Menyiapkan Hidangan Lebaran apakah Termasuk Sunah Rasul? Begini Penjelasannya

2 days ago 9

Liputan6.com, Cilacap - Tradisi yang telah melekat saat perayaan Idul Fitri atau lebaran, khususnya yang dilakukan oleh umat Islam tanah air ialah menyiapkan aneka makanan.

Kesibukan menyiapkan hidangan lebaran seperti opor, ketupat dan beberapa jenis makanan yang tersaji di meja menjadi ciri khas muslim Indonesia untuk merayakan hari kemenangan.

Hal ini dilakukan bukan tanpa maksud, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT setelah sebulan lamanya melaksanakan puasa Ramadhan.

Lantas, apakah tradisi menyiapkan makanan saat lebaran merupakan sunah Rasul yang diperintahkan agama untuk melakukannya?

Simak Video Pilihan Ini:

Misteri Hilangnya Remaja di Pantai Nusakambangan

Promosi 1

Menyiapkan Suguhan bagian dari Memuliakan Tamu

Menukil jatman.or.id, Hari raya Idul Fitri adalah salah satu momentum yang sering digunakan umat muslim untuk menyambung tali silaturahmi. Mereka berbondong-bondong untuk mengunjungi sanak keluarga dan kerabat untuk sekedar melepas rindu, saling bermaaf-maafan serta berkumpul bersama.  

Pada momen ini, kebiasaan masyarakat muslim, khususnya muslim di Indonesia adalah memberikan suguhan terbaik untuk tamu-tamunya yang datang berkunjung sebagaimana perintah Rasulullah saw. untuk selalu memuliakan tamu, siapa pun dan dari mana pun tamu itu berasal karena merupakan salah satu cerminan keimanan seseorang.

Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.”

Bahkan jika Rasulullah saw. kedatangan tamu sedangkan ia hanya memiliki sedikit makanan untuk keluarganya saja, ia tetap memprioritaskan tamunya itu sebagai bentuk penghormatan terhadap tamunya.

Orang Beriman Memuliakan Tamu

Adapun salah satu karakteristik penting dalam masyarakat Islam yang terbuka adalah memuliakan tamu. Memuliakan tamu merupakan cermin penghargaan Islam terhadap hak-hak individu dan sosial. Karena itu Nabi SAW memberi justifikasi, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini memberi indikasi bahwa ada kaitan antara iman seseorang dengan memuliakan tamu. Di samping itu, memuliakan tamu juga berefek positif bagi kehidupan akhirat. Jadi Islam memandang tamu tidak hanya sebagai entitas penting dalam membangun kehidupan manusia dalam berbagai aspek di dunia, tapi juga jadi ukuran keimanan seseorang. 

Tamu dan didatangi tamu adalah simbol kerja sama. Artinya, ada praktik tukar-menukar informasi, kepentingan, dan kebutuhan di dalamnya. Bagi Imam al-Ghazali, seperti dituturkannya dalam Ihya Ulumuddin, manusia sedemikian rupa diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendirian. Takdirnya, manusia adalah makhluk berkelompok.

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |