MENTERI Koperasi Ferry Juliantono membantah kabar penggusuran bangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia menegaskan informasi yang beredar di media sosial tidak sesuai fakta di lapangan.
Pernyataan itu disampaikan Ferry saat menjawab pertanyaan anggota Komisi VI DPR Dewi Juliani dalam rapat kerja, Kamis, 11 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Ferry, Kementerian Koperasi telah melakukan verifikasi atas peristiwa di Desa Niowula, Kabupaten Ende, pada 5 Juni 2026. Hasil penelusuran menunjukkan tidak ada penggusuran sekolah seperti yang dinarasikan dalam video viral.
“Memang ada proses pembangunan koperasi. Bangunannya melewati area sekolah, tapi tidak menggusur sekolah,” kata Ferry.
Ia menjelaskan, lahan pembangunan gerai koperasi merupakan tanah hibah masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Ende yang berada di belakang Sekolah Dasar Negeri Wolomoni. Penggunaan lahan tersebut, kata dia, telah melalui konsultasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende serta mendapat persetujuan kepala sekolah atas arahan bupati.
“Lokasi pembangunan berada di belakang sekolah, bukan di dalam kompleks. Karena tidak ada akses jalan untuk alat berat, maka dibuka jalur lewat samping sekolah,” ujar politikus Partai Gerindra itu.
Ferry menambahkan, komite sekolah turut terlibat dalam proses di lapangan. Bahkan pihak sekolah, menurut dia, juga mengajukan permintaan dukungan untuk perbaikan fasilitas. “Tidak ada penggusuran sekolah,” katanya.
Sebelumnya, beredar video gabungan berdurasi sekitar 30 detik di media sosial yang diklaim menunjukkan penggusuran sekolah. Pada bagian awal, terlihat seorang anggota TNI memeriksa plafon bangunan sekolah yang rusak, sementara sebuah ekskavator berada di dekat lokasi.
Video kemudian menampilkan seorang pria berdiri di atas ekskavator dan terlibat adu mulut dengan sejumlah warga. Narasi yang menyertai video menyebutkan orang tua murid dan tokoh adat memprotes rencana penggusuran sekolah oleh TNI.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas juga membantah adanya penggusuran. Ia menyatakan pembangunan koperasi dilakukan di belakang area sekolah dan tidak menggantikan fungsi bangunan pendidikan tersebut.
Nas menjelaskan, keterbatasan akses membuat alat berat harus melintas di area sekolah. Dalam proses manuver, salah satu tiang bangunan di sudut sekolah sempat tertabrak.
“Tiang itu digeser untuk memudahkan manuver alat, dan akan diperbaiki kembali,” ujar Nas.
Ia juga mengatakan keributan yang terekam dalam video dipicu insiden alat berat yang mengenai dahan pohon milik warga. “Alat berat menyenggol pohon durian milik warga. Dari situ terjadi protes,” kata dia.
Menurut Nas, potongan video tersebut kemudian disebarkan dengan narasi yang tidak utuh sehingga memicu kesalahpahaman publik. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan tanpa memeriksa fakta secara menyeluruh.
“Masyarakat sering langsung menilai tanpa mencari tahu fakta sebenarnya,” ujarnya.
Dede Leni Mardianti berkontribusi dalam tulisan ini
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499571/original/089965800_1770789860-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-11T123240.788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5263253/original/068977400_1750812433-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__10_.jpg)



