Rukun Islam dan Dalilnya: Penjelasan yang Mudah Dipahami

2 months ago 42

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang yang telah mengenal istilah rukun Islam. Namun sayangnya banyak juga yang masih belum memahami makna dan kedalaman ajaran yang terkandung didalamnya.

Rukun Islam bukan hanya sekedar lima kewajiban dasar seorang muslim, melainkan pondasi yang membentuk karakter, keimanan dan perilaku seorang muslim dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Jadi tanpa pemahaman yang jelas tentang apa dan bagaimana menjalankan rukun-rukun ini, pelaksanaannya bisa salah dan tidak berarti.

Dalam praktiknya sendiri, rukun Islam berperan sebagai pedoman hidup yang mengarahkan umat kepada ketaatan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT. Dimana setiap rukun Islam memiliki makna yang berbeda, dengan memahami rukun Islam secara menyeluruh, seseorang bisa menjalankannya dengan lebih sadar dan penuh keikhlasan. 

Untuk pembahasan lengkapnya, berikut ini telah Liputan6 rangkum pembahasan dari masing-masing rukun dan dalilnya, pada Rabu (3/12).

Syahadat

Syahadat merupakan pengakuan atau pernyataan iman seorang muslim yang terdiri dari dua kalimat, yang mengesakan Allah SWT dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. kalimat ini menjadi pintu utama yang membedakan seorang muslim dengan non muslim. Tanpa syahadat, ibadah lainnya tidak akan dianggap sah. Ini juga dijelaskan dalam dalil-dalil dalam Al Quran, salah satunya adalah pada surat Muhammad ayat 19 yang berbunyi:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْࣖ ۝١٩

Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu. (QS. Muhammad: 19)

Ini juga diperkuat oleh hadits berikut ini:

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi jika seseorang belum mengucapkan 2 kalimat syahadat secara sadar dan benar, maka ia belum dianggap sebagai seorang Muslim. Syahadat bukan hanya sekedar ucapan, namun suatu bentuk komitmen dan pembuktian melalui perilaku. Syahadat terdiri dari 2 bagian, yaitu:

  • Syahadat Tauhid: Asyhadu alla ilaha illallah
  • Syahadar Rasul: Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah

Makna syahadat tauhid adalah pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang berhak untuk disembah, sedangkan syahadat rasul berarti menerima bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pembawa ajaran Islam yang wajib diikuti.

Sholat

Sholat adalah ibadah wajib yang menjadi pembeda antara muslim dan non muslim. Shalat merupakan ibadah wajib lima waktu yang menjadi tiang agama. Sehingga tanpa sholat, amalan lain tidak akan bisa berdiri tegak. Sholat juga tidak hanya berupa gerakan dan bacaan, namun juga bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.

Sholat wajib dilakukan lima kali sehari, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk meninggalkannya, kecuali hilang akal atau dalam kondisi tertentu seperti haid bagi perempuan. Hal ini juga dijelaskan dalam surat Al Ankabut ayat 45 yang berbunyi:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ۝٤٥

Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45)

Hal serupa juga dijelaskan dalam hadist berikut ini:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)

Jadi jika shalatnya benar, maka amalan lainnya akan menjadi benar dan baik pula, karena itu shalat menjadi ibadah pertama yang dihisab di hari kiamat.

Zakat

Zakat adalah bentuk kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak. Zakat bukan hanya tentang memberi, namun juga membersihkan harta dan jiwa manusia dari sifat kikir dan serakah.

Kata zakat sendiri berdiri dari kata ‘zaka’ yang jika diartikan secara harfiah berarti suci, tumbuh dan berkah. Zakat harta sendiri wajib dikeluarkan bagi mereka yang telah memenuhi syarat tertentu, diantaranya adalah nisab dan haul.

Hal ini turut dijelaskan dalam berbagai surat dalam Al Quran, salah satunya adalah dalam surat At Taubah ayat 103 yang berisi:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ۝١٠٣

Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103)

Ini juga diperkuat dengan hadist pendukung berikut ini:

“Islam dibangun atas lima perkara… menunaikan zakat…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terdapat dua jenis zakat yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim, yaitu zakat fitrah dan zakat mal atau zakat harta. Tidak hanya menghapus sifat kikir, zakat juga membantu mewujudkan keseimbangan sosial dan mencegah kesenjangan.

Puasa

Rukun Islam yang selanjutnya adalah Puasa. Puasa sendiri merupakan bentuk ibadah menahan diri dari nafsu, mulai dari makan, minum dan berbagai hal yang bisa membatalkannya, dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa juga diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu dan memenuhi syarat.

Terdapat puasa Ramadhan yang merupakan ibadah wajib yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Tidak hanya tentang menahan nafsu, puasa juga mendidik kesabaran dan ketahanan mental. Puasa juga membersihkan tubuh dari berbagai racun, dan telah terbukti secara ilmiah.

Perintah untuk puasa ini turut diterangkan dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Haji

Rukun Islam yang terakhir adalah Haji. Haji merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim dengan berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan serangkaian amalan-amalan tertentu dalam batas waktu tertentu yang telah ditetapkan dan diatur. Ibadah haji ini wajib dilakukan oleh mereka yang mampu, dalam aspek fisik, finansial dan keamanan. 

Dalam Surat Ali Imran ayat 97, Allah SWT juga berfirman:

اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ۝٩٧

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.

Ibadah haji ini memiliki banyak hikmah yang bisa diambil, mulai dari menghapus dosa-dosa, menyatukan umat Islam dari seluruh dunia, melatih kesabaran dan pengorbanan, hingga meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS.

Hubungan Antar Rukun Islam

Secara bahasa, kata ‘Rukun’ memiliki arti pilar atau bagian terpenting yang tidak dapat dipisahkan, sedangkan Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup manusia di dunia. Maka, rukun Islam sendiri bisa dipahami sebagai lima pilar utama yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim sebagai bentuk dan bukti kepatuhan kepada Allah SWT. 

Ini juga dijelaskan dalam sebuah hadist yang menjadi landasan rukun Islam yang berbunyi:

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima rukun Islam ini tidak bisa berdiri sendiri, dimana Syahadat menjadi dasar keyakinan, sholat sebagai bentuk penghubung harian hamba dan Allah SWT, zakat sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama dan alam, puasa sebagai pembentukan akhlak, hingga akhirnya haji sebagai puncak penyempurnaan agama bagi mereka yang mampu. Seluruhnya membentuk kepribadian muslim yang seimbang secara spiritual, sosial dan moral.

TANYA JAWAB (Q&A) TENTANG RUKUN ISLAM

1. Apa yang dimaksud dengan Rukun Islam?

Rukun Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang penting dan wajib ditunaikan oleh setiap umat Islam. Secara harfiah, rukun berarti tiang atau penyangga. Ibarat sebuah bangunan, Rukun Islam merupakan tiang-tiang yang menyangga dan memperkuat fondasi keislaman seseorang. Dengan mengamalkan Rukun Islam, keislaman seorang Muslim menjadi sempurna.

2. Apa dasar hukum mengenai lima Rukun Islam?

Dasar hukumnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhuma, di mana Rasulullah SAW bersabda: "Islam dibangun di atas lima hal: syahadat la ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan salat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan."

3. Mengapa Rukun Islam harus dilaksanakan oleh umat Islam?

Rukun Islam berhukum wajib, sehingga setiap Muslim yang tidak menjalankannya akan berdosa. Rukun Islam merupakan fondasi dasar yang membedakan seorang Muslim dengan non-Muslim. Pelaksanaan Rukun Islam menunjukkan ketaatan dan keimanan seseorang kepada Allah SWT.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |