Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang ketenangan hati dan mengingat Allah dapat menjadi panduan bagi umat Islam di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, ketidakpastian, dan kecemasan. Hati yang tenang adalah dambaan tiap manusia.
Amiruddin dan Syaripah Aini dalam jurnal Konsep Kesehatan Jiwa dalam Al-Qur’an: Membahas Penyembuhan Melalui Doa dan Dzikir dalam Perspektif Psikologi, menjelaskan ketenangan batin tidak hanya dipandang sebagai kondisi psikologis semata, melainkan juga sebagai hasil dari hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah SWT.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam memuat banyak ayat yang secara eksplisit dan implisit membahas tentang cara mencapai ketenangan hati melalui dzikir (mengingat Allah) dan ibadah lainnya.
Perpaduan antara pendekatan spiritual Islam dan psikologi modern diyakini dapat menjadi solusi yang efektif dalam menghadapi krisis kesehatan mental.
Berikut ini adalah ayat Al-Qur'an tentang ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah (dzikir).
1. QS. Ar-Ra’d: 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Latin: Allażīna āmanū wa taṭmainnu qulūbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭmainnul-qulūb.
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Ayat ini merupakan dasar utama tentang korelasi antara dzikir dan ketenangan hati (ṭuma'nīnah).
Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm menjelaskan bahwa Allah SWT menyatakan hanya dengan mengingat-Nya lah hati menjadi tenang dan tenteram. Dzikir di sini mencakup semua bentuk ingatan kepada Allah: membaca Al-Qur'an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah, doa, dan seluruh bentuk ketaatan.
Beliau mengutip ucapan Hasan al-Basri: "Dzikir kepada Allah memiliki pengaruh terbesar dalam mengatasi kesulitan hidup di dunia." Ibn Kathir menekankan bahwa ketenangan ini adalah buah dari iman yang kokoh, yang menjadikan hati bergantung hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Konsep ini sangat selaras dengan mindfulness dalam psikologi modern, yaitu keadaan hadir sepenuhnya pada momen saat ini tanpa penghakiman. Dzikir dengan kesadaran penuh (muṭāba'ah al-qalb) merupakan bentuk spiritual mindfulness yang tidak hanya memusatkan perhatian pada napas atau tubuh, tetapi pada Keberadaan Ilahi. Penelitian menunjukkan praktik seperti ini dapat menurunkan kortisol (hormon stres), meningkatkan aktivitas gelombang otak alfa (yang terkait relaksasi), dan memperbaiki regulasi emosi.
2. QS. Al-Fajr: 27–30
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
Lati: Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma`innah. (27) Irji'ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah. (28) Fadkhulī fī 'ibādī. (29) Wa dkhulī jannatī. (30)
Artinya: "Wahai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya (28) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (29) Dan masuklah ke dalam surga-Ku (30)."
Ayat ini menggambarkan puncak pencapaian spiritual seorang Muslim: an-nafs al-muṭma`innah (jiwa yang tenang dan tenteram).
Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān menjelaskan bahwa panggilan "Wahai jiwa yang tenang" adalah panggilan penuh kasih sayang Allah di hari Kiamat kepada jiwa-jiwa yang ketika di dunia telah mencapai ketenangan melalui ketaatan dan keyakinan. Aṭ-ṭuma'nīnah di sini, menurutnya, adalah ketenangan yang lahir dari keyakinan (yaqīn) yang sempurna terhadap janji Allah, sehingga jiwa tidak lagi digoyahkan oleh keraguan, ketakutan, atau keserakahan duniawi.
Dalam Positive Psychology, keadaan inner peace atau eudaimonia (kesejahteraan psikologis yang mendalam) sangat mirip dengan gambaran nafs al-muṭma`innah. Jiwa ini bebas dari konflik internal (cognitive dissonance), memiliki tujuan hidup yang jelas (meaning), dan menerima diri serta realitas dengan penuh (acceptance). Ini adalah kondisi mental ideal yang menjadi tujuan banyak terapi eksistensial-humanistik.
3. QS. Asy-Syu’ara: 89
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Latin: Illā man atallāha biqalbin salīm.
Artinya: "Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salīm)."
Ayat ini menyebutkan satu-satunya "modal" yang diterima di sisi Allah di hari akhir nanti: hati yang selamat (salīm).
Tafsir Al-Baghawi:Imam Al-Baghawi (w. 516 H) dalam Ma'ālim at-Tanzīl menjelaskan bahwa qalbun salīm adalah hati yang bersih dari syirik, keraguan, kemunafikan, dan penyakit-penyakit hati seperti dengki, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. Hati yang selamat adalah hati yang tunduk hanya kepada Allah, ikhlas dalam beramal, dan penuh cinta kepada-Nya.
Dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib (Ar-Razi), Fakhruddin Ar-Razi memberikan penjelasan filosofis yang mendalam. Menurutnya, salīm berasal dari kata salāmatun, yang berarti bebas dari cacat dan penyakit. Hati yang sakit (qalbun marīḍ) adalah hati yang lebih mengikuti hawa nafsu dan syahwat daripada akal dan wahyu.
Keselamatan hati hanya bisa dicapai ketika ia dikembalikan kepada fitrah aslinya, yaitu mengakui keesaan Allah dan tunduk kepada-Nya. Proses penyembuhan dan penyuciannya itulah yang disebut tazkiyatun nafs.
Konsep qalbun salīm sangat relevan dengan teori self-integration dan cognitive coherence dalam psikologi. Hati yang sakit seringkali merepresentasikan kondisi konflik nilai, disintegrasi kepribadian, dan ketidakharmonisan antara keinginan, keyakinan, dan perilaku.
Proses tazkiyah (penyucian) dapat dipandang sebagai terapi untuk mencapai integritas diri (integrity) dan keutuhan psikologis (psychological wholeness), yang menjadi fondasi kesehatan mental.
4. QS. Al-Baqarah: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Latin: Fażkurūnī ażkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn.
Artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
Ayat ini menjelaskan hubungan timbal balik yang sangat istimewa antara hamba dan Tuhannya melalui dzikir dan syukur.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān memberikan penjelasan yang indah. Beliau mengatakan bahwa "ingat Allah" mencakup ingat dengan hati (mengenal-Nya, mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya), ingat dengan lisan (dzikir lisan), dan ingat dengan anggota badan (melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya).
Balasan "Aku akan ingat kepadamu" adalah ingatan Allah yang penuh rahmat: memberikan taufik, petunjuk, pertolongan, perlindungan, dan pahala di dunia dan akhirat. Inilah sumber ketenangan tertinggi: merasa diperhatikan, dikasihi, dan dijaga oleh Tuhan Semesta Alam.
Dalam teori Attachment (Kelekatan) dalam psikologi perkembangan, manusia membutuhkan figur utama yang memberikan rasa aman (secure base). Keyakinan bahwa Allah "mengingat" dan memperhatikan hamba-Nya menciptakan secure attachment pada level spiritual yang paling dalam.
Kelekatan yang aman kepada Allah (Secure Attachment to God) ini, menurut penelitian psikologi agama, berkorelasi kuat dengan tingkat resiliensi (daya tahan) yang tinggi, optimisme, dan rendahnya tingkat kecemasan serta depresi. Seorang hamba yang yakin akan hal ini tidak akan pernah merasa sendirian atau terabaikan dalam menghadapi kesulitan hidup.
Dzikir sebagai Terapi Psikologis dalam Islam
Berdasarkan kajian jurnal yang merujuk pada pandangan ulama klasik dan kontemporer serta perspektif psikologi modern, dzikir memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai ibadah dan sebagai terapi jiwa.
Beberapa manfaat psikologis dari dzikir antara lain:
1. Menurunkan Tingkat Stres dan Kecemasan
Dzikir membantu mengalihkan fokus dari masalah duniawi kepada Allah, sehingga mengurangi beban psikologis.
2. Meningkatkan Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Dengan berdzikir, seseorang dilatih untuk senantiasa introspeksi dan mengendalikan emosi negatif.
3. Memperkuat Spiritualitas dan Makna Hidup
Dzikir mengingatkan manusia akan tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu beribadah kepada Allah, sehingga memberikan makna dalam setiap ujian hidup.
4. Efek Fisiologis yang Positif
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktik dzikir dapat menstabilkan tekanan darah, detak jantung, dan pola pernapasan, mirip dengan efek meditasi.
People Also Ask:
Al-Quran surat apa untuk menenangkan hati?
8 Ayat dan Surat Al-Qur'an yang Menjadi Obat Penenang HatiSurat penenang hati adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca untuk menenangkan jiwa dan pikiran, seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255), Al-Insyirah (Ash-Sharh: 5-6), Ar-Ra'd (28), dan Al-Baqarah 155-157 tentang ujian, serta doa-doa khusus seperti yang dibaca Nabi Muhammad SAW untuk menghilangkan kegelisahan, yang intinya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang surat apa?
Ayat Tentang Ketenangan Hati (Ar-Rad: 28)
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Apa yang Al-Quran katakan tentang ketenangan hati?
Jika hatimu terasa berat, dan harapan tampak jauh, ayat-ayat yang penuh kuasa ini mengingatkanmu bahwa Allah selalu dekat, selalu mendengar, dan selalu Maha Pengasih. Beberapa ayat Al-Quran yang paling menenangkan antara lain: “ Sesungguhnya, dengan mengingat Allah hati akan merasa tenang.” [Quran 13:28 ]
Apa yang menjadi kunci ketenangan hati menurut surat Ar-Rad ayat 28?
Mengingat dan Berzikir kepada Allah SWT Selain iman dan takwa, zikir atau mengingat Allah SWT juga menjadi kunci penting untuk mencapai ketenangan jiwa. Dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28 yang disebutkan sebelumnya, Allah SWT menegaskan bahwa dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenteram.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528074/original/023473200_1773231468-Oppo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2810105/original/026483700_1558322699-cdn2.tstaticdotnet_masjid-al-akbar-surabaya_20150616_182916.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5519665/original/044511200_1772592972-unnamed__44_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523786/original/041686300_1772861449-unnamed__35_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4383041/original/089396700_1680601074-zlataky-cz-fqUBQejVYDM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528237/original/095128400_1773266971-cover_imsak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528849/original/002824100_1773297841-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4993514/original/090860500_1730893169-fungsi-zakat-mal-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528298/original/077817000_1773276395-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4616110/original/038428500_1697686028-jar-with-savings-coins-table.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3434366/original/035684400_1618907350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528763/original/029543000_1773294625-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5087411/original/003801200_1736406649-1736398582844_perbedaan-zakat-fitrah-dan-zakat-mal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3116253/original/039381500_1588230084-two-women-standing-by-the-door-1071968__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374406/original/051837800_1679988684-rachid-oucharia-2d1-OSHkHXM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528197/original/080113600_1773249538-Booyah_Ramadan_2026.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5160529/original/036403800_1741831526-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)




