Liputan6.com, Jakarta - Perlakuan seorang anak terhadap ayah atau ibunya yang sakit sering kali dianggap sebagai bentuk balas budi atas kasih sayang yang diberikan sejak kecil. Namun, benarkah seorang anak bisa benar-benar membalas jasa orangtua?
Kisah nyata ini menggambarkan perbedaan mendasar antara kasih sayang orang tua kepada anak dan sebaliknya. Seorang ayah yang sakit dirawat dengan penuh kasih oleh anaknya. Makan disuapkan, dibantu ke toilet, dan segala kebutuhannya diperhatikan dengan maksimal.
Pendakwah Muhammadiyah Ustadz Adi Hidayat (UAH) menceritakan bahwa suatu hari, anak tersebut berkata kepada ayahnya, "Alhamdulillah, Ayah, aku telah bisa membalas jasa-jasa Ayah. Perawatan ini seperti Ayah merawatku waktu kecil."
Kisah yang dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @BangVessel, menggugah banyak orang untuk merenungkan makna kasih sayang terhadap orang tua.
Namun, jawaban sang ayah justru membuat anaknya terdiam. Dengan penuh kebijaksanaan, ia berkata, "Tidak, Nak. Kamu belum sampai pada level itu. Karena aku dulu merawatmu supaya kamu bisa hidup. Sedangkan kamu merawatku sekarang untuk mengantarkan pada kematianku."
Pernyataan ini menyentuh hati banyak orang. Betapa besar kasih sayang orang tua yang tak pernah mengharapkan balasan apa pun dari anaknya.
UAH menekankan bahwa sesungguhnya, tidak ada balasan yang setimpal untuk kasih sayang orang tua. Apa yang dilakukan seorang anak hanya secuil dari pengorbanan yang diberikan orangtuanya.
Simak Video Pilihan Ini:
Unik, Profesor di Banyumas Dilantik di Kebun Kelapa
Muhasabah
"Kalau tidak bisa membalas jasa orang tua, maka minimal bahagiakan mereka. Jangan sakiti mereka. Jika tidak mampu memberi, paling tidak jangan menyakiti," tutur UAH dalam ceramahnya.
Kisah ini menjadi pengingat bagi semua anak untuk lebih menghargai orang tua. Waktu yang tersedia untuk berbakti tidaklah lama.
Banyak yang terharu saat mendengar kisah ini. Air mata menetes tanpa disadari, menyadari betapa besar jasa orang tua yang sulit dibalas.
Dalam kehidupan, sering kali anak merasa sudah cukup berbakti hanya dengan memenuhi kebutuhan materi orang tua. Padahal, perhatian dan kasih sayang jauh lebih berharga.
UAH juga mengajak semua anak untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama orang tua. Kehadiran anak bisa menjadi kebahagiaan yang tak tergantikan.
Kisah ini memberi pelajaran berharga bahwa orang tua merawat anak dengan harapan mereka bisa tumbuh dan menjalani hidup dengan baik.
Bagaimana Sebaiknya?
Sebaliknya, ketika anak merawat orang tua yang sudah tua atau sakit, hal itu lebih kepada bentuk tanggung jawab dan penghormatan.
Sikap tulus dalam merawat orang tua menjadi cerminan akhlak seorang anak. Tidak ada orang tua yang ingin merepotkan anaknya, tapi perhatian dari anak tetap menjadi kebahagiaan tersendiri.
UAH mengingatkan, momen kebersamaan dengan orang tua tak akan bertahan selamanya. Saatnya berbuat baik sebelum terlambat.
Orang tua mungkin tak pernah meminta balasan, tetapi mereka akan sangat bahagia jika anaknya menunjukkan kepedulian dengan tulus.
Banyak dari kita yang baru menyadari betapa berharganya kehadiran orang tua setelah mereka tiada. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa cinta sejati orang tua kepada anak adalah tanpa syarat. Mereka memberikan segalanya tanpa meminta kembali.
Perlakuan anak kepada orang tua haruslah didasari oleh ketulusan, bukan sekadar formalitas atau balas budi.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi semua anak agar lebih mencintai dan merawat orang tuanya dengan sebaik-baiknya. Sebelum kesempatan itu hilang untuk selamanya.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul