Liputan6.com, Jakarta - Di antara cobaan yang didapatkan manusia saat hidup di dunia adalah sakit. Beberapa di antaranya, sakit menahun atau berjangka waktu lama.
Berbagai upaya dilakukan demi mendapatkan kesembuhan. Selain usaha secara lahir dengan pengobatan, seorang muslim dianjurkan berdoa untuk kesembuhannya.
Allah SWT yang mendatangkan penyakit, maka Allah pula yang akan mengangkatnya.
Ulasan Ustadz Adi Hidayat (UAH) tentang dzikir bagi penderita penyakit menahun menjadi artikel terpopuler di kanal Islami Liputan6.com, Kamis (3/4/2025).
Artikel kedua yang juga menyita perhatian adalah puasa qadha Ramadhan dan puasa Syawal, mana yang harus didahulukan?
Sementara, artikel ketiga terpopuler adalah kisah Gus Baha yang dibikin malu oleh pedagang kecil di pasar tradisional.
Selengkapnya, mari simak Top 3 Islami.
Simak Video Pilihan Ini:
Heboh Embun Es Muncul pada Musim Penghujan, Pertanda Apa
1. Punya Sakit Menahun dan Sulit Sembuh? Amalkan Dzikir Ini, Yakin Penuh kepada Allah Kata UAH
Penyakit menahun sering kali menjadi ujian berat bagi seseorang. Tidak sedikit orang yang merasa putus asa ketika sakit menahun yang diderita tak kunjung sembuh meski sudah berusaha dengan berbagai cara.
Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan untuk tetap bersabar dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan selain pengobatan medis adalah dengan berdoa dan berdzikir.
Pendakwah muda, Ustadz Adi Hidayat (UAH), memberikan sebuah amalan dzikir yang diambil dari Al-Qur’an. Dzikir ini diyakini sebagai doa yang dapat membantu kesembuhan bagi siapa saja yang mengamalkannya dengan penuh keyakinan.
Dalam sebuah ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ada dzikir yang dapat dibaca bagi mereka yang sedang sakit atau memiliki keluarga yang menderita penyakit berat.
"Dzikir ini bukan sekadar bacaan biasa, tetapi memiliki makna mendalam," kata Ustadz Adi Hidayat yang dilansir dari sebuah tayangan video di kanal YouTube @zizalatul_arsy.
Dalam video tersebut, UAH menyampaikan dalil dari Al-Qur’an mengenai doa yang bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit.
2. Puasa Syawal atau Qadha Ramadhan, Mana yang Harus Didahulukan?
Setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan beberapa amalan sunnah sebagai penyempurna ibadah. Salah satunya adalah puasa Syawal, yang dilakukan selama enam hari setelah Idul Fitri.
Puasa ini memiliki keutamaan besar, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.
Namun, tidak semua umat Muslim dapat menjalankan puasa Ramadan dengan sempurna. Beberapa orang mungkin memiliki utang puasa yang harus diganti atau diqadha, baik karena alasan sakit, hamil, menyusui, atau alasan lainnya.
Puasa qadha adalah kewajiban, yang berarti bahwa orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan tidak dapat mengabaikannya. Sementara puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa namun waktunya lebih terbatas.
Lantas, apakah seseorang yang masih memiliki utang puasa boleh melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu, ataukah seharusnya menyelesaikan puasa qadhanya sebelum melaksanakan puasa sunnah ini?
3. Cerita Gus Baha Dibuat Malu saat Pergi ke Pasar, Pelajaran dari Pedagang Kecil
Pasar merupakan tempat yang penuh dengan dinamika kehidupan. Di sana, orang-orang berjuang mencari nafkah, bertukar barang, dan saling berinteraksi. Namun, siapa sangka bahwa seorang ulama besar seperti KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha ternyata sering berkunjung ke pasar?
Kebiasaan ini mungkin terdengar tidak biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Gus Baha, pasar bukan sekadar tempat transaksi jual beli, tetapi juga sarana untuk belajar banyak hal, terutama tentang rasa syukur.
Dalam sebuah ceramahnya, Gus Baha mengungkapkan bahwa ia memang sering pergi ke pasar, tentunya bukan pasar modern, melainkan pasar tradisional. Entah untuk membeli sayur-mayur atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Hal ini juga bisa dibuktikan oleh orang-orang yang tinggal di sekitar pasar dekat rumahnya.
Gus Baha menuturkan pengalamannya ini dalam sebuah ceramah yang dilansir dari kanal YouTube @SUDARNOPRANOTO. Dalam video tersebut, Gus Baha berbagi cerita yang cukup menarik tentang bagaimana pasar bisa menjadi cerminan kehidupan.
Salah satu hal yang paling membuatnya merasa malu bukanlah karena statusnya sebagai seorang ulama yang berbelanja di pasar, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa dari para pedagang kecil yang ia temui.
Menurutnya, ada banyak pedagang yang ketika mendapatkan uang Rp5.000 atau Rp10.000, mereka langsung mengucapkan syukur berulang kali. Hal ini yang membuatnya merasa malu di hadapan Allah.