Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Hijr ayat 6 merupakan salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang menggambarkan dengan jelas bagaimana sikap kaum musyrik Makkah terhadap Nabi Muhammad SAW dan risalah yang dibawanya. Ayat ini meriwayatkan penolakan dan ejekan yang dialami Rasulullah dalam menyampaikan dakwah Islam. Dalam ayat ini, Allah mengabadikan perkataan kaum kafir yang menuduh Nabi sebagai orang gila hanya karena beliau menyampaikan wahyu Ilahi.
Ejekan kaum kafir Makkah kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana tercatat dalam surat al hijr ayat 6 merupakan cerminan kedangkalan pemikiran dan ketertutupan hati mereka terhadap kebenaran. Mereka menolak Al-Qur'an tanpa merenungkan bukti-bukti dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar di alam semesta. Sikap ini lahir dari kesesatan hati, kekerasan kepala, dan fanatisme buta terhadap warisan nenek moyang.
Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa ejekan yang diterima Rasulullah bukanlah hal baru dalam sejarah para nabi, melainkan pola yang berulang dari umat terdahulu terhadap para rasul. Allah tidak membiarkan hujatan itu tanpa jawaban, dan membalasnya dengan penegasan tentang kemuliaan Al-Qur'an dan jaminan pemeliharaan-Nya atas kitab suci tersebut.
Di sisi lain, ayat ini juga menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam tentang bagaimana seharusnya menyikapi caci-maki dan penolakan dalam berdakwah. Rasulullah SAW tetap sabar dan teguh, tidak terpengaruh oleh hinaan mereka, karena beliau yakin bahwa kebenaran Al-Qur'an akan tetap terjaga dan terbukti sepanjang masa.
Ayat ini pun diikuti dengan jaminan Allah dalam ayat berikutnya (ayat 9) bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia pula yang akan memeliharanya.
Bacaan Lengkap Surat Al-Hijr Ayat 6
Arab: وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ
Latin: Wa qālū yā ayyuhallażī nuzzila 'alaihiż-żikru innaka lamajnūn
Artinya: "Mereka berkata: 'Hai orang yang diturunkan Al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.'"
Tafsir Surat Al-Hijr Ayat 6
Para ulama tafsir telah memberikan penjelasan mendalam mengenai makna ayat ini. Tafsir Al-Muyassar dari Kementerian Agama Saudi Arabia menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan Muhammad berkata sebagai ejekan, "Wahai orang yang diturunkan padanya Al-Qur'an, sesungguhnya kamu orang yang kehilangan akal sehat". Mereka bahkan menantang beliau untuk mendatangkan malaikat sebagai saksi jika memang benar-benar seorang utusan Allah.
Tafsir Al-Mukhtashar dari Markaz Tafsir Riyadh di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menyatakan bahwa orang-orang kafir Makkah berkata kepada Rasulullah, "Wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur'an -sebagaimana pengakuannya-, sesungguhnya dengan pengakuan ini kamu adalah orang gila, kelakuanmu sama dengan kelakuan orang-orang gila".
Tafsir Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur'an al-Azhim menafsirkan bahwa Allah menceritakan tentang kekafiran dan keingkaran mereka dalam ucapan: "Hai orang yang diturunkan Al-Qur'an kepadanya." Maksudnya adalah orang yang mengaku Al-Qur'an diturunkan kepadanya.
"Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila," yakni dalam seruanmu agar kami mengikutimu dan meninggalkan apa yang kami jumpai dari nenek moyang kami. Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa tuduhan gila ini serupa dengan apa yang pernah dikatakan Firaun tentang Nabi Musa.
Tafsir Jalalayn dalam kitab Tafsir al-Jalalayn karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "adz-dzikru" (peringatan) adalah Al-Qur'an. Mereka mengucapkan perkataan ini dengan nada mengejek dan memperolok.
Tafsir as-Sa'di dalam Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan menambahkan bahwa orang-orang yang mendustakan berkata kepada Muhammad dalam rangka mengejek dan memperolok, "Hai orang yang diturunkan Al-Qur'an kepadanya -menurut persangkaanmu-, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila, sebab engkau mengira kami akan mengikutimu dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kami hanya dengan ucapanmu saja".
Sementara itu, Tafsir Tahlili Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa orang-orang kafir mengatakan, "Hai Muhammad, engkau yang mengaku sebagai nabi dan rasul Allah dan telah diturunkan Al-Qur'an kepadamu.
Sebenarnya ucapan dan dakwahmu itu menunjukkan bahwa kamu sesungguhnya adalah orang yang gila atau ada tanda-tanda gila pada dirimu, karena Al-Qur'an tidak mempunyai arti dan makna sedikit pun, bertentangan dengan pendapat kami, dan menyalahi kepercayaan yang telah diwariskan nenek moyang kami".
Asbabun Nuzul Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr termasuk surat Makkiyyah yang diturunkan pada periode dakwah di Makkah, tepatnya setelah surat Yusuf. Ayat ini turun sebagai respons atas sikap kaum musyrik Quraisy yang terus-menerus mencaci-maki dan mengolok-olok Nabi Muhammad SAW.
Latar belakang turunnya ayat ini adalah ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an kepada masyarakat Makkah, mereka bukannya menerima dengan hati terbuka, melainkan merespons dengan ejekan dan tuduhan. Mereka berkata kepada beliau dengan nada menghina, "Wahai orang yang diturunkan Al-Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila".
Para mufassir sepakat bahwa ucapan ini diucapkan oleh orang-orang kafir Makkah dengan maksud mengejek dan memperolok. Mereka tidak benar-benar meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang gila, melainkan mereka menggunakan tuduhan tersebut sebagai alat untuk mendiskreditkan dakwah beliau di tengah masyarakat.
Tuduhan gila ini merupakan strategi umum yang digunakan oleh kaum musyrik untuk menggagalkan misi kenabian.
Tuduhan serupa juga pernah dilontarkan oleh Firaun terhadap Nabi Musa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila" (QS. Asy-Syu'ara': 27). Hal ini menunjukkan bahwa pola penolakan terhadap para nabi selalu sama, yaitu dengan menuduh mereka mengalami gangguan jiwa atau kesurupan.
Makna Mendalam dan Kandungan Surat Al-Hijr Ayat 6
Pertama, ayat ini menunjukkan betapa rendahnya moral kaum musyrik dalam menyikapi kebenaran. Alih-alih merenungkan isi Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah dan petunjuk, mereka justru sibuk menyerang pribadi pembawa risalah. Ini adalah cerminan dari sikap orang yang tidak mau menerima kebenaran karena hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan fanatisme.
Kedua, penggunaan kata "adz-dzikru" (peringatan) untuk menyebut Al-Qur'an mengandung makna bahwa Al-Qur'an adalah pengingat bagi manusia tentang hakikat kehidupan, tugas mereka di dunia, dan pertanggungjawaban di akhirat. Kaum musyrik mengejek justru terhadap kitab yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ketiga, tuduhan "gila" (majnun) yang mereka lontarkan memiliki dimensi psikologis dan sosiologis yang dalam. Secara psikologis, ini adalah proyeksi dari kebingungan mereka sendiri dalam menghadapi kebenaran yang asing bagi tradisi mereka. Secara sosiologis, ini adalah upaya untuk mengasingkan Nabi dari masyarakat dengan mencapnya sebagai orang yang tidak waras.
Keempat, ayat ini mengisyaratkan bahwa perjuangan dakwah akan selalu menghadapi cemoohan dan penolakan. Namun, hal itu tidak boleh menyurutkan langkah para dai, karena sebagaimana Nabi Muhammad SAW tetap teguh, para pengikutnya pun harus terus istiqamah dalam menyampaikan kebenaran.
Kelima, ayat ini menjadi pengantar bagi jaminan Allah dalam ayat berikutnya (ayat 9) bahwa Dia akan memelihara Al-Qur'an. Ini adalah bentuk hiburan dan penguatan bagi Nabi bahwa meskipun manusia mengingkari dan mengejek, Allah sendiri yang akan menjaga kemurnian kitab-Nya.
Hikmah Surat Al-Hijr Ayat 6
1. Kesabaran dalam Menghadapi Cemoohan
Ayat ini mengajarkan kepada umat Islam untuk bersabar ketika menghadapi caci-maki dan ejekan dalam berdakwah. Rasulullah SAW menjadi teladan terbaik dalam menghadapi hinaan dengan tetap tenang dan tidak membalas dengan keburukan.
2. Ketenangan Hati dalam Menghadapi Tuduhan
Tuduhan "gila" yang dilontarkan kaum musyrik tidak membuat Nabi goyah atau ragu akan kebenaran yang dibawanya. Ini mengajarkan bahwa keyakinan kepada kebenaran harus kokoh dan tidak terpengaruh oleh opini publik yang keliru.
3. Kewaspadaan terhadap Sikap Fanatik Buta
Ayat ini mengingatkan bahaya fanatisme terhadap tradisi nenek moyang yang dapat menghalangi seseorang dari menerima kebenaran. Kaum musyrik menolak Al-Qur'an bukan karena lemahnya argumen, melainkan karena keterikatan buta pada warisan leluhur.
4. Pentingnya Menjaga Martabat Ilmu dan Ulama
Kaum musyrik menganggap Al-Qur'an tidak bernilai karena bertentangan dengan pendapat para cerdik-pandai dan ulama mereka. Ini mengajarkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah popularitas atau otoritas seseorang, melainkan kesesuaian dengan petunjuk Allah.
5. Keyakinan akan Pemeliharaan Al-Qur'an
Ayat ini menjadi pengantar bagi jaminan Allah bahwa Al-Qur'an akan tetap terjaga. Ini memberikan keyakinan kepada umat Islam bahwa kitab suci mereka tidak akan pernah berubah atau diselewengkan, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya.
Pertanyaan Seputar Al-Hijr
1. Mengapa kaum musyrik Makkah menuduh Nabi Muhammad sebagai orang gila?
Kaum musyrik Makkah menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai orang gila karena mereka tidak mampu menerima kebenaran yang dibawanya. Tuduhan ini merupakan bentuk ejekan dan upaya untuk mendiskreditkan dakwah beliau di mata masyarakat. Mereka beranggapan bahwa ajaran yang dibawa Nabi bertentangan dengan tradisi nenek moyang mereka, sehingga satu-satunya cara untuk menjelaskannya adalah dengan menuduh Nabi mengalami gangguan jiwa.
2. Apa hubungan antara Surat Al-Hijr ayat 6 dan ayat 9?
Surat Al-Hijr ayat 6 dan 9 memiliki hubungan yang erat. Ayat 6 menceritakan ejekan kaum musyrik terhadap Nabi dan Al-Qur'an, sementara ayat 9 merupakan jawaban Allah atas ejekan tersebut dengan menegaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia pula yang akan memeliharanya. Dengan kata lain, meskipun manusia mengingkari dan mengejek Al-Qur'an, Allah sendiri yang menjamin kemurnian dan kelestariannya sepanjang masa.
3. Apa yang dimaksud dengan "adz-dzikru" dalam Surat Al-Hijr ayat 6?
"Adz-dzikru" secara bahasa berarti peringatan atau pengingat. Dalam konteks ayat ini, para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur'an. Penamaan Al-Qur'an sebagai "adz-dzikru" mengandung makna bahwa kitab ini berfungsi sebagai pengingat bagi manusia tentang hakikat kehidupan, tugas mereka sebagai hamba Allah, dan pertanggungjawaban di akhirat.
4. Bagaimana pandangan ulama tentang Surat Al-Hijr ayat 6?
Para ulama sepakat bahwa ayat ini menceritakan tentang ejekan dan cemoohan kaum musyrik Makkah kepada Nabi Muhammad SAW. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kekafiran dan keingkaran mereka. Tafsir Al-Muyassar menambahkan bahwa mereka mengatakan demikian dengan nada memperolok. Sementara Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa mereka mengucapkan perkataan ini dengan nada mengejek. Semua ulama sepakat bahwa tuduhan ini tidak berdasar dan merupakan bentuk penolakan terhadap kebenaran.
5. Apa pelajaran yang dapat diambil dari Surat Al-Hijr ayat 6?
Pelajaran utama dari ayat ini adalah pentingnya kesabaran dalam menghadapi cemoohan dan penolakan saat berdakwah. Nabi Muhammad SAW menjadi teladan dalam menghadapi hinaan dengan tetap teguh dan tidak terpengaruh. Ayat ini juga mengajarkan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali disebabkan oleh fanatisme buta terhadap tradisi dan ketidakmauan untuk merenungkan bukti-bukti kebenaran. Selain itu, ayat ini memberikan keyakinan bahwa Al-Qur'an akan tetap terjaga meskipun banyak yang mengingkarinya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5154234/original/039508200_1741337636-20250307-Tadarus-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507305/original/081482200_1771489245-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4919191/original/040795900_1723718109-Ilustrasi_pasrah__berserah__berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321440/original/060833200_1786441575-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5134162/original/012917000_1739593072-1739590048291_arti-doa-sholat-dhuha.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5396547/original/062855300_1761739604-Bepergian.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010958/original/004782000_1651214800-20220429-Itikaf-Lailatul-Qadar-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535602/original/003835300_1774065308-0L5A1309.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550896/original/089873500_1775711382-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-09T120454.556.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382328/original/091326000_1760578848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-15T134632.180.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6363680/original/024922800_1779238711-Tugas__15_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4725886/original/008571900_1706156981-madrosah-sunnah-XvJYidRmpUE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336024/original/066771100_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4081826/original/095015200_1657181935-eid-al-adha-g4b5ad3a7d_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215229/original/033266000_1746799361-4ff83da7-1538-4742-9157-6cfce7cd7661.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864490/original/019606900_1718432505-Khusyuk_Wukuf_Jemaah_Haji_di_Padang_Arafah-AP__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336023/original/016338800_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575202/original/003079900_1778040737-WhatsApp_Image_2026-05-06_at_10.48.40_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482819/original/082028900_1687846264-Kekhusyukan_jemaah_haji_panjatkan_doa_di_Jabal_Rahmah-AP__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2336374/original/082096200_1534823979-Salat-Idul-Adha-1439-H5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531067/original/095633800_1773546706-Klaim_bantuan_dari_Purbaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6211301/original/095777700_1779089408-wadah_daging_kurban_selain_plastik_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4826277/original/056858900_1715175570-fotor-ai-2024050820396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6493867/original/025420800_1779351314-unnamed__6_.jpg)