7 Contoh Khutbah Jumat Tema Sabar dan Tawakal Menghadapi Ekonomi Sulit

9 hours ago 3
  • Bagaimana cara agar kita selalu tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan?
  • Khutbah menyampaikan apa?
  • Bagaimana sikap orang yang sabar dalam menghadapi ujian Allah?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tanah air yang terus terjadi, referensi khutbah Jumat singkat tentang sabar saat kehilangan pekerjaan menjadi sangat relevan. Umat sungguh membutuhkan penguatan spiritual. Sebab, di antara jemaah, ada yang menjadi salah satu 'korban'.

Kehilangan sumber penghasilan tentu mengguncang ketenangan batin keluarga dan menguji keimanan seseorang. Teks khutbah diharapkan mengurangi rasa cemas, sekaligus mengembalikan mereka pada keyakinan bahwa rezeki mutlak berada di genggaman Allah SWT.

Janji Allah, "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya" (QS. At-Talaq: 3). Imam Al-Ghazali melalui kitab Ihya Ulumuddin secara mendalam mengingatkan pentingnya maqam tawakal. Kehilangan materi sejatinya adalah ujian keimanan untuk melihat sejauh mana hamba bergantung pada Penciptanya.

Teks khutbah Jumat bertema sabar dan tawakal ini diharapkan menjadi penyejuk hati bagi jamaah yang tangguh berjuang. Berikut adalah tujuh contoh teks khutbah Jumat singkat tentang sabar saat kehilangan pekerjaan.

Contoh Teks Khutbah Jumat 1: Ujian Ekonomi adalah Sunnatullah, Sabar adalah Kuncinya

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّبْرَ ضِيَاءً، وَالرِّضَا بِالْقَضَاءِ دَوَاءً. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah, Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, dan inayah-Nya, kita masih diberikan nikmat iman, nikmat sehat, dan kesempatan untuk hadir di rumah Allah yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang istiqamah di jalan sunnahnya.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya diucapkan saat keadaan lapang, tetapi juga ketakwaan yang tetap kokoh berakar di dalam hati saat keadaan sedang sempit dan sulit.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Kehidupan di dunia ini bagaikan roda yang terus berputar. Ada kalanya kita berada di atas, merasakan kemudahan rezeki dan kelapangan harta. Namun ada kalanya kita diuji dengan kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, bisnis yang merugi, hingga harga kebutuhan pokok yang kian melambung.

Di saat-saat seperti inilah, kualitas iman kita sedang diuji. Apakah kita akan mengeluh dan menyalahkan takdir, ataukah kita memilih bersabar dan bertawakal kepada Allah?

Ketahuilah, kesulitan ekonomi dan berkurangnya harta bukanlah tanda bahwa Allah benci kepada kita. Itu adalah sunnatullah, ujian yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Ayat ini menegaskan bahwa "kekurangan harta" (naqshin minal amwaal) adalah ujian resmi dari langit. Namun, perhatikanlah akhir dari ayat tersebut. Allah tidak menyuruh kita putus asa, melainkan Allah berpesan: "Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Hadirin sekalian, Sabar dalam menghadapi ekonomi sulit bukan berarti kita pasrah tanpa usaha. Sabar yang sesungguhnya adalah: hati kita tidak berburuk sangka kepada Allah, lisan kita tidak mencaci maki keadaan, dan anggota tubuh kita tetap bergerak mencari rezeki yang halal (ikhtiar) tanpa tergoda untuk melakukan kecurangan demi uang cepat.

 Saat dompet menipis, ingatlah bahwa rezeki bukan hanya soal uang. Kesehatan fisik, anak-anak yang shalih, istri yang taat, dan lingkungan yang aman adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Jangan sampai kesulitan ekonomi yang sementara ini membuat kita menggadaikan akhirat kita.

 Tetaplah berikhtiar dan iringilah dengan tawakal. Sandarkan hasil akhirnya hanya kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 2: Tawakal yang Sebenar-benarnya Membuka Pintu Rezeki

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْأَرْزَاقَ بِيَدِ اللهِ، فَتَوَكَّلُوْا عَلَيْهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah, Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, khatib mengajak diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hadirin sekalian, salah satu kekhawatiran terbesar manusia modern hari ini adalah masalah masa depan ekonomi. Kekhawatiran tentang biaya sekolah anak, melunasi cicilan, hingga urusan dapur esok hari sering kali membuat dada terasa sesak dan pikiran menjadi stres.

Namun, sebagai seorang mukmin, kita memiliki satu senjata luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman, yaitu: Tawakal. Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah kita berusaha semaksimal mungkin.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang tawakal yang benar. Beliau bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang."

Perhatikan hadits tersebut, Jamaah sekalian. Burung itu tidak diam di sarangnya menunggu makanan turun dari langit. Ia terbang di pagi hari (ikhtiar) meskipun ia tidak tahu di mana makanan berada. Namun hatinya yakin sepenuhnya kepada Allah. Hasilnya? Ia pulang dalam keadaan kenyang.

Inilah tawakal yang sejati. Di tengah ekonomi yang sulit, kita diwajibkan untuk terus ikhtiar: mencari kerja, berdagang, dan berusaha. Namun, hati kita tidak boleh terpaku pada ikhtiar tersebut. Hati kita harus tertaut kepada Allah. Karena majikan kita bukanlah bos di kantor, melainkan Allah. Sumber rezeki kita bukanlah barang dagangan kita, melainkan Allah.

Allah berjanji bagi siapa saja yang menggabungkan ikhtiar yang halal dengan takwa dan tawakal, jalannya akan dibuka. Allah berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."

Maka, janganlah menyerah. Jika satu pintu rezeki tertutup, ketuklah pintu yang lain. Jika semua pintu di bumi terasa tertutup, ingatlah bahwa pintu langit tidak pernah terkunci bagi hamba-Nya yang menengadahkan tangan memohon kepada-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى نَبِيِّكُمْ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَأَبْوَابَ رِزْقِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ يَسِّرْ أُمُوْرَنَا وَاقْضِ دُيُوْنَنَا وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى... فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 3: Istighfar, Kunci Penarik Rezeki di Tengah Impitan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالِاسْتِغْفَارِ لِتَفْرِيْجِ الْكُرُبَاتِ وَجَلْبِ الْبَرَكَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، مَنْبَعِ الْجُوْدِ وَالْكَرَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالشِّيَمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ الزَّادِ.

Jamaah Jumat yang berbahagia, Mari senantiasa merawat rasa syukur dan takwa di dalam dada. Di tengah pasang surutnya kehidupan, takwa adalah sauh yang akan menjaga perahu kehidupan kita dari terjangan badai.

Pernahkah kita merasa sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga malam, sudah mencoba berbagai peluang bisnis, namun rezeki tetap terasa seret dan utang tak kunjung lunas? Jika ikhtiar fisik sudah dilakukan secara maksimal namun hasil masih jauh dari harapan, barangkali ada yang perlu kita evaluasi dari hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Bisa jadi, ada dosa dan maksiat yang menghalangi turunnya rahmat dan rezeki dari langit. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa seorang hamba bisa terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.

Oleh karena itu, hadirin sekalian, resep ilahiyah yang diajarkan oleh Al-Qur'an untuk membuka pintu rezeki di kala sulit bukanlah sekadar bekerja lebih keras, melainkan: Memperbanyak Istighfar.

Lihatlah apa yang difirmankan Allah menceritakan nasihat Nabi Nuh 'alaihissalam kepada kaumnya yang saat itu sedang ditimpa kemarau panjang, krisis ekonomi, dan kemiskinan. Dalam Surah Nuh ayat 10 sampai 12, Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'."

Ayat ini adalah jaminan dari Allah! Istighfar yang diucapkan dengan penuh penyesalan tidak hanya menghapus dosa, tetapi secara langsung berdampak pada urusan duniawi kita. Istighfar mendatangkan "amwaal" (harta kekayaan).

Seringkali kita merasa pintar mencari uang, pintar berhitung, tapi lupa bahwa rezeki itu milik Allah. Ketika ekonomi sulit, kita stres memikirkan inflasi, memikirkan saingan dagang, namun kita lupa untuk bersimpuh di sepertiga malam dan memohon ampun kepada-Nya.

Jadikanlah lisan ini basah dengan kalimat "Astaghfirullahal 'azhim". Ucapkan saat mengendarai motor ke tempat kerja, ucapkan saat menunggu pelanggan, ucapkan saat menatap wajah anak istri yang terlelap di malam hari. Insya Allah, Allah yang Maha Kaya akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak pernah kita duga.

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِلْمُتَّقِيْنَ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ، وَصَلُّوْا عَلَى مَنْ بُعِثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ فِي كِتَابِهِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا، وَأَمْدِدْنَا بِأَمْوَالٍ وَبَنِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا وَاسِعًا حَلَالًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ، يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 4: Yakinlah, Sesudah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا، وَبَعْدَ الضِّيْقِ فَرَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، مِفْتَاحِ أَبْوَابِ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ النُّجُوْمِ الزَّاهِرَةِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Dzat yang mengatur putaran siang dan malam, serta mengatur lapang dan sempitnya rezeki hamba-hamba-Nya dengan hikmah yang tak terhingga. Tak lupa shalawat dan salam kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Khatib berwasiat, mari kita perkuat ketakwaan kita, karena hanya dengan takwa, rintangan hidup seberat apa pun akan terasa lebih ringan dilalui.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Masa-masa sulit secara ekonomi sering kali membuat dada kita terasa sesak. Usaha yang merugi, pekerjaan yang hilang, atau utang yang menumpuk bisa mendatangkan kecemasan yang luar biasa. Pikiran kita terus bertanya, "Sampai kapan penderitaan ini berakhir?"

Sebagai seorang mukmin, kita memiliki Al-Qur'an sebagai obat penawar. Allah SWT menenangkan hati kita dengan kaidah Ilahiyah yang abadi. Di saat kita merasa terhimpit beban ekonomi, ingatlah firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Para ulama tafsir menjelaskan rahasia dari pengulangan ayat ini. Kata al-'usr (kesulitan) dalam bahasa Arab menggunakan alif-lam (makrifat), yang berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kata yusran (kemudahan) berbentuk nakirah (tanpa alif-lam), yang menunjukkan jumlah kemudahan yang banyak dan tidak terbatas. Artinya, satu kesulitan ekonomi yang sedang kita hadapi hari ini, dikelilingi oleh dua atau bahkan banyak kemudahan yang sedang Allah siapkan untuk kita.

Oleh karena itu, bersabarlah! Kesulitan ekonomi ini tidak akan abadi. Ia bagaikan mendung gelap yang menutupi langit; sebentar lagi akan turun hujan rahmat yang menumbuhkan tunas-tunas rezeki baru. Jangan biarkan kesulitan yang sementara ini merusak iman kita. Tetaplah melangkah, tetaplah berikhtiar mencari yang halal, dan iringilah keringat tersebut dengan doa dan tawakal.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْمُصْطَفَى، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ بَدِّلْ عُسْرَنَا يُسْرًا، وَضِيْقَنَا فَرَجًا، وَفَقْرَنَا غِنًى بِمَنْظُوْرِ رَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيْلًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا، وَتَوَكُّلًا خَالِصًا عَلَيْكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 5: Sabar Menahan Diri dari yang Haram Saat Ekonomi Sulit

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ لِعِبَادِهِ، وَقَسَمَهَا بِحِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الَّذِي لَا يَخِيْبُ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah, Di tengah naiknya harga barang dan susahnya mencari lapangan pekerjaan, ada satu godaan besar yang sering menghampiri kita: godaan untuk menempuh jalan pintas. Demi menutupi kebutuhan keluarga, terkadang seseorang nekat melakukan kecurangan, terlibat utang riba, mengambil pinjaman dengan bunga mencekik, atau bahkan merampas hak orang lain.

Khatib mengingatkan, inti dari kesabaran dalam urusan ekonomi adalah: Sabar menahan diri dari harta yang haram meskipun kita sedang sangat butuh.

Jangan pernah khawatir rezeki kita tertukar atau habis. Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya di muka bumi. Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

 Jamaah sekalian, jika rezeki seekor semut di dalam lubang batu saja Allah jamin, masakan rezeki seorang hamba yang sujud kepada-Nya akan Allah lupakan?

 Rezeki kita sudah ditakar. Ia tidak akan datang lebih cepat karena kecurangan kita, dan tidak akan datang lebih lambat karena kejujuran kita. Tugas kita di dunia ini bukanlah memusingkan nominalnya, melainkan menjaga sumbernya agar tetap halal. Sedikit tapi halal dan penuh keberkahan jauh lebih baik dan menyelamatkan kita dari api neraka, daripada tumpukan harta haram yang menghanguskan kebahagiaan keluarga.

Tawakallah kepada Allah. Bekerjalah sekuat tenaga dengan cara yang diridhai-Nya, pulanglah ke rumah dengan niat yang bersih, dan ridhalah dengan apa pun hasil yang Allah berikan hari itu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللَّهُمَّ قَنِّعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا كُلَّ غَائِبَةٍ لَنَا بِخَيْرٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 6: Qana'ah, Kunci Ketenangan di Tengah Krisis

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ رَضِيَ مِنَ عِبَادِهِ بِالْقَلِيْلِ مِنَ الْعَمَلِ، وَوَسِعَهُمْ بِمَا شَاءَ مِنَ الرِّزْقِ وَالْأَمَلِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ مِلَاكُ الْأَمْرِ كُلِّهِ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Mengawali khutbah ini, mari kita perbarui kembali takwa kita. Takwa adalah satu-satunya perbekalan yang tidak akan pernah terdepresiasi oleh inflasi, dan tidak akan pernah bangkrut termakan oleh krisis ekonomi dunia.

Hadirin sekalian, Sering kali rasa sempit, stres, dan hilangnya kesabaran dalam urusan ekonomi bukan bersumber dari rasa "kurang", melainkan dari kebiasaan "membanding-bandingkan". Kita merasa miskin karena kita melihat tetangga membeli mobil baru. Kita merasa serba kekurangan karena melihat postingan media sosial orang lain yang hidup mewah.

Rasulullah SAW telah mengajarkan resep jitu agar kita memiliki sifat Qana'ah (merasa cukup), sabar, dan tawakal. Beliau bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian."

Jika hari ini kita hanya makan dengan lauk seadanya, lihatlah mereka yang harus menahan lapar di jalanan karena tidak ada yang bisa dimakan. Jika hari ini kita harus memeras keringat mencicil kontrakan rumah, lihatlah mereka yang tidur beralaskan kardus di bawah jembatan.

Dengan melihat ke bawah dalam urusan harta, hati kita akan tenang. Kita akan menyadari bahwa betapapun sulitnya ekonomi kita saat ini, Allah masih sangat sayang kepada kita. Rasa syukur itulah yang akan mengundang turunnya keberkahan. Syukur dan tawakal membebaskan kita dari perbudakan materi, menjadikan hati kita kaya meskipun kantong kita sederhana.

Bekerjalah dengan gigih, tawakallah sepenuh hati, lalu terimalah pemberian Allah dengan rasa syukur dan qana'ah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْقَنَاعَةَ كَنْزًا لَا يَفْنَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ كَرِيْمٍ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ، الصَّابِرِيْنَ عَلَى بَلَائِكَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا خَاشِعًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا، وَعَمَلًا نَافِعًا حَلَالًا. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَأَعِنَّا عَلَى قَضَاءِ الدُّيُوْنِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Teks Khutbah 7: Pantang Berputus Asa dari Rahmat Allah

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الرَّجَاءَ فِي رَحْمَتِهِ سَبِيْلًا لِلنَّجَاةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بَعَثَهُ اللهُ مُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ وَلَا تَيْأَسُوْا مِنْ رَوْحِ اللهِ.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah, Di mimbar Jumat yang penuh berkah ini, khatib kembali mengingatkan pesan takwa kepada kita semua. Hanya dengan takwa, kehidupan ini akan terarah.

Hadirin sekalian, Berbagai tekanan kehidupan, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), atau jeratan masalah finansial tak jarang memukul mental seseorang hingga ke titik nadir. Tidak sedikit di luar sana saudara-saudara kita yang menyerah pada kehidupan karena merasa tidak sanggup lagi memikul beban ekonomi.

Agama Islam yang mulia ini mendidik umatnya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Seburuk apa pun kondisi dompet dan rekening kita, separah apa pun tagihan utang yang mengejar kita, seorang mukmin diharamkan untuk berputus asa.

Keputusasaan adalah tanda lemahnya tawakal dan tipisnya keyakinan akan kebesaran Allah. Dengarkanlah nasihat Nabi Ya'qub 'alaihissalam kepada anak-anaknya saat mereka berada di puncak penderitaan hidup, sebagaimana diabadikan dalam Surah Yusuf ayat 87:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."

 Rahmat Allah jauh lebih luas dari krisis finansial yang kita hadapi. Langit masih menurunkan hujan, bumi masih menumbuhkan tanaman, dan Allah yang Maha Kaya (Al-Ghaniyy) tidak pernah tidur memperhatikan usaha hamba-hamba-Nya.

 Jadikan tawakal sebagai pelita di saat gelap. Tawakal berarti kita menyadari kelemahan kita, lalu menyerahkan urusan tersebut kepada Dzat yang Maha Kuat. Mulailah esok hari dengan basmalah, carilah pekerjaan sehalal mungkin, berdaganglah sejujur mungkin, dan biarkan Allah yang mengatur hasilnya. Yakinlah, pertolongan Allah akan datang di saat yang paling tepat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Khatib duduk sejenak)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ عَلَى نَبِيِّهِ كَمَا قَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيْلًا وَفَرَجًا قَرِيْبًا. اَللَّهُمَّ اكْشِفْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ... وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

People also Ask:

Bagaimana cara agar kita selalu tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan?

Belajar ikhlas dan sabar dalam menghadapi masalah adalah kunci mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan dengan menerima takdir Allah, tidak emosional, serta yakin ada hikmah/kemudahan di balik kesulitan

Khutbah menyampaikan apa?

Khutbah berfungsi untuk menyampaikan pesan agama, memperbaiki akhlak umat, meningkatkan kesadaran sosial, dan memperkuat persatuan.

Bagaimana sikap orang yang sabar dalam menghadapi ujian Allah?

Sabar dalam ketaatan kepada Allah, yakni bersungguh-sungguh menjaga ibadah meski ada rasa lelah. Sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, yakni menahan diri dari godaan perbuatan dosa. Sabar dalam menerima takdir dan ketetapan Allah, yakni ikhlas menghadapi ujian hidup dengan hati yang ridha.

Mengapa kita harus bersikap sabar dan tabah jika mendapatkan cobaan?

Kita diminta bersabar saat musibah agar hati tetap tenang, meningkatkan derajat, menghapus dosa, dan mendapatkan pahala tak terbatas dari Allah. Sabar adalah bentuk keteguhan iman yang mendatangkan pertolongan Allah, membantu mengendalikan emosi, serta menjadi bukti prasangka baik (husnudzon) kepada ketentuan-Nya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |