Liputan6.com, Jakarta Abdurrahman bin Auf, nama yang mungkin sudah tak asing lagi bagi umat Islam. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat kaya raya. Namun, di balik kekayaannya, tersimpan kisah inspiratif yang jarang diketahui banyak orang: keinginannya yang kuat untuk menjadi miskin, namun selalu gagal. Kisah sahabat nabi yang gagal miskin ini sarat akan pelajaran berharga tentang bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap harta dan kekayaan.
Fakta unik ini menjadi inti dari kisah Abdurrahman bin Auf. Ia bukannya menginginkan kemiskinan karena kekurangan, melainkan karena kekhawatiran akan perhitungan di akhirat. Kekayaan yang melimpah justru membuatnya merasa cemas. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi memberikan pelajaran berharga bagi kita di era modern yang penuh dengan godaan materi.
Kita akan mengupas tuntas kisah Abdurrahman bin Auf, menganalisis alasan di balik keinginannya untuk menjadi miskin, menelusuri berbagai upaya yang dilakukannya, dan menarik hikmah yang dapat kita petik untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Simak kisah sahabat nabi yang gagal miskin ini dan temukan inspirasi untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.
Semoga kisah inspiratif ini dapat memberikan pencerahan dan motivasi bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan akhirat. Mari kita telusuri lebih dalam kisah inspiratif ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (19/3/2025).
Buah kurma baik jika dikonsumsi selama bulan puasa. Manfaat buah kurma bisa dirasakan apabila dikonsumsi saat buka puasa maupun saat sahur.
Profil Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf lahir di Makkah pada tahun 10 Gajah (581 M), masa Jahiliyah. Ia berasal dari keluarga pedagang, dan sejak muda telah menunjukkan bakat bisnis yang luar biasa. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan spiritual Abdurrahman bin Auf dimulai ketika ia mendengar dakwah Rasulullah SAW. Ia kemudian masuk Islam di awal masa dakwah di Madinah. Keputusan ini mengubah hidupnya secara drastis, membawanya pada jalan kebaikan dan keimanan yang teguh.
Setelah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf semakin sukses dalam berdagang. Ia menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkaya, namun tetap rendah hati dan dermawan. Keberhasilannya dalam berbisnis menjadikannya teladan bagi para pedagang muslim.
Reputasinya sebagai pedagang sukses dan saudagar yang pandai berbisnis membuatnya dihormati dan disegani. Namun, kekayaan yang dimilikinya tidak membuatnya sombong atau lupa diri. Ia selalu ingat akan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim dan hamba Allah SWT.
Alasan Abdurrahman bin Auf Ingin Menjadi Miskin
Kekhawatiran akan hisab di akhirat menjadi alasan utama Abdurrahman bin Auf ingin melepaskan diri dari kekayaannya. Rasulullah SAW bersabda bahwa ia akan masuk surga paling akhir karena kekayaannya yang berlimpah dan akan dihisab paling lama.
Sabda Rasulullah SAW tersebut sangat mengena di hati Abdurrahman bin Auf. Ia menyadari bahwa kekayaan yang berlimpah bisa menjadi penghalang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, ia ingin mengurangi kekayaannya agar perhitungan di akhirat nanti lebih ringan.
Ia ingin meneladani sahabat-sahabat Nabi lainnya yang hidup sederhana, seperti Mush'ab bin Umair dan Hamzah. Mereka dikenal karena kesederhanaan dan keikhlasannya dalam beribadah, meskipun hidup dalam kemiskinan.
Rasa khawatir dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT membuat Abdurrahman bin Auf sering menangis dan berdoa memohon agar Allah SWT menjadikannya miskin. Doa dan kesungguhannya dalam beribadah menjadi bukti keimanannya yang teguh.
Kisah Kurma Busuk: Upaya yang Gagal
Setelah Perang Tabuk, banyak kurma yang tersisa di Madinah menjadi busuk dan harganya jatuh drastis. Melihat kesempatan ini, Abdurrahman bin Auf membeli semua kurma busuk tersebut dengan harga normal.
Ia berharap tindakan ini akan mengurangi kekayaannya. Namun, takdir Allah SWT berkata lain. Seorang utusan dari Yaman datang ke Madinah mencari kurma busuk sebagai obat wabah penyakit yang melanda negaranya.
Utusan tersebut membeli semua kurma busuk milik Abdurrahman bin Auf dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan hingga sepuluh kali lipat dari harga beli awalnya. Usaha Abdurrahman bin Auf untuk menjadi miskin pun gagal.
Kisah ini menunjukkan betapa rencana Allah SWT jauh lebih baik daripada rencana manusia. Apa yang tampak sebagai kegagalan, justru menjadi jalan Allah SWT untuk menguji keimanan dan kesabaran Abdurrahman bin Auf.
Usaha-Usaha Lain dalam Bersedekah
Selain membeli kurma busuk, Abdurrahman bin Auf juga melakukan berbagai cara lain untuk mengurangi kekayaannya dan bersedekah. Pada zaman Rasulullah SAW, ia pernah menyedekahkan separuh hartanya.
Ia juga pernah bersedekah sebanyak 40.000 dinar. Jumlah ini menunjukkan betapa besarnya kepedulian dan kedermawanan Abdurrahman bin Auf.
Suatu ketika, ia diberi makanan saat berpuasa. Namun, ia menolaknya karena mengingat kesederhanaan hidup sahabat lain seperti Mush'ab bin Umair dan Hamzah yang meninggal dalam keadaan sederhana.
Di akhir hayatnya, Abdurrahman bin Auf berwasiat untuk membagi hartanya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk modal usaha sahabatnya, sepertiga untuk melunasi hutangnya, dan sepertiga untuk dibagikan kepada fakir miskin.
Solusi dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menasihati Abdurrahman bin Auf untuk memperbanyak sedekah. Beliau bersabda, “Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan untuk masuk surga!”.
Nasihat ini dipegang teguh oleh Abdurrahman bin Auf. Ia senantiasa bersedekah dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Meskipun usahanya untuk menjadi miskin secara materi gagal, Abdurrahman bin Auf tetap istiqomah dalam beribadah dan bersedekah.
Sikapnya ini menjadi teladan bagi kita semua untuk senantiasa berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, terlepas dari status sosial dan ekonomi.
Hikmah dari Kisah Sahabat Nabi yang Gagal Miskin
Kisah Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita bahwa rezeki adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak. Kekayaan bukanlah halangan untuk masuk surga jika dimanfaatkan dengan baik.
Sikap dermawan dan tidak cinta dunia sangat penting dalam kehidupan. Kita harus menyeimbangkan usaha dan tawakkal kepada Allah SWT.
Harta yang kita miliki adalah titipan dan amanah dari Allah SWT. Kita harus bertanggung jawab atas pengelolaannya dan menggunakannya untuk kebaikan.
Kekayaan juga membawa tanggung jawab sosial. Kita harus berbagi dan membantu sesama yang membutuhkan.
Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan akhirat. Jangan sampai terlena oleh gemerlap dunia dan melupakan akhirat.
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk senantiasa berbuat baik, bersedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Relevansi Kisah Abdurrahman bin Auf di Era Modern
Di era modern yang serba materialistis ini, kisah Abdurrahman bin Auf sangat relevan. Ia mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan akhirat.
Kita perlu belajar mengelola kekayaan dengan bijak, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemaslahatan umat.
Sedekah dan berbagi merupakan bagian penting dari sistem ekonomi Islam. Kita harus senantiasa berbagi dengan sesama dan membantu mereka yang membutuhkan.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi para pengusaha muslim untuk senantiasa berbuat baik dan menjalankan bisnis dengan etika Islam.
Teladan Kerendahan Hati dari Abdurrahman bin Auf
Meskipun kaya raya, Abdurrahman bin Auf tetap rendah hati dan tidak sombong. Ia selalu bersikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ia memprioritaskan akhirat di atas dunia. Kekayaannya tidak membuatnya lupa diri dan melupakan ibadah.
Ia mampu menyeimbangkan kesuksesan bisnis dengan spiritualitas yang kuat. Ia selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sikap tawadhu' dan kerendahan hatinya menjadi teladan bagi kita semua untuk senantiasa menjaga akhlak dan perilaku yang baik.
Kisah Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita banyak hal tentang pengelolaan harta, sedekah, dan keikhlasan. Ia menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah halangan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mari kita renungkan kembali sikap dan perilaku kita terhadap harta dan sedekah. Semoga kisah inspiratif ini dapat memotivasi kita untuk meneladani sikap dan nilai-nilai Abdurrahman bin Auf.