Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadan memasuki 10 hari terakhir. Pada 10 hari terakhir, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah dengan mengerjakan berbagai amalan. Di antara yang dianjurkan ialah i'tikaf.
Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan, i’tikaf secara bahasa berarti menetap di suatu tempat. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan niat dan tata cara yang khusus.
Dalil Disyari’atkannya I’tikaf
Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir Ramadan atau 10 hari terakhir bulan Ramadan sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan lailatul qadar. I'tikaf memungkinkan kita sekejap meninggalkan segala kesibukan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Simak Video Pilihan Ini:
7 SMP Negeri di Cilacap Kekurangan Siswa