syekh al-Barizi berfatwa:
زَادَ فِي الْإِيعَابِ وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا نَوَاهُ مَعَهُ أَوْ لَا
Zāda fī al-I‘āb wa min ṯamma aftā al-Bārizī bi annahu law ṣāma fīhi qaḍā’an aw naḥwahu ḥaṣalā nawāhu ma‘ahu aw lā.
Artinya: “Dalam kitab Al-I’ab ditambahkan bahwa Syekh al-Barizi berfatwa, apabila seseorang berpuasa qadha (Ramadan) atau lainnya di hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala keduanya bisa didapat, baik disertai niat puasa sunnah atau tidak.”
Dari sini, para ulama menyimpulkan bahwa puasa Sya’ban boleh digabung dengan puasa qadha Ramadan, dan keduanya tetap sah serta berpahala ganda.
Bacaan Niat Puasa Sya’ban Sekaligus Qadha Ramadan
Berikut lafal niat puasa bagi seseorang yang ingin menggabungkan antara puasa sunnah bulan Sya’ban dengan puasa qadha Ramadan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati syahri Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa di bulan Ramadan dan melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban karena Allah Ta’ala.”
Adapun jika seseorang hanya ingin berniat untuk mengqadha puasa Ramadan tanpa menggabungkannya dengan puasa sunnah, maka lafaz niatnya adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Kedua niat tersebut sah, tergantung tujuan seseorang. Namun bila dilakukan bertepatan di bulan Sya’ban, menggabungkan niat qadha dan puasa sunnah tentu lebih utama karena mendapatkan dua keutamaan sekaligus.
Hikmah dan Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban
Bulan Sya’ban memiliki posisi istimewa sebagai penghubung antara bulan Rajab dan Ramadan. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa amal-amal manusia diangkat kepada Allah SWT pada bulan ini. Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad SAW memperbanyak ibadah, terutama puasa.
Dengan melaksanakan puasa Sya’ban, seorang muslim sedang mempersiapkan diri secara spiritual untuk menyambut datangnya Ramadan. Menggabungkannya dengan niat qadha justru semakin memperkaya nilai ibadah, karena selain melunasi kewajiban, ia juga memperbanyak amal sunnah.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menulis bahwa bulan Sya’ban merupakan waktu di mana amal manusia diangkat ke langit. Maka, Rasulullah Muhammad SAW berpuasa agar amalnya diangkat dalam keadaan sedang beribadah. Semangat inilah yang dapat kita teladani: menjadikan setiap amal ibadah sebagai bentuk persiapan menuju Ramadan.
Pertanyaan seputar Niat Puasa Syaban dan Qadha Ramadhan
1. Apakah sah menggabungkan puasa Sya’ban dan qadha Ramadan?
Ya, sah. Para ulama sepakat bahwa boleh menggabungkan niat puasa sunnah Sya’ban dengan puasa qadha Ramadan, dan keduanya mendapatkan pahala.
2. Apakah niat harus disebutkan dua kali?
Tidak perlu. Cukup satu niat yang mencakup keduanya, seperti dalam lafaz niat gabungan di atas.
3. Kapan waktu terbaik niat puasa Sya’ban dan qadha?
Waktu niat puasa wajib seperti qadha adalah sejak malam hari hingga sebelum fajar, sedangkan puasa sunnah boleh diniatkan hingga sebelum zawal (sebelum tengah hari).
4. Apakah lebih baik puasa Sya’ban saja atau digabung dengan qadha Ramadan?
Jika masih memiliki utang puasa Ramadan, lebih baik digabung. Karena selain melunasi kewajiban, kamu juga mendapatkan pahala puasa sunnah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405874/original/079886700_1762501732-Berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397210/original/034811800_1681628824-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423472/original/065770100_1764063704-masjid_di_malam_nisfu_syaban.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133008/original/019342800_1589908303-383627-PBYJ2M-458.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360466/original/061604200_1611722074-the-dancing-rain-N1xBagwnR1E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102744/original/034549900_1737446919-1737445609592_tata-cara-sholat-tahajud-2-rakaat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5253083/original/040592000_1749992019-WhatsApp_Image_2025-06-14_at_23.20.13.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400640/original/079783300_1762143236-ilustrasi_tangan_berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5143865/original/072157300_1740556458-medium-shot-people-celebrating-eid-al-fitr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3447617/original/047481400_1620114129-Ilustrasi_Alquran.jpg)





























