Doa Nabi di Thaif Merespons Kekejian Bani Tsaqif yang Picu Amarah Malaikat

3 months ago 38

Liputan6.com, Jakarta - Setelah wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan paman beliau, Abu Thalib, Nabi Muhammad SAW menghadapi masa-masa yang sangat berat di Makkah. Perlakuan kaum Quraisy semakin keras. Dalam upaya mencari tempat baru untuk berdakwah, beliau pun pergi ke Thaif, sebuah kota yang terletak puluhan kilometer dari Makkah. Di sinilah kemudian dikenal sebuah doa nabi di Thaif yang begitu populer dalam Tarikh Islam.

Penduduk Kota Thaif kala itu adalah Bani Tsaqif, kabilah yang kuat dan berpengaruh di Jazirah Arab. Diulas dalam artikel Ketabahan Rasul dalam Menghadapi Tantangan Dakwah di Thaif oleh Prof. Dr. H. A. Ya’qub Matondang, MA di Buletin Taqwa UMA, Nabi ingin untuk mendapatkan kerja sama dan perlindungan dari beberapa kabilah di sekitar Mekkah.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, para pemuka Thaif menolak dengan kasar, bahkan menghasut penduduk dan anak-anak untuk melempari Nabi dengan batu. Rasulullah terluka, walau Zaid bin Haritsah sudah melindunginya sekuat tenaga. Perlakukan Bani Tsaqif terhadap Nabi SAW ini bahkan memicu amarah malaikat Jibril dan penjaga gunung.

Doa Nabi di Thaif

Pengusiran dan kekejaman  itu ditanggapi Rasulullah SAW bukan dengan kemarahan. Dengan ketenangan beliau melakukan sholat lalu memanjatkan doa. 

Menurut satu riwayat, Nabi Muhammad SAW bersembunyi di kebun milik kakak beradik Utbah dan Syaibah. Dalam persembunyiannya, Nabi SAW berdoa sebagaimana dinukil oleh Imam at-Thabrani dalam al-M’ujam al-Kabir:

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك  أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

Latin: Allahumma ilayka asyku dha'fa quwwati, wa qillata hilati, wa hawani 'alan-nas, ya arhamar-rahimin! Anta rabbul-mustadh'afin wa anta rabbi, ila man takiluni? Ila ba'idin yatajahhamuni? Am ila 'aduwwin mallaktahu amri? In lam yakun bika 'alayya ghadabun fala ubali, walakin 'afiyatuka hiya awsa'u li, a'udzu binuri wajhika alladzi asyraqat lahu azh-zulumatu wa shalaha 'alayhi amruddunya wal-akhirah min an tunzila bi ghadabaka aw yahilla 'alayya sakhatuka, laka al-'utba hatta tarda wala hawla wala quwwata illa bik.

Artinya: Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu."

Kemarahan Malaikat Jibril dan Respons Nabi SAW

Dalam Buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, melihat perlakuan kejam penduduk Thaif, Allah mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung.

Dalam jilid pertama dan kedua, terdapat kisah perjalanan Nabi ke Thaif, penolakan penduduk Thaif, serta peristiwa malaikat penjaga gunung yang menawarkan untuk menghancurkan Thaif, namun ditolak oleh Nabi demi kebaikan generasi berikutnya.

Alkisah, Malaikat Jibril iba menyaksikan Rasulullah itu terluka fisik dan hatinya. Jibril berkata, "Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu." 

Para malaikat penjaga gunung itu berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka."

Nabi dengan lembut berkata kepada Jibril dan malaikat penjaga gunung, "Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya." Nabi bahkan berdoa yang artinya, "Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Hikmah Doa Nabi di Thaif

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi sangat menekankan pentingnya adab, sabar, dan tawakal dalam menghadapi cobaan, sebagaimana dicontohkan Nabi di Thaif. Berikut adalah hikmah yang bisa dipetik dari doa Nabi di Thaif:

1. Kesabaran dan Ketawakalan

Doa Nabi di Thaif merupakan bukti kesabaran luar biasa dan ketawakalan beliau kepada Allah. Nabi tidak mengeluhkan penderitaan kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah. Ini menunjukkan adab seorang hamba ketika diuji: mengadu hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.

2. Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan

Imam Nawawi menegaskan bahwa Nabi tidak mendoakan keburukan bagi penduduk Thaif, meski mereka menyakiti beliau. Sebaliknya, Nabi mendoakan kebaikan dan hidayah. Ini menjadi teladan agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan dan doa.

3. Kerendahan Hati di Hadapan Allah

Dalam penjelasannya, Imam Nawawi menyoroti kerendahan hati Nabi saat berdoa: beliau mengakui kelemahan dan keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Ini mengajarkan bahwa sebesar apapun masalah, seorang mukmin harus merasa butuh dan lemah di hadapan Allah.

4. Tidak Mengutamakan Dunia, Tapi Ridha Allah

Imam Nawawi menafsirkan kalimat: "Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli" sebagai bentuk keikhlasan Nabi. Beliau rela menghadapi ujian asalkan Allah tidak murka. Ridha Allah adalah tujuan utama, bukan kenyamanan dunia.

5. Doa sebagai Perlindungan dari Murka Allah

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa Nabi berlindung dengan cahaya wajah Allah dari murka dan siksa-Nya. Ini mengajarkan pentingnya memohon perlindungan dari hal yang paling berbahaya, yaitu murka Allah, bukan sekadar dari musuh atau kesulitan duniawi.

Kasih Sayang Nabi SAW Menurut Buya Yahya

Penceramah yang juga pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya) mengisahkan pengusiran paksa Nabi SAW dari Thaif. Tapi menurut dia, Rasulullah justru menunjukkan kasih sayang luar biasa ketika malaikat hendak mengazab kaum yang keji itu.

dalam salah satu ceramah yang dikutip dari kanal YouTube Majlis Rosho TVmengisahkan, setelah keluar dari kampung Thaif, Nabi Muhammad SAW merasakan sakit. Beliau menoleh ke kiri ke kanan ingin mencari tempat berlindung untuk beristirahat. Terlihatlah pohon kurma yang rindang. Maka Nabi Muhammad SAW mendekat ke pohon kurma itu.

Ia duduk di tempat itu dengan wajahnya menghadap ke kampung Thaif. Air mata berlinang jatuh di pipi beliau ketika memandang kampung Thaif seraya berdoa, “Ya Allah jangan siksa mereka.”

Tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan berkata, “Ya Rasulallah, sungguh keterlaluan umatmu itu.” Mendengar ucapan Jibril, Rasulullah hanya terdiam.

Malaikat Jibril berkata lagi. "Ya Rasulullah, umatmu sangat keterlaluan. Jika engkau mau, akan aku angkat gunung, akan aku jatuhkan di atas kepala mereka".

Mendengar tawaran Jibril, Nabi Muhammad SAW yang lemah lunglai tiba-tiba berdiri tegak. Dengan tegarnya beliau berkata, "Jibril, jangan lakukan itu! Aku masih berharap mereka bersyahadat. Aku masih berharap mereka mempunyai anak keturunan ahli iman".

Nabi lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berdoa kepada Allah SWT. “Allahummahdi qaumii, fainnahum la ya'lamuun. Ya Allah berikan petunjuk kepada kaumku, mereka berbuat itu karena mereka belum tahu.”

Betapa hebatnya Nabi Muhammad SAW. Menunjukkan begitu rasa kasih sayangnya kepada umat. Ia tidak ingin umatnya tersiksa, tidak ingin umatnya sengsara.

Belakangan, sejarah mencatat kesabaran dan kasih sayang Nabi SAW itu terbukti. Seluruh penduduk Thaif masuk Islam.

Bani Tsaqif Masuk Islam

Kesabaran dan kasih sayang Nabi SAW kemudian berbuah di kemudian hari. Pnduduk Thaif akhirnya memeluk Islam, tetapi tidak secara langsung setelah peristiwa penghinaan dan penolakan terhadap Nabi di awal dakwah. Mereka baru masuk Islam beberapa tahun kemudian, setelah peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) dan Perang Hunain.

Ibnu Hisyam menceritakan kronologi masuk Islamnya penduduk Thaif. Setelah Fathu Makkah (tahun 8 H), terjadi Perang Hunain. Dalam perang ini, Nabi berhadapan dengan suku Hawazin dan Tsaqif (penduduk Thaif).

Setelah kekalahan di Hunain, kaum Tsaqif bertahan di kota Thaif yang dikelilingi benteng kuat. Rasulullah SAW melakukan pengepungan (Perang Thaif), tetapi mereka tetap bertahan.

Akhirnya, setelah beberapa waktu, pada tahun 9 H, utusan dari Thaif datang kepada Nabi di Madinah dan menyatakan masuk Islam secara sukarela.

“Tatkala Allah menaklukkan Tsaqif, mereka datang kepada Nabi dan menyatakan keislaman mereka,” tulis Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah, Jilid 4, hal. 134-136)

People also Ask:

1. Apa doa yang dibaca Rasulullah terhadap kaum Thaif?

Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada penduduk Thaif, setelah mengalami penolakan dan perlakuan buruk, adalah memohon agar Allah memberikan hidayah dan tidak menimpakan kemurkaan-Nya kepada mereka. Doa tersebut berisi pengaduan tentang kelemahan diri kepada Allah dan harapan agar Allah meridhai umat manusia, termasuk penduduk Thaif, meskipun mereka telah menyakiti beliau.

2. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad ketika sampai ke Thaif?

Setelah tiba di Kota Thaif, Rasulullah SAW kemudian menemui tiga pembesar Bani Tsaqif, yaitu Mas'ud, Abdu Yalail, dan Habib. Beliau duduk bersama mereka dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah SWT. Ternyata, Rasulullah SAW justru menghadapi penolakan yang sangat keras dari suku Tsaqif.

3. Doa yang sering dibaca Rasulullah?

Doa yang paling sering dibaca Rasulullah SAW adalah doa memohon keteguhan hati dan kebaikan dunia akhirat, yaitu: "Ya muqallibal quluub tsabbit qalbii 'ala diinik" (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) dan "Allāhumma, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā 'adzāban nār" (Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka).

4. Mengapa Nabi Muhammad tetap mendoakan penduduk Thaif?

Rasulullah justru memilih untuk mendoakan penduduk Thaif dengan kebaikan. Memohon kepada Allah agar mereka bisa mendapatkan hidayah sehingga bisa menerima ajaran Islam.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |