Liputan6.com, Jakarta Setelah selesai haid, setiap Muslimah diwajibkan menyucikan diri agar bisa kembali beribadah. Untuk itu, penting memahami tata cara mandi wajib setelah haid agar pelaksanaannya sah menurut syariat.
Mandi wajib memiliki rukun dan syarat tertentu, seperti niat dan membasahi seluruh tubuh. Mengetahui tata cara mandi wajib setelah haid membantu menghindari kesalahan yang bisa membatalkan mandi tersebut.
Pelaksanaan tata cara mandi wajib setelah haid juga mencerminkan ketaatan kepada Allah SWT. Selain membersihkan fisik, mandi ini adalah bentuk ibadah yang menunjukkan kesiapan spiritual seorang Muslimah.
Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang penjelasan lengkap tata cara mandi wajib setelah haid.
Dalil Kewajiban Mandi Setelah Haid
Mengutip kajian yang dipublikasikan di Journal of Vocational Health Studies 02 (2018), menstruasi merupakan pendarahan secara periodik dan siklis dari uterus yang disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro, 2005). Sedangkan menurut Prawirohardjo (2011), pendarahan haid merupakan hasil interaksi kompleks yang melibatkan sistem hormon dengan organ tubuh, yaitu hipotalamus, hipofisis, ovarium dan uterus.
Mengutip kajian yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia Vol 7, No 1, 2024, menstruasi merupakan perdarahan yang teratur dari uterus sebagai tanda bahwa organ kandungannya telah berfungsi dengan matang. Pada umumnya, remaja akan mengalami menarche pada usia 12 sampai dengan 16 tahun.
Kewajiban mandi setelah haid memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan menjadi bagian penting dari tuntunan syariat mengenai kebersihan dan ibadah. Islam memandang kesucian sebagai syarat utama dalam menjalankan ibadah tertentu, terutama salat. Oleh karena itu, memahami dan menjalankan tata cara mandi wajib setelah haid merupakan bentuk ketaatan seorang Muslimah dalam menjaga kesucian lahir dan batin.
Allah SWT secara jelas memerintahkan umat-Nya untuk bersuci setelah haid melalui firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 222:
"Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: 'Itu adalah suatu kotoran.' Maka jauhilah istri-istri pada waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci (telah mandi), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu..."
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan kewajiban untuk mandi setelah haid sebelum kembali melakukan hubungan suami istri dan beribadah. Ini menjadi dalil utama bahwa mandi wajib merupakan langkah penyucian yang harus dilakukan.
Selain dalil Al-Qur’an, hadis-hadis sahih juga menegaskan kewajiban ini. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda kepada seorang perempuan yang selesai haid:
"Ambillah air dan bersucilah dengan baik, lalu tuangkan air ke atas kepalamu dan gosoklah dengan kuat agar air meresap ke kulit kepala." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan secara praktis tata cara mandi wajib setelah haid yang sesuai tuntunan Nabi, yaitu membasahi seluruh tubuh termasuk rambut dan kulit kepala dengan niat untuk menghilangkan hadas besar.
Rukun Mandi Wajib
Agar tata cara mandi wajib setelah haid dianggap sah, seorang Muslimah harus memenuhi beberapa rukun yang telah ditetapkan dalam fikih Islam. Rukun-rukun ini merupakan elemen utama dan tidak boleh diabaikan. Jika salah satu tidak terpenuhi, maka mandi wajib dianggap tidak sah, dan kewajiban bersuci belum gugur. Berikut adalah rukun mandi wajib menurut mazhab Syafi’i:
1. Niat
Niat merupakan rukun pertama dan paling mendasar dalam mandi wajib. Seorang Muslimah harus berniat dalam hati untuk mengangkat hadas besar, dalam hal ini akibat haid. Niat ini dilakukan bersamaan saat membasuhkan air pertama ke tubuh, dan harus tulus semata-mata karena Allah SWT. Dalil mengenai pentingnya niat ini adalah hadis Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Meratakan Air ke Seluruh Tubuh
Rukun kedua adalah membasuh seluruh bagian tubuh secara merata. Artinya, tidak boleh ada bagian tubuh yang luput dari air, termasuk lipatan-lipatan kulit, sela-sela jari, pangkal rambut, dan bagian tersembunyi lainnya. Hal ini sesuai dengan prinsip menyucikan diri secara menyeluruh yang diajarkan dalam Islam.
3. Menghilangkan Najis
Sebelum mandi wajib dilakukan, najis yang menempel pada tubuh, seperti sisa darah haid, harus dibersihkan terlebih dahulu. Hal ini penting agar air yang digunakan dalam mandi wajib tidak tercemar oleh najis, sehingga proses penyucian benar-benar sah menurut syariat.
Lafal Niat Mandi Wajib Setelah Haid
Mengutip buku berjudul Buku Tuntunan Lengkap Salat Wajib, Sunah, Doa, dan Zikir (2020) oleh Zakaria R. Rachman dijelaskan hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.
Dalam taharah yang dimaksud mandi adalah mandi wajib atau mandi janabat, yaitu aktivitas mengalirkan atau meratakan air ke seluruh permukaan kulit tubuh dengan niat dan tujuan menghilangkan hadas besar. Mandi wajib ini dilakukan dengan cara membasuh seluruh tubuh dimulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Niat merupakan rukun pertama dan paling utama dalam pelaksanaan mandi wajib setelah haid. Tanpa niat, maka mandi wajib tidak sah secara syar'i. Niat menjadi pembeda antara mandi biasa dan mandi untuk mengangkat hadas besar. Oleh karena itu, memahami dan menghadirkan niat secara benar sangatlah penting.
Dalam mazhab Syafi’i, niat cukup dilakukan di dalam hati, meskipun boleh juga diucapkan dengan lisan untuk membantu menghadirkan kesadaran. Yang terpenting adalah kehendak hati yang ditujukan kepada Allah SWT untuk bersuci dari hadas besar.
Berikut beberapa lafal niat mandi wajib setelah haid yang umum digunakan:
1. Lafal Niat Pertama (yang paling sering digunakan):
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ مِنَ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul ghusla liraf‘il ḥadatsil akbari minal ḥaidi lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dari haid karena Allah Ta'ala.”
2. Lafal Niat Kedua (variasi lain yang juga sah):
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَيْضِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul ghusla liraf‘il ḥaidi farḍan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan haid sebagai kewajiban karena Allah Ta'ala.”
Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid
Setelah memahami rukun dan niat, kini saatnya membahas langkah-langkah praktis dalam melaksanakan tata cara mandi wajib setelah haid. Urutan langkah ini penting untuk diikuti agar mandi wajib berjalan sempurna dan sah. Setiap tahapan memiliki tujuan spesifik dalam proses pensucian.
Berikut adalah urutan langkah-langkah yang dianjurkan:
- Membaca niat di awal proses mandi.
- Mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
- Membersihkan kemaluan dan area tersembunyi lainnya dari kotoran menggunakan tangan kiri.
- Mencuci tangan dengan sabun atau tanah setelah membersihkan kotoran.
- Berwudu secara sempurna seperti hendak salat.
- Mengguyur air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyela pangkal rambut hingga air mencapai kulit kepala.
- Mengguyur air ke seluruh badan, dimulai dari sisi kanan kemudian dilanjutkan ke sisi kiri. Pastikan seluruh lipatan tubuh dan bagian tersembunyi terkena air.
- Melanjutkan mandi seperti biasa dengan menggunakan sampo, sabun, dan perlengkapan mandi lainnya.
Melaksanakan langkah-langkah ini dengan cermat akan memastikan seluruh tubuh tersentuh air secara merata. Ini adalah kunci utama dalam mencapai kesucian yang disyaratkan.
Amalan Sunnah dalam Mandi Wajib
Selain rukun yang wajib, terdapat pula beberapa amalan sunnah yang dapat menyempurnakan tata cara mandi wajib setelah haid. Melakukan sunnah-sunnah ini akan menambah pahala dan keberkahan dalam proses pensucian diri. Meskipun tidak wajib, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya.
Beberapa amalan sunnah tersebut antara lain:
- Membaca basmalah sebelum memulai mandi.
- Menghadap kiblat saat mandi.
- Membaca niat di dalam hati dengan maksud berzikir, bukan membaca Al-Qur'an.
- Membasuh kedua telapak tangan.
- Menghilangkan kotoran yang menempel pada tubuh.
- Berwudu sebelum mandi.
- Meratakan air pada bagian-bagian lekuk tubuh.
- Menyela ujung rambut sebanyak tiga kali.
- Menggosok seluruh badan hingga bersih.
- Tidak berlebihan dalam menggunakan air.
Doa dan Waktu Terbaik Mandi Wajib
Setelah melaksanakan seluruh tata cara mandi wajib setelah haid, seorang Muslimah dianjurkan untuk membaca doa sebagai bentuk penyempurna ibadah. Doa ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas kesucian yang telah diperoleh, tetapi juga sebagai permohonan agar senantiasa termasuk golongan orang-orang yang bersih dan bertakwa. Membaca doa setelah mandi wajib juga menjadi penanda bahwa proses pensucian dari hadas besar telah selesai dengan sempurna.
Mengutip buku berjudul Pesan-Pesan Moral untuk Meraih Sukses, Mulia, dan Selamat (2022) oleh Prof. DR. Miftah Faridl dijelaskan doa adalah senjata ampuh orang mukmin. Doa adalah meminta dan menyerahkan diri kepada Allah. Semakin banyak berdoa, semakin dekat dengan Allah. Banyak berdoa adalah salah satu tanda keimanan, sedangkan malas berdoa adalah bagian dari kekeliruan.
Lafal Doa Setelah Mandi Wajib
Berikut adalah lafal doa yang disunnahkan untuk dibaca setelah mandi wajib:
"أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ."
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, orang-orang yang menyucikan diri, dan golongan hamba-Mu yang saleh.”
Doa ini mencerminkan kesadaran spiritual dan keinginan untuk terus berada dalam keadaan suci, baik lahir maupun batin.
Waktu Terbaik untuk Melakukan Mandi Wajib
Waktu pelaksanaan mandi wajib juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan agar ibadah tetap sah dan tepat waktu. Berikut poin-poin yang menjelaskan waktu terbaik mandi wajib:
1. Setelah Darah Haid Benar-Benar Berhenti
Mandi wajib dilakukan hanya setelah yakin bahwa darah haid telah berhenti sepenuhnya. Melakukan mandi sebelum haid selesai tidak sah dan tidak mengangkat hadas besar.
2. Segera Setelah Suci
Disunnahkan untuk tidak menunda mandi wajib setelah darah berhenti, agar segera dapat kembali menjalankan ibadah seperti salat, puasa, atau membaca Al-Qur'an.
3. Sebelum Masuk Waktu Salat Berikutnya
Idealnya, mandi wajib dilakukan sebelum waktu salat wajib berikutnya tiba. Hal ini penting agar tidak terlewat dalam menjalankan kewajiban ibadah harian dalam keadaan suci.
4. Sebelum Fajar Jika Ingin Berpuasa
Jika haid selesai di malam hari dan ingin menjalankan puasa keesokan harinya, maka mandi wajib sebaiknya dilakukan sebelum waktu Subuh agar puasanya sah.
Sumber:
- Kajian berjudul Terapi Menstruasi Tidak Teratur dengan Akupunktur dan Herbal Pegagan (Centella asiatica (L.)) dipublikasikan di Journal of Vocational Health Studies 02 (2018)
- Kajian berjudul Hubungan antara Pengetahuan tentang Menstruasi dan Kesiapan Menghadapi menarche pada Siswi Sekolah Dasar di Kota Tangerang Selatan dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia Vol 7, No 1, 2024
- Buku berjudul Buku Tuntunan Lengkap Salat Wajib, Sunah, Doa, dan Zikir (2020) oleh Zakaria R. Rachman
- Buku berjudul Pesan-Pesan Moral untuk Meraih Sukses, Mulia, dan Selamat (2022) oleh Prof. DR. Miftah Faridl
Q & A Seputar Topik
Kapan waktu yang tepat untuk mandi wajib setelah haid?
Waktu yang tepat untuk mandi wajib adalah setelah darah haid benar-benar berhenti. Seorang wanita sebaiknya segera mandi wajib agar bisa kembali melaksanakan ibadah seperti salat dan puasa tepat waktu. Idealnya dilakukan sebelum waktu salat berikutnya tiba.
Apa saja rukun mandi wajib menurut mazhab Syafi’i?
Ada tiga rukun utama:
- Niat, yaitu berniat mandi untuk mengangkat hadas besar karena haid.
- Meratakan air ke seluruh tubuh, termasuk sela-sela rambut dan lipatan kulit.
- Menghilangkan najis, jika ada kotoran seperti darah yang masih menempel sebelum atau saat mandi.
Apakah niat mandi wajib harus diucapkan secara lisan?
Niat cukup dilakukan dalam hati, karena yang terpenting adalah kehadiran niat saat memulai mandi. Namun, mengucapkannya secara lisan juga diperbolehkan sebagai bentuk penguatan niat.
Bolehkah mandi wajib dilakukan dengan shower atau pancuran?
Boleh. Mandi wajib tetap sah selama air mengenai seluruh bagian tubuh secara merata, termasuk bagian-bagian tersembunyi, meskipun menggunakan shower, gayung, atau alat lainnya.
Apakah membaca doa setelah mandi wajib itu wajib?
Membaca doa setelah mandi wajib tidak wajib, melainkan sunnah. Doa ini dianjurkan sebagai bentuk rasa syukur dan pengakuan atas kesucian diri setelah melaksanakan mandi wajib.