Zona Kemarau Meluas, Potensi Hujan Lebat Nihil 19-22 Juni

1 hour ago 2

JUMLAH wilayah yang mengalami musim kemarau akan mengalami peningkatan pada dasarian (sepuluh harian) ketiga pada bulan ini, Juni 2026. Sifat hujan cenderung di bawah normal pada sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Prediksi itu disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam Potensi Hujan Indonesia Periode 16-22 Juni 2026. Peningkatan wilayah kemarau, kata BMKG, didukung oleh kondisi El Nino. "Kondisi tersebut mendukung pengurangan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia."

Memasuki pertengahan Juni, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, atmosfer di wilayah Indonesia menunjukkan kondisi yang semakin kering, terutama di wilayah bagian selatan. Periode Hari Tanpa Hujan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah masuk kategori menengah (11-20 hari) hingga sangat panjang (31-60 hari).

Menurut BMKG, sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim atau 233 ZOM di Indonesia telah memasuki musim kemarau. "Perlu menjadi perhatian, terutama pada wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air, serta peningkatan potensi suhu udara yang terasa lebih panas pada siang hari dan lebih dingin pada malam hingga pagi."

Pada periode 16-18 Juni masih ada sejumlah wilayah yang mendapat peringatan dini hujan lebat-sangat lebat. BMKG menunjuk Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara. Tapi berbeda untuk periode 19-22 Juni, BMKG menyebut nihil wilayah berpotensi hujan lebat-sangat lebat.

Terpisah, peneliti di Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, membagikan laju cepat menghangatnya Samudra Pasifik yang menjadi indikasi El Nino. Menurutnya, anomali suhu permukaan laut di ekuator-timur Samudra Pasifik tersebut telah mencapai +0,9 derajat Celsius per awal pekan ini.

Peningkatannya terekam dari +0,8 derajat pada pekan pertama Juni. "Nilai ini mengalami akselerasi dari pekan sebelumnya 0,6 derajat," kata Profesor Riset untuk bidang kepakaran iklim dan cuaca ekstrem itu melalui akun media sosial yang diizinkannya dikutip.

Prediksi Erma, menggunakan teknik pemodelan yang dikembangkan BRIN, El Nino kuat akan dicapai pada bulan depan. Lalu puncak kekeringan pada Agustus-September. "El Nino 2026 memiliki pola penjalaran panas ektrem di subsurface yang mirip El Nino 1997 dan struktur spasial yang mirip 2015," katanya.

Seperti diketahui banyak pemodelan iklim di dunia memperkirakan El Nino tahun ini bisa tumbuh superkuat dengan anomali suhu muka laut lebih dari +2 derajat Celsius.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |