Pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah Dilangsungkan di Bulan Syawal, Ini Alasannya

1 week ago 12

Liputan6.com, Cilacap - Syawal merupakan bulan yang ke-10 dalam kalender Hijriyah. Syawal merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam setelah sebelumnya melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan.

Selain itu, Syawal juga merupakan bulan yang penuh dengan pahala. Terdapat amalan yang memiliki pahala yang besar jika dilaksanakan di bulan ini.

Menelisik pada literatur sejarah, ternyata di bulan Syawal ini terjadi beberapa peristiwa besar dan agung, selain dari perayaan Idul Fitri itu sendiri, salah satunya ialah pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Aisyah RA.

Rasulullah memilih bulan Syawal untuk menikah bukannya tanpa alasan. Terdapat hal mendasar di balik Rasulullah melangsungkan pernikahannya di bulan itu.

Simak Video Pilihan Ini:

Misteri Hilangnya Remaja di Pantai Nusakambangan

Promosi 1

Syawal sebagai Momen Membiasakan Ibadah di Bulan Ramadhan

Mengutip mirror.mui.or.id, kata ‘id berasal dari bahasa arab yaitu al-‘adah yang berarti kebiasaan. Selain itu, ia juga berasal dari kata al-‘audah yang berarti kembali.

Sepanjang Ramadhan, umat Islam melakukan kebiasaan ritual agama lebih intens dari bulan lainnya. Mereka memperbanyak shalat, dzikir, membaca Alquran, bersedekah, hingga itikaf guna meraih kemuliaan di bulan tersebut.

Masih dalam konteks yang sama, arti al-‘audah yang berarti kembali tadi dapat dimaknai sebagai pengingat bagi umat Islam terhadap amalan-amalan yang telah dilakukannya agar tetap dilanjutkan pada bulan-bulan setelahnya termasuk Syawal.

Tak hanya bermakna hari raya, ‘id juga dimaknai sebagai kebahagiaan. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَققَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Dari ‘Aisyah berkata, “Abu Bakar masuk menemui aku saat itu di sisiku ada dua orang budak tetangga Kaum Anshar yang sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshar pada perang Bu’ats.” ‘Aisyah melanjutkan kisahnya, “Kedua sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakar pun berkata, “Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di kediaman Rasulullah ﷺ!” Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya ‘Ied. Maka bersabdalah Rasulullah ﷺ, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari, no 899).

Alasan Rasulullah Menikah di Bulan Syawal

Sebelum Islam datang, Syawal menjadi salah satu waktu yang dilarang untuk melangsungkan pernikahan semasa zaman Jahiliyah. Mereka percaya apabila menikah pada waktu Syawal, maka akan berakhir dengan perceraian.

Mereka beranggapan di waktu Syawal, unta betina mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha) sebagai tanda menolak untuk menikah. Ini juga diyakini larangan bagi unta jantan untuk mendekat.

Hal tersebut yang akhirnya melahirkan tradisi para wanita di masa itu juga menolak untuk dinikahi dan para wali pun enggan menikahkan putri mereka. Tradisi ini terus dipercaya secara turun temurun hingga datangnya risalah kepada Nabi Muhammad SAW.

Disebutkan dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi SAW menikahi Aisyah di waktu Syawal. Hal ini untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang melarang pernikahan di antara dua Id (Syawal berada di antara Idul Fitri dan Idul Adha).

Untuk menghilangkan kepercayaan menyimpang ini, Rasulullah SAW menggelar pernikahan dengan Aisyah di waktu Syawal.Hadits fi’liyah di atas pun dijadikan sebagai anjuran untuk menikah dan menikahkan di bulan Syawal, mematahkan keyakinan atau anggapan sial terhadap sesuatu yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِيي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي

Dari Aisyah dia berkata, “Rasulullah ﷺ menikahiku pada bulan Syawal, dan mulai berumah tangga bersamaku pada bulan Syawal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah ﷺ yang lebih mendapatkan keberuntungan dari padaku.” (HR Muslim, no 2551).

Demikianlah dua keutamaan Syawal berikut penjelasannya. Sebagai bulan yang diisyaratkan kebahagiaan, maka sudah seyogianya umat Islam memanfaatkan momentum Syawal untuk mempererat silaturahim dengan cara berkumpul dengan sanak saudara, keluarga, maupun sahabat.

Di Indonesia sendiri, Syawal menjadi waktu bagi para calon pengantin melangsungkan pernikahan. Hal ini dilakukan sebagaimana apa yang Nabi Muhammad SAW contohkan tatkala menikahi Aisyah di kala Syawal. Wallahu’alam.

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |