Adab Bertetangga meski Berbeda Latar Belakang dalam Islam, Dalil dan Penjelasannya

1 month ago 53

Liputan6.com, Jakarta - Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Interaksi dengan orang lain, terutama mereka yang tinggal di sekitar kita, merupakan keniscayaan. Oleh sebab itu, kita perlu memahami adab bertetangga meski berbeda latar belakang dalam islam. 

Dalam Islam, hubungan bertetangga merupakan bagian integral dari akidah dan akhlak seorang muslim. Nabi Muhammad SAW bahkan mengaitkan kemuliaan dalam bertetangga dengan kesempurnaan iman seseorang. 

Dalam Jurnal Etika Bertetangga dalam Hukum Keluarga Islam, Danial Yunus dan Nency Dela Oktora menjelaskan, kata "tetangga" dalam Bahasa Arab berasal dari kata "al-jaar" (الجار) yang bermakna orang yang berdampingan, pelindung, atau penolong. Secara umum, tetangga dimaknai sebagai orang atau rumah yang letaknya berdekatan.

Islam mendorong kita bersikap baik dan perhatian kepada siapa pun yang berada di sekitar kita. Merujuk dalil, studi ilmiah dan pandangan ulama, artikel ini akan membahas adab bertetangga dalam perspektif Islam.

Adab Bertetangga Berdasar Al-Qur'an

Adab bertetangga dalam Islam bukanlah sekadar anjuran budaya, melainkan perintah agama yang memiliki landasan kuat.  Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. An-Nisa: 36).

Ayat ini secara eksplisit menyandingkan perintah berbuat baik kepada tetangga, baik yang dekat secara kekerabatan (dzil qurba) maupun yang jauh (al-junub), dengan perintah bertauhid dan berbuat baik kepada orang tua. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh jenis tetangga, tanpa memandang agama atau status sosial.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan menjelaskan, tetangga dekat (al-jaar dzil qurba) mencakup tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan dan tetangga muslim. Sedangkan tetangga jauh (al-jaar al-junub) mencakup tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dan tetangga non-muslim.

Meskipun demikian, keduanya tetap berhak mendapatkan perlakuan baik. Hak tetangga menurut As-Sa'di meliputi memberikan santunan, bersikap lemah lembut, tidak mengganggu, menutupi aibnya, serta memberikan bantuan dan nasihat. Beliau menekankan bahwa tetangga yang lebih dekat tempat tinggalnya atau lebih dekat hubungan kekerabatannya, maka haknya lebih besar untuk diutamakan.

Adab Bertetangga dalam Hadis

Soal adab bertengga, dalam hadis diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini, seperti dijelaskan dalam kitab Fathul Bari syarah Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, menempatkan kemuliaan kepada tetangga sebagai indikator keimanan. Iman bukan hanya soal ritual, tetapi terejawantah dalam perilaku sosial, termasuk bagaimana kita memperlakukan orang di sebelah rumah kita.

Hadis lain yang sangat populer adalah:

وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Artinya: "Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman." Ditanyakan, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya." (HR. Bukhari).

Hadis ini menekankan aspek negatif. Seorang tidak dianggap sempurna imannya jika ia menjadi sumber gangguan dan ketidaknyamanan bagi tetangganya.

Prinsip dan Praktik Adab Bertetangga

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama merumuskan sejumlah prinsip dan adab praktis dalam bertetangga:

1. Memuliakan dan Menghormati

Ini adalah prinsip dasar. Memuliakan berarti mengedepankan sikap santun, menjaga harga diri tetangga, dan tidak merendahkan mereka baik karena perbedaan ekonomi, suku, maupun agama.

2. Berbuat Baik (Ihsan)

Kebaikan dapat diwujudkan dalam bentuk konkret

menolong saat kesusahan, menjenguk yang sakit, mengucapkan selamat saat bahagia, dan membantu saat tertimpa musibah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan hal ini sebagai hak seorang tetangga.

3. Tidak Mengganggu

Ini adalah batas minimal. Seorang muslim harus menjaga agar tetangganya merasa aman dari gangguan fisik, lisan, maupun gangguan yang timbul dari propertinya (seperti sampah atau kebisingan).

4. Bersikap Dermawan

Memberikan sebagian makanan atau hadiah, terutama ketika kita baru kembali dari bepergian atau memiliki rezeki lebih, adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk mempererat hubungan.

5. Bersabar atas Gangguan

Jika tetangga berbuat kurang baik, Islam menganjurkan untuk bersabar dan tetap berbuat baik. Bisa jadi dengan kesabaran dan kebaikan kita, hati mereka akan berubah.

Toleransi dalam Kehidupan Bertetangga Multi-Agama

Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim No. 65, sebagaimana dinukil dalam jurnal Hadis Toleransi Beragama dalam Bertetangga, oleh Gebrina Liya Anggraini menegaskan universalitas pesan persaudaraan dan keakraban dalam Islam, bukan permusuhan. Hadis-hadis tentang berbuat baik kepada tetangga bersifat umum, mencakup tetangga muslim dan non-muslim.

Dalam studi lapangan tetangga multi-agama, warga membangun harmoni dengan:

1. Saling Menghormati Aktivitas Keagamaan

Masing-masing komunitas agama bebas menjalankan ibadah rutinnya (pengajian, kebaktian, sembahyang) tanpa diintervensi atau dijadikan bahan olokan.

2. Fokus pada Interaksi Sosial (Muamalah)

Dalam keseharian, mereka lebih banyak membahas hal-hal umum yang menyatukan, seperti urusan pekerjaan, lingkungan, dan kekeluargaan, sementara pembahasan mendalam tentang agama disimpan di forum-forum khusus internal masing-masing. Ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik yang tidak perlu.

3. Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Nilai saling menghargai diajarkan dalam keluarga dan dibiasakan dalam interaksi sehari-hari, sehingga menjadi karakter alamiah.

4. Berbuat Baik kepada Semua Tetangga

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan QS. An-Nisa: 36, bahwa tetangga yang lebih dekat (baik tempat maupun hubungan) memiliki hak yang lebih besar. Namun, berbuat baik kepada al-jaar al-junub (tetangga jauh, yang bisa berarti berbeda agama atau non-kerabat) tetap merupakan kewajiban. Cara berbuat baiknya dapat berupa sedekah, lemah lembut dalam perkataan, dan tentu saja, tidak mengganggu.

5 Hikmah Menerapkan Adab Bertetangga Meski Berbeda Latar Belakang

1. Menyempurnakan Iman dan Mendapatkan Ridha Allah

Berbuat baik kepada tetangga tanpa memandang latar belakang adalah perwujudan keimanan, sebagaimana sabda Nabi SAW yang mengaitkan kemuliaan tetangga dengan keimanan kepada Allah dan Hari Akhir (HR. Bukhari-Muslim). Dengan mengamalkannya, seorang muslim menyempurnakan ibadah sosialnya dan meraih cinta Allah, karena telah menjalankan perintah universal dalam QS. An-Nisa: 36.

2. Membangun Masyarakat Harmonis dan Aman

Sikap saling menghormati dan tolong-menolong lintas perbedaan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari konflik. Tetangga yang rukun akan menjadi sistem pendukung alami yang saling melindungi, memudahkan gotong royong, dan memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat majemuk.

3. Menjadi Dakwah Praktis yang Efektif

Perilaku mulia seorang muslim terhadap tetangga non-muslim merupakan dakwah bil hal (dakwah melalui keteladanan) yang paling berpengaruh. Ketika tetangga merasakan kebaikan akhlak Islam secara nyata, hati mereka dapat terbuka untuk menghargai agama Islam, tanpa perlu debat atau pemaksaan.

4. Mencegah Mudarat dan Gangguan Sosial

Dengan menjaga hubungan baik, kita telah menutup pintu-potensi permusuhan, dendam, atau gangguan yang mungkin timbul dari tetangga. Nabi SAW mengingatkan bahwa orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya tidak akan masuk surga (HR. Ahmad). Jadi, menjaga kedamaian lingkungan adalah investasi keselamatan dunia dan akhirat.

5. Mewujudkan Rahmat Islam bagi Semesta (Rahmatan lil 'Alamin)

Islam adalah agama rahmat untuk seluruh alam. Dengan beradab baik kepada semua tetangga—tanpa terkecuali—seorang muslim menjadi perwujudan nyata dari nilai universal Islam tersebut. Hal ini memperkuat citra Islam yang inklusif, moderat, dan membawa manfaat konkret bagi masyarakat sekitar, sesuai dengan misi Nabi SAW sebagai pembawa rahmat.

People also Ask:

Bagaimana perilaku saat bertetangga dengan orang yang berbeda agama?

Menjaga Suara Musik saat Tetangga Beribadah – Menghargai ketenangan orang lain saat mereka beribadah. Saling Membantu tanpa Melihat Agama – Menolong teman yang sedang kesulitan meskipun berbeda keyakinan. Ikut Menjaga Keamanan saat Ada Perayaan Keagamaan – Mendukung terciptanya suasana damai di masyarakat.

Sebutkan Adab Adab Bertetangga Menurut Islam?

Selain itu menurut Imam Al-Ghazali ada 12 adab-adab bertetangga antara lain :Mendahulukan mengucap salam.Tidak berlama-lama bicara.Tidak banyak bertanya.Menjenguknya ketika sakit.Bertakziah ketika mendapat musibah.Berbahagia dengan kebahagiaannya.Berlemah lembut bicara pada anak dan pembantunya.Memaafkan Kesalahannya.

Apa tiga jenis tetangga dalam Islam?

“Tetangga ada tiga jenis.” Hadits ini mengajarkan bahwa setiap tetangga memiliki hak: kerabat Muslim (tiga hak), tetangga Muslim (dua hak), dan tetangga non-Muslim (satu hak) . Masing-masing berhak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang baik.

Mengapa tidak boleh berlama-lama dalam berbicara dengan tetangga?

Adab ini juga baiknya kita terapkan dalam kehidupan bertetangga, karena jika kita berlama-lama dalam berbicara maka menyebabkan timbulnya prasangka buruk dari lawan bicara kita. Selain itu, tujuan dari adab ini adalah meminimalisir atau menghindari adanya ghibah yang nantinya malah dapat menimbulkan fitnah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |