Saling Menyalahkan dan Klaim Paling Benar dalam Memahami Al-Qur’an, Ini Kata Ustadz Adi Hidayat

12 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan dalam memahami Al-Qur’an sering kali menjadi pemicu perdebatan yang justru menjauhkan umat dari esensi ajaran Islam. Padahal, tujuan utama dari mempelajari kitab suci adalah mencari hidayah, bukan saling menyalahkan. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para ulama yang menginginkan umat tetap berada dalam harmoni.

Di berbagai kesempatan, perbedaan dalam tafsir atau pemahaman Al-Qur’an sering kali berujung pada klaim kebenaran sepihak. Masing-masing pihak merasa pendapatnya yang paling benar, sementara yang lain dianggap keliru. Kondisi ini dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat Muslim.

Pendakwah yang dikenal adem sat berdakwah Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyoroti fenomena tersebut dengan penuh keprihatinan. Menurutnya, sikap saling menyalahkan dalam memahami Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini disampaikan dalam salah satu kajian yang ia sampaikan kepada para jamaah.

"Ini saya tuh paling tidak nyaman kalau ada orang ngaji Qurannya sama, nabinya sama, tapi setelah itu saling menyalahkan," ujar UAH dalam ceramahnya. Menurutnya, kondisi seperti ini justru menjadi hambatan dalam meraih pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam.

Lebih lanjut, Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang merasa pemahamannya yang paling benar dan menolak mendengar pendapat lain. Sikap seperti ini dapat menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya.

Menurutnya, sikap tertutup terhadap perbedaan justru akan membawa seseorang pada pemikiran yang sempit. Jika seseorang merasa sudah paling benar, maka ia tidak akan mau mendengar penjelasan lain yang mungkin lebih mendekati kebenaran.

"Yang paling saya khawatirkan adalah begini, menyimpulkan bahwa itu yang paling benar, yang lain salah. Itu bahaya," tegasnya, seperti dilansir dari tayangan video di kanal YouTube @Sentrasantri.

Simak Video Pilihan Ini:

Viral Aksi Maling Telanjang Bulat Nyolong Ayam Terekam Kamera CCTV

Berbeda adalah Wajar

Hal ini menunjukkan bahwa memahami Al-Qur’an tidak bisa dilakukan dengan sikap tertutup dan arogan.

Ia mencontohkan bagaimana para ulama terdahulu selalu membuka ruang diskusi dalam memahami Al-Qur’an. Mereka saling berdialog dan mencari titik temu tanpa harus merasa paling benar sendiri.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang terus berkembang. Apa yang dianggap benar pada satu masa bisa jadi memerlukan koreksi atau penyempurnaan di masa mendatang.

Karenanya, setiap Muslim harus memiliki sikap rendah hati dalam mencari ilmu. Kesediaan untuk mendengar dan memahami pandangan lain adalah bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa keberagaman pemahaman dalam Islam adalah sesuatu yang wajar. Selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

Ia juga mengajak umat Islam untuk kembali kepada prinsip utama dalam mempelajari Al-Qur’an, yaitu mencari hidayah dan mendekatkan diri kepada Allah. Jika tujuan ini dilupakan, maka ilmu yang dipelajari bisa kehilangan esensinya.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Adi Hidayat mengajak para jamaah untuk lebih mengutamakan persatuan daripada perdebatan yang tidak produktif. Baginya, ukhuwah Islamiyah harus lebih diutamakan dibanding sekadar perbedaan pendapat dalam memahami ayat-ayat suci.

Perbedaan Ialah Dinamika Ilmu

"Ketika yang dipelajari itu salah, tidak ada yang mampu didengar dari yang membenarkan. Itu bahaya," lanjutnya. Hal ini mengisyaratkan pentingnya keterbukaan dalam menerima ilmu.

Ia mencontohkan bagaimana para sahabat Nabi Muhammad sering kali berbeda pendapat dalam menafsirkan suatu ayat, tetapi mereka tetap menjaga persaudaraan. Perbedaan tidak membuat mereka saling menjatuhkan.

Dalam Islam, diskusi dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika ilmu. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola dengan bijak agar tidak menimbulkan konflik yang justru melemahkan umat.

Salah satu cara untuk menghindari perpecahan adalah dengan selalu kembali kepada sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Pemahaman yang berlandaskan dalil yang kuat akan lebih mudah diterima oleh umat.

Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki tingkat pemahaman yang sama dalam agama. Oleh karena itu, pendekatan dalam berdiskusi harus dilakukan dengan hikmah dan kesabaran.

Ia mengajak umat untuk menjadikan ilmu sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, bukan sebagai alat untuk merendahkan orang lain. Sikap rendah hati dalam menerima ilmu adalah kunci utama dalam menjaga persatuan.

Dalam kajian tersebut, ia juga menekankan pentingnya bersikap objektif dalam memahami suatu pendapat. Setiap orang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, sehingga wajar jika ada variasi dalam pemahaman agama.

Pada akhirnya, Ustadz Adi Hidayat mengajak umat Islam untuk selalu mencari ilmu dengan niat yang benar. Jika niat dalam menuntut ilmu sudah benar, maka ilmu tersebut akan membawa keberkahan dan tidak menjadi sumber perpecahan.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |