7 Contoh Teks Kultum Singkat tentang Tawakal setelah Berusaha, Lengkap Dalil dan Penjelasan Ulama

15 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Menyusun teks kultum singkat mengenai tawakal setelah berusaha memerlukan pengetahuan mendalam mengenai keseimbangan antara motivasi kerja keras dan ketenangan batin. Tawakal bukan berarti pasif, melainkan sebuah aksi spiritual yang dilakukan tepat setelah seluruh daya upaya dikerahkan secara maksimal.

Dengan isi yang singkat dan padat, kultum bisa menjadi pengingat bahwa hasil akhir bukanlah kuasa manusia, melainkan ketentuan Allah SWT. Pendengar diajak untuk melepaskan beban ekspektasi yang berlebihan dan menggantinya dengan kepercayaan penuh pada ketetapan Allah yang Maha Bijaksana.

Struktur yang efektif dalam artikel atau teks kultum ini umumnya mencakup dalil-dalil kuat seperti Surah Ali Imran ayat 159 atau analogi burung dari hadits Nabi, yang diperkuat dengan penjelasan mendalam dari ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali atau Ibnu Qayyim. Kehadiran referensi dari kitab-kitab otoritatif memberikan bobot intelektual sekaligus kredibilitas bagi sang pembicara dalam menyampaikan pesan.

Berikut ini adalah 7 contoh teks kultum singkat mengenai tawakal setelah berusaha, yang diperkuat dalil dan pandangan ulama.

Teks Kultum Singkat 1: Tawakal Adalah Puncak dari Perjuangan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kekuatan untuk terus berusaha dan berikhtiar dalam menjalani kehidupan ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam urusan kerja keras dan penyerahan diri.

Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa kesuksesan semata-mata adalah hasil dari kecerdasan dan otot kita sendiri. Padahal, ada elemen kunci yang melengkapi setiap tetes keringat kita, yaitu tawakal.

Tawakal bukanlah langkah awal yang pasif, melainkan sebuah sikap mental yang hadir setelah seluruh kemampuan dikerahkan secara maksimal. Ia adalah "jangkar" yang menjaga hati tetap stabil saat badai hasil tidak sesuai dengan harapan.

Allah SWT telah menegaskan pentingnya urutan antara usaha dan penyerahan diri ini dalam Al-Qur'an. Hal ini menjadi panduan bagi setiap mukmin agar tidak sombong saat berhasil dan tidak terpuruk saat gagal.

Dalam Surah Ali Imran ayat 159, Allah berfirman: “...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa "tekad" atau 'azam untuk berusaha harus mendahului penyerahan diri. Kita diminta untuk menyusun strategi dan bekerja, lalu melepaskan hasilnya kepada Sang Pencipta.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawakal adalah setengah dari agama, sedangkan setengah lainnya adalah inabah (kembali kepada Allah). Beliau menekankan bahwa tawakal tanpa usaha adalah sebuah cacat, sedangkan usaha tanpa tawakal adalah kesombongan.

Menurut beliau, tawakal yang benar melibatkan dua hal: ketergantungan hati hanya kepada Allah dan penggunaan anggota badan untuk menjalankan sebab-sebab (usaha). Jika salah satunya hilang, maka hakikat tawakal tersebut akan runtuh.

Dengan memahami ini, kita tidak akan lagi merasa terbebani secara berlebihan oleh hasil akhir. Tugas kita adalah menanam dengan sebaik mungkin, sementara urusan menumbuhkan dan memanen adalah hak prerogatif Allah SWT.

Ketenangan batin yang lahir dari tawakal setelah berusaha adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Orang yang bertawakal akan memiliki mental yang tangguh karena ia tahu bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Mari kita perbaiki niat dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan hari ini. Pastikan semua prosedur sudah dijalankan dengan benar, lalu biarkan Allah yang menuliskan skenario terbaik bagi kita.

Sebagai penutup, semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah ikhtiar kita agar bernilai ibadah dan menguatkan hati kita untuk selalu bersandar pada-Nya. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Allahumma ashlih lana diinanal ladzii huwa ‘ishmatu amrina, wa ashlih lana dunyanal latii fiihaa ma’aasyuna, wa ashlih lana akhiratnal latii fiihaa ma’aaduna.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 2: Belajar Tawakal dari Seekor Burung

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Marilah kita panjatkan syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan napas dan kesempatan untuk beramal shaleh. Semoga keberkahan-Nya selalu menyertai majelis kita yang singkat namun insyaAllah penuh manfaat ini.

Hadirin sekalian, Rasulullah SAW pernah memberikan sebuah analogi yang sangat indah tentang bagaimana seharusnya seorang manusia menggantungkan harapan. Analogi ini melibatkan makhluk kecil yang sering kita lihat di sekitar kita, yaitu burung.

Banyak orang salah mengartikan tawakal sebagai sikap berdiam diri menunggu keajaiban jatuh dari langit. Namun, jika kita melihat alam semesta, tidak ada satu pun makhluk yang mendapatkan rezeki tanpa bergerak.

Burung tidak hanya diam di sarangnya sambil berdoa agar ulat datang mendekat. Ia mengepakkan sayap, terbang jauh, dan mencari di mana rezeki itu disembunyikan oleh Allah di bumi ini.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

Perhatikan kata "pergi" dan "pulang" dalam hadits tersebut. Ini adalah bukti otentik bahwa tawakal wajib dibarengi dengan aksi nyata atau ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa siapa pun yang menyangka tawakal itu berarti meninggalkan usaha, maka ia telah jahil terhadap syariat. Beliau menyebutkan bahwa usaha adalah sunnatullah yang harus dijalankan.

Beliau menjelaskan bahwa Allah memang Maha Pemberi, namun Dia meletakkan rezeki di balik pintu-pintu sebab. Tawakal adalah kunci hatinya, sedangkan ikhtiar adalah kunci tangannya untuk membuka pintu-pintu rezeki tersebut.

Oleh karena itu, jangan pernah merasa kecil hati jika hari ini usaha kita belum terlihat hasilnya. Bisa jadi Allah sedang menguji sejauh mana kita mampu menjaga keseimbangan antara kerja keras dan keyakinan hati.

Jika burung yang tidak memiliki akal saja dijamin rezekinya saat ia mau berusaha, apalagi kita sebagai manusia yang diberi kelengkapan sarana. Keyakinan inilah yang seharusnya memacu produktivitas kita setiap hari.

Jadikan setiap peluh yang menetes sebagai bukti bahwa kita patuh pada perintah Allah untuk berusaha. Dan jadikan doa kita sebagai bukti bahwa kita sadar akan kelemahan diri di hadapan kekuasaan-Nya.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberikan kemudahan dalam menjemput rezeki yang berkah dan halal. Semoga Allah menjaga kita dari sifat malas dan putus asa.

Ya Allah, berikanlah kami kecukupan dengan rezeki-Mu yang halal, dan kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak butuh kepada selain-Mu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 3: Filosofi "Ikat Unta" dalam Berusaha

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah Jalla Jalaluhu, Sang Penguasa alam semesta. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kita hikmah di balik setiap tindakan.

Hadirin yang mulia, ada sebuah kisah populer di zaman Nabi tentang seorang Badui yang meninggalkan untanya tanpa diikat karena merasa sudah bertawakal. Rasulullah SAW kemudian mengoreksi pemahaman tersebut dengan kalimat yang sangat melegenda.

"Ikatlah untamu, lalu bertawakallah," ujar beliau. Kalimat singkat ini mengandung filosofi mendalam tentang manajemen risiko dan tanggung jawab manusia sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Tawakal bukan alasan untuk menjadi ceroboh atau mengabaikan prosedur keselamatan. Justru, tawakal yang berkualitas menuntut kita untuk melakukan persiapan yang paling matang yang bisa kita usahakan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, jelas sekali bahwa tindakan fisik (mengikat unta) dan tindakan hati (bertawakal) harus berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

Penjelasan ini diperkuat oleh Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir. Beliau menjelaskan bahwa perintah Nabi untuk mengikat unta adalah perintah untuk memperhatikan "sebab-sebab" lahiriah.

Menurut Al-Munawi, mengabaikan usaha lahiriah sementara mampu melakukannya adalah bentuk kelemahan, bukan tawakal. Tawakal yang sejati adalah ketika tangan sibuk bekerja, namun hati sama sekali tidak bersandar pada pekerjaan itu, melainkan pada Allah.

Artinya, jika kita sedang ujian, tawakal kita adalah belajar dengan giat. Jika kita sedang sakit, tawakal kita adalah berobat ke dokter. Setelah semua itu dilakukan, barulah kita pasrahkan hasilnya.

Jangan sampai kita menyebut kemalasan kita sebagai tawakal. Karena tawakal adalah sifat orang mukmin yang kuat, sedangkan malas adalah bisikan setan yang ingin menjauhkan kita dari kesuksesan dunia dan akhirat.

Kekuatan mental seorang mukmin terletak pada keyakinan bahwa setelah ia melakukan yang terbaik, apa pun hasilnya adalah keputusan terbaik dari Allah. Tidak ada ruang untuk penyesalan yang berlebihan.

Mari kita evaluasi kembali cara kita bekerja dan beribadah. Sudahkah kita "mengikat unta-unta" tanggung jawab kita dengan benar sebelum kita mengharapkan hasil yang besar?

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus berikhtiar secara profesional dan hati yang lapang untuk menerima segala ketentuan-Nya yang pasti mengandung hikmah.

Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul huzna idzaa syi’ta sahlaa. (Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah).

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 4: Tawakal Sebagai Jalan Keluar Setiap Masalah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Memberi kecukupan kepada hamba-hamba-Nya yang berserah diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sang pembawa berita gembira bagi orang-orang yang sabar.

Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali kita merasa buntu dalam menghadapi persoalan hidup yang berat. Kita merasa sudah berusaha maksimal, namun pintu solusi seolah masih tertutup rapat.

Di sinilah peran tawakal sebagai "booster" spiritual yang memberikan kekuatan tambahan. Tawakal adalah keyakinan mutlak bahwa Allah memiliki ribuan jalan keluar yang tidak terpikirkan oleh logika manusia yang terbatas.

Allah menjanjikan kemudahan bagi siapa saja yang mau menyandarkan urusannya kepada-Nya setelah ia menjalankan kewajiban usahanya. Janji ini tertulis indah dalam kitab suci kita.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Talaq ayat 3: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...”

Ayat ini merupakan jaminan keamanan bagi setiap mukmin. Kata "mencukupkan" berarti Allah akan mengambil alih segala kegelisahan kita dan menggantinya dengan ketenangan serta solusi yang paling tepat.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya Taisir Karimil Rahman menjelaskan bahwa mencukupkan di sini mencakup urusan dunia maupun agama. Allah akan memudahkan urusan sulit bagi orang yang benar-benar bersandar pada-Nya.

Namun, As-Sa’di juga mengingatkan bahwa kecukupan itu datang bagi mereka yang tetap menjalankan sebab-sebab yang diperintahkan. Jadi, tawakal adalah syarat mutlak bagi datangnya pertolongan Allah yang luar biasa.

Saat kita merasa lelah berjuang, ingatlah ayat ini. Allah tidak meminta kita untuk menyelesaikan semua masalah sendirian, Allah hanya meminta kita untuk berusaha dan membiarkan-Nya memberikan hasil akhir.

Ketahuilah bahwa rezeki yang tidak disangka-sangka seringkali justru hadir saat kita sudah berada di puncak kepasrahan setelah usaha yang melelahkan. Itulah saat di mana ego kita runtuh dan hanya Allah yang kita tuju.

Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Teruslah mengetuk pintu-Nya dengan kerja keras dan doa, karena tidak ada pintu yang tidak terbuka bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita, mengangkat setiap beban kita, dan memberikan kita solusi yang penuh berkah dari arah yang tidak kita duga-duga.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal dari-Mu, jauhkan kami dari yang haram, dan jadikanlah kami hanya bergantung kepada-Mu, bukan kepada makhluk.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 5: Menata Hati dengan Hakikat Tawakal

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita kembali berkumpul dalam suasana yang penuh kedamaian ini. Semoga Allah SWT memberkahi waktu kita dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan sebagai cahaya dalam kegelapan.

Hadirin sekalian, banyak orang yang sukses secara duniawi namun hatinya tetap gelisah. Mengapa? Karena mereka merasa memikul seluruh beban kesuksesan di pundak mereka sendiri tanpa melibatkan Sang Pencipta.

Tawakal yang dilakukan setelah berusaha adalah obat bagi kegelisahan tersebut. Ia membagi peran: raga bertugas menjalankan proses, sementara hati bertugas menjalin hubungan dengan Allah.

Ketika seseorang sudah bertawakal, ia tidak akan lagi dihantui oleh ketakutan akan kegagalan. Baginya, kegagalan hanyalah cara Allah untuk mengarahkan usahanya ke jalan yang lebih baik dan lebih tepat.

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling kuat tawakalnya, namun beliau juga manusia yang paling matang persiapannya. Beliau memakai baju besi saat perang, beliau menyusun strategi, namun hatinya tetap bergantung pada Allah.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya yang terkenal, Jami’ul Ulum wal Hikam, memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang hakikat tawakal yang sesungguhnya.

Beliau menyatakan bahwa tawakal adalah kejujuran hati dalam bersandar kepada Allah untuk mendapatkan maslahat dan menolak mudarat, baik urusan dunia maupun akhirat, disertai keyakinan bahwa tidak ada yang bisa memberi, menghalangi, atau mendatangkan bahaya kecuali Allah.

Ibnu Rajab menegaskan bahwa menjalankan sebab (usaha) adalah bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan bersandar pada sebab tersebut di dalam hati adalah bentuk syirik tersembunyi.

Maka, mari kita bersihkan hati kita. Bekerjalah seolah-olah kesuksesan tergantung pada usaha kita, namun berdoalah dan pasrahlah seolah-olah usaha kita tidak ada artinya di hadapan kehendak Allah.

Inilah keseimbangan iman yang akan melahirkan pribadi yang tenang namun produktif. Pribadi yang tidak akan jatuh mentalnya saat dikritik, dan tidak akan melambung tinggi saat dipuji manusia.

Jadikan tawakal sebagai gaya hidup, bukan sekadar pelarian saat kita sedang terjepit masalah. Jadikan ia sebagai bagian dari setiap rencana dan langkah kecil yang kita ambil.

Semoga kita semua diberikan hidayah untuk bisa mempraktikkan tawakal yang benar dalam setiap jengkal kehidupan kita, dari hal sekecil apa pun hingga urusan yang besar.

Allahumma inni as-aluka fawza ‘indal qadhaa-i, wa nuzulasy syuhadaa-i, wa ‘aisyas su’adaa-i, wan nashra ‘alal a’daa-i. (Ya Allah, kami memohon kemenangan di atas takdir-Mu).

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 6: Ridha terhadap Hasil Setelah Ikhtiar Maksimal

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam yang mengatur segala urusan dengan sangat rapi. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang berbahagia, seringkali kita mendengar kalimat "yang penting sudah usaha". Kalimat ini memang benar, namun ia belum lengkap jika tidak dibarengi dengan keridhaan terhadap hasil yang Allah berikan.

Tawakal setelah berusaha adalah jembatan menuju sifat ridha. Ridha artinya hati kita tetap tenang dan tidak protes ketika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan ekspektasi atau rencana awal.

Kita harus sadar bahwa ilmu kita tentang apa yang baik bagi kita sangatlah sedikit, sementara ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Terkadang Allah menghalangi kita dari sesuatu untuk melindungi kita dari bahaya yang tidak kita ketahui.

Sebagaimana petunjuk dalam Hadits Arba’in An-Nawawi (Hadits ke-19), Nabi berpesan kepada Ibnu Abbas: “...Dan ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan bisa kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu...”

Pesan ini mendidik kita untuk memiliki mentalitas juara yang sejati: yakni juara dalam mengelola harapan agar tidak melampaui batas kewenangan Sang Khalik.

Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin meletakkan bab tawakal di bagian awal sebagai pondasi bagi seorang mukmin. Beliau menekankan bahwa keteguhan hati dalam tawakal adalah ciri utama wali Allah.

Beliau menjelaskan bahwa orang yang bertawakal tidak akan pernah merasa rugi. Jika usahanya berhasil, ia bersyukur. Jika usahanya gagal menurut pandangan manusia, ia bersabar karena ia yakin ada pahala dan hikmah di baliknya.

Oleh karena itu, janganlah kita menjadi hamba yang hanya menyembah Allah saat keadaan baik saja. Buktikan iman kita dengan tetap bertawakal saat keadaan sedang sulit dan hasil usaha sedang menurun.

Mari kita didik diri kita untuk selalu berbaik sangka (husnuzhan) kepada Allah. Setiap tetes keringat kita dalam kebaikan pasti dicatat sebagai pahala, apa pun hasil dunianya nanti.

Dengan sikap ridha dan tawakal, hidup kita akan terasa jauh lebih ringan. Kita tidak lagi terbebani oleh keinginan untuk mengatur takdir, melainkan fokus pada menjalankan peran sebagai hamba.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang qana’ah, hati yang merasa cukup dengan pemberian-Nya, dan jiwa yang selalu tenang dalam dekapan kasih sayang-Nya.

Allahumma radh-dhini bi qadha-ika wa barik li fi qadarika hatta la uhibba ta'jila ma akhkharta wala ta'khira ma 'ajjalta. (Ya Allah, jadikan aku ridha dengan ketetapan-Mu).

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Teks Kultum Singkat 7: Tawakal: Kunci Kemenangan Hakiki

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, yang tawakalnya menjadi kunci kemenangan dakwah beliau.

Hadirin sekalian, sebagai penutup rangkaian kultum kita, mari kita renungkan bahwa setiap kemenangan besar dalam sejarah Islam selalu berawal dari ikhtiar yang teliti dan tawakal yang tinggi.

Kita sering menganggap tawakal hanyalah urusan pribadi, padahal tawakal adalah kunci kemenangan dalam urusan besar, bisnis, pendidikan, maupun pembangunan umat. Tanpa tawakal, kita akan mudah menyerah saat menghadapi rintangan.

Usaha kita adalah syarat untuk turunnya pertolongan Allah. Sebagaimana para mujahid di Badar yang mempersiapkan barisan dengan rapi, namun tetap menangis memohon pertolongan Allah di malam harinya.

Keyakinan ini akan membuahkan hasil yang manis, baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak akan membiarkan hamba yang sudah berjuang di jalan-Nya berakhir dalam kesia-siaan.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 99: “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.”

Ayat ini memberikan informasi tambahan bahwa tawakal adalah perisai dari gangguan setan. Orang yang tawakal tidak mudah digoda untuk melakukan kecurangan saat berusaha karena ia percaya Allah yang menjamin rezekinya.

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azim menjelaskan bahwa Allah senantiasa melindungi orang-orang yang menyerahkan urusannya kepada-Nya. Setan tidak memiliki jalan untuk merusak mental orang yang bertawakal.

Menurut Ibnu Katsir, perlindungan ini mencakup perlindungan dari rasa putus asa dan perlindungan dari godaan untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Tawakal membuat seseorang tetap berada di jalur yang benar.

Mari kita jadikan setiap aktivitas kita sebagai bentuk penghambaan. Mulailah dengan bismillah, lakukan dengan ahsan (terbaik), dan akhiri dengan alhamdulillah serta tawakal yang tulus.

Ingatlah bahwa sukses bukan hanya tentang angka di rekening atau jabatan di pundak, tapi tentang seberapa besar kedekatan kita dengan Allah melalui usaha-usaha yang kita lakukan tersebut.

Semoga kultum singkat ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap helaan napas dan langkah kaki kita dalam mencari nafkah dan ilmu.

Akhir kata, semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya bersama orang-orang yang benar imannya dan kuat tawakalnya. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzabannar. Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, walhamdulillahirabbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People also Ask:

Apa yang harus dilakukan setelah berusaha menurut konsep tawakal?

Tawakkal harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Usaha merupakan bagian integral dari tawakkal. "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah." Setelah seseorang berusaha keras dengan tekad yang kuat, ia harus menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Bagaimana cara menerapkan sikap tawakal setelah berusaha?

4. Cara Bertawakal kepada Allah

Berikut langkah-langkah sederhana agar kita bisa menerapkan tawakal dengan benar dalam kehidupan sehari-hari: Niatkan semua usaha karena Allah. Pastikan tujuan utama setiap tindakan adalah mencari ridha-Nya, bukan semata hasil duniawi. Lakukan ikhtiar terbaik.

Apa saja contoh dari kehidupan sehari-hari tawakal?

Contoh Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hariMeningkatkan Kualitas Ibadah. ...2. Berusaha Sebaik Mungkin. ...3. Selalu Bersyukur atas Nikmat yang Diberikan. ...4. Selalu Berprasangka Baik. ...Berdoa kepada Allah SWT. ...6. Melakukan Sesuatu dengan Ikhlas. ...7. Sabar ketika Dihadapkan Ujian. ...Bijaksana dalam Mengelola Keuangan.

7 Apa ciri orang yang tawakal?

Perintah Tawakal dalam Al Quran - Universitas Muhammadiyah ...Ciri orang tawakal adalah meyakini sepenuhnya pada Allah setelah berusaha maksimal, ditandai dengan hati yang tenang dan tidak mudah panik, selalu bersyukur saat mendapat nikmat dan sabar saat kesulitan, tidak berharap selain kepada Allah, serta ikhlas dan menerima segala ketetapan-Nya dengan rida. Mereka tetap bekerja keras namun pasrah pada hasil akhir karena yakin Allah Maha Tahu yang terbaik.

Mengapa setelah berusaha seseorang harus bertawakal kepada Allah?

Salah satu hikmah tawakal kepada Allah SWT yang paling besar adalah tercapainya ketenangan hati. Ketika seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, ia tidak lagi dihantui rasa cemas berlebihan. Dalam Islam, ketenangan hati adalah tanda kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |