Gus Baha Bedah Makna Sebenarnya 'Minal Aidin Wal Faizin', Bolehkah Diucapkan di Hari Raya Idul Fitri?

5 days ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Sering mengucapkan "Minal Aidin Wal Faizin", atau mungkin kirim pesan elektronik dengan ucapan semecam itu.

Momen Idul Fitri memang lekat dengan hiasan ungkapan yang sangat akrab di telinga umat Islam, yaitu kalimat "Minal Aidin Wal Faizin." Kalimat ini menjadi pelengkap momen kemenangan setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Ucapan tersebut sering kali dilontarkan dalam berbagai suasana, mulai dari saling menyapa di jalan, berkirim pesan singkat, hingga menjadi pembuka saat bersalaman dengan kerabat dan sahabat.

Tetapi, apakah paham makna dari ungkapan tersebut? jangan-jangan sering ungkapkan sana-sini tapi tidak paham maknanya. Ungkapan indah ini jangan jangan hanya sekadar formalitas belaka. Wah repot.

Membedah soal tersebut, Liputan6.com berkesempatan membedah makna ungkapan itu yang dikutip dari pendapat ulama yang dikenal alim alamah asal Kabupaten Rembang Jawa Tengah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang karib disapa Gus Baha.

Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Rembang ini memberikan penjelasan singkat namun penuh makna mengenai kalimat Minal Aidin Wal Faizin dalam sebuah pengajiannya yang dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @katanya_paman.

Simak Video Pilihan Ini:

Kondisi Arus Mudik 2025 di Tol dan Jalur Pantura Pemalang Jateng

Begini di Balik Kalimat Tersebut

Menurut Gus Baha, kalimat "Minal Aidin" berarti kembali menjadi ahli surga. Ucapan itu sejatinya bukan hanya doa, tapi harapan besar agar manusia kembali ke status awalnya sebagai penghuni surga.

"Semoga jadi Syawal yang baik. Minal Aidin Wal Faizin, minal aidin artinya kita kembali menjadi ahli surga," kata Gus Baha dalam penjelasannya yang disampaikan dengan santai namun padat makna.

Gus Baha mengatakan, dirinya termasuk yang sepakat dengan makna tersebut karena merujuk pada kitab-kitab yang selama ini dipelajarinya. Status manusia sejatinya memang berasal dari surga.

"Dulu kita ini ahli surga karena Nabi Adam lahirnya di surga dan diciptakan di surga," ujar Gus Baha mengingatkan bahwa asal mula manusia adalah surga.

Namun, karena satu kesalahan, Nabi Adam harus turun ke bumi. Kesalahan tersebut bukan berarti terputusnya harapan kembali ke surga, tapi menjadi pelajaran bagi seluruh keturunannya.

"Karena satu kesalahan, Nabi Adam harus kembali ke bumi," jelas Gus Baha dalam kajian tersebut.

Menurut Gus Baha, Ramadhan menjadi wasilah agar manusia bisa kembali meraih status mulia sebagai ahli surga. Setelah selesai menjalani puasa dan amal ibadah, manusia berpeluang kembali kepada fitrahnya.

"Setelah puasa itu selesai, diterima, kita kembali ke ahli surga lagi," tegas Gus Baha memberikan penekanan bahwa Minal Aidin bukan hanya slogan, tapi harapan untuk menjadi penduduk surga kembali.

Kembali ke Status Penghuni Surga

Gus Baha menambahkan, maksud dari ucapan Minal Aidin sejatinya adalah kembalinya manusia berstatus sebagai ahli surga, sebagaimana fitrahnya yang telah diberikan sejak awal penciptaan.

"Jadi maksud Minal Aidin, kita kembali lagi berstatus sebagai ahli apa? Surga," ungkap Gus Baha.

Salah satu syarat agar kembali ke surga, menurut Gus Baha, adalah memulai dari hal paling sederhana namun sangat penting, yaitu saling memaafkan.

"Dan itu dimulai dari saling memaafkan," tutur Gus Baha, menegaskan bahwa memaafkan sesama menjadi kunci utama dalam meraih kembali status ahli surga.

Menurut Gus Baha, yang kerap menghalangi manusia untuk masuk surga adalah perkara yang berkaitan dengan sesama manusia, atau yang disebut sebagai hak adami.

"Karena yang menghalangi masuk surga itu hak adami," terang Gus Baha, mengingatkan bahwa persoalan antar sesama manusia seringkali menjadi penghalang utama.

Gus Baha menyebutkan bahwa manusia terkadang merasa berat untuk memaafkan orang lain, padahal Allah pun tidak akan mengampuni dosa hamba-Nya jika urusan hak adami belum selesai.

"Manusia itu kan paling pikir untuk memaafkan orang lain," kata Gus Baha menyinggung realita yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, jika persoalan dengan sesama belum selesai, maka Allah pun menunda pengampunan bagi hamba-Nya. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian serius.

"Kalau hak adami belum selesai, itu Allah gak mau memaafkan," tegas Gus Baha memberikan peringatan.

Oleh sebab itu, Gus Baha menekankan bahwa syarat mutlak untuk bisa masuk surga adalah dengan saling memaafkan satu sama lain, tanpa menyisakan urusan yang belum tuntas.

"Makanya syaratnya masuk surga harus kita saling memaafkan," ucap Gus Baha mengakhiri penjelasannya.

Gus Baha optimis, dengan saling memaafkan dan menjaga fitrah setelah Ramadhan, umat Islam akan meraih harapan yang terkandung dalam kalimat Minal Aidin Wal Faizin.

"Dengan cara seperti itu, InsyaAllah kita Minal Aidin Wal Faizin," pungkas Gus Baha, mengajak semua umat Islam agar tidak hanya mengucap, tapi juga memaknai kalimat tersebut secara utuh.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |