Allahu Akbar Kabiro Walhamdulillahi Katsiro adalah Bagian dari Doa Iftitah, Ini Waktu Tepat Membacanya

1 week ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro merupakan bagian dari doa iftitah. Iftitah adalah salah satu dari dua sunnah yang dianjurkan (muakadah) sebelum membaca Al-Fatihah yang merupakan rukun sholat.

Doa di atas belumlah sempurna. Di akhir kalimat masih ada lafal 'Wasubhanallahi bukratawwaashiila'. Lengkapnya:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiroo Wasubhanallahi bukratawwaashiila

Artinya: Allah Maha Besar dengan kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, mahasuci Allah di pagi hari dan di sore hari.

Dasar dalil doa iftitah di atas adalah hadis riwayat Ibnu Umar RA. Disebut dalam Hasyiyah Turmusyi, Ibn Umar berkata: 

“Ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah ﷺ, seorang lelaki di antara kaumnya berkata:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Maka Nabi ﷺ bertanya:

“Siapakah yang mengatakan kalimat tadi?”

Lelaki itu menjawab, “Aku, Wahai Rasulullah.”

Nabi ﷺ bersabda, “Aku takjub atas kalimat itu, pintu-pintu langit terbuka karenanya.”

Sahabat Ibnu Umar berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan ucapan itu semenjak aku mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan hal itu.” (HR Muslim).

Doa Iftitah Lengkap

Diriwayatkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa apabila Nabi ﷺ berdiri memulai shalat, Beliau membaca doa:

وَجَّهْتُ ‌وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ. أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ. تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fathara As-Samawaati wa Al-Ardhi Haniifan Musliman Wa Maa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaayaa Wa Mamaatii Lillahi Rabbi Al-‘Aalamiin. Laa Syariika Lahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.

Allahumma Antal Maliku Laa Ilaaha Illaa Anta, Anta Rabbii Wa Anaa ‘Abduka Dzalamtu Nafsii Wa’Taraftu Bidzanbii Faghfirlii Dzunuubi Jami’ann Innahu Laa Yaghfiru Al-Dzunuuba Illaa Anta, Washrif Annii Sayyiahaa Laa Yashrifuhu Annii Sayyiahaa Illaa Anta. Labbaika Wa Sa’daika Wa Al-Khairuu Kulluhu Fii Yadaika Wa Al-Syarru Laysa Ilaika Anaa Bika Wa Ilayka Tabaarakta Wa Ta’aalayta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilayka.”

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Ya Allah, Engkaulah Raja, tiada ilah (sesembahan) selain Engkau. Engkaulah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Tunjukkanlah aku kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau. Aku memenuhi panggilan-Mu dan bersiap sedia untuk-Mu. Seluruh kebaikan ada di tangan-Mu, dan keburukan tidak berasal dari-Mu. Aku bergantung kepada-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu”. (HR. Muslim)

Cara Membaca Iftitah, versi Panjang dan Pendek

Saat mengerjakan sholat kita bisa membaca secara keseluruhan. Akan tetapi, saat jadi imam maka dianjurkan membaca yang pendek.

Para ulama mengatakan bahwa doa iftitah tersebut di atas terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

Bagian pertama:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 

Bagian kedua:

وَجَّهْتُ ‌وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

Bagian ketiga:

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Jika ia menjadi imam maka dianjurkan tidak memanjangkan bacaan doa iftifat melebihi ini. dan jika ia ingin meringkas membaca salah satu bagian, baiknya membaca bagian yang kedua.

Adapun orang yang sholat sendiri, atau menjadi imam dan tahu bahwa makmum senang jika ia memanjangkan doanya maka dianjurkan menambahkan bacaan doa Iftitah dengan:

 اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ. أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ. تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Waktu dan Cara Membaca Iftitah dan Kesunahannya

1. Dibaca setelah Takbiratul Ikhram

Syekh an-Nawawi al-Bantani dalam Nihâyatuz Zain menjelaskan, doa iftitah sunnah dilaksanakan setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz di dalam setiap sholat selain sholat jenazah. Sedangkan untuk sholat jenazah tidak disunnahkan karena shalat jenazah memang dianjurkan singkat.

“Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz disunnahkan membaca doa iftitah di selain shalat jenazah. Sedangkan di dalam shalat jenazah tidak disunnahkan membaca doa iftitah karena shalat jenazah dianjurkan untuk singkat dalam pelaksanaannya.” (Nihâyatuz Zain).

2. Dibaca dengan lirih atau sir

Al-Imam Al-Faqih Muhammad Mahfudh bin Abdullah At-Tarmasi dalam Hasyiyah Turmusyi menjelaskan, doa iftitah dilafalakan secara sir (dengan suara pelan) walaupun dalam sholat Jahriyah (shalat yang dianjurkan mengeraskan bacaan Al-Fatihah).

3. Jeda sedikit setelah Takbiratul Ikhram

Doa Iftitah dibaca setelah Takbiratul Ihram, tetapi hendaknya ada jeda sedikit yang menyelai antara takbir dan Doa Iftitah, seukuran membaca subhanallah. Doa Iftitah hukumnya sunah, walau ada pendapat lemah yang menyatakan hukumnya wjaib.

Syarat Kesunahan Membaca Doa Iftitah

1. Makmum masbuk mendapati Imam dalam posisi Berdiri. Jika makmum masbuk mendapati imam dalam posisi i’tidal atau lainnya maka ia tidak sudah membaca doa Iftitah.

Apabila makmum mendapati Imam dalam Tasyahud akhir, maka di sini terdapat perincian hukum: jika makmum masbuk ini sempat duduk tasyahud akhir bersama Imam, maka tidak sunah membaca doa iftitah setelah Ia bangkit berdiri.

Namun, apabila sebelum duduk, Imam sudah membaca salam maka disunnahkan baginya membaca doa Iftitah sebelum membaca Surat Al-Fatihah.

2. Bukan dalam sholat Jenazah

Dalam shalat jenazah walaupun shalat ghaib tidak disunahkan doa iftitah berdasarkan pendapat yang muktamad. Sebab Shalat Jenazah berprinsip ringkas.

3. Dia belum memulai membaca Taawudz atau Basmalah, walaupun lupa.

Jika ia sudah terlajur membaca Taawudz atau basmalah maka tidak disunahkan lagi membaca doa Iftitah sebab sudah hilang tempatnya.

4. Bisa membaca Al-Fatihah secara sempurna sebelum imam rukuk.

Jika makmum masbuk mendapati imam dalam keadaan berdiri, dan mengira sisa waktunya tidak cukup untuk membaca Al-Fatihah disertai doa Iftitah, maka ia tidak dianjurkan membaca Doa Iftitah

5.  Tidak takut kehilangan waktu shalat atau waktu ada.

Jika sholat di akhir waktu, sedangkan sisa waktu tidak cukup untuk satu rakaat apabila ia membaca doa iftitah, maka tidak disunahkan membaca doa iftitah. Hendaknya ia langsung membaca Al-Fatihah, sebab itu adalah kewajiban, maka tidak boleh disibukan dengan yang sunah.

Bentuk-Bentuk Doa Iftitah

Doa memiliki banyak shighat (bentuk) berdasarkan riwayat hadits. Dalam kitab Nihâyatuz Zain menyebutkan sebagian dari lafal doa iftitah yang berbeda-beda.

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, sudah dianggap cukup (sudah mendapatkan kesunnahan) dengan membaca salah satu dari doa-doa iftitah berikut ini, akan tetapi yang lebih utama adalah membaca semua sekaligus bagi orang yang shalat sendiri atau menjadi imamnya para jamaah yang rela shalatnya lama.

Pertama

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fathara As-Samawaati wa Al-Ardhi Haniifan Musliman Wa Maa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaayaa Wa Mamaatii Lillahi Rabbi Al-‘Aalamiin. Laa Syariika Lahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.

Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarokan fiih

Artinya: Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi"

Ketiga

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiroo Wasubhanallahi bukratawwaashiila

Artinya: Allah Maha Besar dengan kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, mahasuci Allah di pagi hari dan di sore hari.

Keempat

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ غَسِّلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Allaahumma baa’id bainii wabainaa khotoo yaa ya kamaa baa ‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Allaahumma naqqinii minal khotoo yaa kamaa yunqqots tsaubul abyadhuu minaddanas. Allaahummaghsil khotoo yaa ya bil maa i wats tsalji walbarod.

Artinya :“Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan di antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.”

Kelima

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعاً فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَّيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Allahumma Antal Maliku Laa Ilaaha Illaa Anta, Anta Rabbii Wa Anaa ‘Abduka Dzalamtu Nafsii Wa’Taraftu Bidzanbii Faghfirlii Dzunuubi Jami’ann Innahu Laa Yaghfiru Al-Dzunuuba Illaa Anta, Washrif Annii Sayyiahaa Laa Yashrifuhu Annii Sayyiahaa Illaa Anta. Labbaika Wa Sa’daika Wa Al-Khairuu Kulluhu Fii Yadaika Wa Al-Syarru Laysa Ilaika Anaa Bika Wa Ilayka Tabaarakta Wa Ta’aalayta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilayka.”

Ya Allah, Engkaulah Raja, tiada ilah (sesembahan) selain Engkau. Engkaulah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Tunjukkanlah aku kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau. Aku memenuhi panggilan-Mu dan bersiap sedia untuk-Mu. Seluruh kebaikan ada di tangan-Mu, dan keburukan tidak berasal dari-Mu. Aku bergantung kepada-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu”.

People also Ask

1. Allahu Akbar Kabiro walhamdulillahi katsiro apa lanjutannya?

Lanjutan dari "Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro" adalah "wa subhanallahi bukrotaw wa ashila". Jadi, bacaan lengkapnya adalah "Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallahi bukrotaw wa ashila".

2. Allahu Akbar Kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallah ibukota wasilah itu doa apa?

"Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallah" adalah penggalan dari doa iftitah yang dibaca setelah takbiratul ihram dalam sholat. "Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallah" jika diterjemahkan artinya adalah "Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore,

3. Apakah doa iftitah Allahu Akbar kabiro?

Bacaan allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro merupakan penggalan salah satu doa iftitah yang diajarkan Rasulullah SAW. Doa ini dibaca setelah takbiratul ihram sebelum membaca surah Al Fatihah

4. Apakah doa iftitah harus lengkap?

Doa iftitah dibaca dengan penuh kekhusyukan setelah takbiratul ihram, sebelum kita melangkah untuk membaca surat Al Fatihah. Ini adalah salah satu sunah dalam salat yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT

Sumber Referensi:

  • HR Muslim
  • digilib.uin-suka.ac.id
  • Hasyiyah Turmusi, Al-Imam Al-Faqih Muhammad Mahfudh bin Abdullah At-Tarmasi (Syekh Mahfudz Termas)
  • Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi al-Bantani
  • Buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Moh Rifa'i
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |