Pesan Spiritual Isra Miraj untuk Meningkatkan Iman dan Takwa, Makna dan Hikmahnya

1 month ago 31
  • Apa hikmah utama Isra Mi'raj bagi jiwa yang berduka?
  • Bagaimana Isra Mi'raj meneguhkan tauhid umat Muslim?
  • Apa peran shalat lima waktu dalam konteks Isra Mi'raj?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj adalah kedekatan dengan Allah sebagai obat terbaik bagi jiwa yang sedang berduka, sekaligus sarana untuk meningkatkan aman dan takwa. Di era modern, pesan spiritual isra miraj untuk meningkatkan iman dan takwa begitu relevan sebagai penguat ketauhidan di tengah zaman yang makin tak menentu (disrupsi).

Pesan spiritual ini salah satunya termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Isra [17]: 1, yang artinya: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami..".

M. Quraish Shihab dalam Buku Tafsir Al-Misbah, penggunaan kata 'Abdihi (hamba-Nya) dalam ayat tersebut menyimpan rahasia spiritual yang mendalam. Derajat tertinggi yang dapat dicapai manusia bukanlah melalui jabatan atau materi, melainkan melalui pengakuan sebagai "hamba" yang tulus.

Berikut ini adalah ulasan mengenai pesan spiritual untuk meningkatkan iman dan takwa, merujuk dua studi ilmiah, Hikmah Kisah Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Aplikasi Teori Double Mouvement) oleh Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi, dan Jurnal Hikmah Peristiwa Isra Miraj Sebagai Pondasi Keteguhan Tauhid Dalam Sanubari Dan Perilaku, oleh Murnia Suri & Nurul Izzati. Kedua studi ilmiah ini merujuk pandangan ulama klasik, kontemporer dan fakta empiris.

1. Peneguhan Tauhid

Pesan spiritual pertama adalah peneguhan tauhid sebagai akar dari iman. Peristiwa ini menuntut keyakinan pada hal ghaib yang melampaui nalar empiris. Sebagaimana dikutip dalam Jurnal Murnia Suri & Nurul Izzati (2022), Isra Mi’raj berfungsi sebagai instrumen pemisah antara mukmin yang benar-benar bertauhid dengan mereka yang keraguan masih menyelimuti hatinya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra [17]: 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitab Aisar at-Tafaasir menjelaskan bahwa penggunaan kata "Subhaana" di awal ayat adalah isyarat bahwa peristiwa ini merupakan bukti kekuasaan Allah yang tidak terikat oleh hukum sebab-akibat. Keimanan pada tauhid rububiyah ini melahirkan ketenangan jiwa bahwa bagi Allah, tidak ada kemustahilan dalam menolong hamba-Nya.

2. Shalat sebagai Jalan Konsistensi Takwa

Pesan spiritual terpenting lainnyadari Mi’raj adalah syariat shalat lima waktu. Jika Nabi melakukan Mi’raj secara fisik, maka shalat adalah sarana bagi umat Islam untuk melakukan "Mi’raj spiritual" lima kali sehari.

Shalat menjadi instrumen untuk meningkatkan takwa dengan cara memutus hubungan sejenak dari hiruk-pikuk dunia menuju kehadiran Ilahi.

Dalam skripsi Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi (2024), melalui aplikasi Teori Double Movement (Fazlur Rahman), dijelaskan bahwa shalat memiliki nilai ideal moral sebagai pengendali perilaku. Shalat yang khusyuk berfungsi sebagai benteng integritas.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah yang menyebutkan bahwa shalat adalah jembatan penghubung yang paling efektif untuk menyucikan jiwa. Takwa yang benar tecermin dari kualitas shalat seseorang; semakin baik shalatnya, semakin terjaga ia dari perbuatan keji dan mungkar sesuai janji Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45.

3. Esensi Penghambaan (Al-Ubudiyah)

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa derajat tertinggi manusia bukan dicapai melalui materi atau jabatan, melainkan melalui penghambaan yang tulus ('ubudiyah). Gelar 'Abd (hamba) yang diberikan Allah kepada Nabi saat Mi’raj adalah simbol bahwa ketundukan total kepada Sang Khalik justru merupakan jalan menuju kemerdekaan batin yang sesungguhnya.

Penghambaan ini menuntut transformasi karakter. Merujuk pada pemikiran dalam Jurnal Murnia Suri, tauhid yang kokoh harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial.

Pesan spiritualnya jelas, yakni iman yang meningkat harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kesabaran, kejujuran, dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan spiritual Isra Mi’raj mengandung maksud agar umat Islam tak hanya terjebak pada seremonial sejarah, tetapi melakukan "perpindahan" kualitas hidup. Melalui peneguhan tauhid dan disiplin shalat, iman kita diharapkan naik kelas (Mi’raj) dari sekadar pengakuan lisan menjadi tindakan nyata yang berlandaskan takwa.

4. Kesucian Hati sebagai Syarat Pendakian Spiritual

Sebelum diperjalankan menuju langit, terdapat riwayat dada Nabi Muhammad SAW dibelah dan hatinya dicuci dengan air Zamzam. Pesan spiritualnya adalah, seseorang tidak akan bisa "naik" menemui Allah (meraih kemuliaan spiritual) jika hatinya masih kotor oleh penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong.

Dalam hadis disebutkan, sebelum Rasulullah melakukan Isra dan Mi’raj, dadanya dibedah. Beliau bersabda, “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan keimanan dan hikmah....” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqih Sirah-nya berkomentar, ini melambangkan persiapan yang harus dilakukan sebelum beliau berangkat menjalankan Isra dan Mi’raj. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, pembedahan dan pencucian hati ini terjadi tiga kali.

Sementara, Syekh Abd al-Qadir al-Jilani dalam kitab Tafsir al-Jilani menjelaskan bahwa perjalanan Mi’raj adalah perjalanan ruhani. Kesucian batin adalah syarat mutlak untuk mencapai derajat kedekatan (muraqabah) dengan Sang Pencipta. Tanpa penyucian hati, ibadah hanya akan menjadi gerakan fisik tanpa ruh.

5. Keseimbangan antara Material dan Spiritual

Saat berada di Baitul Maqdis, Nabi ditawari dua gelas minuman: khamar (arak) dan susu. Nabi memilih susu, yang kemudian disambut oleh Jibril dengan ucapan, "Engkau telah memilih fitrah."

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa susu melambangkan kesucian dan keseimbangan. Pesan spiritualnya bagi umat adalah agar kita tetap menjaga "fitrah" manusiawi yang seimbang, tidak hanya mengejar materi (duniawi) dan tidak meninggalkan tanggung jawab dunia demi spiritualitas semata. Islam adalah agama yang moderat (wasathiyah).

6. Kepemimpinan dan Persatuan Lintas Zaman

Nabi Muhammad SAW mengimami para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa sebelum naik ke langit. Ini adalah pesan spiritual tentang kepemimpinan yang inklusif dan persatuan risalah ketuhanan.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitab Aisar at-Tafaasir menyebutkan bahwa ini adalah simbol kedaulatan risalah Muhammad SAW yang menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya.

Bagi kita, pesan spiritualnya adalah pentingnya menjaga persatuan umat dan menghormati sejarah sebagai pijakan untuk membangun masa depan (relevan dengan Teori Double Movement dalam skripsi Mitha Diah Ayu).

7. Kesadaran Sosial melalui Penampakan Balasan Amal

Selama perjalanan, Nabi diperlihatkan berbagai bentuk siksaan bagi mereka yang berbuat zalim di bumi (pemakan riba, tukang ghibah, dll).

Penampakan ini adalah pesan spiritual untuk memperkuat integritas moral. Iman tidak boleh hanya berhenti di masjid; takwa harus termanifestasi dalam keadilan sosial. Pesan ini mengingatkan bahwa setiap tindakan kita di bumi memiliki konsekuensi kosmik di akhirat kelak.

8. Himmah Al-Aliyah: Ketinggian Cita-Cita Menembus Batas

Nabi tidak berhenti di langit pertama, melainkan terus naik hingga Sidratul Muntaha, batas akhir yang tidak bisa ditembus oleh makhluk lain, termasuk Jibril (Himmah Aliyah).

Dalam QS. An-Najm [53]: 13-14 disebutkan, yang artinya: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha."

Dalam kajian ilmiah yang merujuk pandangan ulama klasik maupun kontemporer, hal ini dimaknai sebagai Himmah Al-Aliyah atau cita-cita yang tinggi. Pesan spiritualnya adalah seorang Muslim harus memiliki visi yang besar dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang rendah.

Kita harus terus "mendaki" dalam kualitas intelektual dan spiritual hingga mencapai batas maksimal kemampuan kita.

Hikmah Isra Mi'raj untuk Penguatan Iman dan Takwa

Berikut adalah 5 hikmah Isra Mi’raj untuk penguatan iman dan takwa seorang muslim, yang dijelaskan secara singkat:

1. Peneguhan Tauhid di Atas Logika

Isra Mi’raj adalah ujian keimanan terhadap kekuasaan Allah yang melampaui nalar manusia. Hikmahnya adalah menguatkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa (Al-Qadir) atas segala sesuatu, sehingga seorang mukmin tidak lagi meragukan janji-janji Allah meskipun terlihat mustahil secara logika duniawi.

2. Shalat sebagai "Mi’raj" Spiritual Harian

Perintah shalat lima waktu adalah oleh-oleh agung dari langit. Hikmahnya, shalat menjadi sarana bagi setiap Muslim untuk melakukan "pendakian" spiritual menemui Penciptanya guna mendapatkan ketenangan jiwa, kekuatan iman, dan pembersihan batin secara rutin.

3. Penghiburan dan Kekuatan Mental (Tasliyah)

Peristiwa ini terjadi setelah Tahun Kesedihan (Amu al-Huzni). Hikmah spiritualnya adalah memberikan pesan bahwa di balik setiap kesulitan berat yang dihadapi dengan sabar, Allah telah menyiapkan kemuliaan dan solusi luar biasa. Ini menguatkan iman agar kita tidak mudah putus asa saat tertimpa musibah.

4. Meneguhkan Integritas sebagai Hamba (Al-Ubudiyah)

Penyebutan Nabi sebagai "Abdihi" (hamba-Nya) dalam QS. Al-Isra: 1 mengajarkan bahwa derajat tertinggi manusia adalah saat ia menjadi hamba yang patuh secara total. Iman diperkuat dengan menyadari bahwa ketaatan kepada Allah adalah jalan menuju kemerdekaan batin yang sesungguhnya.

5. Transformasi Iman menjadi Disiplin Karakter

Hikmah Isra Mi’raj menuntut iman untuk mewujud dalam aksi nyata. Iman yang kuat harus bertransformasi menjadi disiplin waktu (melalui shalat), kejujuran, dan integritas sosial. Iman tidak hanya berhenti di hati, tetapi menggerakkan perubahan perilaku ke arah yang lebih mulia.

People also Ask:

Apa pesan atau hikmah yang dapat Anda ambil dari kisah Isra Miraj?

TGM demikian sapaan akrab Wakil Wali Kota Mataram menambahkan, hikmah lain dari peristiwa Isra Mi'raj adalah keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT selalu datang kepada hamba-Nya yang berikhtiar dan bertakwa.

Bagaimana pesan Isra dan Miraj dapat menginspirasi umat Muslim untuk memperkuat iman mereka dalam menghadapi kesulitan?

Pada intinya, Al-Isra' wal Mi'raj adalah kisah harapan. Kisah ini mengajarkan kita bahwa bahkan di saat-saat tergelap sekalipun, iman dapat menerangi jalan ke depan . Perjalanan ajaib Nabi meyakinkan umat Islam yang taat bahwa cobaan bukanlah akhir—melainkan jembatan menuju rahmat ilahi.

Bagaimana cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah?

Menjaga Iman & Taqwa Dalam Kehidupan Sehari-HariMemperbaiki sholat. Shalat adalah bentuk dialog kita dengan Allah. ...Memperbanyak Dzikir. Dengan berzikir artinya kita sedang mengingat Allah. ...Perbanyak Membaca Al-Quran. Alquran adalah petunjuk. ...Berkumpul Dengan Orang Shalih. ...Mengevaluasi Diri.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menghayati dan mengamalkan pesan-pesan dari peristiwa Isra Miraj dalam kehidupan sehari-hari?

  • Mengimplementasikan Nilai-Nilai Isra Mi'raj dalam Kehidupan...
  • Menjaga Kualitas Shalat. ...
  • Berbuat Baik kepada Sesama. ...
  • Menjaga Kebersihan dan Kesehatan. ...
  • Meningkatkan Keimanan Melalui Ilmu. ...
  • Memperbanyak Dzikir dan Doa. ...
  • Menghindari Perilaku yang Tidak Bermanfaat. ...

Mempererat Tali Silaturahmi.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Muhamad Ridlo, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |