Liputan6.com, Jakarta - Syukur (gratitude) dalam Islam didefinisikan sebagai pengakuan dan penghargaan atas segala nikmat yang berasal dari Allah SWT. Syukur bukan sekadar ucapan lisan melainkan sikap hidup menyeluruh yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan. Cukup banyak hadist tentang tentang keutamaan bersyukur dalam segala keadaan.
Merujuk jurnal Konsep Syukur dalam Al-Quran dan Hadis Perspektif Psikologi Islam oleh Wantini dan Ricki Yakup, syukur memiliki peran sentral dalam membentuk kesehatan mental, ketenangan jiwa, dan kebahagiaan yang hakiki.
Dengan membiasakan diri bersyukur dalam segala keadaan, seseorang tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Berikut ini adalah hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, dilengkapi dengan penjelasan ulama.
1. Hadist tentang Dua Nikmat
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّلهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَشِيْرٌ مِنْ النَّاَسِ الصِّحَّةُ وَاْلفَرَاغُ
Artinya: “Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi SAW bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu." [HR Bukhari].
Syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah kesadaran batin yang menggerakkan tindakan. Dalam tradisi Islam, syukur dipandang sebagai kunci untuk menjaga nikmat dan meraih ketenangan jiwa. Berikut adalah penjelasan lengkap atas hadis-hadis yang menjadi pilar dalam memahami konsep syukur.
Hadis ini menggunakan istilah maghbun, yang dalam bahasa perdagangan berarti kerugian dalam jual beli karena salah menaksir harga. Rasulullah SAW mengibaratkan manusia sebagai pedagang, sementara kesehatan dan waktu luang adalah modal utamanya. Banyak orang yang memiliki fisik sehat dan waktu senggang, namun tidak menggunakannya untuk ketaatan atau hal produktif, sehingga mereka "merugi" di akhirat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menjelaskan seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang kecuali jika ia juga memiliki tubuh yang sehat. Barangsiapa yang memiliki keduanya (sehat dan waktu luang), namun ia dikalahkan oleh kemalasannya untuk melakukan ketaatan, maka ia adalah orang yang tertipu (maghbun).
Dunia adalah ladang perdagangan untuk akhirat, dan waktu adalah modalnya. Maka, kerugian terbesar adalah membuang modal tanpa mendapatkan keuntungan berupa pahala.
2. Hadist tentang Kesetaraan Syukur dan Sabar
الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمُ الصَّابِرِ
Artinya: "Orang makan yang bersyukur adalah sederajat dengan orang bershaum yang sabar." [HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban].
Hadis ini memberikan motivasi luar biasa bahwa ibadah tidak selalu harus melalui jalan keprihatinan fisik seperti puasa. Menikmati rezeki pemberian Allah dengan penuh kesadaran (syukur) memiliki bobot pahala yang setara dengan orang yang menahan haus dan lapar dengan penuh kesabaran.
Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghargai setiap getaran hati hamba-Nya yang mengakui kebesaran Sang Pemberi Rezeki.
Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfat al-Ahwadhi (Syarah Sunan At-Tirmidzi) memaparkan penyamaan ini terjadi karena pada diri orang yang makan dengan rasa syukur terdapat pengakuan terhadap nikmat Allah, kecintaan kepada Sang Pemberi Nikmat, dan penggunaan tenaga dari makanan tersebut untuk ketaatan.
Hal ini sebanding dengan perjuangan orang yang berpuasa dalam menahan hawa nafsunya. Syukur pada saat senang dan kenyang, sama mulianya dengan sabar pada saat susah dan lapar.
3. Hadis Qudsi: Zikir sebagai Inti Syukur
(قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه الطبرانى عن ابى هريرة
Artinya: “Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” [H.R Thabrani].
Hadis Qudsi ini menetapkan bahwa "ingat" (Zikir) adalah ruh dari syukur. Seseorang mustahil benar-benar bersyukur jika ia melupakan siapa yang memberinya nikmat. Sebaliknya, melupakan Allah (lalai) dianggap sebagai bentuk awal dari kekufuran (ingkar nikmat).
Hubungan antara hamba dan Pencipta dalam hadis ini bersifat timbal balik; kesadaran akan kehadiran Allah adalah bukti tertinggi dari rasa terima kasih seorang manusia.
Al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir menjelaskan zikir adalah asas dari syukur. Syukur tidak akan tegak tanpa adanya zikir. Siapa yang lisan dan hatinya senantiasa memuji Allah atas nikmat-Nya, maka ia telah mengikat nikmat tersebut agar tidak hilang.
Namun, barangsiapa yang tenggelam dalam nikmat namun lalai dari mengingat Sang Pemberi (Al-Mun'im), maka ia secara hakikat telah masuk dalam pintu kekufuran nikmat. Sebab, inti dari syukur adalah terpautnya hati kepada Allah dalam setiap keadaan.
4. Hadist Syukur kepada Manusia dan Allah
وَمَنْ لاَيَشْكُرِ النَّاسَ لاَيَشْكُرِ اللهَ
Artinya: “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah." [H.R Ahmad dan Baihaqi].
Hadis ini menegaskan adanya korelasi kuat antara etika sosial dan ketaatan spiritual. Allah tidak menerima rasa syukur seorang hamba atas nikmat-Nya, jika hamba tersebut enggan berterima kasih kepada sesama manusia yang menjadi perantara turunnya nikmat tersebut. Ini mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai budi baik dan kebaikan sosial.
Al-Khaththabi dalam kitab Ma’alimus Sunan menjelaskan ada dua makna dalam hadis ini. Pertama, orang yang wataknya terbiasa mengingkari kebaikan manusia dan enggan berterima kasih kepada mereka, biasanya akan terbawa kebiasaan buruk tersebut untuk mengingkari nikmat-nikmat Allah.
Kedua, Allah tidak akan menerima syukur seorang hamba atas nikmat-Nya jika hamba tersebut tidak mensyukuri (berterima kasih) atas kebaikan orang lain kepadanya.
5. Hadis Wara' dan Qana’ah sebagai Puncak Syukur
كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ
Artinya: “Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur.” [HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah].
Hadis ini memberikan resep praktis untuk mencapai derajat hamba yang unggul melalui dua karakter utama:
- Wara’: Menjauhkan diri dari hal-hal yang haram dan syubhat (diragukan). Ini adalah bentuk pengabdian tertinggi karena menjaga integritas diri.
- Qana’ah: Merasa cukup dengan pemberian Allah. Orang yang qana’ah adalah orang yang paling bersyukur karena ia tidak lagi sibuk meratapi apa yang tidak ada, melainkan fokus mengoptimalkan apa yang telah dimiliki.
As-Sindi dalam kitab Hashiyatul Sindi 'ala Sunan Ibni Majah memaparkan orang yang qana'ah disebut sebagai orang yang paling bersyukur karena ia mengakui bahwa setiap nikmat yang sampai kepadanya adalah besar, meskipun secara lahiriah terlihat kecil.
Dengan merasa cukup, ia telah memuji Allah atas segala keadaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki qana'ah akan selalu merasa kurang, sehingga ia sulit untuk memuji Allah dengan tulus atas nikmat yang sedang ia genggam.
6. Hadist Syukur dan Sabar
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” [HR. Muslim no.7692].
Hadis ini menggambarkan "psikologi kemenangan" seorang mukmin. Tidak ada kondisi yang sia-sia bagi mereka yang beriman. Hidup seorang mukmin bergerak secara dinamis di antara dua kutub: syukur saat lapang dan sabar saat sempit.
Kedua kondisi ini, meski bertolak belakang secara lahiriah, secara hakikat sama-sama mendatangkan pahala dan kebaikan di sisi Allah.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim) menjelaskan makna hadis ini adalah bahwa seorang mukmin senantiasa beruntung. Jika ia mendapatkan kelapangan (nikmat), ia melakukan syukur yang membuahkan pahala. Jika ia mendapatkan kesempitan (musibah), ia melakukan sabar yang juga membuahkan pahala.
Karakteristik ini unik dan tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang beriman, karena orang yang tidak beriman seringkali melampaui batas saat mendapat nikmat dan berputus asa saat mendapat ujian.
Hikmah Bersyukur dalam Segala Keadaan
Berikut adalah 6 hikmah bersyukur dalam segala keadaan:
1. Mendatangkan Ketenangan Batin dan Kebahagiaan Hakiki
Bersyukur membantu seseorang untuk fokus pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang hilang. Secara psikologis, ini bertindak sebagai mekanisme coping yang efektif untuk mengurangi kecemasan dan stres, sehingga melahirkan ketenangan jiwa (tumaninah).
2. Jaminan Keberlanjutan dan Penambahan Nikmat
Sesuai janji Allah dalam QS. Ibrahim: 7, syukur adalah kunci "investasi" spiritual. Dengan bersyukur, seorang hamba tidak hanya menjaga nikmat yang sudah ada agar tidak hilang (qayyidul maujud), tetapi juga mengundang datangnya nikmat-nikmat baru yang tidak terduga (shaidul mafqud).
3. Membangun Resiliensi (Ketangguhan Mental)
Syukur dalam keadaan sulit melatih seseorang untuk memiliki daya tahan mental yang kuat. Dengan melihat setiap ujian sebagai sarana pendewasaan, seorang mukmin tidak akan mudah putus asa karena meyakini bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada hikmah dan kebaikan.
4. Terhindar dari Penyakit Hati
Sifat syukur adalah penawar bagi penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong. Orang yang bersyukur tidak akan membandingkan nasibnya dengan orang lain secara negatif, sehingga ia terhindar dari rasa haus akan dunia yang tidak pernah ada habisnya.
5. Mendapatkan Ridha dan Kedekatan dengan Allah
Syukur adalah bentuk pengakuan tertinggi atas sifat Allah sebagai Sang Pemberi (Al-Wahhab). Hamba yang senantiasa bersyukur akan mendapatkan kedudukan khusus di sisi-Nya, karena ia dianggap telah memenuhi tujuan penciptaan, yaitu menyembah dan mengabdi kepada-Nya dengan penuh kerelaan.
6. Mempererat Hubungan Sosial
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, syukur kepada Allah sering kali melewati perantara manusia. Kebiasaan berterima kasih atas kebaikan orang lain akan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menghargai satu sama lain.
People also Ask:
Hadis apa yang menjelaskan tentang bersyukur?
Hadits ke-2 | Pandanglah Orang yang di Bawahmu dalam Masalah ...Hadis tentang bersyukur menekankan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan dan tanda keimanan, seperti sabda Rasulullah SAW bahwa orang mukmin akan baik dalam suka (bersyukur) maupun duka (bersabar) (HR. Muslim). Syukur mencakup mensyukuri nikmat kecil (seperti kesehatan dan waktu luang) hingga nikmat besar, tidak bersyukur kepada manusia berarti tidak bersyukur pada Allah (HR. Tirmidzi), dan bersyukur dengan lisan (Alhamdulillah) dan perbuatan (Qana'ah).
Apa manfaat utama bersyukur menurut QS. Ibrahim 14:7?
Manfaat utama bersyukur menurut QS Ibrahim ayat 7 adalah Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu, sedangkan kufur nikmat akan mendatangkan azab yang pedih; ini berarti syukur membuka pintu tambahan nikmat (harta, kebahagiaan, ketenangan) dan mendekatkan diri pada Allah, menjauhkan dari keserakahan dan penyakit hati seperti iri dengki, serta membawa kedamaian.
Bagaimana cara anda mensyukuri nikmat Allah setelah memahami surah An Nahl ayat 78?
Bersyukur bisa dilakukan dengan cara beriman kepada keesaan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Menurut M Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah, makna dari kata al-af'idah dalam surat An Nahl ayat 78 ialah bentuk jamak dari fu'ad yang artinya aneka hati dan dipahami sebagai akal.
Bagaimana bunyi hadis berterima kasih kepada manusia?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT.” (HR Tirmidzi).

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517636/original/037027400_1772434717-meisya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515455/original/038121200_1772175725-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517161/original/038718300_1772418235-sule.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4367999/original/062206100_1679493665-Sholat-Tarawih-Pertama-Ramadhan-2023-di-Musala-Nurul-Fajri-Depok-merdeka-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3490889/original/048747700_1624437205-000_1D01N7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517650/original/034626900_1772435467-Foto_3_Lazada_3.3_Ramadan_Mega_Sale.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2950406/original/037744200_1572086341-Tugu_Pahlawan_Merah_Putih_2_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506017/original/024091800_1771403594-Banner_Infografis_Imsakiyah_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2249518/original/029795300_1528876812-clouds-mosque-muslim-87500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5482844/original/056409400_1769260756-Persija_Jakarta_vs_Madura_United-15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517126/original/074355400_1772409241-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517016/original/058518300_1772377575-Nathalie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506338/original/077229600_1771429831-anak_ayah_ke_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411946/original/031228600_1763026620-Berpidato.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429232/original/047319400_1618459145-pexels-mentatdgt-1071979.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2240997/original/070157500_1528277766-arches-architecture-building-460680.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4371735/original/047176900_1679802472-abderrahmane-meftah-YwA3x6uRuGw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1626268/original/067647800_1497616352-Mantan-MenKes-Siti-Fadilah-Divonis-4-Tahun-Penjara-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2855596/original/055794600_1563344847-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424037/original/048660500_1764130779-sholawat_ujang_bustomi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4990655/original/018003600_1730716747-tata-cara-sholat-tahajud-agar-keinginan-terkabul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376360/original/049261700_1760001962-Ilustrasi_berdoa.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381466/original/043629600_1613720800-photo-1512632578888-169bbbc64f33.jpg)
