Liputan6.com, Jakarta - Contoh teks khutbah Jumat sederhana tentang kejujuran dan amanah menjadi syiar bahwa kedua sifat ini adalah fondasi utama iman. Dalam perspektif Islam, orang beriman dipastikan jujur dan amanah.
Hal ini ditegaskan dalil dari Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 70: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,", serta mengingatkan jamaah akan hadis Nabi SAW yang menegaskan bahwa tidak ada iman bagi mereka yang tidak memiliki sifat amanah.
Kejujuran ditandai dengan kesesuaian antara keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik saat diawasi manusia maupun hanya oleh Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa kejujuran (ash-shidqu) memiliki enam tingkatan, mulai dari jujur dalam ucapan hingga jujur dalam merealisasikan maqam-maqam agama.
Seseorang yang memegang amanah dengan jujur sesungguhnya sedang menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta dan sesama makhluk. Berikut ini Liputan.com rangkum contoh khutbah Jumat tentang kejujuran dan amanah, merujuk sejumlah sumber kredibel.
Contoh Teks Khutbah Jumat: Membudayakan Kejujuran
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُهُاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِسْلَامِ ، وَلَا يَزَالُ يَوَالِى عَلٰى عِبَادِهِ مَوَا سِمِ الْفَضْلِ وَالْاِنْعَامِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِكْرَمِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ .
اَمَّا بَعْدُ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ يِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang Jumat rahimakumullahMarilah dalam kesempatan yang baik ini dan ditempat yang berkah ini kita lahirkan dan wujudkan rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT bukan hanya dalam bentuk lisan tetapi yang lebih penting adalah mendayagunakan setiap nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita untuk sebanyak-banyaknya beribadah kepada-Nya.
Shalawat teriring salam selalu kita sampaikan kepada junjungan, suri tauladan, panutan dan pemimpin kita Nabi dan Rasul Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Dalam kesempatan ini pula mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya.
Semoga dengan cara ini Allah tetap mencatat kita semua bagian dari hamba-hamba yang bertaqwa dan di kelak hari akhir kita semua masuk dalam surga Firdaus-Nya. Aamiin Allahumma AAmiin.
Maasyiral Muslimin rahimakumullahJujur atau shiddiq merupakan salah satu sifat Rasul yang melekat pada dirinya. Kejujuran telah dilekatkan pada diri Rasul sebelum beliau diangkat menjadi Rasulullah SAW dengan menjadi agen perdagangan dari Khadijah RA yang pada akhirnya bisa menanamkan trust kepadanya. Ketertarikan Khadijah kepada Nabi Muhammad adalah atas dasar kejujuran beliau saat menjalankan usahanya. Dari sinilah Khadijah akhirnya menikah dengan Nabi Muhammad SAW. Dan pada saat yang sama beliau mendapat gelar al-Amin karena kejujurannya.
Kita sebagai umat Rasul harus bisa mengimplemantasikan sifat kejujuran ini dalam segala aspek kehidupan, karena kejujuran bagian dari akhlak mulia.
Kejujuran harus dipraktikkan baik dalam perdagangan, perpolitikan maupun sebagai pejabat atau pemimpin tertinggi dan yang lain. Kejujuran akan menghantarkan seseorang untuk meraih derajat dan kehormatan yang tinggi baik di mata Allah SWT maupun di mata sesama manusia.
Kejujuran akan menghantarkan seseorang meraih surga yang penuh dengan kenikmatan dan senantiasa dalam keridhoan Allah SWT.
Sifat jujur telah diterangkan Allah SWT dalam Alquran di antaranya adalah di surat At-Taubah ayat 119:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar.”
Juga di dalam Surat Al-Ahzab ayat 24 :
لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ ....
“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.”
Dalam ayat di atas Allah telah memberikan statement bahwa orang beriman dan kebenaran ( kejujuran ) merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Orang yang beriman dengan sempurna akan selalu menjunjung tinggi kebenaran atau kejujuran. Kejujuran akan mendapatkan balasan berbagai macam kebaikan dari Allah SWT.
Sebaliknya orang yang imannya tidak sempurna akan cenderung pada perilaku tidak jujur dan tidak menjunjung tinggi kebenaran yaitu bohong yang pada akhirnya akan selalu berbuat dosa.
Dosa-dosa yang selalu diperbuat akan membawanya menuju neraka. Orang yang tidak jujur dan selalu berbohong akan selalu berbuat kedurhakaan, durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan durhaka kepada sesama manusia. Kehidupannya selalu dalam ketidakpastian, ketidaktenangan dan benak serta otaknya akan memproduksi kebohongan-kebohongan baru.
Rasulullah SAW telah memetakan kedudukan orang yang selalu berbuat jujur dan orang yang selalu berbuat bohong, sebagaimana sabda beliau :
عَنْ اِبْنِ مَسْعُوْدِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيْقًا، وَإِنَ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلٰى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا.
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi SAW, bahwa beliau telah bersabda:
“Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan jalan ke surga. Sesungguhnya orang yang jujur akan selalu melakukan kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan menunjukkan jalan ke neraka. Sesungguhnya orang yang berdusta akan selalu melakukan kedustaan sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Hadirin sidang Jumat RahimakumullahKejujuran akan selalu mengantarkan seseorang kepada kebajikan yang pada gilirannya akan mendapatkan kehormatan baik di sisi Allah maupun manusia. Dalam konteks kehidupan akhirat, orang jujur akan mendapatkan derajat tinggi dalam surga dan mendapatkan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.
Dalam kehidupan dunia, orang yang berlaku jujur akan selalu mendapat apresiasi dan trust dari masyarakat. Trust inilah yang akan menghantarkannya menuju kedudukan yang mulia dihadapan masyarakat. Tetapi sebaliknya bagi orang yang selalu tidak jujur dan berdusta akan menghantarkannya kepada kedurhakaan.
Dalam kehidupan akhirat tipe orang yang semacam ini akan menjadi penghuni neraka dan di dalam kehidupn dunia, dia tidak akan mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dianggap sebagai oarng yang tidak dapat dipercaya.
Untuk itu mari kita sebagai Muslim harus selalu berusaha untuk berbuat jujur meski dalam kondisi sesulit apapun dan bahkan saat mendapatkan ancaman maupun tekanan atau kesulitan. Pada hakikatnya di dalam kejujuran terdapat kesuksesan, keselamatan, dan kemuliaan. Hanya orang jujur sajalah yang akan mendapat derajat yang tinggi, kebahagiaan lahir batin dan keberhasilan yang luar biasa. Sayyidina Ali telah memberikan sebuah untaian kata yang beliau ingat dari Rasulullah SAW :
عَنْ اَبِيْ مُحَمَّدِنِالْحَسَنِ ابْنِ عَلِيِّ بْنِ اَبِيْ طَالِبِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعْ مَا يَرِيْبُكَ اِلٰى مَا لَا يَرِيْبُكَ، فَاِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ.
Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib berkata :”Aku hafal sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang menegaskan :”Tinggalkanlah apa yang meragukan dirimu, beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukan dirimu.
Sesungguhnya kejujuran adalah tenang, dan dusta adalah keraguan ( HR. At-Tirmidzi )
Hadits di atas memberikan penjelasan bahwa orang yang jujur akan selalu meraih ketenangan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedangkan orang yang tidak jujur atau dusta hidupnya akan selalu resah, tidak tenang dan selalu tidak percaya diri dalam megarungi hidup dan kehidupan. Dia akan selalu ragu dalam melangkah untuk melakukan segala sesuatu. Dalam melakukan sesuatu orang yang tidak jujur akan selalu mencari jalan keluar untuk melakukan kebohongan-kebohongan yang lain.
Karena itu orang semacam ini akan selalu dalam keraguan di setiap langkah yang akan dilakukan. Untuk itu kita sebagai seorang Muslim harus mampu untuk meninggalkan hal-hal yang meragukan dan beralih kepada sesuatu hal yang jelas hukumnya. Jujur dan berintegritas akan selalu mendapatkan ketenangan sedangkan orang yang tidak jujur dan selalu bohong akan masuk dalam ruang keraguan yang mengakibatkan hidupnya tidak tenang. Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahDari uraian singkat tentang bersikap jujur, paling ada lima keuntungan yang bisa diperoleh yaitu pertama, memperoleh ketenangan jiwa. Kejujuran itu mententramkan.
Ketentraman jiwa akan menjadikan hidup penuh dengan kebahagiaan. Sebaliknya dusta selalu mengusik ketenangan jiwa yang menjadikan seseorang menjadi gelisah dan resah.
Rasulullah SAW bersabda
اَلإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya” ( HR. Muslim )
Kedua, memperoleh keberkahan hidup. Kiat untuk memperoleh keberkahan hidup adalah berlaku benar dan jujur. Rasul SAW bersabda :
اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَاِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَابُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَاِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرْكَةُ بَيْعِهِمَا.
“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih ( khiyar ) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup –nutupi, niscaya akan hilang keberkahan pada transaksi merek berdua.” (HR Bukhari dan Muslim )
Ketiga, memperoleh keselamatan, meski sikap jujur tidak disukai oleh pendusta dan bahkan berusaha untuk mencelakakn orang yang bersikap jujur. Hakikat keselamatan adalah segala sesuatu yang menghantarkan manusia menuju surganya Allah SWT. Rasul SAW bersabda :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِيْ الْجَنَّةِ، وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّهُ مَعَ الْفُجُوْرِ وَهُمَا فِيْ الْنَّارِ
“Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan dan keduanya di neraka” ( HR. Ibnu Hibban )
Keempat, tercatat sebagai ahli kebenaran. Kita akan selalu bersama orang-orang yang benar jika kita menjalankan prinsip kebenaran dalam kehidupan. Rasul SAW bersabda :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالبِرُّ يَهْدِي إِلٰى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ ،وَيَتَحرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيقًا
Wajib atasmu berlaku jujur, karena kejujuran itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surge. Seseorang yang selalu jujur dan memilih kejujuran akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. ( HR. Bukhari )
Kelima, terhindar dari kemunafikan. Salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Dan barang tentu kita sebagai seoarng Muslim yang taat tidak ingin digolongkan dalam kelompok semacam ini.
Demikianlah khutbah yang singkat ini. Semoga kita semua dalam meniti kehidupan ini dihiasi oleh kejujuran. Dengan kejujuran kita akan jauh dari kehancuran dan kebinasaan. Sedangka dusta akan menyebabkan kita kehilangan berkah, keselamatan dan ketentraman.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Oleh: KH Drs Abdullah Tholib, MM, dinukil dari laman MUI
Khutbah Jumat: Pentingnya Amanah dan Kejujuran di Tengah Krisis Kepercayaan Publik
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, mari senantiasa kita ucapkan melalui lisan yang jujur dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang amanah, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua tanpa terhitung jumlahnya. Di tengah kehidupan yang penuh ujian dan krisis kepercayaan seperti saat ini, semoga Allah senantiasa menjaga kita agar tetap berada di jalan kejujuran dan istiqamah dalam menunaikan setiap amanah yang kita terima.
Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi. Sosok teladan dalam kejujuran, pemegang amanah yang bertanggung jawab, dan pribadi yang mengutamakan keadilan serta kebijaksanaan dalam segala urusannya. Semoga kita semua yang hadir dalam pelaksanaan shalat Jumat ini termasuk dalam golongan umatnya mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhirat. Amin ya Rabbal alamin.
Selanjutnya, sudah menjadi tugas kami sebagai khatib untuk senantiasa mengingatkan para jamaah shalat Jumat agar terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk nyata dari takwa adalah menjaga kejujuran, serta menunaikan amanah yang telah dipercayakan kepada kita, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, di tengah zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan krisis kepercayaan, hanya orang-orang yang jujur dan amanah yang akan tetap teguh di atas kebenaran.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Di tengah krisis kepercayaan publik yang kian meluas, kejujuran dan amanah menjadi dua pilar utama yang harus terus kits jaga dan kita tegakkan bersama-sama. Ketika kejujuran hilang dan amanah diabaikan, maka hancurlah tatanan masyarakat dan runtuhlah kepercayaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Allah SWT dalam Al-Qur'an menyinggung secara tegas betapa beratnya sebuah amanah. Saking beratnya, Allah pernah menawarkan amanah tersebut kepada makhluk-makhluk besar ciptaan-Nya, seperti langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya menolak, karena khawatir akan berkhianat terhadapnya. Namun ketika amanah itu ditawarkan kepada manusia, ia menerimanya. Sayangnya, penerimaan itu tidak selalu diiringi dengan kesadaran dan tanggung jawab yang penuh.
Beberapa orang di antara kita benar-benar bertanggung jawab, ada pula justru menyepelekannya, menyalahgunakannya, bahkan mengkhianatinya. Maka Allah pun menyebut bahwa manusia itu, pada hakikatnya, sering berlaku zalim terhadap dirinya sendiri dan jahil (bodoh) karena tidak memahami besarnya beban yang ia pikul. Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْأِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS Al-Ahzab, [33]: 72).
Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam kitab Tafsir wa Khawathirul Umam, jilid I, halaman 789, menjelaskan bahwa sesungguhnya seluruh alam semesta pernah ditawari oleh Allah untuk memikul amanah. Namun, langit, bumi, dan gunung-gunung semuanya menolak. Sebab, mereka sadar betapa beratnya memikul sebuah amanah. Mereka takut tidak mampu menunaikannya dengan sempurna.
Berbeda dengan manusia. Dengan akal dan kemampuan memilih yang dimilikinya, manusia justru menerima amanah tersebut. Ia merasa mampu, karena bisa membedakan antara berbagai pilihan dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Namun di sinilah letak masalahnya. Manusia mungkin tampak kuat saat menerima tanggung jawab, tapi sering kali lalai dan lemah ketika harus menunaikannya. Karena itu, Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang sangat zalim dan sangat bodoh. Syekh Sya’rawi mengatakan:
لَقَدْ ظَلَمَ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ حَيْثُ حَمَلَ الْأَمَانَةَ وَلَمْ يُفِ بِهَا، فَلِذَلِكَ فَهُوَ ظَلُوْمٌ. وَهُوَ جَهُوْلٌ لِأَنَّهُ قَدَّرَ وَقْتَ التَّحَمُّلِ، وَلَمْ يُقَدِّرْ وَقْتَ الْأَدَاءِ
Artinya, “Manusia telah menzalimi dirinya sendiri karena memikul amanah tetapi tidak menunaikannya. Oleh sebab itu, ia (disebut sebagai makhluk) yang sangat zalim. Ia juga bodoh karena hanya mempertimbangkan kemampuannya saat menerima beban, tetapi tidak memikirkan kesanggupannya ketika tiba waktunya untuk melaksanakan (amanah tersebut).”
Oleh sebab itu, tanggung jawab atas amanah, khususnya di bidang kekuasaan dan jabatan publik, tidak dapat hanya dibebankan pada moral pribadi semata. Kita sebagai masyarakat beriman dan peduli terhadap keadilan harus ikut andil dalam mengawal dan memastikan amanah itu dijalankan dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks ini, pengawasan sistematis serta partisipasi aktif publik menjadi keharusan yang tidak dapat kita ditawar.
Kita tidak bisa hanya berharap bahwa para pemimpin akan berlaku adil dan jujur tanpa ada mekanisme yang menuntut akuntabilitas dan transparansi. Jika seorang pejabat bertindak zalim karena tidak ada yang mengingatkan atau mengawasi, maka kelalaian itu tidak hanya semata tanggung jawabnya sendiri, melainkan juga kegagalan kolektif kita dalam menjaga amanah yang telah dibebankan kepada manusia.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Setelah memahami betapa beratnya amanah yang telah dipikul oleh manusia, penting bagi kita untuk menyoroti salah satu kunci utama dalam menjaga amanah tersebut, yaitu kejujuran. Kejujuran merupakan fondasi utama dalam menunaikan amanah yang dipercayakan kepada kita. Tanpa kejujuran, amanah akan mudah dikhianati; tanggung jawab akan diselewengkan, dan kepercayaan akan runtuh.
Selain menjadi fondasi utama dalam menjaga amanah, kejujuran juga akan membawa orang yang senantiasa jujur pada pahala yang sangat besar, yaitu akan meraih pahala surga dari Allah swt. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, yaitu:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya, “Hendaklah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga.” (HR Ahmad).
Untuk menciptakan sebuah kejujuran, kita memiliki tugas yang sama demi terciptanya lingkungan yang mendorong dan menegakkan nilai tersebut. Kejujuran harus dibina melalui sistem yang transparan dan diawasi secara aktif oleh masyarakat. Tidak cukup hanya berharap individu bersikap jujur tanpa ada struktur yang mendukung dan memastikan kejujuran itu tetap hidup dalam praktik.
Ketika masyarakat diam atas kebohongan, atau sistem dibiarkan longgar tanpa pengawasan, maka celah untuk mengkhianati kejujuran akan terbuka lebar. Maka, selain mendidik diri untuk jujur, kita juga wajib membangun tatanan sosial yang menjunjung tinggi kejujuran sebagai nilai bersama yang dilindungi dan ditegakkan secara kolektif.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian adanya khutbah Jumat, perihal amanah dan kejujuran di tengah krisis kepercayaan publik. Semoga menjadi pengingat yang bermanfaat bagi kita semua, mendorong kita untuk senantiasa menjaga kepercayaan yang diberikan, bersikap jujur dalam setiap ucapan dan tindakan, serta menjadi pribadi yang bisa diandalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah swt menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur, amanah, dan istiqamah dalam menjalankan kebaikan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Oleh: Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur, dan Awardee Beasiswa non-Degree Kemenag-LPDP Program Karya Turots Ilmiah di Maroko. Dinukil dari laman NU
Khutbah Jum'at: Jujur Tanpa Batas
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩
Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
“Kejujuran” menjadi ungkapan dan nilai kehidupan yang kembali mencuat dan populer saat ini. Kejujuran bukanlah persoalan yang sederhana dan mudah dilakukan. Usaha apa saja yang kita lakukan dapat berhasil karena adanya sikap jujur. Sebaliknya, akan berantakan dan tidak memperoleh yang diinginkan karena tidak adanya kejujuran. Saat ini bangsa Indonesia sering dilanda berbagai masalah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan, erupsi gunung merapi, dan sebagainya. Bisa jadi segala musibah yang ada tersebut penyebabnya adalah krisis kejujuran. Kehidupan menjadi rusak dan mengakibatkan kekacauan, bahkan kehancuran karena adanya ketidakjujuran. Maka Islam sangat mengedepankan kejujuran.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9] ayat 119:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Al-Baihaqi meriwayatkan suatu hadis Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan itu menuntun kepada surga. Sesungguhnya seseorang akan berlaku jujur sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke neraka. Sesungguhnya seseorang itu berlaku dusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (Hadis Muttafaq ‘Alaih)
Jujur adalah bersatunya suara hati, ucapan, dan perbuatan, dan pastilah tidak ada yang rela dikatakan bohong atau disamakan dengan perilaku hewan yang tidak memiliki akal dan pikiran. Jujur mencerminkan sikap hati yang menggambarkan ketaatan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang jujur pasti tetap patuh kepada Allah dan menjalankan tuntutan Rasulullah Saw.
Manusia yang paling jujur di dunia ini adalah Nabi Muhammad Saw. Selain memiliki sifat Ash-shiddiq, juga diberi gelar Al-Amin, hal tersebut karena beliau dikenal dengan konsistennya menjalankan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupannya sehari-hari. Gelar Al-Amin setelah banyak di kaji dalam bidang ekonomi sebagai salah satu rahasia sukses dalam berbisnis Nabi Muhammad Saw.
Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Menghadapi kehidupan yang kita hadapi saat ini, hendaknya kita semua dapat introspkesi diri dan segera memulai budaya kejujuran. Dengan budaya kejujuran akan merubah perilaku manusia menghadapi perubahan jaman yang tentu saja mempengaruhi perilaku seseorang, misalnya gaya hidup mewah, kemajuan teknologi informasi dan transformasi, kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Akan timbul praduga jika berada di tangan orang yang tidak jujur akan menjadi virus perilaku kurang terpuji, antara lain penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, nepotisme, suap-menyuap, pungli, penipuan dalam segala pelayanan publik.
Bila kita melihat dalam pandangan ilmu psikologi positif, bahwa kejujuran merupakan sikap pribadi yang sejati. Kejujuran bukan hanya sebatas mengatakan yang benar saja, tetapi manusia yang jujur akan menjalani kehidupannya dengan apa adanya. Sikap yang ditunjukkan adalah sikap yang sebenarnya tanpa berpura-pura dan memakai topeng. Sehingga manusia yang jujur adalah sikap yang membumi, artinya menyatu dengan segala persoalan dan tampil terbuka menjalani kehidupannya. Kehidupan manusia yang jujur akan lebih bahagia karena tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak takut dengan segala yang dimiliki dan dilalui dalam hidupnya.
Kepriadian tidak jujur masuk ke dalam kepribadian bermuka dua (nifaq). Kepribadian nifaq merupakan karakter orang munafik, yaitu sifat seseorang yang menampakkan baik di pandang orang lain padahal menyembunyikan keburukan dan kebusukan. Segala yang dinampakkan berbeda dengan kenyataannya. Mereka tidak dapat menghadapi kenyataan sehingga berdusta bila berbicara, mengingkari janji jika mereka berjanji, dan berkhianat jika diberikan kepercayaan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa [4] ayat 142:
إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢
Artinya: “Kemudian Allah menjelaskan sikap orang-orang munafik yang selalu membantu tipu daya untuk menghalang-halangi berkembangnya agama Islam. Mereka juga menipu Rasul saw dengan jalan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.”
Menukil sebuah tulisan dari Prof. Haedar Nashir tentang kejujuran, bila menjadi pemimpin tidak perlu bertopeng demi citra dan pesona. Tidak perlu pula banyak polah yang membingungkan umat atau rakyat. Jika Allah memberikan anugerah menjadi pemimpin cerdas dan hebat, syukurilah nikmat itu dengan sikap tawadhu’, tidak congkak, dan lupa diri. Belajarlah ilmu padi, makin tua kian berisi, kian matang makin merunduk. Dengarlah suara hati dari lubuk qalbu terdalam agar menjadi pemimpin yang autentik, bukan yang serba kamuflase. Simak pula bisikan jernih dan suara kebenaran yang datang dari umat atau siapapun yang memberikan tausyiyah atau kritik, siapa tahu memang kita sedang berada di jalan yang salah. Jangan merasa benar dan digdaya sendiri.
Pemimpin yang jujur akan lurus dalam mengurus umat atau rakyat. Menjadi pemimpin jujur dan tulus dalam mengelola hajat hidup orang banyak itu itu memang tidak mudah. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba (pemimpin) yang mengurus urusan umat manakala tidak mau bersusah payah dan tidak berlaku jujur serta tulus kepada yang dipimpinnya, melainkan hamba itu pasti tidak akan dapat menium harumnya surga.” (HR. Bukhari-Muslim).
Allah SWT bahkan berfirman: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ahzab [33]: 24).
Jama’ah jum’at rahimakumullah
Mudah-mudahan khutbah yang singkat ini dapat menjadi motivasi bagi kita untuk mulai membumikan budaya kejujuran. Bahwa jujur itu tanpa batas. Tidak akan rugi manusia yang berlaku jujur. Jujur tidak akan membuat kita menjadi manusia yang hancur. Justru dengan kejujuran akan membawa keberkahan dan menjadi penyelamat kita dari siksa api neraka kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ وَمَلاَئَكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ أَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Oleh: Dr Eko Harianto, MSI, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purworejo, dinukil dari laman Muhammadiyah
Khutbah Jumat : Hidup Tenteram Dengan Sifat Jujur
Khutbah I
الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala,
Marilah kita bersyukur atas segala nikmat dari Allah Subhanahu Wata’ala, kemudian bershalawat kepada Nabiyulloh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selanjutnya marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Terdapat kisah dari Syaikh Abdul Qadir Al Jailany yang saat itu hendak pergi ke Baghdad, untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Beliau berangkat dari kota Makkah. Di tengah perjalanan, gerombolan perampok menghadang dan menguras harta perbekalan milik rombongan. Beliau ditanya apa yang dia miliki. Dengan jujur, beliau menjawab bahwa dirinya membawa uang sebanyak 40 Dinar yang ditaruh di bawah ketiaknya.
Karena belum percaya, si perampok membawanya kepada pimpinan mereka. Di saat itu, beliau ditanya sekali lagi, “Apa yang kamu miliki?” Jawaban Syaikh Abdul Qadir sama. Mendengar jawaban yang apa adanya, si pemimpin perampok bertanya, “Apa yang membuatmu berkata jujur?” Syaikh Abdul Qadir menjelaskan, “Sebelum berangkat ibuku berpesan kepadaku untuk bersikap jujur. Pesan ibuku ini selalu terngiang dan terasa dekat denganku. Dan aku tidak berani mengkhianatinya.”
Mendengar jawaban Syaikh Abdul Qadir, pemimpin perampok tiba-tiba menyobek bajunya dan berteriak keras, “Kamu takut mengkhianati ibumu. Sementara selama ini aku tidak takut mengkhianati Allah. Sekarang aku bertobat kepada Allah lewat dirimu dan kamu adalah pimpinan kami dalam bertobat.” Setelah itu, pimpinan perampok memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan hasil rampokan kepada rombongan Syaikh Abdul Qadir.
Kisah Syaikh Abdul Qadir Al Jailany ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa kejujuran, akan membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan. Sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan kecelakaan dan kesengsaraan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Kisah beliau membuktikan bahwa kejujuran tidak hanya menjadi jalan keselamatan bagi diri beliau dan rombongannya, tapi bahkan menjadi jalan taubat para perampok. Oleh karena itu, pantas jika dibalik sikap jujur ada penghargaan.
Baca Juga Khutbah Jumat : Indahnya Etika Dalam IslamKeutamaan akhlak seseorang yang memiliki sifat jujur:
Pertama, memperoleh ketenangan jiwa. Kejujuran itu menentramkan dan ketentraman jiwa akan menjadikan hidup kita penuh kebahagiaan. Inilah dambaan setiap insan. Adapun dusta merusak ketenangan jiwa sehingga membuat diri merasa gelisah dan resah. Rasulullah ﷺ bersabda :
الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)
Kedua, memperoleh keberkahan hidup. Kiat memperoleh keberkahan adalah berlaku benar dan jujur. Dengan keberkahan, sesuatu yang nilainya kecil akan memiliki manfaat yang besar bagi banyak orang. Umur yang pendek atau waktu yang singkat dalam kehidupan, jika ada berkah di dalamnya, maka akan memberi manfaat kebaikan yang banyak. Rasulullah ﷺ bersabda :
اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketiga, memperoleh keselamatan. Hakikat keselamatan adalah segala sesuatu yang mampu mengantarkan kita meraih surga Allah. Salah satu usaha yang wajib kita tunaikan adalah bersikap jujur meski terkadang sikap ini tidak disukai oleh sekelompok pendusta bahkan berusaha mencelakakan diri kita. Namun, kejujuran tetap akan menjadi jalan keselamatan di dunia sampai akhirat.
Keempat, tercatat sebagai ahli kebenaran. Kita akan bersama orang-orang yang benar jika kita menjalankan prinsip kebenaran dalam kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda :
عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِي اِلىَ اْلجَنَّةِ، وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا
“Wajib atasmu berlaku jujur, karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan memilih kejujuran akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari)
Baca Juga Khutbah Jumat : Mendidikan Anak dengan AdabJamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Kelima, terhindar dari kemunafikan. Salah satu ciri munafik adalah berdusta. Tentu tidak ada dari kita yang ingin digolongkan dalam kelompok semacam ini. Jika kita bersikap jujur, Insya Allah, kita akan terhindar dari kemunafikan atau dikelompokkan bersama mereka. Rasulullah ﷺ bersabda :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan bila dipercaya ia khianat.” (HR. Bukhari)
Demikianlah khutbah Jumat pada kesempatan yang indah ini. Mari kita hiasi diri kita dengan sifat mulia salah satunya jujur. Kita tebarkan manfaat kepada saudara kita sesama muslim yang kita jumpai. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kebenaran dan kejujuran bagi kita semua, dan kita semua selamat di dunia sampai di akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ،
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ أَنْتَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ،
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ
Oleh: Hendy Kurniawan, M.Pd, dinukil dari Laman Al-Azhar Yogyakarta World Schools
Khutbah Jumat: Pentingnya Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي تَفَرَّدَ فِي أَزَلِيَّتِهِ بِعِزِّ كِبْرِيَائِهِ، وَتَوَحَّدَ فِي صَمَدِيَّتِهِ بِدَوَامِ بَقَائِهِ، وَنَوَّرَ بِمَعْرِفَتِهِ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ، الدَّاعِي اِلَى بَابِهِ وَالْهَادِي لِأَحْبَابِهِ وَالْمُتَفَضِّلِ بِإِنْزَالِ كِتَابِهِ، تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِلْإِسْتِعْدَادِ لِيَوْمِ لِقَائِهِ. فَسُبْحَانَ مَنْ تَقَرَّبَ بِرَأْفَتِهِ وَرَحْمَتِهِ، وَتَعَرَّفَ اِلىَ عِبَادِهِ بِمَحَاسِنِ صِفَاتِهِ، فَانْبَسَطُوْا لِذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ. أَحْمَدُهُ حَمْدَ مُعْتَرِفٍ بِالْعَجْزِ عَنْ اَلاَئِهِ، مُنْتَظِرٍ زَوَائِدَ بِرِّهِ وَوَلَائِهِ
أَشْهَدُ أَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً ضَمِنَ الْحُسْنَى لِقَائِلِهَا يَوْمَ لِقَائِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ أَنْبِيَائِهِ وَسَيِّدُ أَصْفِيَائِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ فَفَازَ بِاقْتِفَائِهِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kepada Allah swt, pada siang ini kita semua masih diberikan kesempatan untuk merasakan kembali nikmatnya bermunajat, beribadah dan berdoa kepada-Nya. Mudah-mudahan, keimanan dan ketakwaan terus melekat dalam diri kita semua, dan kita semua dipermudah oleh Allah untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai oleh-Nya.
Shalawat dalam salam mari senantiasa kita haturkan kepada panutan kita semua, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ alih wa shaḫbih, yang telah sukses menjadi teladan paripurna dalam menjalani kehidupan sehari-hari, teladan penuh kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan dan kasih sayang yang selalu beliau berikan.
Semoga kita semua yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal âlamin. Baca Juga Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hakiki Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi kami selaku khatib pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk senantiasa mengajak dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, serta mengingatkan perihal pentingnya menjalani kehidupan sehari-hari dengan landasan iman dan takwa.
Sebab, hanya takwa satu-satunya bekal yang akan kita bawa menuju akhirat kelak, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ Artinya, “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Salah satu pondasi penting dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah dengan senantiasa berkata jujur dalam beraktivitas, berinteraksi, bermasyarakat dan dalam semua kegiatan sehari-hari. Jujur merupakan ciri khas dan karakter yang ada dalam diri semua umat Islam yang tidak bisa dipisahkan. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab, [33]: 70).
Merujuk penjelasan Imam at-Thabari dalam dalam kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (juz XX, halaman 336), frasa qaulan sadidan pada ayat di atas memiliki makna perkataan yang jujur. Artinya, kita semua sebagai orang beriman harus selalu jujur dalam semua tindakan dan perkataan sehari-hari.
اِتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيدًا: يَعْنِي بِهِ فِي مَنْطِقِهِ وَفِي عَمَلِهِ كُلِّهِ، وَالسَّدِيْدُ الصِّدْقُ
Artinya, “(Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar), maksudnya adalah dalam semua ucapan dan perbuatan. Adapun yang dimaksud perkataan yang benar adalah jujur.”
Oleh sebab itu, penting bagi kita semua untuk selalu bersikap jujur dalam semua aktivitas, karena kejujuran merupakan ciri khas dan karakter setiap orang yang beriman. Kejujuran tidak hanya kata-kata, namun juga harus sesuai dengan aksi yang nyata. Kejujuran juga berlaku dalam semua lini kehidupan yang kita jalani, seperti dalam keluarga, dalam berbisnis, bertetangga, berteman, bekerja, dan lain sebagainya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Rasulullah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa kita harus selalu berpegang pada kejujuran, karena kejujuran adalah kunci menuju kebaikan. Ketika seseorang terbiasa jujur dalam setiap perkataan dan tindakannya, ia akan menemukan bahwa kejujuran itu membimbingnya ke arah perbuatan-perbuatan baik, atau al-birr. Birr adalah segala bentuk kebaikan, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Ketika seseorang menjalani hidupnya dengan kejujuran, ia tak hanya memperbaiki diri, tetapi juga memberi dampak positif pada lingkungannya. Kebaikan ini, pada gilirannya, akan mengantarkannya ke surga, karena surga adalah tempat bagi mereka yang hidup dengan integritas dan kebaikan. Rasulullah saw bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا
Artinya, “Hendaklah kalian selalu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa pada surga. Seseorang yang senantiasa berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan jauhilah kebohongan, karena sesungguhnya kebohongan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan membawa pada neraka. Seseorang yang senantiasa berbohong akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Bukhari & Muslim).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Sebelum khatib menutup khutbah ini, kami akan menegaskan kembali bahwa jujur merupakan perilaku dan tindakan yang sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki manfaat tidak hanya secara personal, namun juga berdampak secara komunal. Karena itu, Rasulullah dalam hadits di atas menegaskan bahwa kejujuran akan membawa kebaikan yang terus menerus dan berujung pada kebahagiaan abadi di surga, sementara kebohongan membuka jalan menuju kebinasaan dan siksa neraka. Rasulullah SAW dengan tegas mengingatkan kita agar selalu berkata benar, meskipun itu sulit, dan menjauhi kebohongan, meskipun tampaknya mudah. Demikian adanya khutbah Jumat, perihal pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلٓهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أٓلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
People Also Ask:
Ada 3 macam kejujuran Sebutkan apa saja?
Ada beberapa macam kejujuran diantaranya:
1. Jujur dalam perkataan wajib bagi manusia untuk menjaga lisanya tidak berkata kecuali benar dan jujur,
2. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji manusia harus menepati janjinya karena janji itu adalah hutang,
3. Jujur dalam perbuatan yakni seimbang antara lahiriah dan batiniah.
Surah apa yang menjelaskan tentang kejujuran?
Pentingnya kejujuran dalam Islam telah dijelaskan baik dalam Al-Qur'an melalui Surah An- Nahl ayat 91-92, maupun dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat tersebut dan hadits- hadits Nabi memberikan pedoman jelas bagi umat Islam untuk selalu berkata dan bertindak jujur.
Sebutkan ciri-ciri orang yang jujur?
- Sesuai antara perkataan, sikap, dan perbuatan.
- Berupaya untuk bersikap adil dan menepati janji.
- Bicara dengan lugas, apa adanya, tidak banyak berbasa-basi, tidak juga merasa perlu harus menyenangkan hati orang lain.
Mengapa jujur itu penting dalam kehidupan sehari-hari?
Manfaat terbesar dari berbuat jujur adalah dapat dipercaya oleh orang lain dan membangun kepercayaan dari orang lain merupakan hal yang sulit. Membiasakan berbuat jujur akan menghindarkan kita dari segala macam fitnah sehingga hidup akan terasa lebih tentram.
Apa saja 5 sikap jujur?
Lima contoh sikap jujur meliputi mengakui kesalahan, tidak menyontek saat ujian, mengembalikan barang milik orang lain, menyampaikan informasi apa adanya, dan menepati janji; semuanya menunjukkan kesesuaian antara perkataan, perbuatan, dan niat yang tulus.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/687375/original/130208021500-smartphone-iphone-xxx-jc-monster.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501801/original/034251400_1770956928-unnamed__13_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518359/original/061148300_1772506142-unnamed__39_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5168524/original/033224600_1742449887-Depositphotos_365597030_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3110450/original/059507500_1587634731-Praying_Hands_With_Faith_In_Religion_And_Belief_In_God__Power_Of_Hope_And_Devotion___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2820929/original/054084500_1559368646-Tol-Palimanan-Padat-Merayap6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501163/original/064338700_1770888533-Media_Gathering_-_Cerita_Ramadan_Masa_Kini_bersama_Shopee_Big_Ramadan_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514269/original/070613600_1772085444-Tato.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518328/original/018442800_1772505478-Salat_Tarawih_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517636/original/037027400_1772434717-meisya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515455/original/038121200_1772175725-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517161/original/038718300_1772418235-sule.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4367999/original/062206100_1679493665-Sholat-Tarawih-Pertama-Ramadhan-2023-di-Musala-Nurul-Fajri-Depok-merdeka-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)

