Mengintip Pesantren Hybrid, Model Pendidikan Islam Futuristik Berbasis Sosiopreneur

4 weeks ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Membicarakan pondok pesantren, maka yang terbayang adalah santri mengaji dan aktivitas ibadah lainnya. Pondok Pesantren dalam pandangan umum adalah menggayung ilmu agama untuk mencapai surga.

Namun, konsep ini tak sepenuhnya berlaku di Pondok Pesantren Hybrid El-Fira, Purwokerto. Ponpes Hybrid mengintegrasikan aktivitas keduniaan sebagai ibadah, dan sebaliknya aktivitas ibadah ada nilai muamalah.

Di pesantren ini, dikembangkan liveskill sebagai bagian dari muamalah yang bernilai ibadah. Dua di antaranya adalah sosiopreneurship dan teopreneurship. Praktik bisnis sebagai bernilai sosial ibadah, serta bisnis yang membawa nilai ajaran syariat.

Pengasuh Pondok Pesantren Hybrid Prof DR KH Fathul Amin Aziz mengatakan pesantren hybrid merupakan konsep pendidikan Islam yang mengintegrasikan konsep ibadah dan muamalah sebagai satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan antara dunia dan akhirat.

“Pesantren Hybrid ini kami gagas sebagai respons terhadap cara berpikir yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Padahal, keduanya adalah satu kesatuan yang saling terhubung,” ujar Prof. Fathul Amin, di Purwokerto, Kamis (31/7/2025).

Menurut dia, konsep utama dari Pesantren Hybrid ini menekankan bahwa dalam setiap bentuk ibadah selalu terkandung nilai-nilai muamalah, dan sebaliknya, dalam muamalah juga mengandung unsur ibadah.

Ia mencontohkan salat yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki nilai ekonomi — mulai dari pembangunan masjid, pengadaan sajadah, hingga pakaian untuk menutup aurat.

Sementara dalam aktivitas bisnis atau kegiatan sosial, jika dilandasi niat baik seperti meningkatkan zakat umat atau menyebarkan kesejahteraan, maka hal tersebut otomatis menjadi amal ibadah.

“Bahkan berpikir pun harus punya dasar konstruksi spiritual. Ketika kita membangun tempat salat yang nyaman, itu muamalah yang membawa nilai ibadah. Ketika berdagang tapi diniatkan untuk kemaslahatan umat, itu juga ibadah,” jelasnya.

Inkubasi Bisnis Santri, Praktik Ekonomi Bernilai Ibadah

Di pesantren ini, pendekatan yang digunakan bukan semata-mata bersifat teoritis. Santri juga langsung di Inkubasi Bisnis Santri (IBM), dengan unit toko retail dan pemasaran. Sejumlah produk yang dijual adalah hasil dari pesantren El Bayan dan El Muslim yang berada di Majenang, Cilacap.

Menurut dia, ini merupakan simbiosis mutualisme antar-pesanten. Satu pesantren menghasilkan produk, sementara lainnya menjadi tim pemasaran.

"Ada durian, jambu, jeruk. Dijual di sini untuk praktik santri hybrid," ujarnya.

Dia menjaskan, santri juga diajak langsung mempraktikkan integrasi nilai itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui pengelolaan zakat. Menurut Prof. Fathul, menghitung dan menyalurkan zakat merupakan bagian penting dari etika umat Islam yang sering diabaikan.

“Banyak orang hanya menghitung zakat tapi tidak menyalurkan. Ada pula yang menyalurkan tapi tidak menghitung dengan benar. Di pesantren ini, keduanya kita tekankan: belajar menghitung dengan benar dan melaksanakannya secara tepat,” tegasnya.

Model pembelajaran ini diperkuat dengan dua pendekatan: sosiopreneur dan teopreneur. Santri dilatih untuk menjadi pelaku usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan duniawi, tetapi juga mengedepankan nilai spiritual dan kebermanfaatan sosial.

Melalui model Pesantren Hybrid ini, santri tidak hanya menjadi ahli agama, tapi juga pelaku perubahan yang bisa memberi manfaat nyata bagi umat.

“Khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Dan itulah yang sedang kami upayakan melalui pesantren ini,” kata Prof Aziz.

Pendidikan Vokasi di Pesantren

Prof Aziz menjelaskan, santri diajarkan mengelola usaha riil yang ada di lingkungan pesantren, seperti budidaya lele, pertanian organik, serta jual beli produk melalui platform digital.

"Kami ingin para santri tidak hanya siap berdakwah, tapi juga siap memimpin usaha. Kami membekali mereka dengan value sosiopreneur dan theopreneur, yakni semangat usaha yang dilandaskan pada nilai-nilai ketuhanan," tegas Prof Fathul Amin.

Konsep nilai ibadah dan nilai muamalah menjadi ciri khas pesantren ini. Nilai ibadah berarti bahwa setiap kegiatan ekonomi jika dilakukan dengan niat yang benar, kejujuran, dan memberi manfaat akan bernilai ibadah di sisi Allah.

Sebaliknya, nilai muamalah dalam ibadah mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti sebagai ritual, melainkan harus mendorong lahirnya sikap adil, peduli, dan produktif dalam kehidupan sosial.

"Kami ingin santri menyadari bahwa berwirausaha bukan sekadar mencari untung, tapi juga memberi manfaat. Dan salat bukan hanya soal rukuk dan sujud, tapi juga membentuk integritas," ujarnya.

El-Fira Hybrid menjadi jawaban bagi banyak orang tua dan generasi muda yang ingin belajar agama tanpa tertinggal perkembangan zaman. Para santri di sini tidak hanya pintar baca kitab, tapi juga fasih dalam strategi pemasaran digital, pengelolaan usaha, hingga pengembangan komunitas berbasis syariah.

Prof Fathul Amin berharap model pesantren ini bisa direplikasi di daerah lain sebagai bagian dari upaya membangun generasi tangguh, saleh, dan solutif.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |