Liputan6.com, Jakarta Mandi wajib merupakan bagian penting dari penyucian diri dalam Islam, terutama setelah mengalami hadas besar. Dalam praktiknya, niat dan tata cara mandi wajib harus dilakukan dengan benar agar ibadah seperti salat, puasa, atau membaca Al-Qur'an menjadi sah.
Menjelang bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin. Salah satu caranya adalah dengan melaksanakan mandi wajib. Memahami niat dan tata cara mandi wajib menjadikan seseorang lebih siap secara spiritual dalam menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.
Dengan mengamalkan niat dan tata cara mandi wajib secara tepat, umat Muslim tidak hanya menjaga kebersihan fisik, tetapi juga memperkuat niat ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Kesadaran ini menjadi bekal penting dalam meraih pahala dan keberkahan di setiap amal yang dijalankan. Berikut Liputan6.com ulas selengkapnya.
Pengertian Mandi Wajib atau Junub
Mandi wajib atau yang dikenal dalam terminologi Islam sebagai ghusl (غُسْلٌ), adalah bentuk ibadah yang bertujuan untuk menyucikan diri dari hadas besar. Kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim yang mengalami kondisi seperti setelah berhubungan suami istri, keluarnya air mani, haid, atau nifas.
Ghusl bukan hanya proses membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga merupakan ibadah yang mengandung makna spiritual untuk mengembalikan kesucian diri sebelum menjalankan kewajiban keagamaan.
Mengutip buku berjudul Buku Tuntunan Lengkap Salat Wajib, Sunah, Doa, dan Zikir (2020) oleh Zakaria R. Rachman dijelaskan hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit. Dalam taharah yang dimaksud mandi adalah mandi wajib atau mandi janabat, yaitu aktivitas mengalirkan atau meratakan air ke seluruh permukaan kulit tubuh dengan niat dan tujuan menghilangkan hadas besar.
Kesucian adalah salah satu syarat utama dalam pelaksanaan ibadah-ibadah tertentu seperti salat, puasa, menyentuh mushaf Al-Qur'an, dan melakukan tawaf di sekitar Ka'bah. Oleh karena itu, mandi wajib menjadi langkah yang tidak bisa ditinggalkan. Proses ini tidak sekadar aktivitas kebersihan, melainkan bagian penting dari ketaatan seorang Muslim terhadap ketentuan syariat Islam.
Hukum melaksanakan mandi wajib adalah fardhu 'ain, artinya wajib dilakukan secara pribadi oleh setiap individu yang terkena hadas besar. Apabila seseorang belum melaksanakan mandi wajib, maka semua ibadah yang mensyaratkan keadaan suci tidak akan sah.
Penyebab Wajib Mandi
Ada beberapa kondisi yang mewajibkan seorang Muslim untuk melakukan mandi wajib. Memahami penyebab-penyebab ini sangat penting agar tidak menunda atau mengabaikan kewajiban yang berpengaruh terhadap kesucian diri serta keabsahan ibadah.
Adapun kondisi-kondisi yang mewajibkan mandi wajib antara lain sebagai berikut:
1. Keluarnya air mani, baik secara sengaja maupun tidak disengaja, seperti saat mimpi basah, yang keluar dari alat kelamin laki-laki maupun perempuan.
2. Berhubungan seksual (jimak), meskipun tidak disertai keluarnya mani, jika alat kelamin pria masuk ke dalam alat kelamin wanita, maka mandi wajib tetap diwajibkan.
3. Haid, yaitu darah kotor yang keluar dari rahim wanita secara rutin setiap bulan.
4. Nifas, yaitu darah yang keluar dari rahim wanita setelah proses persalinan.
5. Wiladah, yaitu keadaan setelah seorang wanita melahirkan, meskipun tidak mengeluarkan darah nifas.
6. Kematian, yakni jenazah seorang Muslim (selain yang wafat sebagai syahid) harus dimandikan oleh sesama Muslim.
7. Masuk Islam, bagi seseorang yang baru memeluk agama Islam (mualaf), dianjurkan untuk mandi wajib sebagai bentuk penyucian diri.
Rukun Mandi Wajib
Menurut mazhab Syafi'i, rukun mandi wajib terdiri dari tiga elemen penting yang harus dipenuhi agar ibadah ini sah. Ketiga rukun tersebut tidak boleh diabaikan karena akan memengaruhi keabsahan mandi wajib sebagai bentuk pensucian diri.
1. Niat (النيَّة)
Niat menjadi penentu utama dalam setiap ibadah. Dalam mandi wajib, niat dilakukan dalam hati untuk membedakan antara mandi karena kewajiban syariat dan mandi biasa. Niat harus dilakukan bersamaan dengan menyiramkan air pertama kali ke tubuh. Contoh bacaan niat dalam bahasa Arab: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ للهِ تَعَالَى "Saya niat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta'ala."
2. Menghilangkan najis (إزالة النجاسة)
Sebelum mulai menyiramkan air ke seluruh tubuh, pastikan tidak ada najis yang masih menempel. Najis harus dibersihkan terlebih dahulu agar tidak menghalangi sampainya air ke kulit. Proses ini merupakan bagian penting dari penyucian tubuh sebelum mandi wajib.
Mengutip kajian yang dipublikasikan di Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya Volume 1, Nomor 6 (2023), najis dikenal sebagai kotoran yang menjadi penghalang ibadah kepada Allah. Najis secara bahasa Arab, najis bermakna al qadzarah ( القَذَارَةُ ) yang artinya adalah kotoran.
Sedangkan definisi menurut istilah agama najis menurut definisi Asy Syafi’iyah adalah sesuatu yang dianggap kotor dan mencegah sahnya salat tanpa ada hal yang meringankan. Menurut Al Malikiyah, najis adalah sifat hukum suatu benda yangmengharuskan seseorang tercegah dari kebolehan melakukan salat bila terkena atau berada di dalamnya.
3. Meratakan air ke seluruh tubuh (تَعْمِيمُ الْمَاءِ عَلَى الْبَدَنِ)
Seluruh bagian luar tubuh, termasuk rambut, kulit kepala, lipatan tubuh, dan bagian tersembunyi lainnya harus tersiram air hingga basah merata. Untuk bagian tubuh yang memiliki rambut atau bulu tebal, air harus sampai ke pangkal rambut dan kulit di bawahnya agar tidak ada bagian yang tertinggal kering.
Niat Mandi Wajib
Niat merupakan rukun utama dalam mandi wajib dan harus diucapkan dalam hati sebelum memulai proses penyucian. Walaupun cukup diniatkan dalam hati, melafalkannya secara lisan diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk membantu menghadirkan kesungguhan dalam beribadah. Lafal niat dapat disesuaikan dengan penyebab kewajiban mandi tersebut.
1. Niat Mandi Wajib Umum (Untuk Menghilangkan Hadas Besar)
Arab: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari lillahi ta'ala
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Mandi Junub (Setelah Berhubungan Intim atau Keluar Mani)
Arab: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari minal janabati fardhan lillahi ta'ala
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari janabah, fardhu karena Allah Ta’ala.”
Versi Ringkas:
Latin: Nawaitul ghusla li raf’il janabati
Artinya: “Aku berniat mandi untuk menghilangkan junub.”
3. Niat Mandi Setelah Haid
Latin: Nawaitul ghusla li raf’i hadatsil haidil lillahi ta'ala
Artinya: “Aku berniat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta’ala.”
4. Niat Mandi Setelah Nifas
Latin: Nawaitul ghusla li raf’i hadatsin nifasi lillahi ta’ala
Artinya: “Aku berniat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Mandi Wajib
Setelah memahami niat, langkah berikutnya adalah melaksanakan tata cara mandi wajib yang terdiri dari rukun dan sunah agar ibadah menjadi sempurna:
1. Membaca Niat
Niat dalam hati saat air pertama menyentuh tubuh.
- Arab: نَوَيْتُ غُسْلَ الْجَنَابَةِ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ لِلَّهِ تَعَالَى
- Latin: Nawaitu ghuslal janābati li raf'il ḥadatsil akbari lillāhi ta‘ālā
- Artinya: "Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta‘ala."
2. Membaca Basmalah
Sebelum memulai mandi, dianjurkan membaca Bismillāh.
3. Mencuci Kedua Telapak Tangan
Cuci tangan sebanyak tiga kali.
4. Membersihkan Kemaluan dan Najis
Bersihkan kemaluan dan bagian tubuh yang terkena najis menggunakan tangan kiri, lalu cuci tangan kembali dengan sabun atau yang lain.
5. Berwudu
Lakukan wudu seperti hendak salat. Beberapa ulama membolehkan mencuci kaki di akhir proses mandi.
6. Membasahi Kepala
Siram kepala tiga kali hingga air meresap ke kulit kepala. Disunnahkan menyela rambut untuk laki-laki. Untuk wanita, menyela rambut tidak wajib jika air bisa meresap ke kulit kepala.
7. Menyiram Seluruh Tubuh
Guyur air ke seluruh tubuh mulai dari sisi kanan, lalu kiri. Pastikan seluruh bagian tubuh termasuk lipatan-lipatan terkena air.
8. Menggosok Tubuh
Gosok tubuh agar air merata dan kotoran terangkat.
9. Mencuci Kedua Kaki (jika belum saat wudu)
Jika belum dicuci saat wudu, cuci kaki dimulai dari kanan lalu kiri.
Hal-hal yang Menyebabkan Mandi Wajib Tidak Sah
Mandi wajib adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki aturan dan ketentuan khusus dalam pelaksanaannya. Jika dilakukan dengan cara yang tidak sesuai syariat, maka mandi wajib tersebut bisa dinyatakan tidak sah.
Ketidaksahan ini berakibat pada tidak sahnya ibadah-ibadah lain yang mensyaratkan kesucian, seperti salat dan puasa. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami hal-hal yang dapat membatalkan atau membuat mandi wajib tidak sah. Berikut beberapa penyebab yang perlu dihindari:
1. Menggunakan Sabun atau Sampo saat Proses Utama Mandi Wajib
Air yang digunakan untuk mandi wajib haruslah air suci dan menyucikan (air mutlak). Jika selama proses utama mandi wajib langsung menggunakan sabun, sampo, atau zat tambahan lainnya, maka dikhawatirkan air tersebut berubah sifat dan tidak lagi tergolong sebagai air suci. Akibatnya, mandi wajib menjadi tidak sah karena air tersebut tidak lagi mampu mengangkat hadas besar.
2. Tidak Menyelesaikan Niat dan Tata Cara dengan Benar
Mandi wajib tidak hanya sekadar membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga mencakup unsur niat dan tata cara yang benar. Jika seseorang melalaikan niat sebelum menyiram seluruh tubuh dengan air suci, maka mandi tersebut tidak sah. Demikian juga jika ada bagian tubuh yang tidak terkena air sama sekali, seperti lipatan kulit atau sela-sela rambut yang tebal, maka mandi wajib dinyatakan belum sempurna.
3. Menggunakan Air yang Tidak Memenuhi Syarat
Air yang keruh karena sabun atau campuran lain, air daur ulang yang sudah tercampur kotoran, atau air yang telah berubah warna dan bau bukan karena faktor alami, tidak memenuhi syarat sebagai alat penyucian. Mandi wajib dengan jenis air ini akan dianggap tidak sah karena tidak dapat menghilangkan hadas secara syar’i.
4. Mendahulukan Sabun sebelum Menyelesaikan Mandi Wajib
Sebagian orang mungkin terbiasa menggosok tubuh dengan sabun sebelum menyiram seluruh bagian tubuh. Dalam konteks mandi wajib, hal ini perlu diperhatikan. Penggunaan sabun sebaiknya dilakukan setelah seluruh bagian tubuh disiram dengan air suci dan niat telah dilafalkan di awal. Barulah setelah itu, sabun atau produk kebersihan lainnya dapat digunakan untuk mandi biasa.
5. Tidak Menyiram Seluruh Tubuh secara Merata
Salah satu syarat sah mandi wajib adalah seluruh bagian tubuh harus terkena air, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, termasuk bagian-bagian tersembunyi seperti ketiak, pusar, dan sela-sela jari. Jika ada bagian tubuh yang tertinggal atau sengaja tidak disiram, maka mandi wajib tidak sempurna dan tidak dapat dianggap sah menurut hukum Islam.
Doa Setelah Mandi Wajib
Setelah melaksanakan seluruh niat dan tata cara mandi wajib dengan benar, dianjurkan untuk membaca doa sebagai bentuk penyempurnaan ibadah. Doa ini merupakan ungkapan syukur atas nikmat kesucian, serta permohonan agar amalan diterima dan diri senantiasa dibimbing menuju kebaikan.
Membaca doa setelah mandi wajib juga mencerminkan niat tulus seorang Muslim untuk menjadi pribadi yang bersih lahir batin, serta bagian dari hamba-hamba Allah yang bertakwa dan senantiasa bertobat.
Mengutip buku berjudul Pesan-Pesan Moral untuk Meraih Sukses, Mulia, dan Selamat (2022) oleh Prof. DR. Miftah Faridl dijelaskan doa adalah senjata ampuh orang mukmin.
Doa adalah meminta dan menyerahkan diri kepada Allah. Semakin banyak berdoa, semakin dekat dengan Allah. Banyak berdoa adalah salah satu tanda keimanan, sedangkan malas berdoa adalah bagian dari kekeliruan.
Berikut adalah doa setelah mandi wajib:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْنِي مِنَ ٱلتَّوَّابِينَ، وَٱجْعَلْنِي مِنَ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ، وَٱجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ.
Latin:
Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allaahummaj‘alnii minat-tawwaabiin, waj‘alnii minal-mutathohhiriin, waj‘alnii min ‘ibaadikas-shaalihiin.
Artinya:
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, orang-orang yang suci, dan hamba-hamba-Mu yang saleh."
Sumber:
- Buku berjudul Buku Tuntunan Lengkap Salat Wajib, Sunah, Doa, dan Zikir (2020) oleh Zakaria R. Rachman
- Kajian berjudul Pembagian Najis dalam Agama Islam dipublikasikan di Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya Volume 1, Nomor 6 (2023)
- Buku berjudul Pesan-Pesan Moral untuk Meraih Sukses, Mulia, dan Selamat (2022) oleh Prof. DR. Miftah Faridl
Q & A Seputar Topik
Apa yang dimaksud dengan mandi wajib?
Mandi wajib adalah mandi yang dilakukan untuk menghilangkan hadas besar, seperti setelah junub, haid, atau nifas. Tujuannya adalah untuk kembali suci dan bisa melaksanakan ibadah seperti salat dan membaca Al-Qur'an.
Bagaimana lafaz niat mandi wajib dalam bahasa Arab dan artinya?
Lafaz niat mandi wajib dalam bahasa Arab adalah: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى Artinya: "Saya niat mandi untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah Ta'ala." Niat cukup dibaca dalam hati, bersamaan dengan siraman air pertama ke tubuh.
Apakah boleh memakai sabun atau sampo saat mandi wajib?
Boleh memakai sabun dan sampo, tetapi setelah seluruh rangkaian mandi wajib selesai dilakukan dengan air suci (air mutlak). Sabun dan sampo tidak boleh digunakan selama proses mandi wajib karena dapat mengubah sifat air sebagai alat penyucian.
Apa saja langkah-langkah tata cara mandi wajib yang benar?
Tata cara mandi wajib meliputi:
- Membaca basmalah dan niat
- Mencuci kedua tangan
- Membersihkan kemaluan dan kotoran
- Berwudu seperti untuk salat
- Menyiram kepala hingga ke akar rambut
- Mengguyur seluruh tubuh, mulai dari kanan lalu kiri
- Menggosok tubuh dan memastikan air merata
- Mencuci kaki (jika belum dicuci saat wudu)
Apakah wanita harus membasahi seluruh rambut saat mandi wajib?
Jika rambut wanita diikat dan air tetap bisa meresap hingga ke kulit kepala, maka tidak perlu melepas ikatannya. Namun, jika ikatan rambut terlalu kencang dan menghalangi air mencapai kulit kepala, maka ikatannya harus dilepas agar air dapat membasahi seluruh bagian kepala.