7 Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sosial

1 month ago 33

Liputan6.com, Jakarta - Akhlak mulia merupakan inti dari risalah Islam dan pondasi kokoh bagi terwujudnya masyarakat yang berkah. Salah satu media efektif untuk mengingatkan hal itu adalah melalui khutbah Jumat.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90). Ayat ini menjadi pedoman dalam mengatur seluruh interaksi sosial kita, menyeru pada keadilan, ihsan, dan menjaga silaturahim.

Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin, menjelaskan penerapan akhlak mulia dalam keseharian dapat dimulai dari hal yang paling dekat, seperti bertutur santun, menepati janji, dan peduli terhadap tetangga. 

Berikut ini adalah 6 contoh teks khutbah jumat tentang akhlak mulia dalam kehidupan sosial, dari sumber-sumber kredibel.

1. Khutbah Jumat: Pelajar Berkemajuan, Membangun Bangsa Melalui Ilmu dan Akhlak Mulia

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas segala nikmat yang tiada tara, hingga kita mampu mengeksplorasi kekayaan yang Allah berikan.Sholawat berbingkai salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, manusia terbaik yang Allah ciptakan di muka Bumi untuk memberikan pencerahan bagi Ummatnya.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai kemajuan, pembaharuan, dan kemaslahatan bagi umat manusia. Islam bukanlah agama yang statis, melainkan agama yang dinamis dan relevan dengan perkembangan zaman

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk selalu menuntut ilmu dan berkembang dalam segala aspek kehidupan. Salah satu ayat yang sering kita dengar dalam konteks ini adalah perintah Allah dalam surah Al-Alaq ayat 1-5:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 1-5)

Ayat ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dimulai sejak usia dini dan berlanjut sepanjang hidup. Menjadi pelajar yang berkemajuan bukan hanya tentang mengejar prestasi akademik semata, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut dapat membawa kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi umat.

Islam Mengajarkan Pelajar Berkemajuan

Jamaah yang dirahmati Allah,Pelajar yang berkemajuan menurut ajaran Islam memiliki dua aspek utama yang harus dipegang teguh: ilmu dan akhlak. Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk memiliki pengetahuan, tetapi juga bagaimana mengamalkan ilmu tersebut dengan akhlak yang baik.

Menuntut Ilmu dengan Niat yang Ikhlas

Niat yang ikhlas adalah landasan pertama bagi seorang pelajar yang berkemajuan. Ketika kita menuntut ilmu, kita harus memastikan bahwa tujuan utama kita adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar untuk mendapatkan nilai atau pengakuan. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan niat yang ikhlas, ilmu yang kita pelajari akan menjadi berkah, dan kita akan mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Menerapkan Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari

Pelajar yang berkemajuan bukan hanya menghafal pelajaran di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)

Sebagai pelajar, kita harus belajar untuk memberikan manfaat kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ilmu yang kita pelajari harus diterapkan dalam bentuk tindakan yang membawa kebaikan, baik itu dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun dalam berinteraksi dengan sesama.

Akhlak yang Mulia

Seorang pelajar berkemajuan tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan akhlak yang baik. Akhlak yang mulia adalah salah satu cermin dari kesempurnaan ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari)

Pelajar yang berkemajuan akan selalu berusaha untuk menjauhi sifat sombong, iri hati, dan dengki, serta menjaga sikap hormat kepada guru, teman, dan orang tua. Dengan akhlak yang baik, kita dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

Peran Pelajar Berkemajuan dalam Masyarakat

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sebagai pelajar, kita tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap masyarakat dan bangsa. Kita harus menyadari bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan kita. Sebagai pelajar yang berkemajuan, kita harus berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Berperan dalam Pembangunan Pendidikan

Pelajar yang berkemajuan adalah mereka yang tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan di sekitarnya. Kita bisa berperan dalam menyebarkan ilmu kepada teman-teman, keluarga, atau masyarakat yang membutuhkan. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi kita terhadap kemajuan bangsa.

Menghadapi Tantangan Zaman dengan Sikap Positif

Tantangan zaman semakin kompleks. Oleh karena itu, pelajar yang berkemajuan harus memiliki keterampilan untuk beradaptasi dengan perubahan. Teknologi yang berkembang pesat, informasi yang begitu banyak, dan globalisasi yang semakin maju, menuntut kita untuk memiliki pemikiran yang kritis dan sikap yang positif dalam menyikapi setiap perkembangan.

Setelah kita merenung dan memahami pentingnya menjadi pelajar yang berkemajuan, marilah kita renungkan pula bagaimana cara kita mengimplementasikan ilmu yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Jangan biarkan ilmu yang kita peroleh hanya menjadi pengetahuan semata tanpa memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Sebagai pelajar, kita harus selalu menjaga akhlak dan perilaku kita. Dalam berinteraksi dengan teman, guru, dan masyarakat, kita harus mencontoh akhlak Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang, sabar, dan penuh kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Dengan akhlak yang baik, kita dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain, serta memberikan kontribusi nyata dalam membangun bangsa ini.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar diberikan kekuatan untuk terus berusaha menjadi pelajar yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia dan bermanfaat bagi umat. Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Aamiin.

Ingatlah selalu bahwa kemajuan bangsa ini sangat bergantung pada kualitas pelajarnya. Jika kita ingin Indonesia maju, maka kita harus berusaha menjadi pelajar yang berkualitas, yang tak hanya pintar dalam hal akademik, tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, serta bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

بارك الله لي ولكم فى القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلا وته إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ . اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

Oleh : Muhammad Rafli Ramadhan, Dai Muda Muhammadiyah, dinukil laman LDK Muhammadiyah

2. Khutbah Jum'at: Akhlak dan Perbaikan Diri

Khutbah I

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰ. وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَاَيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ  . أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SwT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa kita akan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Kita jadikan hidup ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri, meneladani akhlak Nabi Muhammad saw dan berusaha menjadi teladan di tengah masyarakat.

Kita tingkatkan takwa kepada Allah SwT dan memperbaiki akhlak kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan akhlak mulia, masyarakat akan damai, persaudaraan akan terjalin dan kita akan dimuliakan Allah SwT.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SwT

Islam diturunkan bukan hanya untuk mengatur ibadah mahdhah, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Aḥmad)

Akhlak adalah cerminan keimanan seseorang. Shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya akan terasa kosong bila tidak diiringi dengan akhlak yang baik. Betapa banyak orang yang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti, tangannya berbuat zalim dan hatinya penuh dengki.

Oleh sebab itu, memperbaiki akhlak berarti memperbaiki diri kita. Mulai dari hal yang sederhana: berkata jujur, menepati janji, menghormati orang tua, menjaga lisan dan tidak meremehkan orang lain. Allah SwT berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra‘d: 11)

Maka, mari kita jadikan hal ini sebagai pengingat agar kita terus memperbaiki diri, memperbaiki akhlak dan berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, tetangga dan masyarakat.

Agama Islam mengajarkan kita shalat, puasa, zakat dan haji. Namun semua itu harus tercermin dalam akhlak sehari-hari. Orang yang shalat tapi masih suka berdusta, orang yang berpuasa tapi masih suka menggunjing, orang yang sudah menunaikan ibadah haji tapi masih zalim, maka ibadahnya kehilangan ruh.

Seorang mukmin sejati bukan hanya rajin shalat dan puasa, tetapi juga menjaga lisannya, menepati janji, bersikap jujur, rendah hati, serta berbuat baik kepada sesama. Rasulullah SAW juga bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. at-Tirmizi

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SwT

Kita renungkan, betapa banyak masalah dalam masyarakat lahir karena rusaknya akhlak: saling menghina, menipu, korupsi, iri dengki dan permusuhan. Semua itu terjadi karena manusia jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.

Kita senantiasa harus terus memperbaiki diri dan menghiasi hidup dengan akhlak mulia.

Akhlak yang baik adalah bekal berharga seorang mukmin. Dengan akhlak yang baik seseorang dicintai Allah SWT, dicintai manusia dan dimuliakan di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

"Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlak yang baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat malam." (HR. Abu Dawud)

Senantiasa kita memohon kepada Allah SwT agar diberi kekuatan untuk memperindah akhlak kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْد

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Perbaikan diri dimulai dari hal kecil: menjaga lisan agar tidak menyakiti, berkata jujur, menepati janji, menahan amarah, dan berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah SAW bersabda:

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. at-Tirmiżī)

Kita harus terus memperbaiki diri dan memperindah akhlak kita. Mulailah dari rumah kita, keluarga kita, lalu masyarakat sekitar kita. Dengan akhlak yang baik, persaudaraan akan terjaga, kedamaian akan tercipta dan kita akan dicintai Allah SwT serta manusia.

Semoga kita semua termasuk hamba Allah SwT yang memperbaiki diri dan mendapat rahmat-Nya.

Mari kita berdoa kepada Allah SWT agar diberi kekuatan memperbaiki diri dan memperindah akhlak.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

Oleh: Affan Safani Adham, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Sumber: Majalah SM Edisi 21/2025

3. Teks Khutbah Jumat: Meraih Surga dengan Akhlak Mulia

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (آل عمران: ١٣٣-١٣٤)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Dalam kesempatan khutbah pada siang hari ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema: “Raih Surga dengan Akhlak Mulia”.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemuliaan akhlak adalah salah satu sifat para nabi, para wali, dan orang-orang shalih. Dengan kemuliaan akhlak, keluhuran derajat diperoleh dan surga tertinggi diraih. Allah subhanahu wa ta’ala memuji Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai insan yang berakhlak agung dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: ٤)

Maknanya: “Sesungguhnya engkau wahai Muhammad benar-benar berakhlak yang agung” (QS al-Qalam: 4).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan balasan bagi orang yang berakhlak mulia kelak di kehidupan akhirat dalam sabdanya:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ (رَوَاهُ أَبُو داودَ)

Maknanya: “Aku adalah penjamin istana di surga bagian bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan (yang tidak ada manfaatnya) meskipun ia benar, dan dengan istana di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, serta istana di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlak mulia” (HR Abu Dawud).

Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia,

Akhlak mulia mengandung tiga makna sekaligus yang tidak terpisahkan satu sama lain. Pertama, berbuat baik kepada semua orang, kepada siapa pun tanpa pandang bulu, tanpa berharap balasan dan imbalan apa pun dari orang yang kita perlakukan dengan baik.

Kita berbuat baik kepada seseorang bukan dengan niat supaya orang itu membalas kebaikan kita. Atau dengan niat agar orang itu juga memperlakukan kita dengan baik. Tidak. Kita berbuat baik kepada orang lain semata-mata dilandasi niat ingin menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, ini hal biasa. Hampir semua orang mampu melakukannya. Akan tetapi berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada kita, ini baru luar biasa. Sangat sedikit yang mampu melakukannya. Dan inilah yang disebut dengan kemuliaan akhlak.

Kedua, bersabar atas perlakukan buruk orang lain.

Ketiga, menahan diri untuk tidak berbuat buruk kepada orang lain.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Akhlak yang mulia adalah sebab tersebarnya kasih sayang dan saling cinta di kalangan masyarakat. Sebaliknya akhlak yang buruk biasanya melahirkan saling benci, saling hasud, dan saling dengki.

Marilah kita teladani apa yang dilakukan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang rabi (pendeta agama Yahudi).

Rabi itu bernama Zaid bin Sa’yah, atau lebih populer dengan panggilan Zaid bin Sa’nah. Ia pernah membaca di sebuah kitab kuno bahwa Nabi akhir zaman salah satu cirinya adalah perlakuan seburuk apa pun terhadapnya tidak akan menambahkan kepadanya kecuali sikap santun dan sabar.

Zaid kemudian ingin menguji apakah sifat itu ada pada diri Muhammad. Ia lalu memberi utang Nabi dengan utang yang disepakati temponya. Tiga hari sebelum jatuh tempo, Zaid mendatangi Nabi untuk menagih utang dengan kata-kata kasar yang memancing kemarahan Umar bin Khatthab.

Umar yang kala itu berada di dekat Nabi hampir saja mencelakai Zaid dan membunuhnya. Rasulullah dengan sabar dan santun spontan mencegah apa yang ingin dilakukan oleh Umar. Melihat hal itu, Zaid langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam. Masyaallah! Demikianlah yang terjadi jika seorang pendakwah berakhlak mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan yang sempurna bagi siapa pun yang ingin terjun berdakwah di tengah-tengah masyarakat.Lanjutan Khutbah IMa’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhlak yang mulia juga ditunjukkan oleh salah seorang cicit Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Imam Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum yang berjuluk as-Sajjad Zainal ‘Abidin. Suatu ketika beliau berwudhu dengan dibantu oleh salah seorang budak perempuannya.

Sang budak memegang sebuah teko (cerek) yang berisi air dan dituangkan sedikit demi sedikit untuk diambil Imam Zainal Abidin dan dibasuhkan ke anggota-anggota wudhu. Tiba-tiba teko itu lepas dari genggaman sang budak dan jatuh mengenai kepala Imam Zainal Abidin. Seketika kepala beliau luka dan mengucurkan darah. Budak perempuan itu gemetar badannya dan sangat takut. Lantas sang budak berkata: wahai tuanku,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

“(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang mampu menahan amarah”

Sang Imam berkata: “Aku telah menahan amarahku”

Budak itu melanjutkan potongan ayat berikutnya:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“(Orang-orang yang bertakwa juga adalah) mereka yang memaafkan kesalahan orang lain”

Imam Zainal Abidin berkata: “Aku telah memaafkanmu, silakan pergi, engkau sekarang aku merdekakan karena Allah ta’ala.”

Hadirin rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلَائقِ يَوْمَ القِيَامَةِ، حَتَّى يُخيِّرَهُ مِنْ أَيِّ الحُورِ شَاءَ (رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن)

Maknanya: “Siapa yang menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat hingga ia dipersilakan memilih bidadari mana yang ia kehendaki” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan ia berkata: Ini hadits hasan)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk mencapai derajat sebagai orang yang berakhlak mulia dibutuhkan perjuangan yang berat dan terus menerus melawan hawa nafsu. Ditambah lagi dengan perjuangan yang berat dan tiada henti melawan godaan setan. Oleh karena itulah, seseorang yang berakhlak mulia disejajarkan derajatnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang yang selalu menghidupkan malam dengan shalat-shalat malam dan berpuasa penuh sepanjang tahun kecuali lima hari yang diharamkan.

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ (رواه أبو داود)

Maknanya: “Sungguh, dengan kemuliaan akhlak, seorang Mukmin akan mencapai derajat orang yang berpuasa sepanjang tahun (kecuali lima hari yang diharamkan) dan mendirikan shalat malam sepanjang tahun” (HR Abu Dawud).

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggolongkan kemuliaan akhlak sebagai tanda kesempurnaan iman dalam sabdanya:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذي)

Maknanya: “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR at-Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُأَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Bidang Peribadatan & Hukum, Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Mojokerto

4. Khutbah Jumat: Pentingnya Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Khutbah I

اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا

 أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:

 فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan petunjuk kepada kita untuk memahami nilai-nilai luhur dalam Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mulia.

Hari ini, kita akan membahas tentang pentingnya etika dalam berbangsa dan bernegara. Dalam Islam etika biasa disebut dengan akhlak. Akhlak adalah bentuk jamak dari kata “khuluq”. Dalam Al-Quran, Allah berfirman,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4). Firman Allah ini menunjukkan bahwa akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan yang agung.

Dalam hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ​​

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Hal ini menegaskan bahwa misi utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kesempurnaan atau kebaikan akhlak seseorang dapat diukur sejauh mana kesamaannya dengan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk mengembangkan akhlak yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Sebab Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Marilah kita menjadikan akhlak yang luhur sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjalankan akhlak yang baik, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga memberikan kontribusi positif kepada masyarakat sekitar.

Jamaah jumat yang dimulaikan Alllah

Etika atau akhlak dalam Islam merupakan fondasi utama bagi perilaku seorang Muslim. Ketika manusia mengabaikan atau tidak memperhatikan prinsip-prinsip etika, ini dapat mengakibatkan konsekuensi serius. Akhlak yang baik memainkan peran penting dalam menjaga hubungan sosial. Tanpa etika, mungkin muncul ketidaksepahaman dan konflik di antara individu dan kelompok, mengancam stabilitas masyarakat.

Lebih lanjut, kita ditekankan untuk menjadi teladan positif bagi masyarakat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai contoh hidup yang sempurna, dan kita diminta untuk meneladani akhlaknya. Ketidakpatuhan terhadap etika juga dapat berdampak pada lingkungan, dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab menyebabkan kerusakan alam.

Marilah kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan akhlak kita, menjadikan Rasulullah sebagai panutan, dan menciptakan lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Dengan itu, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar kita.

Jamaah jumat yang berbahagia

Pentingnya etika tidak hanya dalam hubungan individu, tetapi juga dalam konteks berbangsa dan bernegara. Etika politik memiliki peran yang besar dalam membentuk tatanan masyarakat yang adil, harmonis, dan bermartabat.

Politik dapat menjadi jalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Politisi atau pemangku amanat umat, yang dengan sungguh-sungguh berupaya melaksanakan tanggung jawabnya, akan memperoleh pahala amal saleh.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al-‘ashr:2-3).

Bila seorang politisi telah menjadi pejabat yang memimpin masyarakat, maka hal terpenting ialah tidak boleh menggunakan kata-kata kasar. Rasulullah bersabda,

إِنَّ الله عزّ وجلّ لاَ يُحِبُ الفُحْشَ وَلَا التَفَحُش

“Sesungguhnya Allāh ‘azza wa jalla tidak suka dengan perbuatan keji dan kata-kata yang kotor (kasar).” (HR. Ahmad nomor 24735).

Kata-kata kasar seringkali keluar dari seseorang yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Oleh karena itu, seorang politisi harus memiliki keterampilan dalam menguasai emosi agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar membawa maslahat bagi masyarakat. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

 “Jangan kamu marah, maka bagimu Surga (akan masuk Surga).” (HR Ath-Thabrani).

Kebijakan yang dilandasi oleh kemarahan cenderung bersifat impulsif dan kurang mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Marilah kita sebagai umat Islam, khususnya para politisi, merenungkan petuah Rasulullah ini dalam setiap langkah politik yang diambil. Mengelola emosi, menahan diri dari kata-kata kasar, dan merancang kebijakan dengan pikiran yang tenang adalah langkah-langkah penting dalam memastikan bahwa setiap tindakan politik benar-benar memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Semoga Allah senantiasa memberikan kebijaksanaan dan ketenangan hati kepada setiap politisi, sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi umat dan negara.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ،

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Marilah kita berdoa kepada Allah. Ya Allah, kami mohon agar Engkau senantiasa memberikan kebijaksanaan kepada setiap politisi yang telah Engkau berikan amanah untuk memimpin dan mengurus urusan umat dan negara. Berikanlah kepada mereka pemahaman yang mendalam akan tanggung jawabnya, sehingga setiap keputusan dan kebijakan yang dihasilkan selalu mengedepankan kemaslahatan dan keadilan.

Ya Allah, Engkau Maha Pemberi ketenangan hati. Kami memohon agar Engkau memberikan ketenangan hati kepada para politisi, sehingga dalam setiap langkah-langkah mereka, mereka senantiasa mampu menahan diri dari kemarahan yang tidak terkendali. Berikanlah kepada mereka kesabaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan dan cobaan.

Ya Allah, kami berdoa agar setiap tindakan politik yang diambil oleh para pemimpin dan politisi menjadi bentuk amal yang membawa keberkahan bagi umat dan negara ini. Jadikanlah mereka sebagai pembawa rahmat dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Bimbinglah mereka dalam menjalankan tugasnya dengan penuh integritas dan kejujuran.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan pada negara ini. Jadikanlah setiap kebijakan dan tindakan politik sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan keadilan, dan membawa kedamaian. Lindungilah negara ini dari segala bentuk kerugian, kemudaratan, dan kezaliman.

 إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

 بَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Dinukil dari laman Muhammadiyah, tanpa penulis

5. Khutbah Jum’at : Menggapai Derajat Tertinggi dengan Akhlak Mulia

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jama’ah Jumat rahimakumullah,Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi tercermin dalam setiap perilaku kita sehari-hari.

Pada kesempatan yang mulia ini, khutbah Jumat kita akan membahas tema yang sangat penting dan relevan dalam kehidupan umat Islam, yaitu khutbah Jumat tentang akhlak mulia. Sebuah tema yang menjadi pondasi utama keberhasilan dakwah Rasulullah SAW dan tonggak utama kejayaan umat Islam.

Akhlak Mulia Adalah Cerminan KeimananAllah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menjadi bukti kuat bahwa akhlak adalah bagian terpenting dari agama. Rasulullah SAW tidak hanya datang membawa syariat, tetapi juga menanamkan akhlak mulia dalam setiap ajarannya. Dalam hadisnya beliau bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)

Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak mulia bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari ajaran Islam. Bahkan dalam Al-Qur’an, iman dan akhlak selalu berjalan beriringan. Maka siapa pun yang mengaku beriman, hendaknya menjadikan akhlak mulia sebagai identitasnya. Sebab akhlak yang baik adalah buah dari iman yang benar.

Buah dari Akhlak Mulia di Dunia dan AkhiratJama’ah yang dimuliakan Allah,Akhlak mulia bukan hanya menjadikan seseorang disegani oleh manusia, tetapi juga mengangkat derajatnya di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR. Abu Dawud)

Di dunia, akhlak mulia memudahkan kita menjalin hubungan sosial, mempererat silaturahim, dan menciptakan lingkungan yang damai. Di akhirat, akhlak baik menjadi pemberat amal kebaikan yang luar biasa.

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ketahuilah, akhlak yang baik tidak hanya membawa kebaikan di dunia, tapi juga menjadi pemberat amal di akhirat. Nabi SAW bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang baik.”(HR. Tirmidzi)

Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hariJama’ah yang dirahmati Allah,Lalu bagaimana kita meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan kita? Mari kita mulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar:

  • Kejujuran (ṣidq): Rasulullah dikenal sebagai “Al-Amin” karena kejujurannya, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi.
  • Kesabaran (ṣabr)Beliau selalu bersabar dalam menghadapi gangguan, hinaan, bahkan ancaman dari musuh-musuh Islam.
  • Rendah hati (tawāḍu’): Walaupun beliau pemimpin umat, Rasulullah tidak pernah menyombongkan diri, bahkan sering membantu urusan rumah tangga.
  • Kasih sayang dan empati: Rasulullah memperlakukan semua orang dengan kasih sayang, termasuk anak-anak, orang tua, bahkan non-Muslim.

Semua teladan ini hendaknya menjadi cermin dan pegangan kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya akhlak adalah buah dari keimanan yang kuat.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا

.أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى -عِبَادَ اللَّهِ- حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلَامِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ أَجْسَادَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى.ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.أَقِمِ الصَّلَاةَ

Sofarul Wildan Akhmad, Laman YP2SI Al Ummah Pekalongan

7. Khutbah Jumat: Berakhlak Mulia Dan Bersikap Wajar

أَلْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ اَّلذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ شَهِيْدًا وَ مُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا وَ دَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَ سِرَاجًا مُنِيْرًا وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ وَ قَيُّوْمُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث لأتمم مكارم الأخلاق المخلوقين رحمة للعالمين أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَ الْعَامِلِيْنَ بِسُنَّتِهِ وَ الدَّاعِيْنَ إِلَى شَرِيْعَتِهِ الرُّحَمَاءُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 Kaum Muslimin Yang dirahmati Allah..

Pada hari jumat yang mulia ini marilah kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, yakni dengan sekuat mungkin menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi tiap-tiap larangan-Nya, dalam kondisi apa pun. Saat sehat, sakit, kaya, miskin bahagia atau pun derita. Karena dengan ketakwaan itulah nilai sesungguhnya kita di sisi Allah Swt. Bukan harta, rupa atau pun tahta yang membuat kita bernilai di sisi Allah Swt. Tidak lain adalah ketakwaan kepada Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sungguh, yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa pada-Nya”

Kaum Muslimin Yang dirahmati Allah..

Hendaknya, di berbagai kesempatan,kita selalu berusah meningkatkan kedekatan kita kepada Allah Swt. Dan juga kepada Rasul-Nya. Cara meningkatkan kedekatan diri pada Rasulullah Saw. Ialah dengan mengingat kembali jasa-jasa beliau bagi kehidupan umat manusia, dan berusaha meneladani akhlak beliau di berbagai kondisi kehidupan. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah tauladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Rasululllah Saw. diutus tujuan utamanya ialah guna menyempurnakan ahklak manusia. Menata dan meningkatkan perilaku hidup umat manusia. Sebagaimana sabda beliau :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَا مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sungguh akau hanay diutus untuk menyempurnakan kemuliaan-kemulaiaan akhlak” (HR. Al-Bukhari).

Baca Juga: Khutbah Jum’at: Islam Agama yang Menyerukan Kesehatan

Kaum Muslimin Yang dirahmati Allah..

Berakhlak mulia bukan berarti selalu merendahkan diri kepada setiap orang, atau memuliakan orang lain dan menghinakan diri sendiri. Berakhlak mulai artinya adalah menempatkan segala sesuatu dengan tepat dan sesuai. Meninggikan yang harus ditingikan, dan merendahkan yang yang semestinya. Sayyidina Ali Kw. Menuturkan:

مَنْ أَنْزَلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ رَفَعَ الْمُؤُوْنَةَ عَنْ نَفْسِهِ وَ مَنْ رَفَعَ أَخَاهُ فَوْقَ قَدْرِهِ فَقَدْ إِجْتَرَّ عَدَاوَتَهُ

Artinya: “Barang siapa yang menempatkan orang lain dengan tepat, maka ia telah mengangkat harga dirinya. Dan barang siapa meninggikan saudaranya melebihi semestinya, maka sungguh ia telah menarik terjadinya permusuhan.”

Kaum Muslimin Yang dirahmati Allah..

Sikap wajar dalam menempatkan sesuatu inilah yang dinamakan akhlak terpuji. Jika kita tilik kembali pribadi Rasulullah adalah manusia yang bersikap proporsional. Selalu menempatkan sesuatu dengan tepat, sesuai situasi dan kondisinya.

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah Swt. Untuk bisa meneladani Rasulullah Saw. Agar hidup kita bisa tertata dan memberikan ketenteraman pada sekitar, dan tentunya agar menjadi manusia yang diridhai oleh Allah Swt.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Ditulis oleh Ichwan NM, dinukil dari Laman Ponpes Lirboyo

People Also Ask:

Apa saja contoh akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari?

Sikap adil, jujur, kasih sayang dan menghormati kepada sesama, ikhlas, dermawan, dan semacamnya seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Manakala dalam kehidupan ini sifat tersebut ada pada setiap orang, maka kehidupan ini akan damai, tenteram, dan bahagia.

Mengapa akhlak yang baik itu penting dalam kehidupan sosial?

Dengan memiliki akhlak yang baik, kita tidak hanya mendapatkan ridha Allah tetapi juga menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Marilah kita senantiasa berusaha untuk memperbaiki akhlak kita dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Fungsi sosial dari khutbah jumat?

Fungsi Sosial Khutbah: Dakwah, Pendidikan, dan Politik

Bahasa Arab memberikan kesakralan sekaligus legitimasi keagamaan, sementara bahasa Jawa menciptakan kedekatan emosional.

Apa contoh akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain?

Akhlak terhadap orang lain meliputi berbagai hal, namun tiga sikap utama yang perlu terus ditanamkan dan dibiasakan adalah sikap tolong-menolong, bersikap hormat, dan bersikap adil.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |