Liputan6.com, Jakarta - Menjaga Ukhuwah Islamiyah merupakan kewajiban syar'i yang menjadi pilar kekuatan Islam. Contoh teks khutbah tentang persatuan umat dapat menjadi pengingat pentingnya keharmonisan tersebut.
Persatuan umat ini sering disandarkan pada firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 103: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." Ayat ini menegaskan bahwa persatuan bukanlah sekadar pilihan sosial, melainkan perintah ilahi untuk menjaga eksistensi umat.
Sebaliknya, perpecahan hanya akan melemahkan posisi kaum muslimin di tengah tantangan zaman, sehingga khatib perlu menekankan pentingnya mengutamakan persamaan di atas perbedaan furu'iyah (cabang) demi kemaslahatan bersama yang lebih besar.
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir al-Qur'an al-Azim, menjelaskan bahwa melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berjamaah dan melarang keras perpecahan yang dapat menghancurkan kekuatan agama. 'Tali Allah" (hablullah) diartikan sebagai janji Allah dan Al-Qur'an yang harus dijadikan rujukan untuk kembali bersatu saat terjadi perselisihan.
Berikut ini Liputan6.com sajikan enam contoh teks Jumat tentang persatuan umat.
Khutbah Jumat: Tiga Pilar Ibadah Persatuan Umat
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
قال اللَّه تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
Tidak ada kalimat yang paling pantas untuk diucapkan seorang hamba di setiap detiknya melainkan kalimat hamdalah, sebagai bentuk syukur atas beribu kali nikmat Allah yang kita rasakan, namun Allah hanya meminta kepada manusia agar mensyukuri semua itu.
Selanjutnya shalawat dan salam kita haturkan kepada uswatun hasanah, teladan yang baik, junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ. Semoga juga tersampaikan kepada para sahabat beliau, tabiin, tabiut tabiin, serta orang-orang yang istiqomah hingga akhir zaman nanti. Semoga kita semua termasuk umatnya yang mendapat syafaat beliau pada hari ketika tidak ada syafaat melainkan atas izin-Nya.
Hakikat bekal yang harus dipersiapkan setiap muslim adalah keimanan dan takwa kepada Allah Ta’ala, karena dengan takwa ini akan menjadi aset kita untuk menghadap Sang pencipta. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah 197, “Dan berbekallah kalian semua karena sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
Hari ini kaum muslimin sedang dilanda musibah berupa perpecahan internal di kalangan kaum muslimin sendiri. Dampak buruknya, persatuan dan kesatuan kaum muslimin menjadi terurai. Munculnya sikap saling menyindir, menghujat, mencaci, merendahkan, bahkan saling mengkafirkan adalah indikatornya.
Fenomena perpecahan umat hari ini sejatinya menjadi salah satu penghambat kebangkitan Islam yang diperjuangkan oleh berbagai elemen Islam. Padahal, merawat persatuan dan kerukunan di antara kaum muslimin adalah bagian dari urusan pokok dalam agama (ushûl ad-dîn).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ Fatâwa menjelaskan perihal ini. Beliau menyatakan bahwa memegang teguh persatuan dan kerukunan jamaah termasuk dari perkara-perkara yang pokok dalam agama (ushûludin). (Majmû’ Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah, 22/254)
Allah Ta’ala berfirman
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran : 103)
Dalam ayat mulia tersebut kaum muslimin diperintahkan untuk berpegang teguh terhadap tali Allah dan dilarang untuk berpecah belah sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah sebelum datangnya Islam.
Bersatunya kaum muslimin, semua atas prinsip agama Islam yang Allah turunkan dengan mengesampingkan segala bentuk ikatan-ikatan lain.
Sebab, umat Islam dikumpulkan oleh satu keyakinan bahwa Rabb mereka semua adalah satu yaitu Allah. Dialah yang menciptakan mereka, memberi rezeki, mematikan, serta menghidupkan kembali. (At-Tafsir Al-Wasith, Sayyid Thanthawi, 3/20)
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
Bila kita cermati ibadah-ibadah yang disyariatkan di dalam agama Islam maka akan kita temui hikmah yang tersirat serta faedah yang beresensi kepada persatuan umat Islam. Mereka bersatu pada Rabb yang tunggal, syariat, dan rukun agama yang sama pula.
Adapun di antara ibadah-ibadah yang dapat kita resapi makna persatuannya adalah sebagai berikut:
ShalatShalat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat menjadi penentu apakah seorang hamba tersebut diterima di hadapan Allah Ta’ala atau sebaliknya. Sebab shalat merupakan amalan yang pertama kali Allah hisab pada hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman
وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
“Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.” (QS. An-Nur: 56)
Ibadah yang agung ini menggambarkan akan persatuan kaum muslimin secara keseluruhan. Bagaimana tidak? Hal tersebut dibuktikan dengan kesatuan seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia yang hanya menghadap satu kiblat ketika menunaikan shalat berjamaah. Mereka menghadap Rabb yang satu, dipimpin oleh imam yang satu, bertakbir, rukuk dan bersujud bersama-sama dalam satu komando Imam shalat.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga terus memotivasi umatnya untuk senantiasa berjamaah dalam melaksanakan shalat wajib. Shalat berjamaah yang akan menjadikan pahala shalat itu berlipat-lipat dibandingkan dengan shalat sendirian, dan dijadikan pula langkah-langkah menuju masjid sebagai pahala yang mengangkat derajat serta menghapuskan dosa.
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ، بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ. لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ. لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ. فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ. وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ
“Shalat seseorang dengan berjamaah melebihi dua puluh sembilan derajat dari shalat seseorang yang dikerjakan di rumah dan di pasarnya. Demikian itu karena bila salah seorang di antara mereka berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya, lalu mendatangi masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah, kecuali akan ditinggikan derajatnya dan dihapus kesalahannya.” (HR. Muslim)
Maka, shalat tidak hanya sebatas kewajiban yang mendapatkan pahala dan menyelamatkan seseorang dari azab, akan tetapi juga memvisualkan persatuan kaum muslimin dengan mengumpulkan para mukallaf dalam satu shaf yang sama dan menghambakan diri kepada-Nya dengan serempak.
Ali Manshur dalam kitabnya mengupas tentang hal ini dengan menyebutkan bahwa shalat itu mengumpulkan kaum muslim pada kedudukan yang sama di hadapan Allah. Tidaklah seorang hakim dan narapidana, pemimpin dan rakyatnya, orang kaya dan miskin, serta para sultan dan sipilnya kecuali mereka semua sama-sama berdiri menghadap Allah. Tidak ada yang lebih utama satu orang pun dengan orang lainnya melainkan atas asas takwa. (Al-Ibâdah fî Al-Islâm, Ali Mashur, 123)
Maka kewajiban mendirikan shalat berjamaah itu melukiskan persatuan Islam, menumbuhkan keharmonisan dan kecintaan dihati kaum muslimin. Sebab seseorang yang shalat berjamaah akan bertemu dengan saudaranya sebanyak lima kali dalam sehari, mereka masuk bersama ke masjid, pundak mereka saling bertemu dan tumit-tumit mereka saling rapat untuk menghadap Sang Maha Kuasa.
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
ZakatZakat adalah rukun Islam ketiga sekaligus kewajiban yang Allah syariatkan pada harta hamba-Nya yang telah mencapai nishab dan telah mencapai haul untuk dikeluarkan sebagiannya. Allah Ta’ala berfirman
وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡر تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِير
“Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 110)
Pada dasarnya zakat mempunyai pengaruh yang krusial dalam mewujudkan persatuan dan solidaritas diantara kaum muslimin. Sebab zakat adalah harta yang diambilkan dari orang kaya lalu disalurkan kepada saudara-saudara muslim yang fakir. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Jika mereka telah mentaati kamu tentang hal itu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka zakat yang diambil dari kalangan orang mampu dari mereka dan dibagikan kepada kalangan yang faqir dari mereka.” (HR. Bukhari)
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
Fakhrudin Ar-Razi menjelaskan hikmah dari membayar zakat, penjelasan ini lalu dikutip oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya “At-Tafsîr Al-Munîr”. Adapun pengaruh zakat dalam menstimulasi persatuan kaum muslimin adalah sebagai berikut:
- Pertama, menyalurkan zakat kepada orang yang berhak adalah menjadi perantara menyatukan hati, melembutkan jiwa, dan sarana menyebarkan aura kasih sayang dan persaudaraan diantara kaum muslimin.
- Kedua, zakat menjadi sebab tumbuhnya budaya tolong menolong, memunculkan rasa empati kepada orang lain, sehingga orang yang membayar zakat dapat menolong orang lain dan orang yang menerima juga akan mendoakan kebaikan kepada mereka para muzakki.
- Ketiga, zakat mendatangkan kecintaan bagi orang-orang fakir kepada para muzakki (orang yang bayar zakat). Karena dengan memberikan zakat kepada mereka itu mengantarkan kepada cinta dan solidaritas diantara mereka.
- Keempat, zakat akan menghadirkan kerukunan dengan saling mencintai di antara kaum muslimin sekaligus menjadi perantara hilangnya iri dengki dari hati-hati mereka.
(At-Tafsîr Al-Munîr, Wahbah Az-Zuhaili, 10/279, Mafâtîhu Al-Ghaib, Fakhrudin Ar-Razi, 16/77)
Maka seandainya saja para orang kaya itu semua mengeluarkan zakat dari harta mereka dan menyalurkannya kepada orang yang berhak, niscaya tidak ada lagi orang muslim yang fakir di suatu negeri
Muhammad Rasyid Ridha dalam “Tafsir Al-Manar” juga mengomentari akan hal demikian bahwa seandainya saja kaum muslimin menegakkan kewajiban ini maka tidak akan didapati orang fakir yang kelaparan dan penghutang yang kesusahan. Tapi kebanyakan dari mereka meninggalkan kewajiban ini. (Tafsîr Al-Manâr, Muhammad Rasyid Ridha, 10/443)
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
HajiIbadah lainnya yang menggambarkan persatuan kaum muslimin adalah ibadah Haji. Adapun dalil kemasyruiyyahan haji adalah firman Allah Ta’ala
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan Haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-rang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Ali-’Imran: 97)
Persatuan kaum muslimin itu nyata tampak dalam potret dan makna yang tersirat dalam syiar haji ini. Haji adalah rukun Islam yang selalu berlangsung setiap tahunya. Seluruh kaum muslimin dari berbagai penjuru kumpul menjadi satu di sebuah wilayah yang diberkahi. Dengan berbagai warna kulit, bahasa, dan asal negara mereka berkumpul pada satu tempat, di waktu yang sama, dan menggunakan pakaian yang sama untuk melaksanakan manasik.
Wahbah Az-Zuhaili dalam “At-Tafsir Al-Munir” menjelaskan bahwa dalam syariat Haji terkandung faedah diniyah yaitu mendapat ridha Allah. Juga faedah duniawiyah dari bertemunya kaum muslimin dari beragam suku untuk berdagang atau berniaga atau keperluan lainnya. (At-Tafîr Al-Munîr, Wahbah Az-Zuhaili,17/195)
Adapun makna persatuan Islam tentu tidak hanya tercerminkan dari ibadah seperti shalat, zakat, atau haji saja, tetapi bisa direnungi pada ibadah-ibadah yang lain, Seperti puasa, yaitu kaum muslimin berpuasa pada bulan yang sama (Ramadhan), berbuka puasa bersama (ifthar jama’i), kebahagian ini dapat dirasakan oleh orang kaya maupun miskin, lalu dilanjut dengan mengeluarkan zakat fitrah diwaktu yang sama dan diakhiri dengan shalat id secara berjamaah pula. (Mausuah At-Tafsîr Al-Maudhu’i, 34/401)
Ma’asiral Muslimin Arsyadani wa Arsyadakumullah.
Maka jelas bersatunya kaum muslimin menjadi sebuah keharusan dan bukan hanya sekedar wacana. Yaitu dengan mengesampingkan segala bentuk ikatan selain Islam.
Kita tidak boleh berpecah belah hanya gara-gara hal sepele yang bersifat furu’iyah. Sudah waktunya untuk kaum muslimin bersatu, berkoalisi dan bahu-membahu untuk tujuan yang sama yaitu tegaknya agama Islam ini.
Maka mari kita kuatkan hubungan ukhuwah Islamiyah, bersatu dan bekerjasama dalam kebaikan. Sebab, umat Islam itu bersatu ibaratkan satu tubuh. sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”(HR. Bukhari)
Khutbah II
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين .إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِين
*Oleh Syamil Robbani (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur), dinukil dari laman Ma'had Aly Nur
Khutbah Jumat: Menguatkan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Arus Polarisasi Media
Khutbah Pertama
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهقال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَأَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Amma ba’du.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan rahmat dan hidayah-Nya. Pada kesempatan ini, khatib ingin menyampaikan khutbah yang berjudul “Menguatkan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Arus Polarisasi Media.”
Ukhuwah Islamiyah sebagai Perintah Allah
Islam sangat menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT. Ukhuwah Islamiyah adalah fondasi yang mengikat umat Islam untuk saling mencintai, saling menghormati, dan saling membantu. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah adalah keniscayaan dalam kehidupan umat Islam. Namun, di era modern ini, ukhuwah sering kali terancam oleh polarisasi yang dipicu oleh arus informasi dan media sosial.
Bahaya Polarisasi Media dalam Kehidupan Umat Islam
Baca Juga : Seni dan Keindahan: Dasar dan Wujudnya dalam Islam*Hadirin yang dirahmati Allah,
Di zaman ini, media sosial telah menjadi sarana utama dalam menyampaikan informasi. Sayangnya, media juga sering digunakan untuk menyebarkan fitnah, hoaks, dan propaganda yang memecah belah umat. Polarisasi terjadi ketika umat Islam terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling bertentangan karena perbedaan pandangan, mazhab, atau ideologi. Rasulullah SAW telah memperingatkan kita tentang bahaya perpecahan:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya : “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)
Polarisasi ini mengakibatkan retaknya ukhuwah Islamiyah, munculnya sikap saling curiga, dan lemahnya persatuan umat.
Menguatkan Ukhuwah Islamiyah di Era Digital
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Untuk mengatasi polarisasi media dan menguatkan ukhuwah Islamiyah, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan:
Meningkatkan Literasi Media
Kita harus berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Jadilah umat yang cerdas dalam memilah informasi dan jangan mudah terpancing oleh berita-berita yang tidak jelas sumbernya.
Mengutamakan Persaudaraan daripada Perbedaan
Janganlah perbedaan menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, jadikan perbedaan sebagai rahmat yang memperkaya ukhuwah. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
Artinya : “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya. Barang siapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memperkuat Komunikasi dan Silaturahmi
Di tengah maraknya teknologi, jangan lupakan pentingnya komunikasi langsung dan silaturahmi. Bertemu secara langsung akan menghilangkan prasangka buruk dan mempererat ukhuwah. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya : “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Khutbah Kedua
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada kita, sehingga kita berada di jalan yang benar. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah kedua ini, khatib ingin menegaskan kembali pentingnya ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan kita. Kita adalah umat yang dipersatukan oleh kalimat Lā ilāha illallāh, yang berarti kita semua bersaudara, apa pun latar belakang kita. Ukhuwah ini adalah kekuatan besar yang mampu menjaga umat dari perpecahan dan kehancuran.
Keutamaan Menjaga Ukhuwah Islamiyah
Menjaga ukhuwah Islamiyah adalah ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah. Sebaliknya, memutus tali ukhuwah adalah dosa besar yang dapat merugikan kita di dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman:
إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
Artinya : “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rahmat Allah SWT akan turun kepada umat yang bersatu dan saling menjaga ukhuwah. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa memutuskan tali persaudaraan dapat menghalangi seorang Muslim masuk surga. Beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
Artinya : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa dan Harapan
Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar kita termasuk umat yang mampu menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah berbagai ujian dan tantangan. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi arus polarisasi media dan menjadikan kita umat yang selalu menjaga persatuan.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Artinya : “Ya Allah, persatukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukkanlah kami jalan keselamatan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, dan jauhkanlah kami dari segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebelum kita mengakhiri khutbah ini, mari kita mengingat kembali firman Allah SWT yang memerintahkan kita untuk bersatu:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Semoga khutbah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjauhi perpecahan, dan menjadi umat yang memberikan manfaat bagi sesama.
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَاكُمْ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Oleh Kasmuri, S.Pd.I (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah di UMPP Pekalongan), dinukil dari laman PWM Jateng
Khutbah Jum'at: Menjaga Persatuan, Menebar Kebaikan
Khutbah I
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: ﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ﴾
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan khutbah kali ini marilah kita merenungi kondisi bangsa kita yang sedang diuji dengan berbagai gejolak sosial dan gelombang demonstrasi di berbagai tempat. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk tidak larut dalam kegelisahan, melainkan mengambil peran dalam menjaga persatuan, menebarkan kebaikan dengan penuh hikmah, serta memohon kepada Allah agar bangsa Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, dan dijauhkan dari perpecahan.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk melihat semua peristiwa ini bukan hanya dari sisi lahiriah, tetapi juga dengan kacamata iman. Setiap musibah, gejolak, dan kekacauan yang menimpa bangsa adalah bagian dari ujian Allah SWT. Ujian itu datang agar kita semakin sadar akan kelemahan diri, memperbaiki amal, dan kembali kepada jalan-Nya.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji?” (Al-‘Ankabūt: 2)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Persatuan adalah pondasi utama bagi kekuatan umat dan bangsa. Tanpa persatuan, umat akan mudah dilemahkan oleh perpecahan, perselisihan, dan permusuhan. Karena itulah Islam menegaskan agar umat berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat Allah itu kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Āli ‘Imrān: 103)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat terbesar dari Allah kepada umat Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Rasulullah ﷺ mencontohkan hal ini ketika beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka sebelumnya berbeda suku, berbeda latar belakang, bahkan sering bermusuhan, tetapi dengan iman dan ukhuwah Islamiyah mereka bersatu menjadi saudara seiman yang saling menolong dan saling menguatkan.
Relevansinya bagi bangsa Indonesia sangat jelas. Perbedaan pendapat, termasuk melalui demonstrasi, adalah hal yang lumrah dalam kehidupan berbangsa. Namun, jangan sampai perbedaan itu membuat kita terpecah, saling membenci, bahkan bermusuhan. Karena sesungguhnya kekuatan Indonesia terletak pada persatuan rakyatnya. Jika persatuan rapuh, maka bangsa akan mudah diadu domba dan dilemahkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Islam menugaskan umatnya untuk selalu menebarkan kebaikan dan mencegah keburukan. Namun, amar ma’ruf nahi munkar itu harus dilakukan dengan cara yang penuh hikmah, kelembutan, dan kedamaian, bukan dengan kebencian atau kekerasan. Karena Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai sumber perpecahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa kewajiban amar ma’ruf nahi munkar tidak harus selalu dengan kekerasan atau konfrontasi. Ada tahapan dan ada cara yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan. Justru ketika amar ma’ruf dilakukan dengan cara hikmah dan kasih sayang, maka ia akan lebih membekas dan membawa perubahan yang nyata.
Karena itu, menebarkan kebencian, melakukan kekerasan, dan memecah-belah umat bukanlah ajaran Islam. Yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah kelembutan hati, kasih sayang, dan keteladanan yang baik. Maka, di tengah gejolak bangsa ini, umat Islam harus menjadi penebar kesejukan, pengajak kebaikan, dan pengingat yang damai.
Marilah kita mulai dari lingkungan terdekat kita: keluarga, tetangga, masyarakat sekitar. Jadilah muslim yang membawa kedamaian, bukan ketakutan. Jadilah muslim yang menguatkan persaudaraan, bukan meruntuhkannya. Dengan demikian, Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi bangsa Indonesia.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Bangsa ini adalah milik bersama. Indonesia bukan hanya sekadar tanah tempat kita berpijak, tetapi juga amanah Allah ﷻ yang harus dijaga dengan doa, usaha, dan persaudaraan. Di tengah berbagai ujian, doa umat sangat dibutuhkan untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan negeri ini.
Doa Nabi Ibrahim عليه السلام untuk negerinya menjadi teladan bagi kita dalam mendoakan Indonesia:
وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.’” (QS. Ibrahim: 35).
Maka, sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia, senantiasa berdoa agar Allah ﷻ menjaga negeri ini, melindungi rakyatnya, memberi keberkahan rezeki, serta menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil dan amanah.
بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي بِلَادِنَا وَاجْعَلْهَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَوَفِّقْنَا لِزِيَادَةِ الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ، وَاحْفَظْنَا وَأَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْخِلَافِ، وَارْزُقْنَا رُوحَ التَّعَاوُنِ وَالتَّرَاحُمِ وَالْإِصْلَاحِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا سَبَبًا لِبِنَاءِ أُمَّةٍ وَطَنٍ صَالِحٍ، خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
*Oleh: H Aris Rakhmadi, ST., MEng, Dept of Informatics Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sumber: Majalah SM Edisi 18/2025
Khutbah Jum’at: Menjaga Kerukunan dalam Bermasyarakat - Untuk mengakses berbagai layanan Kementerian Agama, silakan kunjungi https://kemenag.go.id/layanan . Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah. Ikuti juga saluran Kementerian Agama di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb9xP10Fy72KZA2gk81S
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat, hafidhakumullâh.
Pada kesempatan yang mulia ini, yaitu di saat kita diberikan anugerah oleh Allah subhanahu wa ta’ala dapat menjalankan ibadah shalat Jumat, khatib berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangannya. Semoga ketakwaan kita akan selalu terbawa sehingga dapat menghantarkan kita kelak saat dipanggil Allah dalam keadaan mati husnul khatimah, âmîn yâ rabbal ‘âlamîn.
Ma’asyiral muslimin.
Persatuan adalah kunci sebuah keberhasilan. Sebuah keluarga yang bersatu akan mampu menciptakan lingkungan keluarga yang damai dan tenteram, sebuah organisasi yang bersatu akan mampu merealisasikan visi dan misinya dengan maksimal, demikian pula sebuah bangsa yang bersatu akan mampu menciptakan masyarakat yang kondusif dan hidup dengan rukun. Oleh sebab itu Allah swt berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran [3]: 103).
Berkaitan dengan pentingnya menjaga persatuan, dalam satu hadits Nabi diriwayatkan,
وَعَنْ أنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلم: لاَتَقَا طَعُوا وَلاَتَدَا بَرُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلاَتَحَا سَدُوا، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا ، وَلاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya, “Dari Anas ra, dia berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Jangan putus-memutus hubungan, jangan belakang-membelakangi, jangan benci-membenci, dan jangan hasud menghasud. Jadilah kamu hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang Muslim mendiami saudara sesama Muslimnya lebih dari tiga hari.’” (Muttafaqun ‘alaih)
Ma’asyiral muslimin.
Untuk mewujudkan persatuan dalam masyarakat, kita perlu melakukan upaya-upaya sosial yang harus ditanamkan dalam keseharian kita. Diantaranya adalah mampu menjaga perasaan dengan orang-orang di sekitar kita, baik dengan sesama anggota keluarga, tetangga, kolega, dan semua orang yang kita temui. Dalam satu hadits Nabi diriwayatkan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ
Artinya, “Dari Abu Hurairah, dia berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Kamu sekalian, satu sama lain janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi, dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya.’” (HR Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa sebagai sesama Muslim kita dituntut untuk saling menjaga perasaan sama lain. Tidak iri jika ada saudaranya memperoleh nikmat, tidak mudah terprovokasi satu sama lain, tidak merendahkan saudara Muslim yang memiliki keterbatasan, dan sebagainya.
Ma’asyiral muslimin.
Upaya untuk menjaga persatuan berikutnya adalah menjalin kepekaan sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan saling memahami satu sama lain. Contoh-contoh yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari seperti menjenguk saudara Muslim yang sakit, meminjaminya ketika sedang butuh, berbagi makanan jika kita memiliki makanan berlebih, dan sebagainya. Rasulullah sendiri mengibaratkan antara satu Muslim dengan Muslim yang lainnya bagaikan anggota badan dalam satu tubuh. Beliau bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya, “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi dan bahu membahu, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Muslim).
Upaya yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah saling memaafkan. Sebagai manusia biasa, tentu kita tidak luput dari salah dan dosa, sebab itu kita dianjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Dengan membiasakan diri untuk memaafkan orang lain, semua orang pun akan merasa nyaman dengan keberadaan kita. Rasulullah saw bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَينِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَفْتَرِقَا
Artinya “Setiap dua orang Muslim bertemu dan berjabat tangan, niscaya dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah.” (HR Abu Dawud).
Demikianlah khutbah singkat yang bisa khatib sampaikan. Semoga kita bisa selalu menjadi umat Muslim yang mampu menjaga kerukunan. Baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, hingga dalam berbangsa dan bernegara.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
*Teks khutbah Jumat dinukil dari laman Kemenag, tanpa penulis.
Khutbah Jumat: Islam Tekankan Pentingnya Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
السَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُهاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا عَلٰى دِيْنِ الْإِسْلَامِ، وَاَنْعَمَ عَلَيْنَا بِمُخْتَلِفِ النِّعَمِ، اَلَّتِيْ لَا يُمْكِنُنَا عَدُّهَا عَلٰى مَدَارِ الْعَاامِ، وَلَا يَزَالُ يُوَالِى عَلٰى عِبَادِهِ مَوَا سِمُ الْفَضْلِ وَالْاِنْعَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبَلَدِ الْمُكَرَّمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍنِالَّذِيْ أُرْسِلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِللٰى يَوْمِ الْزِّحَامِ
اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ فِيْ كُلِّ اَيَّامِ
قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّججِيْمِ : وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْاَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَصدق الله العظيم.
Sidang Jumat yang berbahagia…
Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata’ala saya ingin menyampaikan wasiat takwa kepada diri sendiri dan jama’ah sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin rahimakumullah…
Hari ini, kita berkumpul di hadapan-Nya dengan penuh syukur dan kesadaran akan kebesaran-Nya. Kita berbicara tentang sikap persatuan dan kesatuan yang seharusnya menjadi landasan bagi kita sebagai umat yang hidup rukun dalam berbangsa dan bernegara.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita dalam keberagaman yang indah. Berbagai suku, bangsa, warna kulit, dan keyakinan agama menyatu dalam satu kesatuan ciptaan-Nya. Namun, dengan anugerah kebebasan beragama yang diberikan-Nya, kita juga diberi tanggung jawab untuk menghormati keberagaman dan perbedaan tersebut.
Sebagai umat beragama, sikap saling menghormati dan menerima perbedaan adalah fondasi bagi persatuan dan kesatuan. Kita diberi tugas untuk menjaga keharmonisan antarumat beriman, sehingga tidak ada ruang bagi konflik yang dapat merusak persatuan kita.
Begitu pentingnya nilai-nilai keberagamaan yang mengedepankan persatuan ini, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran memberikan petunjuk dan perintah agar kita senantiasa menjaga persatuan. Firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu menjadi musuh-musuh (Nya) lalu Allah mempersatukan hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat Allah itu bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.”
Melalui ayat ini, Allah SWT menekankan betapa pentingnya kita untuk bersatu dan menjaga persatuan. Perspektif keberagamaan yang benar akan membimbing kita untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa sikap keberagamaan yang sejati bukanlah hanya sekedar ibadah ritual semata, tetapi juga mencakup perilaku dan sikap terhadap sesama. Kita perlu meresapi nilai-nilai ajaran agama kita untuk menciptakan lingkungan yang damai, penuh kasih sayang, dan menghindari konflik yang dapat merugikan persatuan dan kesatuan.
Hadirin yang kami hormati..
Pentingnya menjaga persatuan juga dapat dilihat dari pertalian ayat di atas dengan ayat sebelumnya Ali ‘Imran ayat 102 yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Melalui ayat tersebut, kita diberikan petunjuk tentang urgensi takwa dan keharusan menjaga persatuan dan kesatuan. Ini bukanlah sekadar serangkaian perintah formal, melainkan panggilan yang mendalam untuk membentuk karakter yang mampu menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh.
Takwa kepada Allah SWT bukanlah tindakan yang terbatas pada momen-momen ibadah semata, tetapi merupakan sikap kesadaran yang membimbing kita dalam setiap aspek kehidupan. Dengan memiliki takwa yang kuat, kita dapat merawat persatuan dan kesatuan bangsa.
Disandingkannya perintah takwa dengan perintah menjaga persatuan dan kesatuan, juga mengingatkan kita bahwa dalam Islam, keberagaman dianggap sebagai rahmat dan hikmah dari Allah SWT. Menjaga persatuan bukanlah menyamakan keyakinan, tetapi menjalin kesatuan dalam keragaman. Inilah panggilan untuk saling menghormati, saling mendukung, dan saling mencintai sebagai satu kesatuan umat manusia.
Dalam dunia yang penuh dengan perbedaan, sikap ini memegang peranan penting dalam mencegah konflik yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi dengan takwa sebagai landasan, kita dapat menghadapinya dengan bijaksana dan penuh kebijaksanaan.
Masyiral Muslimin rahimakumullah…
Perlu kita ketahui bersama bahwa Rasulullah SAW merupakan tipikal seorang nabi yang sangat berjuang untuk menciptakan persatuan sejak masa awal kenabiannya. Salah satunya adalah bahwa nabi tidak henti-hentinya mengajak para sahabat untuk terus bersatu menghindari perpecahan di saat khutbah.
Dan, salah satu buktinya adalah keberhasilan nabi dalam mempersatukan dua sahabat, yaitu sahabat Anshor dan Muhajirin, hingga tercipta sahabat yang solid dan saling bahu membahu antar keduanya.
Teladan Rasulullah dalam mengajak untuk bersatu ini terus dilanjutkan oleh para sahabat setelah beliau wafat. Para sahabat selalu berupaya untuk terus mempertahankan persatuan yang telah diwariskan oleh Baginda Nabi.
Di antara contohnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud sebagaimana diceritakan dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, bahwa dalam suatu kesempatan, ia berkhutbah di hadapan para sahabat yang lainnya untuk terus memperjuangkan persatuan dan kesatuan. Ia mengatakan:
خَطَبَنَا عَبْدُ الله يَوْمًا خُطْبَةً لَمْ يَخْطُبْنَا مِثْلَهَا قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا، ققَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ أتَّقُوْا اللهَ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَاالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّهَا حَبْلُ اللهِ الَّذِي أَمَرَ بِهِ وَإِنَّ مَا تَكْرَهُوْنَ فِي الطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّوْنَ فِي الْفُرْقَةِ
Artinya, “Abdullah bin Mas’ud telah berkhutbah kepada kami di suatu hari, dengan khutbah yang tidak pernah disampaikan sebelumnya atau sesudahnya. Ia berkata : ‘Wahai manusia! Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan berpegang teguhlah dengan ketaatan dan persatuan, karena persatuan itu adalah tali Allah yang telah Dia perintahkan. Sungguh, apa yang dibenci dalam ketaatan dan persatuan, lebih baik dari apa yang disenangi dalam perpecahan.’”
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah SWT…
Kita hidup didunia ini sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendirian , yang satu membutuhkan yang lainnya. Oleh karenannya kita tidak boleh berbuat sesuatu berdasarkan ego masing-masing, yang disebut egoistis atau egoisme, yang penting diri sendiri beruntung tidak peduli dengan kesusahan orang lain.
Islam sangat melarang orang yang mementingkan diri sendiri, berfoya-foya hidup mewah diatas penderitaan orang lain, bahkan dalam hal jual beli saja harus sama-sama ridlo, tidak boleh ada salah satu yang merasa dirugikan , apalagi saling menipu untuk memtingkan dirinya sendiri tanpa melihat bagaimana orang lain , apakah dia rela atau malah hatinya sakit disebabkan oleh kita.
Kalua kita menginginkan persatuan dan kesatuan sebuah bangsa, maka harus diciptakan kedamaian dengan menciptakan persatuan dan kesatuan. Jika ingin persatuan dan kesatuan dapat tercapai dengan baik maka kepentingan umum hendaknya lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi, jangan hanya mementingkan dirinya masing-masing.
Masyiral Muslimin rahimakumullah…
Mari kita perkuat persatuan dan kesatuan bangsa, menghormati keberagaman dan perbedaan dalam setiap aspek kehidupan kita. Jadikan takwa sebagai kompas yang membimbing kita dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Dengan demikian, kita dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat, membangun fondasi persatuan yang kokoh dan harmonis.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Amin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Oleh: KH Misbahul Munir, SAg, MM, Sekretaris 1 MUI Kota Tangerang dan Ketua umum MUI Kecamatan Priuk
People also Ask:
Khutbah ke-2 isinya apa saja?
Isi khutbah kedua meliputi rukun-rukun khutbah (pujian kepada Allah, sholawat kepada Nabi, wasiat takwa, dan pembacaan ayat Al-Qur'an) yang mirip khutbah pertama, namun lebih difokuskan pada doa-doa memohon ampunan, hidayah, kebaikan dunia akhirat, dan perlindungan bagi seluruh umat Islam, pemimpin, serta negeri, yang ditutup dengan permohonan agar salat didirikan. Doa-doa ini mencakup permohonan agar dimuliakan Islam, dihindarkan dari keburukan, dan diberikan ketentraman.
Bagaimana cara memulai khutbah Jumat?
Setelah mengucapkan salam, khatib duduk dan muazzin mengumandangkan azan hingga selesai. Khatib mengawali (membuka) khutbahnya dengan mengucapkan pujian, membaca syahadat, shalawat kepada nabi saw, wasiat taqwa dan membaca beberapa ayat al-Quran kemudian menyampaikan taushiyah.
Tema khutbah apa saja?
Berbagai tema khutbah mencakup topik akidah (keimanan), ibadah (salat, puasa, zakat), akhlak (kejujuran, sabar, kasih sayang, menjaga lisan, lingkungan), sosial (solidaritas, toleransi, pemilu, kemiskinan), hingga muhasabah diri (kematian, waktu, tobat, godaan setan), yang disesuaikan dengan momentum atau kondisi umat, baik secara umum maupun spesifik untuk bulan-bulan Hijriah tertentu seperti Sya'ban atau Ramadhan.
Khotbah Jumat disampaikan oleh siapa?
Pada dasarnya khutbah Jum'at adalah ceramah atau pidato nasihat kegamaan yang disampaikan oleh seorang khotib sebelum melaksanakan ibadah sholat Jum'at. Dengan isi khutbah yang baik dan dapat dipahami oleh jamaah tentu tidak luput dari peran khotib dalam menyampaikan materi khutbah yang baik.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518359/original/061148300_1772506142-unnamed__39_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5168524/original/033224600_1742449887-Depositphotos_365597030_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3110450/original/059507500_1587634731-Praying_Hands_With_Faith_In_Religion_And_Belief_In_God__Power_Of_Hope_And_Devotion___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2820929/original/054084500_1559368646-Tol-Palimanan-Padat-Merayap6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501163/original/064338700_1770888533-Media_Gathering_-_Cerita_Ramadan_Masa_Kini_bersama_Shopee_Big_Ramadan_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514269/original/070613600_1772085444-Tato.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518328/original/018442800_1772505478-Salat_Tarawih_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517636/original/037027400_1772434717-meisya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515455/original/038121200_1772175725-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517161/original/038718300_1772418235-sule.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4367999/original/062206100_1679493665-Sholat-Tarawih-Pertama-Ramadhan-2023-di-Musala-Nurul-Fajri-Depok-merdeka-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)
