Liputan6.com, Jakarta Al-Khansa binti Amr bin al-Harith adalah seorang penyair perempuan asal Najd, Arab Saudi, yang hidup pada masa pra-Islam hingga masa Nabi Muhammad SAW. Ia dikenal karena karya puisinya yang penuh kesedihan, terutama elegi untuk kedua saudaranya yang gugur dalam perang. Pada akhirnya, ia memeluk Islam dan karyanya pun dikagumi oleh Rasulullah.
Perjalanan hidup Al-Khansa tidaklah biasa. Dari masa kecil yang damai di Najd, ia tumbuh dengan karakter kuat, hingga akhirnya bertemu langsung dengan Nabi Muhammad di Madinah pada tahun kedelapan Hijrah. Meski awalnya berseberangan dengan Islam, ia akhirnya menjadi sahabat Nabi yang setia.
Karya-karyanya yang penuh emosi membuatnya dikenal sebagai penyair perempuan paling berpengaruh di zamannya. Keindahan bait-bait puisinya membuat Rasulullah memuji dan mengaguminya. Bahkan, Umar bin Khattab pun memberi penghargaan khusus untuknya setelah keempat putranya gugur sebagai syuhada.
Hidup Al-Khansa tak hanya diwarnai oleh kata-kata indah, tetapi juga pengorbanan besar. Dikutip dari Al Jazeera.net, ia mengiringi keempat putranya ke medan perang di Qadisiyyah pada tahun 637 Masehi. Saat mereka syahid, ia hanya mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan terbunuhnya mereka.”
Berikut selengkapnya kisah Al Khansa binti Amr yang syairnya dikagumi Rasulullah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (24/3/2025).
Turki adalah negara yang kental dengan budaya dan sejarah Islam. Jejak dan peninggalan Nabi Muhammad SAW sangat melimpah. Namun tak hanya itu saja. Turki juga terkenal dengan manisan yang pas untuk berbuka puasa.
Tumbuh di Najd, Dididik dengan Akhlak Mulia
Al-Khansa lahir di wilayah Najd, juga merupakan bagian tengah dari Semenanjung Arab dalam keluarga terpandang. Ia tumbuh dalam kasih sayang ayah dan kedua saudaranya. Kelembutan rumah tangga membentuknya menjadi wanita cerdas dengan akhlak terbaik.
Seperti dikutip dari Britannica, sejak kecil, Al-Khansa sudah menunjukkan bakat besar dalam puisi. Ia hanya menulis satu atau dua bait sebagai ungkapan perasaan. Namun, tragedi kehilangan saudara-saudaranya mengubah puisinya menjadi karya yang abadi.
Pertemuan Mengharukan dengan Rasulullah
Dilansir dari laman Zadulmuslima.com Al-Khansa datang ke Madinah bersama delegasi kaumnya. Pada tahun kedelapan Hijrah, ia memeluk Islam di hadapan Rasulullah. Sejak saat itu, persahabatan antara keduanya terjalin erat.
Nabi Muhammad kagum akan kepiawaian Al-Khansa dalam merangkai kata. Karya puisinya begitu tulus dan penuh makna. Rasulullah kerap memuji puisinya dalam berbagai kesempatan.
Al-Khansa sebelumnya dikenal sebagai perempuan dari zaman Jahiliah, Al-Khansa menguatkan tekadnya dalam menyebarkan nilai-nilai luhur. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga menginspirasi perempuan lain.
Tangis Elegi yang Menjadi Sejarah
Kematian dua saudaranya, Sakhr dan Muawiyah, melahirkan karya elegi yang dikenang sepanjang masa. Dikutip dari Al Jazeera.net, dalam elegi untuk Sakhr, ia menulis:
"Tidakkah kau menangis untuk pria tampan dan pemberani? Tidakkah kau menangis untuk pria muda yang sopan?"
Tangis Al-Khansa bukan sekadar kesedihan. Puisinya menjadi pengingat akan cinta, kehilangan, dan kehormatan. Keindahan bait-bait eleginya dipelajari banyak penyair Arab hingga kini.
Umar bin Khattab pun bertanya kepadanya, “Bukankah kamu menangis lama sekali karena kedua saudaramu?”
Ia menjawab, "Aku menangisi mereka di masa jahiliyah karena cinta kepada mereka dan penyesalan atas perpisahan mereka. Dan setelah aku masuk Islam karena belas kasihan kepada mereka, aku pun menangisi api neraka karena mereka telah meninggal di masa jahiliyah."
Syair Untuk Keempat Putranya yang Syahid
Al-Khansa hadir di Pertempuran Qadisiyyah bersama keempat putranya. Ia memberi semangat dan mendesak mereka untuk bertahan hingga titik darah terakhir. Semua putranya gugur sebagai syuhada. Ia berkata kepada mereka sebelum perang:
"Jika kamu melihat perang telah menggulung lengan bajunya dan telah menutupi daun-daunnya dengan api, maka pergilah ke arah panasnya dan lawanlah pemimpinnya."
Saat semua putranya syahid, ia tak meneteskan air mata kesedihan. Al-Khansa justru berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan terbunuhnya mereka. Semoga Tuhanku mempertemukanku dengan mereka di surga-Nya yang penuh rahmat.”