Liputan6.com, Jakarta - Menjalani kehidupan sosial tidak lepas dari berbagai ujian, termasuk perasaan kecewa terhadap orang lain. Setiap hubungan sosial, baik pertemanan, pernikahan, maupun hubungan keluarga, selalu diwarnai dengan konflik yang menguji kesabaran seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mudah tersinggung dan memilih mengakhiri hubungan hanya karena perasaan kecewa. Padahal, jika setiap orang selalu mengikuti emosinya, maka akan sulit memiliki hubungan yang langgeng, baik dengan teman maupun pasangan.
Ulama yang merupakan santri dari KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha menekankan pentingnya menahan diri dalam kehidupan sosial. Menurutnya, seseorang yang mampu mengelola emosinya akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
"Kalau setiap tersinggung langsung memutuskan hubungan, bisa-bisa kita tidak punya teman, tidak punya pasangan. Hidup itu harus pandai-pandai menahan diri, bahasa jawanya 'ngempet'" ujar Gus Baha dalam ceramahnya dinukil dari kanal YouTube @MuhammadNurBinYusuf.
Menurut Gus Baha, seseorang yang selalu menyelesaikan masalah dengan kemarahan tidak akan memiliki hubungan yang panjang. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali orang kecewa dengan teman, pasangan, atau bahkan pemimpin negara.
Sebagai contoh, banyak orang yang kecewa terhadap presiden atau pejabat dan memilih untuk berdemonstrasi. Ada pula yang kecewa terhadap orang tua dan memilih untuk minggat dari rumah.
Simak Video Pilihan Ini:
Aksi Pengoplos Gas Elpiji Berakhir di Tangan Polisi Pemalang
Sifat Pemaaf Sangat Dianjurkan
Namun, ada hal yang menarik ketika seseorang memilih meninggalkan rumah karena marah kepada orang tuanya. Dalam kenyataannya, mereka yang minggat sering kali merasa malu jika tidak dicari oleh keluarganya.
"Orang itu paling malu kalau pergi dari rumah, tapi ternyata tidak ada yang mencarinya. Itu artinya keberadaannya tidak dianggap penting," lanjut Gus Baha dalam ceramahnya yang diikuti tawa jemaahnya.
Ia juga menyinggung fenomena dalam rumah tangga, di mana banyak suami takut meninggal dunia bukan karena takut mati itu sendiri, tetapi takut istrinya tidak menangis saat kepergiannya.
Bagi sebagian orang, kematian terasa lebih menyedihkan jika tidak ada yang menangis saat mereka pergi. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan seseorang diukur dari seberapa besar keberadaannya dihargai oleh orang lain.
Oleh karena itu, menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar menjadi hal yang sangat penting. Seseorang yang memiliki banyak hubungan baik akan lebih dikenang dibandingkan mereka yang sering menyakiti orang lain.
Dalam ajaran Islam, sifat pemaaf sangat dianjurkan sebagai bentuk pengendalian diri. Orang yang bisa memaafkan akan lebih mudah menjalani kehidupan dengan hati yang lapang.
Menurut Gus Baha, kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari rasa kecewa. Namun, rasa kecewa tidak boleh menjadi alasan untuk mengakhiri hubungan yang sudah terjalin lama.
Hidup Bukan Paling Kuat, Tapi Paling Sabar
Dalam pertemanan, sering kali terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada pertengkaran. Namun, jika setiap orang mudah tersinggung, maka tidak ada persahabatan yang bisa bertahan lama.
Begitu pula dalam pernikahan. Suami dan istri pasti pernah mengalami perbedaan pandangan, tetapi bukan berarti setiap masalah harus diselesaikan dengan perceraian.
Orang-orang yang memiliki kehidupan rumah tangga yang langgeng biasanya adalah mereka yang bisa saling memahami dan menahan diri saat menghadapi konflik.
Menjaga hubungan baik bukan hanya soal bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, tetapi juga bagaimana ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Seseorang yang terlalu sering mengikuti emosinya akan sulit memiliki kehidupan sosial yang stabil. Sebaliknya, mereka yang bisa bersabar akan lebih dihargai oleh orang-orang di sekitarnya.
Dalam kehidupan ini, keberkahan sering kali datang dari hal-hal kecil yang sering diabaikan. Salah satunya adalah kemampuan menahan diri saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Sebagai penutup, Gus Baha mengingatkan bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang siapa yang paling sabar dalam menghadapi berbagai ujian.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul