Liputan6.com, Jakarta - Kata "Insya Allah" sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat Islam. Ungkapan ini sering digunakan ketika seseorang berjanji atau merencanakan sesuatu yang belum terjadi. Namun, bagaimana sebenarnya asal usul penggunaan kata ini dalam ajaran Islam?
Sejarahnya bermula dari peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi pertanyaan dari sekelompok orang Yahudi. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana manusia seharusnya selalu menggantungkan segala urusan kepada Allah SWT.
Ulama ahli tafsir asal Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengisahkan asal usul kata "Insya Allah" dalam sebuah ceramahnya. Penjelasan ini memberikan pemahaman lebih dalam tentang pentingnya bersandar kepada kehendak Allah dalam setiap rencana yang dibuat manusia.
Dalam tayangan video di kanal YouTube @SUDARNOPRANOTO, Gus Baha menjelaskan bahwa pada suatu waktu, Nabi Muhammad mendapat pertanyaan dari orang-orang Yahudi. Mereka bertanya tentang tiga hal yang menurut mereka hanya bisa dijawab oleh seorang nabi.
Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan sosok Zulkarnain, hakikat roh, dan kisah Luqman Al-Hakim. Dengan penuh keyakinan, Rasulullah menjawab bahwa esok hari jawaban atas pertanyaan itu akan diberikan.
Pada saat itu, Nabi begitu yakin bahwa malaikat Jibril akan datang untuk menyampaikan wahyu dari Allah seperti biasanya. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Jibril tidak datang keesokan harinya. Bahkan, hari-hari berikutnya pun wahyu yang diharapkan tidak turun. Situasi ini membuat orang-orang Yahudi semakin meragukan kenabian Muhammad.
Simak Video Pilihan Ini:
Menilik Ritual Siswa Penghayat Kepercayaan dalam Ujian Nasional
Malaikat Jibril Tak Kunjung Datang
Keadaan semakin sulit karena orang-orang Yahudi dikenal suka mencari-cari kesalahan. Mereka mulai memperolok dan mempertanyakan kebenaran ucapan Nabi.
Waktu terus berlalu, tetapi Jibril masih belum datang membawa wahyu. Nabi menunggu dalam keadaan penuh tekanan. Hingga akhirnya, setelah beberapa hari, malaikat Jibril datang dengan membawa jawaban dari Allah.
Namun, sebelum menyampaikan jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi, Jibril menyampaikan teguran dari Allah kepada Nabi Muhammad. Teguran ini berkaitan dengan ucapan yang sebelumnya disampaikan.
Jibril menyampaikan bahwa manusia tidak boleh memastikan sesuatu akan terjadi tanpa menyandarkannya kepada Allah. Seharusnya, ketika Nabi menjanjikan jawaban keesokan harinya, ia harus mengucapkan "Insya Allah," yang berarti "Jika Allah menghendaki."
Sejak saat itu, Nabi mulai mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu menyebut "Insya Allah" setiap kali berjanji atau merencanakan sesuatu di masa depan. Hal ini menegaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah.
Kata "Insya Allah" bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi juga menunjukkan kesadaran seseorang bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sepenuhnya dalam kendali Allah.
Gus Baha menekankan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi setiap Muslim. Tidak ada yang bisa memastikan masa depan, karena semua keputusan berada di tangan Allah.
Makna Kata 'Insya Allah'
Banyak orang mengucapkan "Insya Allah" hanya sebagai formalitas, padahal maknanya sangat dalam. Ungkapan ini mengajarkan sikap tawakal dan rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Dalam keseharian, sering kali manusia merasa yakin akan sesuatu tanpa mempertimbangkan takdir Allah. Padahal, tidak ada jaminan bahwa apa yang direncanakan akan berjalan sesuai keinginan.
Oleh karena itu, setiap Muslim seharusnya membiasakan diri untuk mengucapkan "Insya Allah" dengan penuh kesadaran. Ini bukan hanya soal adab berbicara, tetapi juga soal keyakinan terhadap kekuasaan Allah.
Kisah yang disampaikan dalam Al-Qur'an ini juga mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bahkan seorang nabi pun tidak memiliki kepastian tanpa izin dari Allah.
Gus Baha menjelaskan bahwa hikmah dari peristiwa ini adalah agar manusia selalu sadar bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka itu akan terjadi. Jika tidak, maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
Oleh sebab itu, penting bagi umat Islam untuk memahami makna sebenarnya dari kata "Insya Allah." Mengucapkannya dengan kesadaran yang benar akan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menghindarkan dari sikap sombong.
Kesimpulannya, kata "Insya Allah" bukan sekadar ucapan tanpa makna, tetapi merupakan pengingat bahwa manusia harus selalu bergantung kepada kehendak Allah dalam setiap rencana dan keputusan yang dibuat.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul