Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tengah menjadi sorotan di media sosial. Hal ini tidak lepas dari kebijakan-kebijakan yang ia buat di awal masa jabatannya menjadi orang nomor satu di Jawa Barat.
Sebelum Idul Fitri 1446 H, Dedi Mulyadi membuat kebijakan meliburkan angkutan perkotaan (angkot) trayek Bogor-Puncak selama seminggu setelah lebaran. Tujuannya untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di Puncak, Bogor saat libur lebaran. Sebagai kompensasinya, Dedi memberikan uang Rp1 juta dan sembako senilai Rp500 ribu.
Namun, realitanya di lapangan, berdasarkan pantauan Liputan6.com, masih ada angkot yang tetap menarik penumpang. Hal ini diketahui oleh Dedi Mulyadi. Gubernur Jawa Barat itu memberikan teguran agar para sopir angkot menyepakati kerja samanya.
Dedi Mulyadi dikenal sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan budaya. Mengingat ia asli orang Jawa Barat, maka budaya Sunda-nya sangat kental pada diri seorang Dedi Mulyadi. Karena budaya juga membuat Dedi Mulyadi memilih surganya NU (Nahdlatul Ulama).
Pernyataan Dedi Mulyadi ingin masuk surganya NU disampaikan kala ia menjadi Bupati Purwakarta pada Kamis, 6 April 2017. Kala itu, Dedi menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta.
Saksikan Video Pilihan Ini:
Mengintip Repotnya Merawat Bayi Kembar 3 di Cilacap
Kenapa Dedi Mulyadi Pilih Masuk Surganya NU?
Dalam seminar tersebut, Dedi yang mengenakan sarung mengungkapkan kesannya berada di tengah-tengah NU. Ia menilai NU memberikan pelajaran tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.
Dedi kemudian mengatakan keinginannya menjadi seorang Nahdliyin. Bahkan, ia juga menginginkan dirinya masuk surganya NU.
“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” kata Dedi Mulyadi kala itu, dinukil dari NU Online.
Dedi diketahui dekat dengan organisasi NU. Ke-NU-an seorang Dedi Mulyadi sejatinya tidak diragukan lagi, mengingat ia pernah menjadi Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purwakarta.
“Kami terus terang saja terkejut mendengar paparan Kang Dedi tentang NU. Jelas ini sangat mendasar bagi kami. Ditambah, beliau ini kan Wakil Ketua PCNU Purwakarta, ada SK-nya. Kami tidak meragukan ke-NU-an beliau,” kata Ketua DPC PKB Purwakarta Neng Supartini, Minggu, 28 Mei 2017.
Makna Sarung Menurut Dedi Mulyadi
Dalam seminar tentang sarung yang dihadiri Dedi Mulyadi, pria yang akrab disapa Kang Dedi ini menjelaskan bahwa sarung telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda, jika melihat sejarah kosmologinya.
“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” ujar Dedi.
Dalam perspektif budaya Sunda, sarung berasal dari kata “Sa” dan “Rung”. Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya.
Begitu juga dengan air. Manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara berlebihan akan mendatangkan bencana.
“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” sambung Dedi.